Tampilkan posting dengan label Resensi Film. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Resensi Film. Tampilkan semua posting

Minggu, 21 Agustus 2016

Nonton Bareng "3 Srikandi" bersama Ibu Nurfitriyana Saiman

Mendapat undangan nonton bareng "3 Srikandi" bersama AMG di CVG Blitz Pacific Place tentu tidak akan kutolak. Selain memang aku ingin melihat film ini, dalam acara ini juga bisa bertemu langsung dengan Ibu Nurfitriyana Saiman asli yang dalam film diperankan BCL.

Acara berlangsung Jumat, 19 Agustus 2016 pukul 19.00 WIB sampai selesai.





Selain mendapat tiket gratis, ternyata mendapat popcorn dan air mineral juga. Lumayan banget yaaa ^_^

Sejujurnya daya tarik film ini yang membuatku ingin menontonnya adalah karena ada Reza Rahadian yang ikut berperan. Aku selalu suka menonton aktingnya, selain karena penampilan Reza enak dilihat.

Nunggu di lobi Blitz Pasific Place

Reza berperan sebagai Robin Hood Indonesia, Donald Pandiangan. Seorang atlet panahan dengan prestasi cemerlang, punya metode melatih yang unik dan beda.
Biasa dipanggil Bang Pandi. Karena politik, Bang Pandi gagal ikut Olimpiade Barcelona, sejak itu karena sakit hati dan kecewa, beliau mundur dari dunia panahan, bersembunyi entah di mana.

Hingga kemudian tim atlet panahan putri membutuhkan pelatih. Bang Pandi pun dicari. Awalnya Bang Pandi menolak tawaran melatih. Dia masih marah dengan kejadian dulu. Tapi kemudian dia tergerak untuk melatih dengan syarat dia harus diperbolehkan memakai metode melatih sendiri. Termasuk memilih tempat di pelosok Sukabumi yang jauh dari keramaian.

Nurfitriyana diperankan BCL, Lilis Handayani diperankan Chelsea Islan dan Kusuma diperankan Tara Basro, terpilih untuk masuk tim panahan putri yang akan digembleng untuk mengikuti Olimpiade di Seoul.

Menarik karena masing-masing atlet punya permasalahan sendiri-sendiri. Mereka berasal dari daerah yang berbeda-beda, tapi berlatih bersama membuat mereka menjadi dekat. Aku selalu suka dengan cerita persahabatan perempuan-perempuan yang saling dukung dan saling peduli.

Chelsea Islan yang berperan sebagai Lilis paling menarik perhatian saya. Tidak menyangka, akting Chelsea semakin matang. Setelah menjadi gadis Polandia di Rudy Habibie, Chelsea bisa menjelma menjadi gadis Surabaya dengan logat yang masih kental khas daerah. karakternya di sini lucu, ceria dan hobi bicara. Lilis ini yang sering membuat penonton tertawa.

Yang juga menarik dari film ini, penonton diajak bernostalgia ke tahun 80-an. Lagu-lagu top kala itu pun diputar, juga bahasa gaul anak kota zaman itu, seperti sebutan bokap, doi. Ada lagu KLA Project, Ruth Sahanaya, lagu Ratu Sejagad dan Film Catatan Si Boy.

Reza seperti biasa bermain apik. Walau pun di beberapa bagian ekspresinya mirip Rudy di film Rudy Habibie, tapi tetap okelah berperan jadi pelatih yang super galak dan disiplin.

Yang menarik dari acara nonton bareng ini, kebetulan aku beruntung mendapat tempat duduk di sebelah Ibu Nurfitriyana. Pertama kalinya aku bertemu beliau. Saat film berakhir, aku ikut meneteskan airmata haru, lalu langsung menyalami Ibu Yana, mengucapkan terima kasih karena telah membuat Indonesia bangga dengan pencapaiannya itu.

Buat yang belum nonton, ayo nonton. Swear deh, filmnya menghibur. banyak adegan yang bikin tertawa melihat tingkah 3 Srikandi yang terkadang masih sering mencuri-curi keseoatan bersenang-senang, tapi selalu diketahui Bang Pandi.

Ada juga kisah asmara dan haru di sela-sela cerita perjuangan mereka berlatih keras. Selamat menonton yaaa ^_^




Rabu, 06 Juli 2016

Megahnya Grand Premiere film "Rudy Habibie"


26 Juni 2016, setelah pulang dari Madiun, malam harinya aku harus menghadiri premiere film "Rudy Habibie". Produksi MD Pictures

Karena ini suatu kehormatan banget buatku diundang ke acara premiere besar-besaran sebuah film epic yang terinspirasi dari salah satu tokoh besar Indonesia, Bapak Baharuddin Jusuf Habibie.

Sampai di Gambir dari Madiun pukul setengah lima pagi. Setelah shalat subuh, langsung pulang naik TransJakarta. Haltenya tepat di depan Stasiun Gambir. Sampai rumah hampir setengah tujuh pagi. Aku langsung merebahkan tubuh di lantai. Ngantuk dan lelah pastinya. Sepanjang hari itu aku beristirahat sambil menunggu sore. Pukul 4 sore, barulah aku berangkat ke Lippo Karawaci. Lagi-lagi naik kereta. Kali ini kereta commuter line menuju Tangerang. Turun di Stasiun Tanah Tinggi.

Aku baru saja download aplikasi Grab. Rencana ingin naik grab bike menuju Cinemax Maxxbox. Tapi karena aku masih ragu, yaah, aku ini memang agak phobia naik kendaraan umum yang privat semacam ojek dan taksi. Aku lebih merasa nyaman naik kendaraan umum yang penumpangnya banyak. Maka, aku pun mencoba naik angkot. Ternyata malah berputar-putar nggak keruan. Jam setengah tujuh malam belum sampai juga. Akhirnya aku turun dari angkot, melanjutkan perjalanan dengan grabbike.

Sampai di Cinemax Lippo Karawaci tepat pukul setengah delapan. Ah, andai sejak awal naik Grabbike yaa...

Sampai di lokasi aku tercengang. Wuaaah, premierenya benar-benar mewah. Beda dengan premiere-premiere film-film yang sebelumnya aku diundang juga.

Di bagian depan sudah digelar karpet merah, dengan para fans di sepanjang kanan kiri karpet merah itu menunggu kedatangan seluruh casts film ini. Aku nggak yakin boleh lewat di karpet merah itu. Tapi kemudian ada sepasang suami istri yang baru turun dari mobil dan mengajak masuk bareng mereka. Yaaah, itulah pengalamanku pertama kali berjalan di karpet merah. Biasa aja sih rasanya karena aku bukan artis dan yakin saat itu aku nggak jadi pusat perhatian, hehehe.

Sesampai di dalam, setelah melalui pemeriksaan dan pengecekan kartu undangan, aku lagi-lagi terkesima. Kali ini karena melihat penampilan para tamu yang 'wah'. Para lelaki mengenakan kemeja putih, dasi hitam dan jas hitam. Bahkan ada yang memakai tuxedo. Necis banget. Para perempuan mengenakan gaun-gaun indah dengan dandaan full make-up. Cantik dan wangi. Oh, aku biasa banget dan kasual ... serasa salah masuk ruangan ...

Maklumlah, aku memang orangnya simpel, nggak sangka premiere ini mewah banget. Undangan disuguhi pertunjukan musik live. Pramusaji berkeliling menawarkan kue-kue lezat dan minuman. Dapat pop corn gratis lho. Boleh ambil sebanyak-banyaknya kalau nggak malu :D






Sajian musik live yang keren

Sempat motret Mas Hanung dan Chelsea Islan dari jauh.
Jangan tanya, saya nggak berani minta foto bareng sama mereka >.<

Chelsea Islan cantiik ^_^
Ada Zaskia A. Mecca juga ...

Hanya ini yang bisa saya lakukan. Foto di poster besar para cast.
Langsung dicetak dan diberikan ke saya. Cukuplah sebagai kenang-kenangan :)

Mengenai filmnya, aku terkagum-kagum dengan akting Reza Rahadian. Perfect. No complain. Seperti biasa, Reza sukses melebur dalam karakter yang dimainkannya. Membuat aku sebagai penonton percaya, dialah Rudy Habibie.

Filmnya bagus. Dramatic, terutama masa-masa kecil Rudy saat masih ada serangan bom dari tentara Jepang, Sesekali terselip adegan yang mengundang tawa. Dian Nitami dan Donny Damara bermain cukup apik sebagai papi dan mami Rudy.

Bergeser ke masa Rudy kuliah di Jerman, ikut merasakan dinginnya Jerman yang lebih sering digambarkan bersalju. Karena syutingnya memang sedang musim dingin. Kehadiran tokoh Poltak cukup mencairkan suasana. Sayangnya aku kurang sreg dengan yang berperan sebagai Panca (tapi yang ini pendapatku aja lho, orang lain boleh beda pendapat :D).

Adegan favoritku malah saat perpisahan Ilona dan Rudy di stasiun. Chelsea aktingnya makin bagus. Terutama saat menghindar dari Rudy dan Rudy mengejar terus minta penjelasan. Lalu terakhir Ilona menatap Rudy dari balik kaca gerbong kereta paling belakang sambil berurai airmata menahan hati yang pedih. Rudy malah nggak melihat Ilona karena memandangi pintu tempat Ilona masuk ke kereta. Epic. Mencabik-cabik perasaan. Apalagi diiringi suara Cakra Khan menyanyikan lagu berlirik tentang cinta yang tak bisa menyatu. 

Kalau pun ada masukan buat film ini, adegan kilas balik masa anak-anak sepertinya terlalu sering diulang. Andaikan masing-masing sekali saja. Tapi secara keseluruhan filmnya bagus. Beberapa adegan bikin airmata mengalir. Jadi nggak enak sama yang duduk di sebelah, saking seringnya mengelap mata pakai tisu.

Aku yakin banget, film ini bakal sukses dan box office. Semua kriteria untuk jadi film box office sudah terpenuhi. 

Dari film ini aku jadi makin mengenal sosok Pak Habibie dan sangat berterima kasih pada beliau yang telah menyumbangkan banyak pemikiran briliannya untuk negeri ini.

Menonton film ini menumbuhkan rasa nasionalisme.

Aku merekomendasikan film ini ke keluargaku lho. Karena itu setelah Idul Fitri, aku mengajak bapak ibu dan adik menonton film ini.

Ohya, nggak lupa, ost-nya juga enaaaak banget musiknya. Yang dinyanyikan Cakra Khan mengaduk-aduk perasaan. Musiknya menggedor sukma, maklumlah ciptaannya Teh Melly Goeslaw memang nggak diragkan lagi. Yang dinyanyikan CJR membangkitkan semangat pantang menyerah untuk berubah menjadi lebih baik.

Yuk, nonton "Rudy Habibie". Mumpung masih tayang nih filmnya di seluruh bioskop di Indonesia ^_^



Oya, sekalian saya mengucapkan  : 
"Selamat Hari Raya Idul Fitri". 
Mohon maaf lahir dan batin yaa ^_^

Model Nicholas Saputra


Selasa, 31 Mei 2016

Ada Apa Dengan Cinta 2, film yang saya tonton sebanyak 4 kali di bioskop!



Setelah sekian lama film Ada Apa Dengan Cinta tayang di bioskop Indonesia, terhitung sudah sebulan lebih. Jumlah penonton sudah mencapai 3,6 juta lebih. Sudah sejak lama pengin sekali menulis tentang kesan-kesan saya pada film ini. Tapi baru sekarang sempat saya tuliskan, sembari menunggu saya menontonnya 4 kali sesuai rencana saya.

Kabar AADC2 akan dibuat sudah ada sejak tahun 2014. Sejak itu saya sangat menunggu hadirnya film ini. Ada banyak faktor mengapa saya ingin sekali menonton film ini.

Pertama, karena pemeran utamanya Nicholas Saputra. Aktor Indonesia favorit saya sejak pertama kali kemunculannya di AADC1.

Semua film yang diperankan Nicholas Saputra pasti saya tonton di bioskop, kecuali beberapa film yang memang tidak ditayangkan di bioskop dan sampai sekarang sulit mendapat akses menontonnya.

Saya memang sudah suka Nico sejak melihatnya di AADC1. Wajahnya suka banget. Cakeep. Bentuk hidung yang bagus, mata yang tajam, bibir yang sering cemberut tapi gemesin. Resmilah sejak saat itu saya jatuh cinta pada sosok Nicholas Saputra.

Kedua, karena saya suka film AADC1. Menurut saya itu adalah film remaja Indonesia terbaik. Akting Dian sangat brilian. Walau kisahnya sederhana, tapi film ini memang menarik. Apalagi ditambah musik dari Melly Goeslow dan Anto Hoed yang luar biasa bernyawa, memorable banget sampai sekarang.

Ketiga, karena diproduksi Miles Production. Selama ini film-film Miles selalu bagus. Ditambah disutradarai Riri Riza.

Maka, saya pun dengan antusias menonton AADC2 sendirian! Yah, saya ingin menikmati film ini secara personal. Memang saya baru menontonnya di minggu kedua, karena berharap penonton sudah mulai longgar dan sengaja memilih waktu di jam pertama.

Jujur, saat pertama kali kamera memunculkan sosok Rangga, airmata saya mengembang di pelupuk mata. Yaa, betapa rindunya saya pada sosok Rangga. Melihatnya lagi serasa rindu bertahun-tahun yang akhirnya terurai. Saya nggak mengada-ada. Sungguhan lho ini. Terhitung airmata saya hampir mengalir di tiga bagian. Padahal ini bukan film sedih. Tapi saya ikut merasakan kesedihan Rangga saat dia minta maaf pada Cinta, dan Cinta yang berusaha keras menahan emosinya.

Adegan berikutnya yang mengharukan adalah saat Rangga akhirnya bertemu ibunya. (Ups! Semoga ini bukan spoiler)

Semua hal di film ini terasa sangat tepat. Pemilihan New York bagian Brooklyn yang pas dengan karakter Rangga. Banyak yang menyesalkan kenapa penampilan Rangga tidak seperti AADC versi iklan line. Saya justru merasa di film ini adalah gambaran Rangga yang sesuai dengan karakternya sejak SMA dulu.

Puisi yang dibacakan Nico dengan suara yang jauh lebih matang dibanding 14 tahun lalu pun bikin saya merinding. Jadi pengin meluk Rangga...eh? >.<

Setting Jogja yang lekat dengan seni dan kebudayaan kontemporer pun sangat terasa pas dengan karakter Rangga dan Cinta. Selain karena saya orang Jogja, sehingga setting film ini terasa sangat familier, seolah saya ikut melebur dalam film yang saya tonton ini.

Sinematografinya pun aduhai. Memanjakan mata dan memberi atmosfir magic nan romantis. Musik yang pas di tiap adegan membuat saya semakin terhanyut.

Saya suka banget lagu "Jangan Ajak-Ajak Dia" yang mengiringi adegan Rangga dan Cinta di Punthuk Setumbu. Musiknya asyik, walau liriknya kalau diperhatikan bagai ajakan selingkuh sesaat. Suara hati Rangga meminta Cinta melupakan dulu sebentar tunangannya, fokus sama dia aja. Ranggaaa ... diam-diam menghanyutkan yaa... kayaknya kalem, sebenarnya sedang membujuk dengan halus tanpa kentara bahkan Cinta pun nggak sadar. Tapi saya nggak menyalahkan Rangga. Selama janur kuning belum melengkung masih boleh kok memperjuangkan cinta ;) *eh ya, ini bukan spoiler kan? Udah pada tau, kan? Udah banyak yang nonton juga ... ;)

Hal lain yang menjadi daya tarik film ini, chemistry Rangga dan Cinta yang terasa kuat banget. Penonton dibuat percaya, mereka benar-benar Rangga dan Cinta yang saling memendam perasaan. Melupakan kenyataan pemerannya adalah Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo. Yang ada di layar keduanya adalah Rangga dan Cinta yang ditakdirkan bersama, sepasang belahan jiwa.

Alhasil, menonton cuma sekali bagi saya tidak cukup. Saya pun menonton lagi bersama teman-teman. Dua kali pun belum cukup, saya menonton untuk yang ketiga kalinya bersama teman lain. Barulah menjelang akhir Mei, saya memutuskan menonton lagi untuk yang keempat kali sendirian. Kembali saya ingin menikmati kisah Rangga dan Cinta secara personal. Membiarkan diri saya terhanyut ikut terbawa perasaan Rangga dan Cinta. Dan endingnya sungguh-sungguh membuat saya bahagia. Jarang-jarang ada film yang setelah selesai membuat saya tersenyum lega dan bahagia.

Lalu saat film berakhir, saya sangat berharap, Miles Production berniat membuat versi extended-nya. Dijamin akan kembali menciptakan baper massal. Atau dibuat versi AADC The Wedding seperti film Tangled yang juga ada versi Tangled The Wedding. Membayangkan versi ini ada adegan persiapan Rangga dan Cinta menuju janji suci pernikahan. Cinta dipingit, ada acara midodareni bareng genk Cinta. Rangga yang nyuri-nyuri kesempatan ketemu Cinta ... aaah, imajinasi yang indah banget yaa.

Akhir kata, saya ikut bangga, film AADC2 bisa mencapai jumlah penonton sebanyak ini. Berharap bisa tembus 4 juta penonton. Aamiin.

Ayo dong, rugi deh kalau nggak nonton film ini. Saya pun masih mau nonton lagi kalau saja saya tidak diharuskan mulai konsentrasi menulis naskah saya selanjutnya yang DL-nya sebelum lebaran.





Menonton #AADC2 sekali lagi untuk yang ke-4 kali, sebelum konsentrasi menulis naskah mulai 1 Juni. Nggak bosan nontonnya. Ceritanya sederhana tapi dikemas apik. Musik yang pas di setiap adegan, senimatografi ciamik. Puisi yang mencabik perasaan. Chemistry pemain yang luar biasa. Penonton dibikin percaya, Rangga dan Cinta benar-benar pasangan yang pas. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan Cinta. Ah..ah. Tidak ada akting yang berlebihan, semua tampak real. 

Memecahkan rekor saya sendiri, film yang saya tonton di bioskop lebih dari dua kali. 

Thank you Mbak @mirles, Mas @rizariri, Mas @nicholassaputra, Mbak @therealdisastr. Sudah bikin saya bahagia dengan menonton film ini ^_^



Ini pesan dari Mbak Mira Lesmana ...ahahah


Rabu, 28 Oktober 2015

Menghadiri Gala Premiere Ayah Menyayangi Tanpa Akhir MD Pictures

Tanggal 27 Oktober 2015 kemarin aku diundang hadir di gala premiere film "Ayah Menyayangi Tanpa Akhir" yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Mbak Kirana Kejora.




Film ini diproduksi MD Pictures yang juga meminang novelku "Tahajud Cinta di Kota New York" untuk diadaptasi menjadi film.

Selama ini aku mendapat undangan menonton premiere film Starvision. Ini yang pertama kali aku hadir di gala premiere film MD Pictures.

Ada beberapa perbedaan. Kali ini konferensi pers diadakan di dalam bioskop. Para pemain duduk di kursi berjajar di hadapannya ada meja. Waktu yang sangat mepet menyebabkan tanya jawab hanya singkat saja.



Menurut Pak Manoj, ini adalah film MD Pictures yang tidak diproduseri Pak Manoj sendiri, melainkan oleh Pak Hany R. Saputra sang sutradara.

Karena MD ingin mengembangkan usaha bukan hanya memproduksi film, tapi juga menjadi distributor.

Syuting film ini dilakukan saat bulan ramadhan kemarin, jadi lumayan deh tantangannya kata Fedi Nuril.



Nih, yang paling kiri Ihsan ^_^

Film ini berkisah tentang perjuangan seorang ayah bernama Arjuna yang harus merawat sendiri anak lelakinya bernama Mada sejak lahir, karena istrinya yang warganegara Jepang meninggal setelah melahirkan anak mereka. 

Cobaan buat Juna, masih ditambah dengan kenyataan Mada mengidap kanker otak. Juna ngotot ingin mengobati Mada lewat obat herbal tanpa operasi. Tapi Mada tak sanggup menahan sakit, akhirnya harus dioperasi.

Bagaimana kelanjutannya? Silakan saksikan sendiri ya. Filmnya mulai resmi tayang serentak besok 29 Oktober 2015. 

Selama film berjalan, aku hanya membayangkan, andaikan yang menjadi Juna adalah Reza Rahardian, hasil filmnya pasti beda. Mungkin bisa lebih bernyawa.

Ohiya, soundtrack film ini dinyanyikan Ihsan Tarore. Enak lagunya, suaranya mantap dan sosok Ihsan aslinya hm ... boleh juga.

Sempat foto bareng Mbak Kirana, seniorku dalam menulis. Semoga menyusul film yang diadaptasi dari novelku akan mengadakan gala premiere juga tahun depan. Aamiin.


Oh iya, ada satu kejutan di film ini saat disorot teh kepala djenggot dan Japanese Green tea latte minumanku sehari-hari. Waah, nggak sangka, ada juga yang minum teh hijau cap kepala djenggot. Semoga dengan rajin minum teh hijau jadi sehat, aamiin ^_^




Kamis, 27 Agustus 2015

Premiere Film Gangster

Alhamdulillah, masih mendapat undangan dari Starvision untuk menghadiri premiere film terbarunya. Kali ini berjudul "GANGSTER".

Yang menarik, ada Hamish Daud. Pengin tahu saja sih, seperti apa ya orang langsungnya ^_^

Undangannya unik yaa ^_^

Seperti biasa, premiere dimulai pukul 7 malam di Epicentrum XXI, Kuningan.


Lumayan, bisa lihat pemain-pemainnya langsung ^_^



Mm.. kaget ada Dian Sastro walau cuma sebentar dan berperan sebagai tokoh yang 'cuma' disebut 'pacar si jangkung'. Hamish Daud jadi bule ndeso jago beladiri bernama Jamroni. Dwi Sasono dan Agus Kuncoro seperti biasa aktingnya sudah matang.

Ceritanya ... nonton aja sendiri deh yaaa. Ada beberapa adegan yang bikin tertawa. Jadi ini sepertinya action yang diselipi humor di beberapa bagian. Hamish Daud nya lumayan deh buat dipandang2.

Setting adegan perkelahiannya boleh juga, di antara gerbong-gerbong kereta.

Yuk, nonton film Indonesia.
‪#‎gangster‬ ‪#‎indonesianmovie‬ ‪#‎premiere‬ ‪#‎starvision‬ ‪#‎hamishdaud‬ ‪#‎diansastro‬

Action dulu ...

Siap-siap nonton

Setelah keluar dari teater, pasti dikasih suvenir seperti ini

Sabtu, 13 Juni 2015

JURASSIC WORLD, film yang kutunggu-tunggu

Photo from https://en.wikipedia.org/wiki/Jurassic_World

Sejak tahun lalu, ketika tahu film ini akan dibuat, aku sudah nggak sabar ingin menontonnya. Saat menonton Jurassic Park pertama kali dulu, aku suka sekali dengan kisah hewan-hewan yang sudah punah lalu dihidupkan kembali ini. Rasanya menakjubkan membayangkan hewan-hewan besar dengan bentuk yang luar biasa ini pernah hidup di bumi ini.

Jurassic Park ke-2 aku rasakan sudah tidak seseru yang pertama walau masih bisa dinikmati. Tapi Jurassic Park ke-3, benar-benar tidak sesuai harapanku. Ide tentang T-Rex yang terdampar di New York terlalu dipaksakan dan jadi mirip Godzilla.

Sampai kemudian kisah tentang hewan-hewan yang sudah punah ini dibuat lagi. Saat melohat trailernya, aku sudah bisa merasakan kali ini lebih bagus dari Jurassic Park ke-2 dan ke-3.

Semula aku berniat akan menontonnya di hari pertama pemutarannya di Indonesia. Tapi karena suatu hal, akhirnya aku undur esok harinya, tanggal 11 Juni aku memutuskan ke mal memanjakan diriku sendiri. Mentraktir makan dan nonton diriku sendiri. Asyik lhom sesekali menikmati hal yang menyenangkan sendirian :)

Aku memilih menonton di jam pertama. Sebelumnya, aku makan siang Japanesse food kesukaanku. Rice bowl beef yakiniku dengan green tea hangat.

Makan siang favorit kalau lagi ke mal :)

Bukti kalau beneran nonton ^_^

Benar saja, Jurassic World memang seruuuu. Keadaan Isla Nublar 20 tahun kemudian menjadi lebih canggih. Sudah resmi dibuka dan bisa dikunjungi. Keamanan super ketat. Teknologi serba canggih. Wuiiih terbayang betapa menakjubkannya kalau memang benar-benar ada. Dan tentu betapa mahalnya harga tiketnya.

Kisah diawali dengan Gray, seorang anak laki-laki yang sepertinya masih usia sekolah dasar atau, yang sukaaa banget dengan hewan-hewan zaman jurassic. Dia pun diizinkan berkunjung ke Jurassic World. Ditemani kakaknya Zach yang sudah SMA yang sebenarnya nggak terlalu berminat, tapi tugas dari ibunya harus mengawasi adiknya. Ibu Zach dan Gray percaya kedua anaknya akan baik-baik saja karena ada tante mereka, Claire, yang bekerja sebagai manajer operasional di Jurassic World.

Ada kisah keluarga di sini tentang kakak yang semula cuek dan menemani adiknya hanya karena ditugaskan ibunya, tapi kemudian setelah melalui berbagai kejadian dia berusaha keras melindungi adiknya. Tentang seorang tante yang saking sibuknya, merasa cukup dengan memberi akses pengunjung VIP untuk dua keponakannya. Tapi akhirnya dia menyadari saat keadaan semakin tidak terkontrol, dia mengkhawatirkan kedua keponakannya.

Ada juga tokoh Owen Grady yang kereeen abis diperankan Chris Pratt, seorang pelatih velociraptor.

Situasi Jurassic World menjadi kacau gara-gara ada dinosaurus yang sudah dimodifikasi lebih besar, lebih pintar. Dinamakan Indominus Rex. (Namanya berbau2 nama Indonesia ya? :D). Ini asalnya T-rex yang digabung dengan beberapa DNA binatang purba lainnya, di antaranya DNA velociraptor. Bayangkan ada mahluk ganas yang besaaaar banget dan pintar. Bisa menjebak manusia. Bahkan bisa menyamar seperti bunglon. Ngeriiii. Susah banget dikalahkan.

Secara keseluruhan film ini sangaaat keren. Cuma ada satu hal yang agak mengganjal. Sepatu hak tinggi Claire. Kenapa mengganjal? Silakan tonton sendiri saja deh yaaa supaya nggak spoiler :D

Setelah selesai menonton, aku nggak sangka menemukan es krim Jeju di mal itu. Padahal sebelumnya aku cari-cari di mal lain nggak ada. Ketika aku duduk beristirahat di bangku yang tersedia di lobby bawah, voila! Es krim itu ada di depanku!

Sudah pernah nyoba es krim ini? Mmm.... enak juga. Rasa green tea dan yogurt


Minggu, 31 Mei 2015

Review Film : CORALINE

Photo from http://www.imdb.com/media/rm1274647808/tt0327597?ref_=tt_ov_i

Hati-hati dengan keinginanmu...

Film yang menarik, animated 3D dark fantasy film. Produksi tahun 2009. Diadaptasi dari novel karya Neil Gaiman.

Coraline Jones adalah seorang anak berusia 11 tahun yang baru saja pindah ke sebuah rumah yang konon katanya berusia seratus tahun lebih. Ayah ibu Coraline adalah penulis yang sibuuuuk sekali mengejar deadline. Sepanjang hari mengetik di depan laptop. Melupakan Coraline anak mereka yang sedang penuh rasa ingin tahu dan mudah bosan.

Ayah dan ibunya selalu menyuruh Coraline pergi bermain supaya tidak mengganggu pekerjaan mereka. Sampai akhirnya Coraline menemukan dunia lain, di mana dia menemukan copy ayah ibunya tapi dalam versi yang lebih menyenangkan dan perhatian. Membuatnya betah berada di dunia lain itu.

Hanya ada yang aneh dengan ibu dan ayahnya yang lain ini. Mata keduanya berupa kancing. Di duni yang lain ini, Coraline dimanjakan. Ibunya memasak makanan enak. sangat berbeda dengan ibu aslinya. Ayahnya yang bermata kancing ini senang berkebun dan menanam pepohonan dan bunga yang jika dilihat dari atas, membentuk wajah Coraline.

Namun semua hal yang menyenangkan di dunia yang berbeda itu ternyata hanya sebuah jebakan. Yang jika Coraline tidak segera sadar, dia akan terjebak selamanya di situ dan tidak akan bisa bertemu ayah ibunya yang asli lagi.

Aish, keren lah ceritanya. Cerita anak-anak yang menarik. Gambar yang juga menarik. Diselingi dialog-dialog cerdas dan lucu. Bikin penasaran. Apalagi ada horornya sedikit. Ada satu bagian yang agak mirip dengan salah satu novel Goosebumps yang pernah kubaca

Sabtu, 16 Mei 2015

Review Film : The Odd Life of Timothy Green

Photo from : http://en.wikipedia.org/wiki/The_Odd_Life_of_Timothy_Green
Film keluarga yang menarik. Produksi tahun 2012. merupakan film dengan genre fantasy comedy drama film.

Film ini bercerita tentang suami istri Jim dan Cindy Green yang sedih karena divonis dokter mereka tidak akan memiliki anak. Cindy bekerja di museum lokal, Jim bekerja di pabrik pencil di kota kecil tempat mereka tinggal. Cindy dan Jim menuliskan karakter anak yang mereka harapkan di sehelai kertas kecil, lalu memasukkannya ke kotak kayu dan menguburkannya di halaman. Tiba-tiba saja turun hujan deras disertai badai. Tapi anehnya hanya terjadi di rumah dan halaman suami istri Green. Setelah itu, tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah mereka seorang anak laki-laki berusia 10 tahun mengaku bernama Timothy.

 Timothy seperti layaknya anak normal biasa, hanya ada satu kejanggalan, pergelangan kakinya ditumbuhi daun. Pasangan Jim dan Cindy itu sudah lama sekali mendambakan anak, segera saja mereka menganggap Timothy sebagai anak mereka. Apa pun mereka lakukan demi kebahagiaan Timothy.

Kehadiran Timothy walau hanya semusim, tapi mampu menyadarkan beberapa orang dari kebiasaan buruk yang sebaiknya diubah. Ayah Jim yang semula tak peduli padanya, menjadi lebih peduli. Bos Cindy yang super jutek nggak pernah senyum, karena dilukis Timothy dengan jujur menyadari selama ini dia memiliki sifat yang tidak menyenangkan. Pelatih sepak bola Timothy yang semula meremehkan kemampuan Timothy bermain bola, justru bangga dengan gol yang diciptakan Timothy walau ke gawang sendiri. Kehadiran Timothy membuat beberapa orang menyadari ada yang harus diperbaiki dari sikap mereka.

Sayang, setelah tugasnya usai, daun-daun di kaki Timothy gugur dan itu artinya dia harus pergi.

Benar kata The Beatles. All you need is love. Dimulai dari saling peduli dan menghargai lalu muncul rasa menyayangi.

Film yang penuh makna, yang setelah selesai menonton membuat kita menarik napas lega dan tersenyum.

Selasa, 14 April 2015

Review Film : BOYHOOD

Photo from http://en.wikipedia.org/wiki/Boyhood_(film)


Durasi film ini lumayan lama. Menceritakan kisah kehidupan seorang anak lelaki dengan kakak perempuannya, dan kedua orangtuanya yang sudah berpisah. Mulai dari anak bernama Mason itu masih SD sampai lulus SMA.

Yang istimewa, film ini dibuat selama 12 tahun! Dari tahun 2002 sampai tahun 2014. Pemain ciliknya benar-benar tumbuh alami sejak mereka masih kecil sampai akhirnya remaja. Awalnya aku sempat bingung kenapa pemeran anak-anaknya wajahnya tidak berubah tetapi badannya tambah tinggi. ternyata memang pemainnya itu-itu saja. Perubahan orangtuanya pun natural banget. patricia Arquette yang berperan sebagai ibu Mason awalnya langsing dan muda, kemudian perlahan berubah seiring bertambahnya usia.

Perubahan Mason dari SD sampai SMA
Photo from http://wae.blogs.starnewsonline.com/45305/new-cinematique-movies/

Ethan Hawk berperan sebagai ayah Mason yang sudah bercerai dengan ibu Mason. Pekerjaan ayahnya tidak jelas, apa saja dikerjakan. Kemudian ibu Mason kuliah dan menikah lagi dengan duda beranak dua, lelaki dan perempuan. Mereka menjadi keluarga besar. Mason jadi punya saudara laki-laki sepantar dirinya, sedangkan kakaknya juga jadi punya saudara perempuan yang berusia sebaya.

Awalnya, ayah tiri Mason baik. Tapi lama kelamaan ketahuan karakter aslinya yang temperamen, ibu Mason menjadi korban kekerasan suami barunya, hingga akhirnya tak tahan lagi dan membawa Mason dan kakaknya pergi meninggalkan ayah tiri mereka.

Aku salut dengan produser film ini yang bisa mengikat pemeran-pemerannya selama 12 tahun. Patricia Arquette mendapat Oscar lantaran aktingnya yang ciamik di film ini.

Minggu, 12 April 2015

Review Film : The Imitation Game

Halo April. Waah, sudah lama banget nggak posting di sini. Kali ini mau posting review-ku untuk film Imitation Game.

Photo from
www.filmmusicnotes.com/oscar-nominees-the-imitation-game

Terkadang, seorang yang tak terduga, mampu melakukan hal yang tak terduga.
 ~Alan Turing.


Rasanya sulit percaya film ini berdasarkan kisah nyata. Penuh dengan konflik, intrik, aaah, betapa karakter utama tak diberi kesempatan menyicipi kebahagiaan. Mungkin ada sedikit, saat akhirnya Alan bisa memecahkan kode enigma. Tapi ... ini contoh kisah yang tegaaa banget sama pemeran utamanya. Dan ini bukan fiksi, ini nyata. 

Diperankan Benedict Cumberbatch, salah satu alasan aku pengin banget menonton film ini. Sudah kepincut dengan aktingnya sejak menontonnya dalam film "SHERLOCK".

Berkisah tentang perjalanan hidup Alan Turing saat mencoba mendaftarkan diri masuk ke dalam tim pemecah kode rahasia untuk pemerintah Inggris.

Alan Turing adalah seorang super jenius, menjadi profesor matematika saat baru berusia 24 tahun. Msa kecilnya agak kelam, kerap menjadi korban bully teman-temannya di sekolah karena terlalu pintar. Hal ini yang kemudian membuatnya tumbuh menjadi seorang pemuda kaku yang tidak tahu bagaimana cara bersikap agar disukai banyak teman.

Tim pemecah kode rahasia terdiri dari 6 orang pemecah kode rahasia terbaik di Inggris. Tapi teknik Alan yang beda sendiri dengan teman-temannya, belum lagi sikapnya yang kaku, membuatnya kurang disukai teman-temannya. Saat yang lain mencoba memecahkan kode rahasia tentara Jerman secara manual, Alan malah sibuk membuat mesin. Dia bersikeras minta dana untuk membuat mesin pemecah kode rahasia Jerman yang disebut enigma.

Awalnya, Alan tak bisa membuktikan mesinnya mampu menghasilkan. Tapi dia tak menyerah walau banyak yang menentang dan meremehkan idenya, dia teru menunggu mesinnya menunjukkan hasil. Sempat hampir dihentikan pemerintah Inggris mesinnya itu, tapi Alan berjuang agar mesinnya bisa terus berjalan, dibantu teman-teman satu timnya yang mulai mendukungnya. Akhirnya dia berhasil, mesin ciptaannya bisa membaca kode rahasia tentara Jerman. Kemudian mengantarkan Inggris memenangkan perang atas Jerman.

Banyak quotes bagus di film ini. Salah satunya, penemuan hebat biasanya dihasilkan oleh orang yang tidak normal, orang yang sangat unik, extraordinary. Betapa beratnya usaha seseorang untuk mewujudkan pemikirannya yang luar biasa, awalnya banyak yang meragukan dan tidak percaya. Namun ternyata, penemuannya itu memberi jasa besar dalam kehidupan manusia hingga saat ini dan kemudian menjadi cikal bakal komputer yang kita gunakan sekarang. 

Kisah yang sangat sangat inspiratif.

Rabu, 24 Desember 2014

Review Film : Pendekar Tongkat Emas

Ini adalah film yang paling kunanti-nantikan sepanjang tahun ini, karena sudah gencar diberitakan sejak baru persiapan syuting. Yang bikin aku pengiiin banget nonton apalagi kalau bukan karena pemainnya Nicholas Saputra, aktor Indonesia favoritku. Selain itu, rasanya sudah lamaaaa sekali nggak melihat aksi Mas Nico di layar lebar.

Semula aku berharap bisa beruntung mendapat kesempatan nonton premiere filmnya, lumayan kan bisa ketemu Nico langsung. Tapi apa daya, nggak beruntung menonton premierenya, akhirnya nonton sendiri saja deh di studio XXI terdekat dari rumah, di Puri Mal Jakarta Barat.

Aku memilih menonton di hari senin tanggal 22 Desember di jam pertama pukul 12.15. Harapanku supaya nggak perlu antri lama, karena bertepatan dengan liburan anak sekolah, pasti mal bakal penuh deh.

Mungkin karena jam pertama, penonton nggak terlalu penuh, tapi lumayan deh, kudoakan film Pendekar Tongkat Emas ini sukses banyak penontonnya.

Wah, akhirnya dapat tiketnya ^_^
Posternya aja keren, apalagi filmnya ^_^

Film dibuka dengan hamparan pemandangan indah, tentunya dari yang kubaca aku tahu tempat syuting film ini di tanah Sumba, walau di dalam film diceritakan sebagai negeri antah berantah.

Dimulai dengan Cempaka guru silat wanita yang diperankan aktris senior Christine Hakim yang seperti biasa aktingnya cemerlang. Guru Cempaka memperkenalkan satu persatu murid-muridnya kepada penonton.

Awal cerita berjalan agak lambat, walau menyuguhkan adegan pertarungan dalam kompetisi yang diadakan tiap tahun. Cempaka melarang murid-muridnya untuk ikut dalam kompetisi itu, dia hanya mengirim muridnya yang paling senior, Biru dan Gerhana untuk mengucapkan selamat kepada perguruan silat yang menjadi pemenang.

Biru dan Gerhana adalah anak musuh Cempaka yang kemudian dijadikan murid untuk menebus kesalahannya. Kesabaran Biru dan Gerhana akhirnya habis juga saat Cempaka ternyata menyerahkan tongkat emas sakti untuk Dara, padahal Biru sudah yakin sekali, dialah yang akan meneruskan memegang tongkat emas itu. Tentu saja Biru dan Gerhana tidak diam saja menghadapi kenyataan Dara yang mewarisi tongkat emas itu. Biru dan Gerhana  berusaha merebut tongkat emas itu dari Dara.

Sejujurnya, aku nggak sabar menunggu kemunculan tokoh yang diperankan Nicholas Saputra, hehehe. Penasaran, seperti apa sih sosok Elang di film ini.

Setelah sabar menunggu, dan disuguhkan akting Reza Rahardian sebagai Biru yang brilian seperti biasanya, akhirnya muncul juga sosok Elang.

Karakter Elang mengingatkan aku pada karakter Rangga di film AADC, menurutku bukan karena Nico nggak bisa move on dari karakter perdananya dulu, tapi kenyataannya kali ini Nicholas Saputra memang diberikan peran yang nggak berbeda jauh dengan perannya dulu sebagai Rangga. Sosok lelaki misterius, nggak banyak omong, cool, menyimpan rahasia masa lalu, tapi sebenarnya berilmu tinggi. Karakter seperti ini memang paaaas banget diperankan Nico yang sepertinya memang cool beneran. I love it. Langsung jatuh cinta ^_^

Dalam film ini, misterius banget deh siapa sosok Elang sebenarnya, pelan-pelan penonton akhirnya tahu, siapa sesungguhnya Elang. Elang juga dihadapkan pada dilema antara menolong Dara atau melanggar sumpahnya.

Ada kemunculan sekilas tapi berarti Prisia Nasution sebagai Cempaka muda dalam adegan kilas balik dan Darius Sinathrya sebagai ... ah, nonton sendiri aja yaaa :D

Reza Rahardian menurutku sukses memerankan sosok Biru, seorang pendekar yang ambisius ingin menjadi pendekar silat terhebat di dunia persilatan. Rela melakukan apa saja, dengan cara licik dan kejam sekali pun demi memenuhi ambisinya. Kuakui, Reza aktor yang selalu sukses memerankan karakter apa saja. Jadi penjahat pun bisa terlihat menyebalkan, tanda dia berhasil lebur dalam karakter yang diperankannya.

Sementara Eva Celia sebagai Dara, mampu menunjukkan tokoh Dara yang memang belum terlalu mahir dalam ilmu bela diri, belia dan belum banyak pengalaman.

Yang juga menarik perhatian adalah tokoh Angin yang mengingatkan aku pada aktor silat cilik Hongkong yang sering menemani Bobo Ho, tapi aku lupa namanya ^_^

Adegan perkelahian cukup bagus, mengingat semua pemeran bukanlah ahli bela diri asli. Walau aku pernah nonton salah satu wawancara Nico katanya Nico hobi bela diri juga?

Memang belum bisa dibandingkan dengan film silat Hongkong, tapi untuk ukuran film Indonesia, aku memberi penghargaan setinggi-tingginya dengan keberanian Mira Lesmana dan Riri Reza untuk membuat film bergenre silat seperti ini. Sungguh bagai oase di antara film-film Indonesia yang nyaris seragam.

Kelebihan utama film ini, tentunya sinematografinya yang spektakuler, meng-ekspose keindahan tanah Sumba, sekaligus memperkenalkan tenunnya dalam wardrobe pemain-pemainnya. Ini adalah kelebihan Mira Lesmana dan Riri Reza lainnya, selalu memanfaatkan karya film mereka untuk juga mempromosikan potensi keindahan salah satu wilayah Indonesia, menyusul kesuksesan mengangkat nama Belitong dalam Film Laskar Pelangi.

Semoga dengan adanya film ini, wisata ke tanah Sumba menjadi semakin maju, banyak yang tertarik datang ke sana. Tur wisata ke tempat syuting film Pendekar Tongkat Emas bisa menjadi daya tarik wisatawan berkunjung ke tempat ini.

Cerita film ini diakhiri menggantung, sangat terbuka untuk dibuat sekuelnya. Mungkin suatu saat nanti Mira Lesmana dan Riri Reza berniat membuat lanjutan film ini. Tentunya aku akan senang sekali karena bisa melihat aksi Nicholas Saputra lagi ^_^.

Oya, karena promosiku tentang film ini ke adikku, esok harinya adikku juga menonton film ini bersama kekasihnya.

Tiket adikku dan kekasihnya ^_^



Yang belum nonton film ini, yuk buruan nonton. Rugi deh kalau nggak nonton di bioskop. Karena pemandangan alamnya yang spektakuler dan adegan silatnya lebih menarik jika ditonton di bioskop yang berlayar lebar.

Oya, ada satu yang menurutku kurang, aku mengira lagu soundtrack film ini "Fly My Eagle" yang dinyanyikan Anggun C. Sasmi akan diperdengarkan di akhir film mengiringi subtitle, tapi setelah kutunggu hingga subtitle habis, ternyata nggak ada vokal Anggun C. Sasmi menyanyikan ost film ini :(

Anyway, aku doakan film ini bertahan di bioskop hingga Januari, kalau masih ada aku pengin nonton lagi deh.

Salam buat Nicholas Saputra yaa, eh, Elang ... fly my eagle fly ... ^_^

Oya, aku pengin sedikit norak-norak bergembira ah. Akhirnya mentionku di-RT Nicholas Saputra. Waah, senangnya bukan main. Walau cuma di RT doang ^_^