Selasa, 20 September 2011


Mengapa Edelweis Harus Mati?

Cerpen Misterius sekaligus megharukan karyaku yang dimuat di STORY Teenlit Magazine edisi 22, terbit 25 Mei 2011

Tatkala malaikat mempertanyakan tugasnya : Mengapa Edelweis Harus Mati?


Kupandangi sosok cantik itu dari kejauhan. Wajahnya halus bak pualam. Rambut hitam lurus panjangnya diikat ekor kuda. Memperlihatkan leher jenjangnya dengan jelas. Jika ada manusia yang terlahir mendekati sempurna, maka gadis itu adalah salah satunya. Anugerah kecantikan dan keindahan ragawi rasanya sudah cukup menjadi jaminan kesuksesan hidupnya kelak. Andai aku seorang cast director, pasti aku sudah mengontraknya menjadi model iklan, model profesional atau pemeran utama sebuah film romantis.

Keberuntungannya masih ditambah dengan otak yang brilian. Lulus dari sekolah menengah atas dengan nilai hampir sempurna. Jika ia mau, ia telah diterima di sebuah perguruan tinggi negeri ternama tanpa melalui tes. Sekiankah keberuntungannya? Belum, masih ditambah bahwa gadis itu adalah anak satu-satunya keluarga Pambudi, seorang pengusaha retail terkenal, pewaris kekayaan melimpah. Bahkan kedua orangtuanya telah menyiapkan sebuah perusahaan untuknya hingga kelak ia tak perlu capek-capek mencari pekerjaan.

“Coba bacakan kakak buku barumu, Priska.”
Suaranya terdengar lembut dan halus. Jari jemarinya yang lentik segera menuntun jari-jari mungil gadis kecil yang disebutnya Priska pada sederetan huruf-huruf braille.

“Pada zaman dahulu kala, ada seorang putri cantik yang kesepian…” Priska melafalkan kata-kata bacaannya dengan artikulasi yang kurang jelas.

Aku tersenyum melihat pemandangan indah itu. Kuperhatikan lagi sosok gadis cantik itu. Aku tahu namanya Edelweis. Nama yang indah, andai ia bisa hidup abadi seperti bunga Edelweis. Sayangnya, aku tahu ia tak akan hidup abadi. Bahkan aku tahu kapan tepatnya ia akan mati.
“Sayang sekali jika gadis secantik dan sebaik itu harus mati muda.” batinku.

Ya, usianya baru menginjak tujuh belas tahun. Baru saja kuliah semester satu di sebuah sekolah tinggi keguruan dan ia mengambil jurusan pendidikan untuk guru Sekolah Luar Biasa, yang mengkhususkan diri pada pendidikan untuk anak-anak penyandang cacat.

Bukankah itu pilihan yang luar biasa untuk gadis seusianya? Sejak orangtuanya mengajaknya berkunjung ke sebuah panti yang merawat anak-anak cacat ketika ia kecil dulu, ia langsung jatuh hati dengan anak-anak penghuni panti itu. Kemudian secara rutin ia mengunjungi panti. Keberadaan anak-anak itu telah memberinya ide untuk kemudian memilih malanjutkan pendidikannya di bidang keguruan untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Awalnya, keinginannya itu tentu ditentang kedua orangtuanya. Mereka mengharapkan ia menjadi penerus usaha mereka, jika bisa sekaligus menjadi publik figur. Mengikuti ajang Puteri Indonesia atau apalah, kontes-kontes semacam itu, aku yakin ia pasti menang.

Tapi keputusan gadis itu tak tergoyahkan. Maka di sinilah ia sering menghabiskan waktu, di panti asuhan Kasih Ibu, yang merawat tak kurang dari empat puluh anak penyandang cacat, beberapa ada yang menyandang cacat ganda. Buta sekaligus pendengarannya sedikit terganggu, autis sekaligus jantungnya tak sempurna, lumpuh sekaligus gagal ginjal di usia dini. Gadis itu, tak bosan-bosannya menjadi teman setia anak-anak itu. Menghabiskan waktunya seusai kuliah untuk mengajari anak-anak itu berbagai keterampilan dan pengetahuan.

Untuk kesekian kalinya aku menyambangi gadis itu di panti ini. Kuputuskan, sudah saatnya aku berinteraksi langsung dengan Edelweis, bercakap-cakap, menggali lebih dalam informasi tentang dia langsung dari sumbernya.

“Maaf, Nona, aku tak sengaja!” kataku sambil buru-buru membereskan buku-buku yang berantakan karena aku dengan sengaja menabrak sosok yang membawa setumpuk buku itu.
“Nggak apa-apa, Mas! Saya juga terlalu terburu-buru, jadi nggak lihat kanan kiri.” sahut gadis yang sengaja kutabrak itu sambil mengumbar seulas senyum manis.
Mungkin cara yang kupilih untuk berkenalan dengannya terlalu norak dan kampungan. Tapi caraku itu terbukti ampuh. Karena kemudian aku terlibat perbincangan akrab dengan gadis yang sejak awal aku melihatnya sudah menarik minatku.

“Please, jangan panggil aku Mas dong, aku nggak seperti mas-mas, kan?” protesku sedikit nakal.
“Oh, maaf, jangan sebut aku Nona juga, ya? Sebutan yang terlalu hebat untukku.” sahutnya, senyum indah di wajahnya tak jua surut.
“Baiklah, jadi aku harus menyebutmu apa?”
Cara berkenalan yang jelas aku rekayasa, tapi toh gadis itu menjawab juga.
“Panggil saja aku Edel.” jawabnya.
“Edel? Namamu Edel?”
Ia tertawa kecil. Cantiknya semakin kentara.
“Itu nama panggilanku, nama panjangku Edelweis.” jawabnya lagi.
“Oh, mengapa nama secantik itu kau penggal menjadi Edel?” sudah pasti pertanyaanku barusan terdengar gombal. Tapi aku tak peduli. Apa pun akan kukatakan untuk menarik perhatian mahluk cantik ini.
Ia kembali tertawa kecil.
“Supaya praktis saja, kalau memanggil Edelweis akan terlalu panjang.”
“Hm, aku lebih suka memanggilmu Edelweis. Aku tak merasa membuang-buang waktu menyebut namamu secara lengkap.” jawabku masih bernada gombal.
“Silahkan, jika memang kamu lebih suka menyebutku begitu. Dan namamu?” tanyanya kemudian.
“Panggil saja aku Iz…”jawabku.
Ia terlongo sesaat. Wajah cantiknya berubah terlihat lucu dan menggemaskan.
“Namamu sependek itu?”
“Sebut saja begitu biar praktis.” jawabku lagi.
“Ah, kau curang. Kau tak mau menyebut nama pendekku supaya praktis.”
Tak tega aku memandang wajahnya yang kemudian terlihat gusar.
“Oke, namaku Izra.”
“Izra apa?”
“Izra saja. Kali ini tidak kupenggal supaya pendek dan praktis dipanggil. Tapi karena namaku memang hanya Izra. Jangan tanya padaku kenapa namaku cuma segitu. Tanyakan saja kepada yang memberiku nama.” jawabku.
“Baiklah, akan kupanggil kamu Izra. Maaf, apakah kamu ingin berkunjung ke panti ini?”
“Iya, aku tertarik ingin menulis tentang kegiatan panti ini. Aku kontributor satu majalah remaja di Ibu kota. Boleh, kan?” kataku seraya memperlihatkan kartu pers-ku.
Ia hanya melihat sekilas. Kartu itu palsu atau asli tampaknya ia tak peduli.
“Tentu saja boleh, kami senang jika semakin banyak yang tahu tentang panti ini. Agar semakin banyak masyarakat yang peduli dan mau berbagi kasih dengan anak-anak cacat yang ada di panti ini.” jawab Edelweis.
“Kau bekerja di sini?” tanyaku.
“Aku hanya sukarelawan. Kebetulan aku kuliah di bidang keguruan untuk sekolah luar biasa. Di sini aku dapat berlatih berkomunikasi dan berhubungan dengan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.”
“Wah, kamu luar biasa. Jarang loh, ada remaja yang peduli dengan anak-anak cacat.” pujiku tulus. Ini bukan gombal, aku sungguh-sungguh kagum pada gadis ini.
“Ah, biasa saja. Kebetulan aku berminat dan berbakat di bidang pengajaran. Dan membuat anak-anak ini tertawa senang adalah kebahagiaan tersendiri buatku. Ayo masuk, biar kukenalkan kau dengan mereka satu persatu.” katanya, lalu ia melangkah perlahan masuk ke dalam panti. Kuikuti ia dari belakang.

“Gadis cantik ini namanya Priska. Halo Priska, kenalkan ini Kak Izra.” kata Edelweis sambil menuntun Priska mendekatiku dan membantu tangan mungil Priska menyalamiku.
“Halo Priska.” sapaku lembut.
“Priska tak bisa melihat, tapi ia pandai membaca. Maksudku, membaca huruf braille tentu saja. Usianya baru sembilan tahun. Priska bukannya tak bisa melihat sejak lahir, tapi karena ia menjadi korban kekerasan ayahnya sendiri ketika baru berusia satu tahun. Kalau saja ada yang berbaik hati mendonorkan kornea matanya untuk Priska, maka ia mungkin bisa melihat lagi.” Edelweis menjelaskan panjang lebar.
Aku mengangguk dan tersenyum.
“Nah, cowok ganteng ini namanya Zidan. Umurnya sudah sepuluh tahun. Ada kelainan pada jantungnya, sehingga Zidan tak boleh terlalu capek.” kata Edelweis sambil membelai seorang anak laki-laki yang tak bisa diam. Mata anak itu bergerak ke sana ke mari.

Edelweis mengenalkan aku pada anak-anak yang lain, ada Tegar seorang bocah lelaki yang baru berusia sebelas tahun tapi sebelah ginjalnya tak berkembang sehingga tak berfungsi dengan baik. Sementara ginjalnya yang sebelah lagi juga kurang sempurna. Kakinya mengecil hingga ia tak bisa berjalan. Untunglah ada seorang baik hati yang menyumbangkan kursi roda untuknya.

Edelweis juga mengenalkan aku dengan semua pengajar, pengasuh, pengelola dan kepala panti anak cacat ini. Anak-anak yang diasuh di sini, ada yang masih memiliki orang tua tapi sangat miskin sehingga tak mampu merawat mereka. Ada juga yang sudah yatim piatu, bahkan ada yang sengaja dibuang orangtuanya.
“Bayangkan, bagaimana aku tak terenyuh melihat mereka. Harus ada yang peduli kepada mereka. Dan aku ingin menjadi salah satunya.” celoteh Edelweis.
Aku mengangguk takjub.

“Dan bagaimana mungkin aku sanggup mencabut nyawa gadis sebaik hati ini?” batinku.
Pengamatanku terus berlanjut. Setiap hari aku berkunjung ke panti itu, menyaksikan Edelweis dengan tulus memberikan perhatian dan kasih sayangnya pada semua anak penghuni panti. Aku semakin jatuh hati padanya. Bagaimana tidak, sudah kuceritakan tentang kesempurnaan gadis itu sebelumnya, tak ada alasan untuk membiarkannya mati muda. Bagaimana kelak nasib anak-anak itu yang tampak sudah terlanjur mencintainya?

“Kau sudah punya pacar?” tanyaku pada Edelweis di kunjunganku yang ke sekian kali ke panti Kasih Ibu.

Edelweis tak langsung menjawab. Mata indahnya sedikit membelalak, ia tak menduga aku akan mengajukan pertanyaan seperti itu.

“Tak ada yang jatuh cinta padaku.” jawab Edelweis beberapa menit kemudian.
“Tak mungkin...Pasti banyak cowok yang naksir pada gadis cantik dan baik hati seperti kamu.” sahutku.

“Ah, aku tak sehebat itu...” kata Edelweis, semu merah di kedua pipinya jelas menunjukkan ia sedikit malu kupuji seperti itu.
“Sungguh tak ada yang benar-benar cinta padaku. Ada beberapa yang mengaku suka, tapi tindakan mereka tak menunjukkan bahwa mereka benar-benar suka. Mereka menganggapku gadis aneh, karena aku lebih suka menghabiskan waktu di panti ini daripada jalan-jalan ke mal, makan di cafe atau nonton film.” lanjut Edelweis.
Lalu ia menoleh, menatapku agak lama.

“Baru kau saja cowok yang aku tahu juga menaruh minat dengan kegiatan di panti ini.” kata Edelweis, senyumnya merekah manis.
Oh, andai ia tahu siapa aku sebenarnya, masihkah ia sudi memberiku senyum semanis itu? Esok hari menjelang sore, aku diperintahkan untuk mengambil nyawanya. Keteguhkan dalam hati, jika memang gadis itu harus mati, akan kupilihkan cara mati yang terbaik, yang tak akan membuatnya merasakan sakit.
* * *

Priska masih rajin membaca. Ada banyak yang menyumbangkan buku-buku bacaan berhuruf braille untuk Priska. Edelweis seringkali menge-print cerita-cerita atau pengetahuan untuk anak-anak yang diambilnya dari internet di perpustakaan Gedung Depdiknas. Di sana, telah tersedia printer yang hasil print-out-nya dalam bentuk huruf braille. Priska selalu menerimanya dengan suka cita. Pengetahuannya semakin bertambah. Ia mulai senang mengarang cerita dongeng anak-anak. Edelweis dengan sabar membantu menuliskan ide-ide cerita Priska dalam sebuah buku.

“Priska pasti menjadi penulis hebat kelak jika ia sudah bisa melihat.” kata Edelweis bangga.
Tiba-tiba saja Zidan mengamuk. Anak itu menyandang autis, sungguh heboh jika ia ngambek. Ia berteriak-teriak keras dan melempar barang apa saja yang ada di dekatnya. Edelweis mendekati Zidan dan berusaha membuat anak itu tenang.
“Kenapa, sayang? Zidan mau apa?” ucap Edelweis lembut.
“Mau coklat, mau coklat, mau coklaaaaaat!!” teriak Zidan sambil menunjuk-nunjuk arah luar.
“Mm, coklatnya diganti mainan saja ya? Zidan nggak boleh makan coklat. Nanti Kak Edel belikan Zidan mobil-mobilan.” kata Edelweis masih dengan suara lembutnya.

Awalnya Zidan menggeleng, tapi setelah Edelweis berjanji akan membelikan mainan saat itu juga, ia mengangguk. Kata-kata lembut dan janji Edelweis telah melunakkan hatinya. Edelweis bangkit lalu beranjak keluar panti. Aku mengikuti langkah cepat-cepat gadis itu. Keinginannya untuk segera memenuhi permintaan Zidan membuatnya melangkah terburu-buru dan tak memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Kubiarkan ia melangkah menyeberangi jalan raya. Walau aku tahu beberapa detik kemudian akan ada sebuah mobil sedan sporty yang melaju sangat cepat menabrak tubuh langsingnya. Niatku untuk memilihkan cara mati yang lebih baik tak kesampaian. Aku tak punya kuasa untuk itu. Aku juga terlarang untuk menunda sekejap saja proses kematiannya. Tapi aku masih boleh mencegahnya mati dalam keadaan terlalu parah. Segera kutangkap tubuhnya yang terpental. Tak kan kubiarkan kepala indahnya jatuh membentur aspal dan remuk tak berbentuk.

Dalam sekejap, sudah banyak orang mengerumuni kami. Setelah aku yakin ada seorang yang mengambil alih menolongnya, menghentikan sebuah taxi dan membawanya ke rumah sakit terdekat, kutinggalkan ia dan kuperhatikan dari jauh. Kuikuti ia hingga ruang UGD rumah sakit itu. Namun hanya beberapa jam saja Edelweis mampu bertahan. Kemudian, kutuntun lembut jiwanya terbang ke langit...
* * *

“Aku sangat mencintai anak-anak ini. Aku rela memberikan segalanya demi melihat mereka bahagia. Diam-diam aku telah mendaftarkan jantungku, ginjalku, mataku untuk didonorkan bagi anak-anak yang membutuhkan. Kalau-kalau saja nanti umurku tak panjang, mereka bisa mengambilnya dariku.” papar Edelweis dalam perbincanganku terakhir dengannya, sebelum Zidan mengamuk, sebelum ia melangkah ke jalan raya...

Keinginan Edelweis telah terwujud. Matanya kini telah menjadi milik Priska. Gadis kecil itu semakin rajin membaca semenjak ia dapat melihat. Jantung Edelweis yang sehat telah berdetak lembut dalam rongga dada Zidan. Satu ginjalnya telah menggantikan ginjal Tegar yang telah rusak.

Kedua orangtua Edelweis yang telah membiayai operasi itu, selain juga gencar mencari bantuan sponsor. Walau mereka berduka, tapi mereka mendukung niat suci Edelweis. Mereka sering mengunjungi panti, memandang Priska, Zidan dan Tegar seolah seperti memandang langsung Edelweis putri terkasih mereka.

Aku tersenyum lega. Inilah ternyata alasan mengapa Edelweis harus mati muda. Bisa kupastikan, Edelweis pun tersenyum bahagia di langit.

~ Tamat ~

Inspired by : “ Touched by An Angel television series”