Kamis, 31 Desember 2015

#YearEndHoliday part 2 : Pantai Indrayanti Wonosari, Gunungkidul. Pantai berpasir putih



Sejak sering membaca informasi tentang pantai berpasir putih ini, penasaran ingin tahu seperti apa. Ternyata perjalanan menuju pantai ini lumayan jauh.

Berliku-liku, naik turun, terkadang jalan yang dilalui menanjak agak curam, namun karena kanan-kiri disuguhi pemandangan indah, pepohonan, lembah hijau dan sawah terasering, perjalanan menuju pantai menjadi menyenangkan.

Pantai Indrayanti awalnya bernama Pantai Pulang Sawal. Tapi karena di dekat pantai ini ada Hotel Indrayanti, nama pantai ini pun lebih dikenal sebagai Pantai Indrayanti.

Tak menyangka, pantai ini ternyata penuuuuh sekali. Menjadi agak kurang nyaman. Sebenarnya pantainya bagus, tapi karena terlalu penuh orang, keindahannya jadi tertutupi.

Walau begitu, nggak menyesal datang ke pantai ini. Menyadarkan betapa Indonesia memang dikaruniai keindahan alam tiada tara. Begitu banyak pantai, gunung, gua, yang membuat hati senang saat mengunjunginya.


Pasir putih

Karena di sini panas sangat terik, disediakan payung-payung yang bisa disewa, dilengkapi tikar. Biayanya hanya 20.000 saja sampai sepuasnya.
Tiket masuk ke pantai ini cukup 10.000 saja.

Ada yang bilang, buat orang Jogja, tak usah jauh-jauh ke Bali jika ingin menikmati pantai berpasir putih. Cukup ke deretan pantai di Gunungkidul saja. Suasananya nggak jauh beda.

Yang sudah pernah ke sini, bagaimana pendapatnya? ^_^


Terik sekali di pantai ini. Pukul 10 pagi sudah serasa pukul 12 siang. Lalu kami ke bagian yang berada di pinggiran tebing karang yang menjorok ke laut. Agak teduh di sini. Bisa merendam kaki di antara batu-batu karang.

Pukul 11 lebih, ombak semakin tinggi dan ganas. Jilatan gelombang hampir mencapai tempat kami menyewa tikar dan payung. Saatnya untuk menyudahi kunjungan kami ke pantai ini.

Setelah membersihkan tubuh dari air laut yang lengket, istirahat sebentar, lalu kami kembali ke Kota Jogja. 

Kunjungan selanjutnya ke Keraton Jogjakarta. Waah, karena bertepatan dengan liburan akhir tahun, Kota Jogja penuuuuuuh banget. Dan begitu deh tempat wisata di Indonesia kalau penuh pengunjung. Jadi banyak sampah... sedih.


Bagian keraton yang boleh dikunjungi wisatawan sedang kosong. Nggak ada kereta kencana dan seperangkat gamelan yang biasanya dipajang. Katanya sih karena beberapa malam sebelumnya digunakan untuk acara sekatenan. Mungkin sedang dibersihkan.

Nggak lama di keraton, setelah berkeliling, perjalanan kami lanjutkan ke Taman Sari yang nggak jauh dari Keraton. Dulunya ini tempat pemandian calon-calon selir Raja.

Di sini pun penuuuuuuhnya bukan main. Jadi nggak bisa memotret keindahan bangunannya. Di mana-mana ada orang.




Kali ini aku berusaha menemukan Masjid masa lalu yang berada di bawah tanah. Dua tahun lalu nggak kesampaian mengunjunginya.

Aiiiih, ternyata di sini juga penuuuuuuh pengunjung. Susah deh pengin foto-foto ... mungkin lain waktu ke sini lagi saat suasana tidak sepenuh ini. Supaya bisa meng-eksplore tempat ini lebih detail. 

Setidaknya rasa penasaranku sudah terjawab, di mana letak tangga di atas sumur kering menuju empat penjuru yang sering jadi lokasi foto prewedding, juga sering muncul di acara tv dan ftv :)



#YearEndHoliday part 2 : Festival Lampion Taman Pelangi Monjali


28 Desember 2015

Museum Monumen Jogja Kembali sekarang dimanfaatkan untuk taman lampion di malam hari. Dimaksudkan untuk menarik pengunjung. Dan tampaknya usaha ini berhasil. Saat aku berkunjung ke tempat ini bertepatan dengan libur bersama akhir tahun,  memang penuh pengunjung.




Lampion-lampion dibentuk berbagai macam, ada bentuk naga, ikan-ikan dan mahluk laut berikut karang-karangnya, ada light forest, ada juga tema Korea dan pohon-pohon Sakura. Tempat hiburan plus tempat untuk berfoto narsis yang menarik. Tapi kalau mau foto-foto selfie jangan sampai merusak lingkungan taman yaaa ... ingat, ingat!








Lampion bunga sakura emas









Masih ditambah beragam permainan untuk anak-anak. Termasuk mobil yang dikayuh dipenuhi lampu di bagian luarnya.

Makanan pun tersedia macam-macam. Sungguh, lingkungan Monumen Jogja Kembali ini menjadi semarak di malam hari.

Yang jalan-jalan ke Jogja, bisa mampir ke sini dan memanfaatkan kesempatan buat yang mau ckrek-ckrek upload ;)

Tiket masuknya 20.000 untuk satu orang.





#YearEndHoliday part 2 : Perjalanan Jakarta-Jogja super panjang

Sempat ragu ingin ikut berlibur lagi. Tapi berkumpul bersama sepupu dan keponakan memang menggelitik membuat ingin datang lagi. Akhirnya di detik-detik terakhir memutuskan ikut. Kehabisan tiket tersisa bus. Siapa sangka, perjalanan kali ini menjadi perjalanan dari Jakarta ke Jogja terlama yang pernah kualami.

Berangkat kamis 24 Desember pukul 5 sore, sampai Kulon Progo Jogja Sabtu 26 Desember pukul 1 dini hari. Kurang lebih 30 jam. Bukan main macetnya ...


Sepupu dan bulikku berjaga menungguku dan adikku. Karena dari tempat turun bus menuju rumah bulikku, sekitar 1 km. Bisa saja sih aku jalan kaki. Tapi sepupuku nggak tega dan menjemputku di ujung jalan masuk dengan motor. Aku membonceng sepupuku, adikku membonceng suami sepupuku.

Sampai rumah bulikku langsung mandi, kemudian dipaksa makan. berhubung lumayan lapar, aku pun nggak menolak. Setelah itu langsung tiduuuuuur ....

Walau baru tidur pukul 2 dini hari lebih, tapi aku tetap bangun nggak jauh dari sesudah subuh. Lega sekali rasanya melihat mentari bersinar di Desa Janten yang nyaman ^_^


Menjelang sore, kami menuju alun-alun Purworejo untuk makan malam. Asyiknya di Desa Janten ini, dekat dengan perbatasan Jogjakarta-Purworejo. Jadi kami bisa jalan-jalan ke Jogja, atau ke pusat kota Purworejo.

Alun-alun ini di malam hari ramai sekali. kami makan malam ketupat bumbu sambal kacang mirip ketoprak Jakarta, tapi bumbunya lebih cair.

Lalu menyewa mobil kayuh mengelilingi alun-alun. Lumayan olahraga.






Kamis, 24 Desember 2015

Cara Kirim Naskah ke Penerbit Quanta Elex Media Komputindo

Kali ini aku ingin berbagi informasi dari salah satu editor Quanta, lini dari Penerbit Elex Media Komputindo, yang sudah dirangkum dalam sebuah gambar.

Semoga bisa menjawab bagi teman-teman yang bertanya cara mengirim naskah ke penerbit Elex Media.

Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan langsung hubungi salah satu email yang tertera di gambar ini yaa ... Semoga berhasil ^_^





Novelku yang diterbitkan Penerbit Elex Media :

"Cinta Valenia" terbit Mei 2014


"Unforgotten Dream" terbit November 2014

Rabu, 23 Desember 2015

Giveaway #MerinduCahayadeAmstel

Ada yang mau novel gratis? Yuk, ikutan giveaway "Merindu Cahaya de Amstel".



 Boleh baca dulu review dari Mbak Atria Sartika yang saya copy paste dari link berikut : http://www.atriadanbuku.blogspot.co.id/2015/12/review-giveaway-merindu-cahaya-de-amstel.html

“Kalau kau sudah punya niat kuat ingin mewujudkan sesuatu, selalu ada jalan untuk mencapainya. It law of attraction namanya. Yakinlah dengan keinginanmu.” (Hal. 184)


Penulis: Arumi E
Editor: Donna Widjajanto
Tata letak isi: Fajarianto
Desain sampul: Shutterstock & Suprianto
Penerbit: Gramedia
Jumlah hal.: 271 halaman
ISBN: 978-602-03-2010-6

“Pekerjaanku adalah menangkap cahaya.”
Cahaya mentari sore menciptakan warna keemasan di permukaan Sungai Amstel. Mengingatkan Nicolaas Van Dijk, mahasiswa arsitektur yang juga fotografer, pada sosok gadis Belanda dengan nama tak biasa. Khadija Veenhoven. Gadis yang terekam kameranya dan menghasilkan sebuah foto “aneh”.

Rasa penasaran pada Khadija mengusik kenangan Nico akan ibu yang meninggalkannya sejak keci. Tak pernah terpikir olehnya untuk mencari sang ibu, sampai Khadija memperkenalkannya pada Mala, penari asal Yogya yang mendapat beasiswa di salah satu kampus seni di Amsterdam.
Ditemani Mala, Nico memulai pencariannya di tanah kelahiran sang ibu. Namun Pieter, dokter gigi yang terpikat pada Mala, tak membiarkan Nico dan Mala pergi tanpa dirinya. Dia menyusul dan menyelinap di antara keduanya.

Tatkala Nico memutuskan berdamai dengan masa lalu, seolah Tuhan belum mengizinkannya memeluk kebahagiaan. Dia didera kehilangan dan rasa kecewa itu dia lampiaskan pada Khadija yang telah mengajarinya menabur benih harapan.

Kembali Nico mencari jawaban. Hingga sinar yang memantul di permukaan Sungai Amstel menyadarkannya. Apa yang dicarinya ada di kota Amsterdam ini dan sejak awal sudah mengiriminya pertanda. Akankah kali ini Nico berhasil memeluk kebahagiaannya?

***

“Jangan menilai aku setinggi itu, Mala. Aku malu sama Allah. Allah tahu kesalahanku sebanyak apa. Tidak ada manusia suci. Manusia sering salah dan khilaf. Tapi, dari kesalahan kita belajar memperbaikin diri.” (Hal. 53)

Novel ini bercerita tentang kehidupan muslim di Eropa. Dalam novel ini ada 4 tokoh dengan porsi yang hampir sama banyak. Mereka adalah Khadija, Nico, Mala, dan Pieter. Namun Khadija dan Nico mendapat porsi yang sedikit lebih banyak.

Diceritakan bahwa Khadija Veenhoven adalah perempuan Belanda yang menjadi muallaf. Sejak memutuskan menjadi seorang muslimah, Khadija berusaha mengamalkan sebaik mungkin hal – hal yang sudah ia pelajari tentang Islam, termasuk dalam hal memakai hijab dan membatasi pergaulan dengan yang bukan mahram.

Di sisi lain, perkenalannya dengan Mala dan Nico membawa hal baru dalam hidupnya. Khadija merasa memiliki teman baik sejak berkenalan dengan Mala. Sedangkan dengan Nico, Khadija meras bingung harus bersikap seperti apa. Awalnya Khadija merasa terganggu dengan kehadiran pemuda itu di kehidupannya namun lama kelamaan ia mulai merasa nyaman dengan Nico.

Kemudian Khadija memperkenalkan Mala pada Nico yang kemudian jadi akrab. Nico bahkan ikut ke Indonesia saat Mala sedang ada kegiatan yang membuatnya harus kembali ke Indonesia selama beberapa waktu.

Di sisi lain, ada pula Pieter. Pieter ini sepupu Khadija yang mendadak tertarik dengan Islam. Selain itu, Pieter ternyata jatuh hati pada Mala setelah Khadija memperkenalkan mereka berdua. Sedangkan Mala malah tertarik pada Nico.

Bagaimanakah akhir dari kisah keempat orang ini?


“Aku tidak memaksamu menjalani hidup seperti aku, Mala. Karena yang akan menjalani hidupmu adalah kamu sendiri. Kamu yang paling tahu seperti apa cara hidup yang paling nyaman buatmu.” (Hal. 99)

***

“Soal dosa atau tidak dosa, cuma Allah yang berhak menilai.” (Hal. 100)

Novel ini sebenarnya bergenre novel religi, lebih tepatnya novel Islami. Kenapa? Karena di dalam novel ini banyak dibahas tentang Islam. Menariknya yang diketengahkan adalah cerita kehidupan Khadija sebagai muallaf.

Kehadiran Mala, mahasiswi Indonesia yang juga menggeluti seni tari menghadirkan warna tersendiri dalam hidup Khadija yang seorang muallaf. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim yang banyak. Meski bukan negara Islam, Indonesia identik dengan Islam. Namun Mala sendiri digambarkan masih sering lalai dalam menjalankan ibadahnya sebagai seorang muslim.

Selain itu, dihadirkannya sosok Nico yang terus berusaha memahami tentang agama. Ini karena ia tidak mengerti pilihan ibunya yang meninggalkan ia dan ayahnya karena alasan beda agama.

Selain itu, Arumi menghandirikan penggambaran yang tepat namun menyentil tentang beberapa hal yang berkembang di masyarakat. Seperti kisah di awal pertemuan Mala dan Khadija. Pikiran – pikiran Mala yang cenderung berburuk sangka pada Khadija memang banyak tejadi *dan saya pun sering mengalami hal serupa..hiks..* Entah kenapa ada sejumlah pandangan bahwa mereka yang “terlihat” memiliki penampilan yang lebih Islami (baju longgar, jilbab panjang dan lebar) punya “hobi” menceramahi orang lain. Ini membuat sejumlah orang merasa tidak nyaman. Mereka berpikir bahwa orang dengan penampilan seperti itu akan mudah men-judge orang lain kemudian sibuk menceramahi orang tersebut. Sayangnya, tidakkah mereka berpikir bahwa bisa jadi merekalah yang telah lebih dulu men-judge orang tersebut hanya karena penampilannya? Apa yang disampaikan oleh Arumi E dalam adegan perkenalan awal Mala dan Khadija ini cukup menyentil. Dan bisa jadi pemikiran yang menarik jika dicermati.

Selain itu di halaman 173, digambarkan ketertarikan Nico, laki-laki yang berasal dari Belanda, pada masyarakat Indonesia. Ia menyampaikan keheranannya pada sikap orang Indonesia yang seolah tidak merasa dendam pada orang Belanda padahal mereka tahu bahwa Indonesia punya sejarah buruk dengan Belanda. Orang Indonesia masih tetap ramah padanya.

Semua kondisi yang diketengahkan oleh Arumi E dalam novel ini adalah pelajaran yang menarik.

Salah satu bagian yang paling berkesan adegan di halaman 230. Saat diceritakan proses menjadi muallaf. Bagian dari proses ini menjadi “peringatan halus” bagi mereka yang menjadi muslim sejak kecil. 

Novel ini terasa sangat pas. Percakapannya menarik tanpa kesan menggurui namun memberi banyak pelajaran penting. Deskripsi tempatnya pun menarik. Porsiromance dalam novel ini pun pas, ada untuk memberi warna untuk cerita namun tidak terlalu banyak sehingga mengaburkan hal yang berusaha disampaikan oleh penulis melalui kehidupan tokoh – tokohnya.

Oiya, pilihan menggunakan POV 3 pun terasa lebih pas. Ini membuat semua sudut pandang jadi mendapat kesempatan untuk ditampilkan dan membuat pembaca memahami sikap dan karakter tokoh-tokohnya.

Yang terasa kurang adalah layout di dalam buku yang kaku. Terkesan monoton dan penuh. Sehingga bisa mengundang rasa bosan pembaca.

Namun kekurangan itu menjadi tidak begitu berarti karena cerita yang disuguhkan menarik dan cover bukunya manis. :)

“Semua butuh proses, Mala. Allah menilai proses yang kamu lalui. Yang penting kamu sudah berusaha menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.” (Hal. 100)

***

“Hidup memang sering kali terasa tidak adil. Manusia baru sadar hikmahnya setelah beberapa waktu kemudian.” (Hal. 198)

“Karena manusia memang diciptakan beragam. Tuhan bilang supaya kita saling mengenal. Manusia memang tidak akan bisa seragam, punya cara hidup dan keyakinan pilihan sendiri. Yang harus kita lakukan adalah saling menghargai pilihan masing – masing.” (Hal. 237)
***
“.... soal keyakinan adalah soal hati. Biarkan hatimu mencari sendiri apa yang paling nyaman untuk kamu jalani.” (Hal. 240)

Alhamdulillah ... "Merindu Cahaya de Amstel" menjadi salah satu dari 10 buku terlaris bulan November 2015 di toko buku onlie scoop.


Selasa, 22 Desember 2015

Cara Kirim Naskah ke Penerbit Gramedia Pustaka Utama

Buat teman-teman yang seriiiing banget bertanya, bagaimana cara mengirim naskah ke Gramedia Pustaka Utama, ini ada penjelasan langsung dari web Gramedia.

Aku posting di sini sebagai jawaban buat teman-teman yang bertanya. Aku copy paste dari sumber link berikut :

http://gramedia.tumblr.com/ketentuan-pengiriman-naskah-gramedia-pustaka-utama


KETENTUAN PENGIRIMAN NASKAH GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

Kami menerima naskah dari penulis untuk diterbitkan, bila naskah tersebut memenuhi standar penerbitan.

KETENTUAN UMUM:

1. Tebal naskah 100 s.d. 200 halaman.
2. Untuk buku anak, lengkapi dengan contoh ilustrasi dan konsep cerita, terutama untuk buku berseri.
3. Ukuran font 12pt, dengan spasi 1,5.
4. Tema naskah bebas, tidak menyinggung SARA dan tidak vulgar.

PILIH SALAH SATU CARA PENGIRIMAN NASKAH DI BAWAH INI:
Printout:

1. Ukuran kertas A4 atau folio.
2. Naskah sudah dijilid.
3. Sertakan ringkasan cerita/sinopsis.
4. Sertakan data diri singkat (nama, alamat, nomor telepon, alamat e-mail).
5. Setelah naskah masuk akan dipertimbangkan oleh tim editor paling lambat 3 bulan. Naskah yang tidak lolos seleksi tidak akan dikembalikan dan akan dimusnahkan.
6. Untuk memudahkan proses seleksi/pengategorian, cantumkan jenis naskah di sudut kiri atas, seperti:
-Fiksi
-Nonfiksi
-Remaja
-Dewasa
-dll.

E-mail:
Kirimkan naskah dan data diri melalui e-mail ke fiksi@gramediapublishers.com atau nonfiksi@gramediapublishers.com dengan subject Naskah: JUDUL.

Gramedia Writing Project:
Buat akun di situs resmi Gramedia Writing Project, lalu unggah sebagian naskah dan sinopsis.
________________________________________
Kami tidak memungut bayaran apa pun dari penulis.

Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi Redaksi Gramedia Pustaka Utama 53650110 ext. 3511/3512 atau via e-mail: fiksi@gramediapublishers.com atau nonfiksi@gramediapublishers.com

__________________________________________________________________
*****************************************************************************


Demikian penjelasan dari Penerbit Gramedia Pustaka Utama

Bagi teman-teman yang pernah menanyakan ke aku via email atau komen di blog, tentang berapa lama biasanya kabar dari penerbit tentang naskah yang dikirim, jawabanku : TIDAK TENTU.

Penerbit GPU bisa saja menyebutkan paling lambat 3 bulan, tapi kenyataannya bisa lebih lama.

Naskahku yang berjudul ELEANOR pun butuh proses 2 tahun sampai akhirnya diterbitkan.

Jadi, mohon jika ingin bertanya tentang kabar naskah kamu, silakan hubungi saja redaksi Gramedia Pustaka Utama yaaa... jangan bertanya ke aku karena aku juga nggak tahu ^_^

Selama tahun 2014-2015, sudah ada 4 novelku yang terbit di Gramedia Pustaka Utama. Dan akan terbit yang terbaru terbit Februari 2016 dan Mei 2016.

"Hatiku Memilihmu" terbit Mei 2014


"Pertemuan Jingga" terbit Desember 2014


"Eleanor" terbit Februari 2015


"Merindu Cahaya de Amstel" terbit September 2015

Love in Adelaide terbit Februari 2016


Love in Sydney terbit Mei 2016


Lovellah, "Merindu Cahaya de Amstel" menjadi salah satu dari 10 buku terlaris bulan November 2015 di toko buku online scoop ^_^




Senin, 21 Desember 2015

#YearEndHoliday : Jalan-jalan ke Taman Buah Mekarsari Bogor

Liburan masih berlanjut ... setelah kembali ke Jogja, liburan pindah ke ... Jakarta! Base camp di rumahku. 

Kali ini kami naik kereta ekonomi. Sekarang sudah nggak disubsidi, jadinya tiketnya sudah mahal. 200 ribu lebih karena hari minggu. Tapi jauuuh lebih nyaman dibanding dulu. Ber-AC, toiletnya bersih, semua penumpang kebagian duduk. Dan yang paliiiing penting, disediakan colokan listrik di samping setiap kursi. Jadi nggak perlu khawatir kalau HP lowbat, bisa langsung dicharge ^_^

Semula aku agak bingung juga, karena sepupu-sepupuku, bulik dan keponakanku bakal menjadi tamu di urmahku, maka akulah yang bertanggungjawab memandu sampai rumah. Kami ber-6 termasuk bayi. Tidak cukup naik taksi sedan. Itulah pertama kalinya aku mencoba order grabcar tipe mobil mvp. Ternyata mudaaaah banget. Tarifnya pun murah. Mobil cukup untuk banyak orang plus bawaan segambreng ^_^

Untunglah nggak jadi dilarang yaaa... jadi kapan-kapan kalau butuh lagi bisa order lagi.

Kami naik kereta pagi, sampai di Stasiun Pasar Senen hampir pukul 6 sore. Naik grabcar sampai rumahku di daerah Cengkareng pukul setengah 8. Itu termasuk cepat lho karena hari Minggu. Nggak terbayang deh kalau hari biasa. Wuiiih, pasti macetnya bukan main.

Sampai rumah, capek dan lapaar. Segera kami melahap hidangan yang sudah disiapkan ibuku. Keesokan harinya, sepupu-sepupuku, bulik dan keponakanku berkunjung ke rumah bude-bude yang lain, untuk bersilaturahim sekaligus menyampaikan oleh-oleh yang dibawa sepupuku dari Belanda. Coklat yang enak-enak banget. Tentu saja keluargaku juga kebagian dong. Alhamdulillah setiap akhir tahun bisa merasakan coklat asli dari Belanda.

Sisa coklat yang sempat difoto. Yang lainnya sudah keburu dimakan ^_^

Hari berikutnya, barulah kami merencanakan jalan-jalan ke tempat yang tak jauh dari Jakarta. Akhirnya kami sepakat berkunjung ke Taman Buah Mekarsari.

Karena peserta piknik bertambah 3 orang, bapak, ibu dan adikku, jadi total ada 9 orang termasuk si baby imut, maka kami menyewa mobil yang panjaang. Suzuki ELF kapasitas 19 orang. Asyiiik! Legaaaa banget ^_^

Perjalanan lancar karena bukan hari libur. Harga tiket masuk 25.000. Kami diharuskan memakai gelang selama di dalam area.

Harus pakai gelang ini selama di dalam

Patungnya dipagari, terletak di depan lobi

Sebagian lobi
Keponakanku yang masih bayi juga ikut lho ^_^
Stiker green land tour-nya harus ditempel di bagian depan ya

Ada beberapa pilihan, mau jalan-jalan sendiri tanpa pemandu ada mobil kereta gratis. Kami memilih paket green land tour. Dengan paket ini, kami akan diantar dengan kereta mobil dan ada pemandu yang akan menjelaskan pohon-pohon yang kita lewati. Paket ini seharga 55.000 per orang. Iya, bayar lagi. Jadi totalnya 80.000 per orang ^_^

Dengan paket ini, kami diantar mampir ke 3 pos. Pos pertama kebun melon. Kami mendapat jus gratis dan boleh icip-icip melonnya. Bisa beli juga langsung metik sendiri. Melonnya maniiiiiiis banget. Beneran beda dengan yang biasa kubeli di dekat rumah.


Ini dia kereta mobilnya

Perjalanan dilanjutkan sampai ke kebun salak. Di sini kami mendapat masing-masing satu kantong salak. Lumayan ...

Ada penjelasan proses terjadinya buah salak

Di sini juga dipajang buah-buah Indonesia yang sudah langka. Ini kufoto 3 buah yang baru pertama kali kulihat. Asam selong itu rasanya asaaaaam banget. Sampai nyengir-nyengir deh makannya.





Setelah dari kebun salak, perjalanan dilanjutkan ke kebun belimbing. Di sini pun kami mendapat buah belimbing. Aku membeli buah yang bernama abiu ...rasanya unik, seperti buah kelapa, tapi buahnya kecil-kecil berkulit tipis mirip sawo. Sayang lupa difoto ^_^

Dalam perjalanan melewati kebun pohon nangka, kami diberitahu ada nangka yang unik. Nangka ini tanpa kulit. Jadi tiap satuan buah nangkanya dibungkus kulit masing-masing. baru pertama kali ini juga aku melihatnya. Takjub banget!


Nangkanya berkulit masing-masing buah

Terakhir kami dapat bonus diantar ke kebun duren. Bisa makan langsung duren kalau mau, atau beli buat dibawa pulang. Nyobain deh dikit. Enak sih, tapi mahaaaal yaaaa... :D

Kemudian, dari kebun duren, perjalanan dilanjutkan menuju danau. Di sekitar danau ada banyak lapangan berumput dengan berbagai kegiatan. flying fox dan lain-lain. Bisa juga menggelar tikar duduk-duduk tak jauh dari danau. Didekat tempat itu banyak tersedia warung-warung yang menjual minuman dan snack. Juga kaos dan suvenir.

Pemandu Green land tour hanya mengantar sampai tempat ini. Kami boleh duduk-duduk sampai berapa jam semau kami, lalu untuk kembali ke lobi utama, tinggal menunggu kereta mobil yang akan datang tiap sepuluh menit sekali. Gratis.


Kalau mau beli buah atau suvenir bisa juga di sini, di belakang lobi utama

Akhirnya ...selesailah tur kami keliling Taman Buah Mekarsari. Menjelang pintu keluar, kami masih mendapat gratis masing-masing satu bibit tanaman. Jadi totalnya ada 8 bibit tanaman! Waw!. Ada bibit pohon belimbing, jambu air, jeruk limau, dan sirsak.

Setelah itu saatnya pulang ... di gerbang menuju keluar unik, diberi tulisan ucapan terima kasih dalam berbagai bahasa.




Yang mau jalan-jalan ke sini, silakan yaaa ... tempatnya luaaaas banget. Ohiya, mau menginap juga boleh lho. Bisa di rumah pohon di pinggiran kebun buah, di kabin tepi danau, atau berkemah.

Selamat liburaaan ... Dari Jakarta, liburan akan dilanjutkan kembali ke Jogja. Tunggu liputan selanjutnya yaa... Happy holiday ^_^




Minggu, 20 Desember 2015

#YearEndHoliday : Jadi Tour Guide di Kuala Lumpur

Tahun ini memang tahun luar biasa. Dua kali berkesempatan mengunjungi Kuala Lumpur.

Setelah bulan September aku diundang tinggal selama 27 hari di rumah temanku di Kuala Lumpur, akhir tahun ini aku kembali mendapat tawaran ikut jalan-jalan ke KL selama 3 hari sekalian jadi pemandu wisata buat kedua sepupuku.

Nggak sia-sia tinggal 27 hari di KL, aku sedikit paham seluk beluk kota di negeri tetangga itu. Maka, awal bulan Desember aku kembali ke KL. Kali ini berangkat dari bandara Adisucipto Jogjakarta.


Alhamdulillah

Background-ku itu ikon khas Jogja

Narsis dulu sebelum naik ^_^

Keponakanku yang baru 6 bulan ikutan lho. Berani yaa ^_^

Bye bye sebentar Adisucipto ...

Alhamdulillah perjalanan lancar. Keponakanku yang baru 6 bulan nggak rewel. Tidur sepanjang perjalanan, sampai KLIA 2 baru bangun. Epic ya ^_^

Sesampai bandara KLIA 2, langsung menukar beberapa ringgit Malaysia lalu memesan taksi yang akan mengantar kami ke hotel di daerah Bukit Bintang. Petugas tiketnya menanyakan jumlah penumpang dan barang bawaannya seberapa banyak untuk estimasi kira-kira cocoknya naik taksi model sedan atau mvp. Lalu petugas tiket menyarankan naik taksi yang jenis mvp. Biayanya 75 ringgit saja. Wuaaah, termasuk murah lho, padahal jarak bandara ke hotel yang berada di pusat kota KL sekitar 65 km dan butuh waktu 1 jam dengan taksi.

Menjelang masuk pusat kota KL, hujan deraaaaaas banget. Untungnya setelah mendekati hotel hujan mereda. Kami menginap di hotel yang tidak jauh dari Jalan Alor. Jalan ini kalau malam kanan kirinya dipenuhi deretan restoran yang memasang kursi dan meja di pinggir jalan. Umumnya restoran Cina, Thailand dan Vietnam.

Sesampai di kamar hotel, kami rebahan dulu sebentar, lalu mandi. Barulah sesudah isya kami keluar mencari makan malam. Pilihan kami masakan Thailand dan Vietnam. Masakan Thailand-nya enaaak banget. Dan salah satu pegawainya ada yang berasal dari Tasikmalaya. Tapi lama kerja di Malaysia membuat logat bicaranya menjadi logat Melayu.

Harga makanannya kalau dikurs ke rupiah nggak beda jauh kok dengan harga di Indonesia. Masih okelah, nggak semahal harga makanan di Singapura. Tapi kalau tarif hotel memang berasa lebih mahal daripada tarif hotel di Indonesia.

Deretan restoran di sepanjang Jalan Alor, Bukit Bintang

Karena ada bayi bersama kami, malam itu kami tidak jalan-jalan ke mana-mana. Hanya menikmati suasana meriah Jalan Alor dan mencicipi makanan-makanan kecil. Mulai dari cheese cake, sampai ubi rebus dan kacang kulit rebus ^_^

Keesokan paginya barulah petualangan keliling KL dimulai. Aku mengajak naik free bus Go KL. Tapi karena kunjunganku sebelumnya di KL di rumah temanku yang lumayan jauh dari daerah Bukit Bintang, aku kurang paham jalan dari hotel menuju halte bus. Akhirnya kami jalan kaki terus dan terus, tujuannya ingin menemukan bus yang ke arah Lapangan Merdeka. Alhasil kami jalan kaki sampai Lapangan Merdeka. Wow! Benar-benar olahraga pagi! ^_^

Sampai Lapangan Merdeka, tentu saja berfoto di ikon "I Love KL". Akhirnyaaaa setelah sebelumnya aku cuma bisa selfie, kali ini aku bisa minta tolong sepupuku memotretku full di depan ikon merah menyala itu.


Setelah itu kami mampir ke Museum Musik yang letaknya tepat bersebelahan dengan Museum Kuala Lumpur City Gallery. Waaah, ternyata di Museum Musik ada patung pemusik legendaris Malaysia, P. Ramlee. Itu lho yang salah satu lagu ciptaannya berjudul "Madu Tiga"


Patung P. Ramlee di Museum Musik Malaysia

Setelah itu aku memandu kedua sepupuku ke Pasar Seni untuk berburu suvenir oleh-oleh. Dari Pasar Seni barulah kami naik bus Go KL menuju Bukit Bintang. Gratis lho. Lumayan kan? Sepupuku yang kupandu senang hemat ongkos ;)

Di hotel kami istirahat sebentar. Pukul 4 sore, kami keluar hotel lagi menuju KLCC, Menara Kembar Petronas. Wajib banget deh berfoto di sini. Lagi-lagi akhirnya aku bisa berfoto di salah satu ikon paling top KL ini full. Senangnyaaa ^_^



Sepulang dari KLCC, kami memilih makan malam di Jalan Alor lagi. Dan karena sudah terlanjur suka dengan masakan Thailand yang sebelumnya kami coba, kami makan di restoran itu lagi. Kali ini menunya tomyam seafood yang kuahnya pedaaaas banget tapi enak. Dan salad mangganya yang segaaaar. Lalu ada nasi goreng seafood Thailand. Wuiiih enak banget deeeh. 

Makan malam di restoran Thailand lagi ^_^

Katanya sih, restoran di sepanjang Jalan Alor ini buka sampai lewat tengah malam. Tapi kami nggak sampai tengah malam di sini. Karena ada baby yang harus istirahat. Baby-nya sudah kecapean ^_^

Hanya singkat saja sih, kunjungan kami di KL. Besoknya kami sudah kembali ke bandara. jalan-jalan keliling mal bandara sambil menunggu pesawat yang akan membawa kami kembali ke Jogja siap berangkat.

Pukul empat sore kami sudah berada di Jogja lagi. Perjalanan yang singkat tapi berkesan banget. Apalagi jalan-jalan sama sepupu. Seruuuuuuu. Banyak yang kami obrolin.

Liburan kami masih panjang lho... tunggu lanjutannya ya ^_^