Rabu, 25 Juli 2012

Profilku di Harian Analisa Medan


Profilku di Harian Analisa Medan, ditulis oleh Haya Aliya Zaki. Tentang pengalamanku menjadi penulis sekaligus pelukis sepatu kanvas.

Profil
Arumi Ekowati, Cinta Dunia Melukis dan Menulis

Bloggers, profil kita kali ini pembawaannya terlihat begitu tenang, santun, dan rendah hati. Padahal, wanita kelahiran Jakarta, 6 Mei ini, sarat akan segudang prestasi. Uniknya, ia tak cuma piawai menekuni satu bidang. Beberapa keahlian sekaligus, dikuasainya secara mumpuni. Dia adalah Arumi Ekowati (Arumi).

“Sejak kelas lima SD, saya sudah membuat komik sendiri. Teknik menggambar saya tentu masih sangat sederhana. Kegemaran membuat komik terus berlanjut hingga SMA. Alhamdulillah, saya selalu meraih nilai tertinggi untuk dua mata pelajaran sekolah yang mendukung hobi saya yakni bahasa Indonesia dan seni rupa,” terang Arumi yang mengaku semasa sekolah dulu juga menyenangi seni patung.

Berangkat dari minat menggambarnya yang besar, Arumi pun tak ragu menjejak langkah di Universitas Trisakti Jurusan Arsitektur. Ia berharap, ilmu yang bakal didapat di dunia perkuliahan nanti mampu membantu mengembangkan minatnya menjadi sesuatu yang menghasilkan dan bermanfaat. Namun, seiring berjalannya waktu, Arumi baru menyadari bahwa menggeluti utuh dunia pilihannya saat itu ternyata bukan perkara mudah. Seorang arsitek tidak hanya dituntut mahir menggambar, tapi juga harus memiliki pemahaman penuh soal menyusun konsep perancangan bangunan dan pengetahuan teknik struktur bangunan.

“Setelah hampir sepuluh tahun bekerja sebagai arsitek di sejumlah perusahaan konsultan desain arsitektur maupun kontraktor bangunan, saya memutuskan berhenti. Saya memberanikan diri terjun ke dunia wirausaha. Berdasarkan survei dan berbagai pertimbangan, saya mencoba menekuni bisnis sepatu lukis,” demikian tutur putri sulung pasangan Purwanto dan Sumirati ini.

Meski baru dipasarkan lewat dunia maya, sepatu lukis karya Arumi lumayan digandrungi konsumen. Pemesan tersebar di penjuru Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Bisnis sepatu lukis Arumi mengandalkan kreativitas dan kualitas bahan sepatu. Demi menjamin kepuasan pelanggan, Arumi mengerjakan sendiri semua pesanan sepatu lukisnya. Terkadang, kalau sedang kewalahan karena membludaknya pesanan, selain didera lelah, Arumi juga sesekali terserang jenuh.

“Untuk mengatasinya, biasanya saya akan menjeda sejenak kegiatan melukis, lalu beralih ke kegiatan menulis,” Arumi berbagi kiat. Wah, betapa beruntungnya Arumi ya, Bloggers! Selain mencintai dunia melukis, rupanya ia juga kasmaran berat dengan dunia menulis. Aneka genre tulisan dikuasainya, suatu kenyataan yang mungkin sulit kita jumpai pada penulis lain. Kala lagi terjebak buntu menulis cerita remaja misalnya, wanita penggemar tokoh detektif Hercule Poirot dalam novel Agatha Christie ini, akan berputar haluan, menulis dongeng anak. Kala lagi tak mood merangkai cerita roman, Arumi akan mengotak-atik kisah horror komedi. Asyik bukan? Tak heran jika beberapa tulisannya bisa rampung dalam waktu hampir bersamaan!

Maka, sudah dipastikan, tulisan-tulisan Arumi gencar menghiasi media cetak. Majalah ternama seperti Aneka Yess!, Hai, Story, Kawanku, Teen, Say, Girls, Bobo dan Kompas Anak, pernah memajang karya-karyanya. Sejauh ini, buku-buku yang telah terbit memang masih berupa antologi, antara lain Kolase Pernik Kehidupan (Rumah Pena, 2010), Kolase Dari Balik Jendela (Rumah Pena, 2011), Anak Kos Gokil (Gradien Mediatama, 2010), dan Crazy Moment (Leutika, 2010). Tapi Arumi tetap bersemangat. Di sela kesibukannya melukis, Arumi berusaha menyelesaikan naskah-naskah novelnya.

“Bicara soal menulis, Bapak dan Ibu adalah pembaca setia tulisan-tulisan saya di majalah. Bapak mengoleksi semua majalah yang memuat tulisan saya. Saya selalu menangkap luapan bangga di wajah Bapak setiap kali beliau membagikan majalah-majalah itu kepada rekan kerjanya,” mata Arumi berkaca-kaca karena haru. Sungguh, wanita yang pernah terpilih menjadi salah satu dari “100 Perempuan Inspiratif Nova 2010” ini merasa berbesar hati. Suport orangtuanya kian memantapkan hati Arumi bahwa keputusan yang dipilihnya selama ini tidaklah salah. Arumi mematri janji, ia tidak akan mengecewakan mereka sampai kapan pun.

Berkat tulisan-tulisannya pula, Arumi mendapat kesempatan emas mewawancarai artis Fla Tofu dan Nirina untuk sebuah majalah. Tak cukup sampai di situ. Arumi diajak temannya membuat skenario acara sitkom. Dan tebak, siapakah tokoh di balik proyek ini? Deddy Mizwar! Walau akhirnya pembuatan sitkom ditunda untuk waktu yang belum ditentukan, hingga kini, Arumi masih sulit percaya bahwa ia pernah bekerja sama dengan aktor kaliber itu. Sekali lagi, bagi Arumi, inilah salah satu anugerah dunia menulis yang luar biasa.

Bloggers, Arumi memang tak bisa diam. Selain melukis dan menulis, belakangan ia ”nekad” berkecimpung di dunia yang sama sekali baru. Berawal dari pertemanan dengan seorang (yang kini menjadi) koordinator terjemahan di sebuah pelatihan talent scouting, Arumi mendapatkan pekerjaan sebagai penerjemah lepas film-film Amerika yang ditayangkan di televisi. Pekerjaan ini dikerjakan dari rumah, namun bukan berarti Arumi dapat berleha-leha. Justru ia mesti ekstra ketat mendisiplinkan diri. Bagaimana tidak? Hanya dalam waktu dua hari, Arumi harus menyelesaikan satu buah naskah terjemahan film yang berkisar 100 halaman!

”Pekerjaan yang menantang. Saya suka. Apalagi bayarannya lumayan,” tukas wanita penyuka minuman lemonade dan jus stroberi ini, terkekeh, ”Satu hal lagi yang saya suka. Sering, setelah menyelesaikan satu terjemahan, ide untuk menulis cerpen baru, meloncat-loncat ke luar tanpa sadar.”

Di akhir sua, Arumi berkata bahwa dengan melakoni ragam aktivitasnya sekarang, hari-harinya terasa begitu menggairahkan. Pencapaian demi pencapaian jangan malah meninabobokan. Untuk cita-cita, Arumi akan terus berjuang.

”Mari mengukir mimpi! Temukan minatmu, lalu asah sebaik-baiknya. Kendala pasti ada, itu biasa. Jangan berharap semua bisa instan. Nikmati saja proses menuju keberhasilan,” ucap Arumi, tersenyum.

Bloggers, bagi kalian yang ingin menjalin persahabatan dengan Arumi atau hendak melihat-lihat karyanya yang keren-keren, sila add alamat fesbuknya di: facebook.com/arumi.ekowati. Atau boleh juga jalan-jalan ke blog-nya di: www.paintedshoes-arumi.blogspot.com dan www.arumi-stories.blogspot.com *** Haya Aliya Zaki ~ tulisan ini pernah dimuat di Harian Analisan, Medan, 2011



Jumat, 20 Juli 2012

Jangan Jatuh Cinta Padanya



By Arumi Ekowati

Jangan jatuh cinta padanya
Ingat perihnya kisah terdahulu,
bagai sembilu bermata seribu,
mengiris halus jantung ranummu

Jangan jatuh cinta padanya
seperti yang sudah-sudah,
berakhir di sudut kamarmu,
dalam letupan sedu sedan tak berkesudahan

Jangan jatuh cinta padanya
indahnya hanya sekejap,
lalu kau ratapi kebodohanmu

Jangan jatuh cinta padanya
bekukan saja hatimu,
biarkan sedingin puncak gunung Himalaya

Jangan jatuh cinta padanya
kecuali kau yakin sanggup menanggung akibatnya!


Pondok Sambi,
00.30, 13 Juli 2010

NB : ini contoh puisi mbeling bukan ya? ^^

Kenangan di bukit cabai di Megamendung


Tahun 2005, aku mendapat kesempatan bekerja di sebuah pertanian cabai di salah satu bukit di Mega Mendung. Ada banyak kenangan di sana, yang tak lepas dari kerja keras, bukan hanya aku, tetapi semua rekan sekerja juga para petani. Mereka tak kenal lelah, terus bekerja sekeras apa pun untuk bertahan hidup. Ini sepenggal kisahnya...

Aku terdampar di hamparan luas sebuah bukit di Mega mendung. Tempat yang akan dijadikan pertanian cabai merah. Tugasku mengawasi para buruh tani mengolah tanah sebelum ditanami benih-benih cabai merah.

Semakin siang, sengat sinar mentari semakin tajam, aku berteduh di bawah sebuah pohon rindang, mengawasi dari kejauhan buruh tani lelaki dengan wajah penuh peluh mencangkul tanah sekuat tenaga.

"Panasnya!" keluhku, hampir saja kuucap haus,tapi tak baik mengeluh begitu ketika sedang berpuasa.

Azan dzuhur berkumandang, para petani menuju tempat beristirahat. Tak ada yang merokok atau menyantap makan siang bekal dari rumah masing-masing seperti biasanya. Sebagian mengambil air wudhu dan sholat dzuhur berjamaah. Sementara lainnya menunggu giliran, duduk bersandar di dinding kayu bangunan kantor pertanian cabai ini.

"Bapak puasa?" tanyaku pada seorang petani setengah baya yang sedang duduk mengistirahatkan tubuh penatnya sejenak.

"Tentu saja, Neng! Puasa itu wajib."jawabnya.

"Bapak nggak capek? Mencangkul ketika berpuasa, bukankah melelahkan?" tanyaku lagi.

"Jika sudah niat berpuasa, Insya Allah semua terasa ringan." jawabnya.

Aku tertegun, malu pada diriku sendiri, lihatlah mereka tak kenal lelah. Waktu istirahat selesai, mereka kembali melanjutkan pekerjaan mencangkul tanah pertanian. Aku tak lagi bersembunyi di bawah pohon rindang.

Semangat Ramadan mereka, telah menular kepadaku.


Kamis, 19 Juli 2012

Salah Sambung (bukan Arumi seleb)



Saya pernah mendapat telepon dari nomor yang tidak saya kenal. Tapi tetap saya terima. Karena mungkin saja itu telepon dari seseorang yang ingin menyampaikan informasi penting.

Penelepon
(suara wanita) : Halo, ini bener Arumi ya?

Saya : Iya bener, ini siapa ya?

Penelepon : Ini Arumi yang artis itu kan?

Saya : (berpikir sejenak, artis?????) Oooh, bukan, saya bukan Arumi artis, saya Arumi biasa aja

Penelepon : Ah, bohong nih, saya serius mbak, ini Arumi yang artis sinetron itu kan?

Saya : Maksudnya Arumi Bachin? Bukan Mbak, sumpah, saya juga serius, saya bukan Arumi Bachin, saya Arumi Ekowati tukang nulis cerpen dan tukang bikin sepatu lukis

Penelepon : Ooooh....

Telepon mendadak putus. Untunglah akhirnya dia percaya kalau dia telah salah sambung, sehingga saya nggak perlu sumpah pocong segala untuk meyakinkannya...^^

NB : True story, ini benar2 terjadi, saya heran bagaimana mbak tadi bisa dapat no. hp saya dan mengira no. hp Arumi Bachin


Konspirasi Otak dan Hati


By Arumi Ekowati

Rasa itu datang tanpa permisi
Menelusup masuk perlahan namun pasti
mencemari hati nan perawan

Mengubah si lugu
menjadi mahir bermuslihat
mencipta beribu alasan
untuk sekedar menyapanya

"Selamat pagi, pagi ini jalanan macet sekali."
basa basi basi

"Selamat siang, mari makan siang."
basa basi basi

"Selamat sore, jangan lupa sholat ashar."
basa basi yang kali ini tidak basi

"Selamat malam, jangan tidur terlalu malam."
basa basi bermakna harap
sekelumit bayangku mampir dalam mimpinya

Otak memutar otak
Hati bergejolak
Berkonspirasi mencari-cari alasan
untuk sekedar menyapanya

"Selamat ulang tahun, semoga sehat selalu, panjang umur, banyak rejeki dan cepat dapat jodoh."
Ini sungguh bukan basa basi

"Terima kasih."
hanya itu jawabnya
basa basi basi

Otak dan hati kehabisan akal
Lelah berkonspirasi, enggan berbasa basi lagi

Pondok Sambi,
14 Juli 2010

NB: puisi mbeling...ling...ling...(apakah ini bisa disebut puisi?)

Jadi admin fanbase itu enggak gampang...


Oleh: Arumi Ekowati

Catcher : “Aku paling suka semua adengan ciuman dan pelukan dalam film drama serinya,” kata gadis berusia sebelas tahun itu santai tanpa beban.

“Saya mau melamar jadi admin. Nama saya Florencia. Umur sebelas tahun. Kelas enam SD.”
Bbm itu mengejutkan aku. Gadis ini baru berusia sebelas tahun, tetapi dengan penuh rasa percaya diri ia mengajukan lamaran sebagai admin sebuah akun twitter fanbase seorang aktor Korea berusia tiga puluh lima tahun di Indonesia. Wow, luar biasa! Bagaimana bisa gadis sekecil ini menyukai lelaki yang jauh lebih tua dari usianya?
“Kamu masih terlalu imut untuk menjadi admin, Sayang,” jawabku sambil tersenyum simpul.

Aku masih takjub tak mengira aktor Korea yang menjadi favoritku ini digemari juga oleh gadis yang masih sangat belia. Jangan-jangan usia ayahnya sama dengan usia aktor yang disukainya. Aktor Korea favoritku ini di Indonesia mungkin memang belum setenar Rain atau Won Bin. Juga tidak seperti boyband Super Junior yang jelas sekali digilai banyak gadis-gadis remaja. Namanya Kang Ji Hwan. Aku mengenalnya sejak tahun lalu setelah aku menonton serial drama yang dibintanginya melalui dvd yang dipinjamkan teman, seorang Korean drama freak yang tak kenal lelah berusaha menularkan virus Korean wave. Anehnya, aku langsung menyukai Kang Ji Hwan saat melihatnya. Aku yang semula anti drama Korea menjadi berbalik seratus delapan puluh derajat. Tergila-gila pada aktor Korea yang satu ini bahkan sampai kemudian tak keberatan diangkat menjadi salah satu admin fanbase-nya di Indonesia.

Tapi sejak drama serinya “Lie To Me” itu ditayangkan di salah satu stasiun televisi Nasional mulai tanggal 4 April lalu, tiba-tiba saja menjadi banyak wanita yang juga menggemarinya. Tidak hanya yang berusia dewasa, bahkan ada yang baru berusia sembilan belas tahun, empat belas tahun dan inilah yang paling membuatku terhenyak, Florencia, sebelas tahun.
“Kenapa kamu suka Kang Ji Hwan? Dia kan aktor yang sudah dewasa sekali?”
“Karena dia keren, ganteng, baik, romantis dan lucu,” jawabnya santai.
Sungguh tak bisa dipercaya gadis berusia sebelas tahun bisa menilai kualitas seorang lelaki seperti itu.
“Kenapa kamu nggak suka sama Justin Bieber atau Greyson Chance aja? Kan sama imutnya dengan kamu?” tanyaku lagi.
“Aku biasa-biasa aja sama Justin Bieber. Aku sukanya sama Kang Ji Hwan,” jawabnya mantap.

Kemudian aku sadar, drama dan film yang diperani Kang Ji Hwan semuanya dikategorikan sebagai tontonan untuk usia di atas dua puluh satu tahun. Mengapa Florencia ini bisa sampai ikut menonton juga?
“Aku paling suka semua adegan ciuman dan pelukan dalam film drama serinya.”
Ini salah satu testimoni Florencia setelah menonton film Kang Ji Hwan. Oh, Tuhan! Ini benar-benar salah kaprah. Anak ini telah menonton film yang sebenarnya belum boleh ia tonton.

Seperti penggemar Kang Ji Hwan lainnya, gadis belia ini juga dengan gencar mencari semua info tentang Kang Ji Hwan serta menonton semua filmnya. Padahal aku tahu ada salah satu filmnya yang benar-benar mengandung adegan yang belum boleh ditonton anak berusia sebelas tahun. Sementara teknologi yang semakin canggih sekarang ini seolah sulit untuk diredam lajunya, tak mudah menyaring informasi global bagi anak seusianya. Anak jaman sekarang mudah sekali mempelajari sesuatu, sehingga tak sulit baginya untuk mengakses internet dan dengan bebas bisa menonton film apa saja yang ia mau. Apalagi Florencia ini mengaku dibekali beragam gadget canggih oleh orangtuanya.
“Aku punya iPod touch, iPod mp3, iMac, psp 2000 dan blackberry bold,” pamernya pada anggota fanbase yang lainnya.

“Jadi, bagaimana admin? Boleh kan saya melamar jadi admin fanbase Kang Ji Hwan Indonesia? Kalau cuma ngetweet sih, gampang,” tanyanya sekali lagi meminta penegasanku.
Duh, gayanya sungguh jauh lebih dewasa dari usianya sebenarnya.
“Maaf sayang, kamu masih terlalu kecil untuk menjadi admin. Karena film dan drama Kang Ji Hwan semuanya untuk orang dewasa di atas 21 tahun. Nanti saja ya, kalau kamu sudah cukup umur,” jawabku kalem disertai senyum dikulum.

NB : sekarang aku sudah bukan admin Jihwanesia(fanbase Kang Ji Hwan Indonesia) lagi. Karena ternyata menjadi admin fanbase butuh komitmen lebih, loyalitas dan waktu luang. Lagipula, perasaanku sama Ji Hwan sekarang tidak sekuat dulu lagi, hehehehe

Kenangan saat menjadi admin fanbase aktor Korea bersama dua teman, Fridha dan Ara

Hasil editanku, plesetan dari poster film Kang Ji Hwan berjudul: My Girlfriend is An Agent

Foto hasil editanku sebagai ucapan ultah untuk aktor Korea Kang Ji Hwan

Bersama Jihwanesia sibuk membuat ucapan saengil chukae hamnida

Jihwanesia mejeng di Monas

Waktu itu sukaaa banget sama aktor yang satu ini, sampai dibela-belain melukis wajahnya di sepatu, tapi sepatunya sudah kukasih Ara ^_^

Yang ini pesanan Fridha, dilukis dari pose Kang Ji Hwan di film "Hong Gil Dong" dan "Lie To Me"

Rabu, 18 Juli 2012

Once Upon A Dream

Sejak kecil, aku senang berkhayal. Aku bisa berkhayal apa saja. Jika ibuku memasak lauk sederhana, aku berkhayal sedang makan di warteg. Jika ibuku memasak makanan sedikit istimewa, aku membayangkan sedang makan di restoran. Seringkali dahulu hobi berkhayalku itu menyebabkan aku celaka. Aku pernah berkhayal menjadi Spiderman, saat itu aku masih berusia delapan tahun, aku memanjat dinding bata rumahku yang belum diplester semen. Tentu saja aku jatuh, karena kenyataannya aku tak punya kekuatan super mampu memanjat dinding. Ketika ibuku membelikan aku gaun dengan rok lebar berenda, aku berkhayal menjadi putri ala Cinderella. Aku berputar-putar hingga rokku mengembang, sampai kemudian aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh, membentur dinding rumahku yang belum diplester semen. Kali itu kepalaku terbentur ujung batu kali yang menonjol hingga terluka dan mengeluarkan darah. Namun kejadian itu tidak membuatku kapok berkhayal.

Aku ingat, saat aku kelas empat SD, ibuku membelikan aku sebuah novel berjudul “Karang Setan” karya Enid Blyton. Itu adalah novel pertama yang kubaca setelah sebelumnya aku hanya membaca majalah Bobo dan Donal Bebek. Seusai membaca novel itu, mulailah aku sering berkhayal menjadi detektif cilik. Rasanya menyenangkan membayangkan tinggal di mercusuar, lalu piknik membawa roti lapis daging asap dan limun jahe. Persis seperti kisah Georgina Kirrin dan kawan-kawannya dalam petulangan Lima Sekawan. Kisah mereka begitu membekas dalam benakku, membuatku kemudian berkhayal menjadi detektif cilik bersama dua orang sahabatku. Kemudian aku mendapat ide menuliskan semua khayalanku dalam sebuah buku. Aku siapkan satu buku tulis, lalu kutulis dengan tangan kisah petualangan yang aku khayalkan. Kunamakan tim detektif cilik rekaanku itu “Tiga Serangkai” yang artinya pemberani. Kuberi judul kisahku itu, “Misteri Hilangnya Patung Abstrak”.

Setiap hari sepulang sekolah, aku melanjutkan menulis kisah khayalanku itu. Bahkan aku lebih memilih mendahulukan menulis cerita rekaanku daripada mengerjakan tugas sekolah. Setiap kali aku mendapatkan ide, segera kutuliskan di bukuku itu. Layaknya novel yang kubaca, saat itu aku juga membuat bab-bab dan aku beri judul setiap sub bab-nya. Karena aku bisa menggambar, aku lengkapi juga buku cerita karyaku itu dengan gambar-gambar ilustrasi yang kugambar sendiri. Beberapa kali ibuku memergoki aku menulis cerita khayalan dan menggambar di saat aku seharusnya mengerjakan tugas sekolah. Ibu selalu menegurku, tidak melarang, hanya mengingatkan agar aku mendahulukan mengerjakan tugas sekolahku.

Semasa SD dulu, aku seringkali mendapat ide cemerlang. Melihat tumpukan majalah Bobo dan Donal Bebek serta berbagai macam novel, aku punya ide menyewakannya. Sepulang sekolah kususun majalah-majalah dan buku-bukuku di teras rumah. Teman-temanku yang tinggal di sekitar rumahku senang sekali menyewa majalah-majalah koleksiku itu, karena di masa itu, di komplek rumahku baru aku saja yang berlangganan majalah Bobo dan Donal Bebek. Ide mendapat penghasilan tambahan bukan hanya dari menyewakan majalah. Karena sejak kecil aku sudah berbakat menggambar, kupadukan bakatku itu dengan kemampuan berimajinasi hingga menghasilkan komik buatanku sendiri. Tak kusia-siakan kesempatan saat seorang teman sekelasku tertarik melihat komik yang aku buat. Aku menawarkan membuatkan komik untuknya dengan cerita yang bisa ia pilih sendiri. Cukup hanya dengan menyediakan sebuah buku dan pensil serta membayar sebesar Rp 150,-. Komik itu kugambar secara manual tanpa diberi warna. Ketika teman-temanku yang lain melihat komik buatanku itu, mereka pun ikut memesan.

Tulisan dan ilustrasi yang aku buat saat kelas 5 SD dulu.


Sayangnya, memasuki SMP aku tidak melanjutkan hobi menulisku. Hobi menulisku baru tersalurkan kembali ketika aku SMA. Aku ikut bergabung dalam tim redaksi majalah sekolahku, AKSARA. Selain ikut bertanggung jawab menulis artikel dan cerpen, aku juga ikut menyusun majalah dinding sekolah. Termasuk juga ikut dalam tim penyusun buku tahunan siswa. Sejak dahulu, kegiatan menulis membuat aku senang. Bagiku, menulis adalah sarana refresing dari tugas-tugas sekolah di jurusan Fisika yang cukup rumit.

Semasa kuliah, aku kembali vakum menulis. Tugas-tugas kuliah yang semakin berat membuatku tak sempat lagi melanjutkan hobi menulisku. Bertahun-tahun kemudian, setelah aku bekerja, aku kembali melirik hobi menulisku. Bermula dari mengikuti pelatihan jurnalistik Riska (Remaja Islam Sunda Kelapa), lalu sempat nimbrung di divisi jurnalistik Riska. Selain menulis artikel dan cerpen untuk majalah Riska (MERIS), aku juga menikmati kegiatan menjadi reporter untuk MERIS. Bermodal pengalaman menjadi reporter di MERIS, kemudian aku nekat melamar sebagai reporter freelance di sebuah majalah wanita muslimah, SURGA. Pekerjaan itu aku lakukan di sela-sela pekerjaanku sebagai arsitek.

Majalah SMA dan majalah remaja masjid Sunda Kelapa tempat aku bergabung dulu


Di hari libur atau jika tak ada lembur, aku datang ke kantor redaksi majalah itu. Karena freelance, maka aku tak perlu datang setiap hari. Aku beruntung sempat bergabung sebagai kontributor freelance selama empat bulan sampai akhirnya majalah tersebut bangkrut sebelum berkembang. Tapi dari situlah aku mengenal Mbak Asma Nadia, karena pernah mendapat tugas mewawancarai beliau dan dari beliaulah aku mengenal FLP (Forum Lingkar Pena). Dengan antusias aku mendaftarkan diri mengikuti pelatihan menulis di FLP. Di sana aku mendapatkan banyak ilmu bagaimana cara menulis yang baik agar mendapat peluang dimuat di media. Aku mulai menulis cerita-cerita pendek dan rajin berkonsultasi mengenai karya-karyaku kepada beberapa seniorku di FLP. Mereka membantu mengoreksi agar cerpenku menjadi lebih baik. Setelah aku yakin tulisanku semakin baik, kuberanikan diri mengirimkannya ke berbagai media. Mulanya aku mengirim cerita pendek bertema remaja.

majalah Surga yang kini sudah tidak terbit lagi.

Cukup lama aku menunggu, kurang lebih enam bulan, sampai kemudian kesabaranku berbuah manis. Pertengahan tahun 2005 cerpenku yang berjudul “Kucing Misterius” dimuat di majalah remaja Aneka Yes. Ah, bahagianya bukan main. Itu adalah cerpen pertamaku yang dimuat di majalah. Aku semakin bersemangat dan terpacu untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Setelah keberhasilan pertamaku itu, selanjutnya menjadi sedikit lebih mudah, walau tetap harus sabar menunggu giliran hasil karyaku dimuat. Aku pun semakin menikmati hobi menulisku.

Kemudian aku mulai tertarik membuat cerita anak. Aku kembali teringat pada majalah Bobo. Ingin sekali aku merasakan cerpen karyaku dimuat di majalah favoritku saat SD itu. Kuberanikan diri mengikuti lomba cerpen anak Bobo. Bermodal nekat, kukirimkan sembilan cerita anak sekaligus. Tapi tak ada satu pun yang lolos sebagai pemenang. Sembilan bulan kemudian, aku senang sekali salah satu dongeng anak yang telah kuikutsertakan dalam lomba itu walau pun tidak menang, tetapi terpilih untuk dimuat di majalah Bobo. Aku kirimkan lagi cerita anak karyaku yang lain. Aku pernah merasakan keberuntungan cerita anak karyaku dimuat empat minggu berturut-turut di majalah Bobo.

Aku semakin bersemangat dan mulai melirik media lain. Kompas Anak Minggu adalah tergetku selanjutnya. Ternyata butuh perjuangan yang lebih sulit dan benar-benar menantang ketangguhan mental untuk bisa dimuat di media yang satu ini. Sungguh tidak mudah, aku menerima kurang lebih sepuluh surat penolakan dengan berbagai alasan. Ceritaku dianggap terlalu sederhana, dianggap terlalu dewasa, atau tema yang kubuat dianggap sudah pernah ada. Tapi kata-kata di akhir semua surat penolakan itu: Kami nantikan karya anda selanjutnya, membuatku pantang menyerah untuk kembali mengirimkan cerita anak hasil karyaku yang lebih baik.

Aku tetap semangat mengirimkan karyaku yang lain. Kirim dan lupakan, itulah motto-ku. Sembilan bulan kemudian, aku tercengang saat membaca Kompas anak di suatu hari Minggu bulan November tahun 2009, kulihat ada cerpenku terpajang di sana, beserta namaku sebagai penulisnya. Wuah, rasanya seperti baru saja memenangkan lotere milyaran rupiah. Ini tidak berlebihan, sungguh aku sangat gembira, hingga tanpa sadar melonjak-lonjak seperti anak kecil. Jerih payahku sekian lama akhirnya membuahkan hasil. Kerja keras dan kesabaranku tak sia-sia. Sampai saat ini, sudah tiga kali cerita anak karyaku dan dua kali resensi buku yang aku buat dimuat di Kompas Anak. Keberhasilan ini membuatku semakin semangat untuk terus menghasilkan karya lain yang lebih baik.

Sepanjang tahun 2010-2011, aku masih aktif mengikuti berbagai audisi menulis antologi. Aku tidak selalu berhasil lolos, pernah juga merasakan gagal terpilih, tetapi aku tak putus asa untuk terus mencoba. Di antara yang berhasil, karyaku terpilih masuk dalam antologi cerpen misteri Dua Sisi Susi dan dibukukan oleh penerbit Universal Nikko. Kisah pengalamanku membangun usaha mandiri lolos dalam audisi menulis “Bye-Bye Office” kemudian dibukukan oleh penerbit MIC Publishing serta memperoleh juara kedua dan mendapat hadiah uang dengan jumlah sangat lumayan.

Aku tipe orang yang tak keberatan melalui proses trial and error. Memulai sesuatu dari yang paling kecil dan mungkin dianggap remeh oleh sebagian orang. Tetapi bagiku, aku perlu melewati semua itu. Berharap semua pengalaman itu akan memperkaya wawasanku. Dalam kerja kerasku, sering sekali aku merasakan jatuh bangun. Aku nikmati semua prosesnya, aku coba semua yang perlu dicoba. Tentu saja sekarang ini aku masih bukan siapa-siapa, karya-karyaku masih sederhana. Namun aku tak akan berhenti, aku akan terus menulis, berusaha menghasilkan karya yang semakin baik. Sedikit demi sedikit aku memperbaiki diri dan meningkatkan mimpiku. Di tahun 2011, aku masih terus menulis cerpen dan mengikuti beberapa kompetisi antologi yang menarik minatku, sembari diam-diam memupuk keinginan suatu hari nanti bisa menerbitkan novel.

Awal tahun 2012, jalan itu terbuka. Seiring dengan Korean Wave yang melanda negeri ini, aku mendapat tawaran untuk mencoba membuat novel dengan setting Korea. Aku terima tawaran itu sebagai tantangan. Aku juga tipe yang selalu ingin mencoba. Selama ini aku sudah membuat cerita dengan berbagai genre, teenlit, cerita anak, komedi dan misteri. Tak ada salahnya jika aku mencoba menulis cerita bergenre romantis dewasa bersetting negeri Korea. Syukurlah, aku berhasil memenuhi tantangan ini.



Empat judul novel cerita Korea karyaku telah terbit berturut-turut. Kemudian aku juga menerima tawaran menulis novel dengan setting Jepang. Sebuah novel cerita Jepang karyaku juga telah terbit.
Aku tak lantas berpuas diri. Masih panjang perjuangan yang harus aku tempuh, masih banyak mimpi yang belum terwujud. Bagiku ini bagian dari proses belajar yang akan kujalani dengan senang hati. Aku akan terus berusaha menghasilkan karya lebih baik lagi.


Hingga menjelang akhir tahun 2013 ini, tak terasa ternyata sudah cukup banyak karya novel yang kuhasilkan. Awalnya mungkin masih sederhana, namun aku berusaha tiap karyaku yang baru menampilakan tulisan yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

Walau banyak cobaan dalam dunia menulis, kritik yang datang padaku, semua kuterima dengan besar hati sebagai bahan masukan agar karyaku bisa menjdai lebih baik lagi.

Ini di antaranya karya novelku yang sudah terbit.







Dan... sampai tahun 2014 ini, aku tidak berhenti berkarya. bahkan karyaku di tahun 2013, "Tahajud Cinta di Kota New York", cukup fenomenal, akhirnya menarik minat MD Pictures untuk mengangkatnya menjadi film. Saat ini sedang dalam tahap persiapan.

Tahun 2014 aku berusaha meningkatkan diri dengan menerbitkan novel-novelku di penerbit-penerbit besar, idaman banyak penulis, yaitu Gramedia Pustaka Utama dan Gagas Media. Selain terbit juga di Elex Media. Ini dia, "Hatiku Memilihmu", "Monte Carlo" dan "Cinta Valenia".

Benar kan? Nggak ada mimpi yang nggak mungkin terwujud jika kita sungguh-sungguh bekerja keras mewujudkannya. yuk, berani bermimpi! ^_^















Kumcer Bobo No. 76


Koleksi Pustaka Ola
Terbit bulan Mei 2012


Cerpen hasil karyaku yang berjudul Marianka, terangkum dalam kumpulan cerita anak Bobo nomor 76. Pernah dimuat di Majalah Bobo. Menjadi tambahan koleksi untuk bukuku. Yuk, koleksi juga. Ceritanya seru-seru. ^_^

Selasa, 17 Juli 2012

90 Days, Time to Love







Resensi Drama Korea


90 Days, Time to Love


By: Arumi E


Hyun Ji-seok (Kang Ji Hwan) berada di puncak kehidupannya. Di usianya yang ke-31 tahun, hidupnya terasa sempurna. Mempunyai karir yang baik sebagai dosen arsitektur di sebuah perguruan tinggi, menikah dengan Park Jung-ran (Jung Hye Young) yang cantik dan berasal dari keluarga berada walau sesungguhnya bukan cinta sejatinya. Hidupnya semakin sempurna karena ia telah dikaruniai seorang anak perempuan berusia 8 tahun.

Namun mendadak hidupnya yang sangat sempurna itu berubah seratus delapan puluh derajat saat ia divonis dokter menderita penyakit kanker dan masa hidupnya hanya tersisa 90 hari lagi. Awalnya Ji-seok tak percaya ia menderita kanker. Ia merasa sehat-sehat saja, kecuali beberapa kali ia memang seringkali merasakan sakit di perutnya yang ternyata disebabkan kanker pankreas.



Dalam kekalutan, tiba-tiba saja dia teringat kembali dengan cinta pertamanya. Satu-satunya keinginannya adalah menghabiskan sisa hidupnya yang hanya 90 hari itu bersama cinta sejatinya, Mi-yeon (Kim Ha Neul) yang telah ditinggalkannya 9 tahun lalu. Ia takut jika harus mati tanpa Mi-yeon di sisinya. Mungkinkah keinginan terakhir Hyun Ji-seok itu bisa terpenuhi? Apalagi kenyataannya Mi-yeon dan Hyun Ji-seok sudah sama-sama menikah. Apakah mereka berani melanggar norma demi mengenang kembali cinta pertama mereka dulu? Juga melawan pertentangan dari pasangan masing-masing?

Sebelumnya, Hyun Ji-seok dan Mi-yeon adalah pasangan kekasih yang saling jatuh cinta sejak masa SMA. Hubungan mereka terpaksa harus diakhiri karena mereka harus menghadapi kenyataan bahwa ternyata mereka adalah saudara sepupu. Dalam tradisi keluarga mereka, adalah terlarang saudara sepupu menjalin hubungan kasih.



Semula mereka memutuskan berpisah, tetapi rasa cinta di antara mereka terlalu kuat, mereka pun kembali bersama lagi. Hampir saja mereka memutuskan kawin lari dan kabur ke San Fransisco, tetapi sehari sebelum mereka berangkat, Ji-seok harus menghadapi kenyataan kematian ayahnya karena kecelakaan. Kematian ayahnya itu membuat rencanaya awalnya kawin lari bersama Mi-yeon harus ditangguhkan. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya, menafkahi ibu dan seorang adiknya, karena ayahnya meninggalkan hutang yang tidak sedikit. Tak ada pilihan lain bagi Ji-seok kecuali meninggalkan Mi-yeon dan menikah dengan Park Jun-ran, wanita yang dijodohkan dengannya sejak awal untuk menyelamatkan keuangan keluarganya.



Mi-yeon patah hati dan merana ditinggalkan Hyun Ji-seok tanpa alasan jelas. Mi-yeon tidak tahu bahwa Ji-seok meninggalkannya karena terpaksa. Sembilan tahun berlalu, tiba-tiba saja Ji-seok datang menemui Mi-yeon dan memintanya tinggal bersama selama 90 hari. Bagaimana mungkin, Mi-yeon yang hatinya pernah disakiti Ji-seok bisa menerimanya? Apalagi dia telah memiliki suami, sementara Ji-seok juga telah memiliki istri. Tapi lagi-lagi tak ada yang bisa melawan kekuatan cinta pertama. Berbagai halangan mereka terjang untuk bisa kembali bersama, dan menikmati tiap detik kebersamaan mereka yang hanya tersisa 90 hari.

Nice movie, tentang cinta pertama yang tak kesampaian karena masing-masing telah memiliki cinta kedua. Mereka hanya memiliki waktu 90 hari untuk kembali mengenang cinta pertama mereka, sebelum kematian memisahkan mereka berdua untuk selamanya...
Akting para pemainnya cukup maksimal. Walau drama ini menceritakan kisah sedih dan memilukan, tetapi tak banyak air mata yang diumbar. Masing-masing karakter lebih banyak bermain emosi yang tidak melulu diperlihatkan melalui deraian air mata, tetapi ditunjukkan lebih mendalam melalui kegelisahan mereka, bahasa tubuh, tatapan mata dan ekspresi wajah.

Ini soundtrack-nya benar-benar menyayat hati

Seperti biasa, Kang Ji Hwan bermain total dalam perannya ini. Perubahan sikapnya tampak jelas, dari yang semula penuh rasa percaya diri menjadi kehilangan harapan hidup dan kemudian diam-diam sesungguhnya menyimpan ketakutan karena harus meninggalkan semua yang disayanginya di dunia ini. Ia seolah masuk ke dalam perannya sebagai Hyun Ji-seok yang hampir putus asa berharap bisa menghabiskan hari-hari terakhirnya bersama cinta pertamanya. Kabarnya, kang Ji Hwan sengaja tidak makan malam hanya minum soju selama berhari-hari agar ia merasakan sakit sungguhan. Dan usahanya itu berhasil, karena ia memang tampak seperti sungguh-sungguh seorang yang sedang sakit parah dan sekarat.

Jung Hye-young yang berperan sebagai istri Hyun Ji Seok juga bermain apik memerankan tokoh seorang istri yang sedih karena sebentar lagi akan kehilangan suami, apalagi setelah ia tahu ternyata selama Sembilan tahun menikah, suaminya tidak benar-benar mencintainya. Ada perempuan lain di hati suaminya dan yang justru diinginkan suaminya menemani saat-saat terakhirnya. Walau kemudian suaminya menuntut bercerai karena tak ingin menyakiti perasaan sang istri, tetapi ia menolak dan memilih terus mempertahankan suaminya agar tetap berada di sisinya.

Sementara Yun Hee-seok yang berperan sebagai Kim Tae-hun suami Mi-yeon juga bermain sangat bagus, memerankan karakter suami yang sangat menyayangi istrinya, hingga ia merelakan istrinya menghabiskan waktu bersama mantan kekasihnya, walau hatinya harus menahan perih dan rasa tak rela. Emosi semua pemain ter-explore dengan baik masuk ke dalam karakter masing-masing peran.



Film ini menampilkan gambar-gambar indah panorama Pulau Jeju yang eksotis terutama pada adegan-adegan awal dan menjelang akhir. Suasana sendu dan melankolis semakin kuat terasa dengan hiasan alunan soundtrack lagu-lagu romantik sepanjang film, di antaranya lagu Smoke Get in Your Eyes, San Fransisco, Sarang Eun Gan Da dinyanyikan oleh J.M , Ha Roo Man Keum dinyanyikan Jung Jae Wook dan lagu yang paling menyayat hati, Yoo Suh dinyanyikan Jung Jae Wook.


Cinta pertama memang sulit dilupakan... *siapin saputangan sebelum nonton ya...

Tato Pak Tito

Cerpen anak karyaku yang dimuat di majalah anak "Irfan" volume 2, November 2011

Apa benar Pak Tito punya tato? Mana boleh, Pak Tito kan guru...Sandi pun penasaran, dan nekat menyelidiki rahasia di balik lengan panjang baju Pak Tito...

Ada guru baru di kelas Sandi. Pak guru muda itu memperkenalkan diri sebagai Pak Tito, guru olahraga baru menggantikan Pak Soni yang pindah tugas ke sekolah lain.
Pak Tito berpakaian rapi. Memakai kemeja biru berlengan panjang. Sepertinya Pak Tito belum mendapat seragam kaos olahraga.
"Hari ini teori dulu ya, bapak akan menjelaskan tentang asal usul Olimpiade." kata Pak Tito.
Segera saja Sandi dan teman-teman satu kelasnya menyukai Pak Tito. Pak Tito ramah dan akrab. Setelah hampir sebulan Pak Tito mengajar, Sandi merasa ada yang aneh dengan Pak Tito.
"Aneh nggak sih, Pak Tito selalu memakai baju lengan panjang. Aku jadi penasaran, ada apa ya dibalik lengan panjang baju Pak Tito?" bisik Sandi pada sahabat-sahabatnya Dika, Reyza dan Aida.
"Aneh kenapa?" Dika balik bertanya
"Dulu lengan kaos olahraga Pak Soni pendek. Tapi kenapa Pak Tito memakai kaos olahraga berlengan panjang? Kamu ingat nggak Dik, saat kemarin seluruh baju Pak Tito basah karena mengambil bola yang jatuh ke dalam kolam ikan hias di belakang sekolah, Pak Tito tidak menggulung lengan kaos olahraganya, padahal Pak Tito menggulung celana panjangnya." kata Sandi.
"Memangnya apa yang disembunyikan Pak Tito?" tanya Reyza heran dengan keheranan Sandi.
"Jangan-jangan lengan Pak Tito penuh tato. Karena itulah Pak Tito selalu memakai baju lengan panjang." ucap Sandi pelan.


To be continued...

Minggu, 15 Juli 2012

Nightmare On Palm Street

By : Arumi Ekowati


Surprised dengan ilustrasinya yang bagus banget... kesannya jadi horor beneran, padahal.... hm, baca aja deh sendiri di Story Teenlit Magazine terbaru, edisi 31, terbit 25 Februari 2012



Semilir angin malam membuat Gina menggigil kedinginan begitu ia keluar dari mobil Papanya. Ia biarkan Papa berjalan lebih dahulu memasuki rumah yang akan dihuni keluarga mereka nantinya. Ini bukan rumah baru. Kabarnya telah dibangun sejak sepuluh tahun lalu. Dan telah berganti kepemilikan sebanyak tiga kali. Papa Gina kini adalah pemilik baru rumah ini.
Gina menghela nafas pasrah. Jika saja bisa, ia ingin menolak tinggal di sini. Rumah ini jauh lebih kecil dari rumah mereka sebelumnya. Terletak di pinggiran Ibukota yang masih sepi. Rumah di kanan kiri rumah itu kosong dan dibiarkan tak terawat, penuh ditumbuhi ilalang tinggi.
Tapi Papa terpaksa menjual rumah mereka sebelumnya yang terletak di pusat kota dan berukuran dua kali lebih besar dari rumah ini. Sebagian hasil menjual rumah mereka sebelumnya digunakan untuk membeli rumah ini dan sebagian lagi untuk menalangi usaha Papa yang tahun ini banyak merugi.
Jalan Palem nomor 5, itu alamat rumah yang akan dihuni keluarga Gina ini. Pagar besinya sederhana dan banyak berkarat di sana sini. Lebar rumah ini hanya tujuh meter. Tak ada garasi, hanya sebuah carport. Terasnya kecil berukuran dua meter kali tiga meter.
“Ayo, Gin! Cepat masuk!” ajakan Papa mulai menyerupai perintah ketika Papa melihat Gina masih termangu di teras ragu untuk melangkah masuk ke dalam rumah.
“Kamar kamu di belakang dekat ruang makan. Jendela kamar kamu menghadap taman belakang, jadi, kamu masih bisa menghirup udara segar jika jendela kamarmu dibuka.” kata Papa sambil menunjukkan kamar Gina.
Gina memasuki kamarnya perlahan. Semua barang-barangnya telah dipindahkan ke kamar ini. Interior berikut warna dindingnya, telah ditata menyerupai kamarnya terdahulu.
“Kamu suka kamar baru kamu, sayang? Nggak jauh beda dengan kamar kamu yang dulu, kan?” kata Mama sambil membantu Gina memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam lemari.
“Jujur saja, sedikit spooky, Ma! Rumah di kanan kiri rumah ini kan masih kosong.” jawab Gina.
“Hei, anak Mama takut dengan rumah kosong?” goda Mama.
“Ma, kata orang, rumah kosong itu biasanya dihuni mahluk yang nggak terlihat.” jawab Gina sedikit cemberut.
“Justru karena nggak terlihat, berarti nggak perlu takut, kan?” sahut Mama.
Gina semakin cemberut.

Malam itu Gina kesulitan tidur. Pikirannya masih dipenuhi rasa was-was teringat rumah kosong di kanan kiri rumahnya yang gelap, penuh ditumbuhi rumput dan semak liar. Walau ia terbiasa tidur dalam gelap, tapi kali ini Gina tak berani mematikan lampu kamarnya. Menjelang jarum pendek jam wekernya menyentuh angka dua, mata Gina mulai terpejam. Akhirnya tubuhnya yang terasa lelah setelah seharian sibuk membereskan barang-barangnya, menuntut untuk diistirahatkan.
Dalam alam mimpinya, gambaran rumah kosong di kanan kiri rumahnya kembali hadir. Gina berada di dalam rumah kosong sebelah rumahnya itu. Lalu tiba-tiba muncul sosok berwajah penuh jerawat dan bergigi kawat menyeringai lebar ke arahnya! Mendadak ia bangun terduduk di tempat tidurnya.
“Ih! Mimpi apaan sih? Nggak enak banget! Kenapa aku mimpiin wajah aneh gitu? Nggak bisa apa mimpi yang romantis? Mimpi ditaksir Nicholas Saputra kek! Atau diajak kencan Justin Bieber!” rutuk Gina komat-kamit sendiri.
Gina kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya membelalak menatap langit-langit kamarnya. Ia ragu untuk memejamkan mata.
“Mungkin aku harus melihat-lihat poster Zac Efron supaya aku mimpiin wajah gantengnya!” pikir Gina.
Segera dicarinya gulungan poster-poster selebritis favoritnya yang belum sempat ia pasang di dinding kamar. Ada banyak poster selebriti tampan koleksinya. Ia beberkan satu persatu. Ada Robert Pattinson, Taylor Lautner, Jonas Brother, Zac Efron. Hm, wajah-wajah menawan itulah yang ia harapkan hadir dalam mimpinya. Setelah puas melihat-lihat selama hampir dua puluh menit, Gina kembali tertidur.
Baru saja mata Gina terpejam selama tiga puluh menit, mendadak ia kembali terbangun.
“Astaga! Kenapa wajah aneh itu lagi yang muncul dalam mimpiku? Kenal juga nggak. Lihat juga kayaknya belum pernah.” omel Gina.
Ia pun tak berani lagi memejamkan matanya. Baru menjelang pukul empat pagi, Gina kembali tertidur. Hanya satu jam ia memejamkan mata, karena pukul lima pagi, pintu kamarnya diketuk keras oleh Mama yang membangunkannya untuk segera sholat subuh.
* * *
Vero menyikut pinggang kiri Gina sedikit keras. Membuat tubuh Gina yang hampir limbung ke depan terlonjak kaget.
“Gin, jangan tidur dong. Pak Buchori melototin kamu tuh.” bisik Vero.
Gina buru-buru menegakkan duduknya. Tapi baru saja sebentar tegak, matanya sayup-sayup hampir saja terpejam lagi. Untunglah bel istirahat segera berbunyi, menandakan pelajaran kimia dari Pak Buchori telah usai.
“Kamu kenapa sih, Gin?” tanya Vero setelah Pak Buchori keluar kelas.
“Semalam aku kurang tidur. Aku mimpi aneh, Ver.” jawab Gina sambil bergidik.
“Gara-gara rumah barumu itu, ya? Jangan-jangan rumah barumu itu banyak mahluk halusnya.” sahut Vero sambil nyengir.
“Ih, jangan nakut-nakutin gitu dong, Ver!”
Gina melotot sebal melihat Vero nyengir semakin lebar.
Malam harinya, wajah penuh jerawat dengan gigi berkawat kembali hadir dalam mimpi Gina. Jadilah malam itu lagi-lagi Gina kurang tidur dan kembali paginya ia terkantuk-kantuk di kelas.
“Gin! Bangun! Ampun deh, masih pagi kamu sudah merem!” lagi-lagi Vero menyikut pinggang kiri Gina.
“Duh, nyikutnya keras amat sih, Ver!” protes Gina sambil sedikit meringis.
“Tuh, ada anak baru! Kamu kan berharap banget ada murid cowok baru di kelas kita.” sahut Vero sambil menunjuk ke arah depan kelas dengan dagunya.
Gina segera mengalihkan pandangannya ke depan kelas. Mata Gina segera membelalak ketika melihat sosok mahluk yang berdiri di depan kelas. Apalagi kemudian mahluk itu nyengir lebar ke arahnya. Giginya berhias kawat gigi kuno, persis sekali seperti...
“Ver, please, jangan bilang kalau ini nyata, please, bilang ini cuma mimpi.” bisik Gina menghiba kepada Vero.
“Apaan yang cuma mimpi?”
“Mahluk cowok yang berdiri di depan kelas itu, apa yang kamu lihat nggak seperti yang aku lihat, kan?”
“Memangnya apa yang kamu lihat, Gin?”
“Cowok nggak gitu tinggi, bertubuh cenderung ceking, bertampang jadul, muka penuh jerawat, pakai kawat gigi.”
“Lah, memang benar, itulah anak baru di kelas kita. Kamu suka ya, Gin?”
“Ih, enak aja!” bantah Gina
to be continued...

Sabtu, 14 Juli 2012

LOMBA RESENSI NOVEL ASRAMA HANTU GENDENG BERHADIAH UANG TUNAI



Hello friends...
Udah tau soal kemunculan para hantu gendeng di asrama Ki Gendeng Keblinger? Ulah mereka yang gokil abis itu cuma ada di Novel Estafet ASRAMA HANTU GENDENG terbitan Penerbit Anza, karya Oke Sudrajat dan SAMANTA (Sembilan Wanita, di antaranya; Fitria Pratnasari, Titis Nariyah, Noviana Hamid, Vero Nica, Naminist Popy, Arumi Ekowati, Aiu Hidayah, Lina Wijaya dan Olivia Magda Gunawan.) Apa sih isi ceritanya?
Nah, asyik banget ya kalo kita udah baca ceritanya, bisa narsisan, dapet duit pula. Kalian mau? Makanya, baca dulu dong ASRAMA HANTU GENDENG... ^_^
Ini dia hadiahnya:
1. Juara 1 dapet duit jajan Rp. 1.000.000,-

2. Juara 2 dapet duit jajan Rp. 500.000,-

3. Juara 3 dapet duit jajan Rp. 250.000,-

4. Juara Harapan 1 Rp. 125.000,-

5. Juara Harapan 2 Rp. 100.000,-

6. Juara Harapan 3 Rp. 100.000,-

Wuiih, asyik kaaann?...
Nih, syarat-syaratnya:
1. Usia Bebas.

2. Beli dan baca Novel Estafet ASRAMA HANTU GENDENG. Bisa nyari di toko buku terdekat atau pesen langsung sama Oke Sudrajatt dan Fitria Pratnasari lewat inbox FB. Info harganya silahkan klik blognya pena grage community ; www.syahandrianeda.blogspot.com

(dapatkan diskon khusus untuk pembelian dobel karya pena grage community)

3. Tunjukin bukti transfer atau struk pembelian (bisa scan/difoto) melalu attach email asramahantugendeng@gmail.com

4. Rangkum isi cerita/resensi naskah ASRAMA HANTU GENDENG maksimal 1000 kata ke email asramahantugendeng@gmail.com

5. Resensi belum dipublikasikan dan hasil karya cipta sendiri.

6. Add Fb dan twitter Oke Sudrajatt, Fitria Pratnasari (@FPratnasari), Titis Nariyah, Noviana Hamid, Vero Nica, Naminist Popy, Arumi Ekowati, Aiu Hidayah, Lina Wijaya dan Olivia Magda Gunawan.

7. Add Fb Penerbit Anza

8. Add Fb Asrama Hantu Gendeng dan twitter ‎@asramahantugend

9. Jangan lupa tag info lomba ini ke 12 teman nulis FB kalian, termasuk Oke Sudrajatt atau Fitria Pratnasari.

10. Upload foto diri bersama buku ASRAMA HANTU GENDENG untuk dijadikan PP di Fb/Twitter

11. DL sampai dengan 31 Agustus 2012

12. Pengumuman akan diumukan di Facebook Penerbit Anza, Pena Grage Community tanggal 15 September 2012.
13. Jangan lupa menyertakan biodata dan nomor rekening anda
Ayooo, men temen... pesan dan beli bukunya sekarang juga. Lumayan banget euy hadiahnya... ^_^

Jumat, 13 Juli 2012

Japanese Story : Sakura Wish




Jusul      : Sakura Wish
Penulis   : Harumi Kawaii (Nama pena Arumi E untuk novel tema Jepang)
Penerbit : Zettu
Tebal     : 185 halaman
Genre    : Japanese Teen Romance

SINOPSIS
“Jangan menangis, Keiko. Tetaplah ceria seperti biasanya,” ucap Ryuji perlahan.
Lalu ia mengecup lembut kening Keiko.
“Jika nanti aku tidak kembali…”
Keiko tak mau mendengar kelanjutan ucapan Ryuji, juga tak mau memandang wajah Ryuji. Ia takut jika ia pandang sekarang, ini akan menjadi terakhir kalinya ia melihat wajah Ryuji. Namun Ryuji tak bisa dicegah. Sekali pun yang mencegahnya adalah gadis yang dicintainya. Ia tetap pergi, melintasi Hutan Aokigahara yang menyimpan banyak misteri, mendaki Gunung Fuji yang penuh diselimuti salju.

Aruhi Dokokade…someday, somewhere.
Ryuji tak pernah berhenti berjalan dan menjelajah. Sampai di satu waktu, di suatu tempat, langkahnya terhenti. Meninggalkan luka perih di hati Keiko, menyisakan duka yang mendalam.
Saat musim dingin berakhir, hangatnya musim semi membawa harapan. Keiko membisikkan sakura wish di bawah pohon sakura yang bunga-bunganya siap mekar.
Sakura…sakura…sakura…
Angin berhembus lembut menjawab harapannya. Kemudian, seorang lelaki terpilih datang menghampirinya, menyelamatkan hati Keiko…

Yoshinara Keiko adalah murid baru di kelas tiga Higashi Senior High School, Kyoto. Ia murid pindahan dari Tokyo. Kedatangannya di sekolah barunya ini menarik perhatian karena ia ramah, manis, murah senyum, cerdas dan pandai berolahraga. Setidaknya ada empat anak lelaki sekaligus yang menaruh minat padanya. Tachibana Ryuji, remaja yang hobi mendaki gunung, tanpa permisi meminta Keiko menjadi kekasihnya di hadapan semua teman sekelas dalam pesta ulang tahun ke tujuh belas Kazuhiko Naomi yang justru mencintai Ryuji sejak kelas satu. Awalnya Ryuji melakukan itu sengaja untuk membuat kesal Naomi yang tak bosan mengejarnya padahal sedikit pun ia tidak tertarik pada Naomi.

Tetapi kemudian Ryuji benar-benar menyukai Keiko. Ia bahkan mengajak Keiko mendaki Gunung Fuji hanya berdua dengannya. Hubungan Keiko dan Ryuji menjadi semakin dekat. Tetapi Keiko masih belum menyadari perasaannya yang sesungguhnya. Karena di saat yang bersamaan, ia juga sedang dekat dengan Ishikawa Hiroyuki, cowok pendiam di kelas yang hampir tak pernah tersenyum dan irit bicara. Pertemuan mereka di tempat rahasia di bukit belakang sekolah, telah menyatukan keduanya. Mereka menamakan tempat itu dengan nama yang sama, Heavenly Garden. Di balik sikap dingin Hiroyuki, sebenarnya diam-diam ia menyukai Keiko. Tanpa sepengetahuan Keiko, Hiroyuki menggambar sketsa wajah Keiko hampir setiap hari sejak kedatangannya di sekolah ini.

Selain kedua pemuda itu, Keiko juga dekat dengan Takahiro Kenichi kapten basket sekolah sekaligus teman sebangkunya. Kenichi juga diam-diam menyukai Keiko. Tetapi Keiko hanya menganggap Kenichi sebagai sahabatnya. Kenichi sendiri tak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada Keiko. Keiko seringkali dicemburui Nakano Miyuki yang tak suka melihat keakrabannya dengan Kenichi, karena diam-diam Miyuki menyukai Kenichi.

Izuki Hajime adalah pemuda lain yang juga tertarik pada Keiko. Bukan tertarik untuk menjadikan Keiko sebagai kekasih, tetapi tertarik mengajak Keiko memperkuat tim yamakashi (fast running)-nya. ia melihat Keiko mampu berlari cepat, melompat tinggi dan melompat jauh. Keiko membuat perjanjian dengan Hajime.
Keiko mengalami kebimbangan, siapakah lelaki yang akan dipilihnya? Tetapi belum sempat ia memilih, Ryuji sudah berpamitan padanya ingin mendaki Gunung Fuji yang bersalju di musim dingin sendirian. Padahal pendakian menuju Gunung Fuji di musim dingin ditutup. Ryuji nekat melewati Hutan Aokigahara yang terkenal angker karena menjadi tempat favorit warga Jepang yang putus asa untuk bunuh diri.

Keiko melarang Ryuji pergi, bahkan rela menyatakan cinta pada Ryuji asalkan Ryuji mengurungkan niatnya menerobos Hutan Aokigahara. Tapi Ryuji tetap pergi. Ia berjanji akan kembali ke hadapan Keiko dan berharap saat ia kembali, Keiko sudah memutuskan memilih siapa yang dicintainya.

Namun Ryuji tidak pernah menepati janjinya. Ia tidak pernah kembali kepada Keiko ....

Notes:
Novel ini bisa didapatkan di Gramedia atau toko buku online : http://www.bukukita.com/Buku-Novel/Romance/105165-Sakura-Wish-(Japanese-Story).html

Intermezzo
Buat teman-teman yang membaca novel Jepang dengan nama penaku Harumi Kawaii dan butuh biografi penulis, ini biografi Harumi Kawaii alias Arumi Ekowati.

Biografi Harumi Kawaii
Nama pena : Harumi Kawaii, nama asli : Arumi E.

Lahir di Jakarta tanggal 6 Mei. Lulusan Arsitektur ini merasa lebih asyik menekuni hobinya melukis sepatu dan menulis cerita fiksi.

Beberapa cerpennya telah dimuat di Majalah Aneka Yess!, Kawanku, Hai, majalah Teen, tabloid Gaul, majalah Kreatif, majalah Say!, majalah STORY, majalah Bobo, majalah Girls dan Kompas Anak.
Beberapa buku antologi, diantaranya: Anak Kos Gokil, Dua Sisi Susi, Dark Stories.

Novel karyanya yang sudah terbit : Cinta Bersemi di Putih Abu-Abu, Saranghaeyo, Symphony Of Love, Four Seasons Of  Love, Sweet Sonata, Sakura Wish, Tahajud Cinta di Kota New York, Jojoba, Amsterdam Ik Hou Van Je, Longest Love Letter.

Juga menulis kisah G-Dragon dan Bigbang dalam comic book Swag With G-Dragon Bigbang

Bagi yang ingin menyapa, sila add : facebook.com/arumi.ekowati , follow twitternya @rumieko dan kunjungi blognya di www.arumi-stories.blogspot.com


Buat teman-teman yang sudah baca novel ini silakan kasih testimoni di sini yaa....

Yang belum sempat baca, yuk, dapatkan novelnya di toko buku Gramedia. Ceritanya romantiiiis banget, ada mengharukannya juga, ada happynya, ada semu merah cinta yang berbunga-bunga. Suasananya Jepangnya berasa banget deh ^_^

Ini review dari Titanty Skardini yang telah membaca Sakura Wish. Semoga teman lain yang membaca juga suka yaa... makasih teman-teman ^_^

RESENSI TERKINI - Sakura Wish (Japanese Story)
Oleh : titantyskardini14 September 2012-10:18:18
Rating


Sakura Wish adalah buku yang mampu membuat saya menitikkan air mata. dengan kisahnya yang menyentuh hati dan disajikan dengan sangat apik oleh penulis. Saya mampu merasakan semua cerita yang ada dalam novel tersebut .

Keiko yang kehilangan Ryuji, seseorang yang belum sempat menjadi kekasihnya namun harus pergi meninggalkan Keiko. Dan Ishikawa Hiroyuki seorang yang sangat misterius yang ditemui di kelas dan mereka mulai akrab di sebuah tempat yang indah yaitu "Heavenly Garden". di situ pula Keiko memanjatkan sebuah doa dibawah pohon sakura yaitu Sakura Wish, Keiko berharap ada seseorang pengganti Ryuji yang dapat menghapus luka di hati Keiko, dan ternyata Sakura Wisnya terkabul dan Keiko menemukan penyembuh luka hati Keiko yaitu Ishikawa Hiroyuki, seseorang yang dahulunya sangat sulit untuk tersenyum dan sangat amat misterius yang mampu membuat Keiko penasaran kini akhirnya menjadi seorang kekasih hati Keiko.

Hiroyuki menyatakan perasaannya pada saat graduation day dimana seseorang wanita dapat mengungkapkan perasaannya pada sang pria dengan cara meminta kancing baju nomor dua dari atas, dan pada saat itu Keiko meminta kancing baju nomor dua dari atas milik Hiroyuki dan Hiroyuki memberikannya sebagai simbol cinta mereka.

Perlahan Keiko dan tersenyum bahagia kembali dan soal Ryuji, Keiko berharap suatu saat nanti ia dapat bertemu dengan Ryuji di suatu tempat yang indah, entah kapan namun Ryuji akan tetap ada di hati Keiko sampai kapanpun. Kini Keiko telah memiliki hidup baru yang sempurna dengan ibu barunya dan kakak barunya dan kekasihnya Hiroyuki.

Sungguh kisah yang amat indah, rapi dan menarik. cover buku ini sangat manis sehingga mampu menarik saya untuk membaca buku ini . Awalnya saya mengira akan lama menyelesaikan buku ini namun saya salah, dalam waktu 3 jam saja saya mampu membaca buku ini . dan saya sarankan kepada kalian semua untuk membeli buku ini , buku ini sangat berguna dan bisa digunakan sebagai pelajaran hidup seorang manusia , dan menjadi sebuah contoh yang bisa kita teladani. Saya pun merasa didalam novel ini banyak sekali kejadian yang menurut saya sering saya alami pada kehidupan saya dan di novel ini pula akhir kehidupan yang manis dapat dirasakan dan dimengerti.

Maka dari itu saya sarankan bacalah novel Sakura Wish dan benar-benar rasakan kisahnya yang menyentuh dan saya yakin kalian pasti akan sependapat dengan saya mengenai kisah dari novel ini , sungguh indah dan menyentuh hati, i love Sakura Wish, i will read this book more and more !!!!


Sumber review asli ini bisa dibaca di link ini :
 http://www.bukukita.com/Buku-Novel/Romance/105165-Sakura-Wish-(Japanese-Story).html

Asrama Hantu Gendeng



Telah terbit dan tersedia di toko buku, sebuah novel estafet yang memuat satu karyaku bersama sembilan teman-teman penulis. Berawal tawaran dari kawan seperjuangan menulis Mas Oke Sudrajat untuk ikut serta menulis cerita bergenre horor komedi, maka aku terima tantangan ini. Novel ini adalah novel estafet. Satu penulis mendapat tugas menulis satu bab. Kemudian ke sepuluh bab dari sepuluh penulis ini dirangkai menjadi satu kesatuan cerita. Maka jadilah sebuah novel horor komedi yang super kocak. Kisah hantu di sini tidak menyeramkan, justru membuat tertawa, minimal tersenyum-senyum saat membacanya. mari nikmati kawan... ^_^

Judul Novel : ASRAMA HANTU GENDENG
Penulis : Oke Sudrajat dan SAMANTA (Sembilan Wanita):

1. Fitria Pratnasari
2. Lina Wijaya
3. Arumi Ekowati
4. Naminist Popy
5. Olivia Magda Gunawan
6. Noviana Hamid
7. Aiu Hidayah
8. Titis Nariyah
9. Veronica
Genre : Komedi
Jumlah Hal : 212 Hal
Harga : Rp. 32.000,
Penerbit : Anza

Sinopsis :
Seketat-ketatnya asrama, tentu saja ada saat-saat luang yang bisa digunakan penghuninya buat gokil-gokilan, malahan anak asrama konon lebih gokil. Ada saja ulahnya... Tapi gimana kalo yang masuk asrama itu para hantu? Hah? Hantu masuk Asrama? Kisah hantu Toebil yang masuk menjadi hantu baru di Asrama hantu, benar-benar membuat keadaan asrama yang tadinya serem jadi rame dan banyak kisah lucu. Apalagi penghuni asrama milik Ki Gendeng Keblinger ini semuanya bikin para hantu jadi makin gendeng dan super keblinger! Benar-benar heboh...
Lalu bagaimana hantu Toebil dan kawan-kawan penghuni asrama hantu gendeng ini menumpas teroris yang menyerang pondokan mereka? Hujan kodok jawabannya, Lho kok?