Minggu, 31 Mei 2015

Review Film : CORALINE

Photo from http://www.imdb.com/media/rm1274647808/tt0327597?ref_=tt_ov_i

Hati-hati dengan keinginanmu...

Film yang menarik, animated 3D dark fantasy film. Produksi tahun 2009. Diadaptasi dari novel karya Neil Gaiman.

Coraline Jones adalah seorang anak berusia 11 tahun yang baru saja pindah ke sebuah rumah yang konon katanya berusia seratus tahun lebih. Ayah ibu Coraline adalah penulis yang sibuuuuk sekali mengejar deadline. Sepanjang hari mengetik di depan laptop. Melupakan Coraline anak mereka yang sedang penuh rasa ingin tahu dan mudah bosan.

Ayah dan ibunya selalu menyuruh Coraline pergi bermain supaya tidak mengganggu pekerjaan mereka. Sampai akhirnya Coraline menemukan dunia lain, di mana dia menemukan copy ayah ibunya tapi dalam versi yang lebih menyenangkan dan perhatian. Membuatnya betah berada di dunia lain itu.

Hanya ada yang aneh dengan ibu dan ayahnya yang lain ini. Mata keduanya berupa kancing. Di duni yang lain ini, Coraline dimanjakan. Ibunya memasak makanan enak. sangat berbeda dengan ibu aslinya. Ayahnya yang bermata kancing ini senang berkebun dan menanam pepohonan dan bunga yang jika dilihat dari atas, membentuk wajah Coraline.

Namun semua hal yang menyenangkan di dunia yang berbeda itu ternyata hanya sebuah jebakan. Yang jika Coraline tidak segera sadar, dia akan terjebak selamanya di situ dan tidak akan bisa bertemu ayah ibunya yang asli lagi.

Aish, keren lah ceritanya. Cerita anak-anak yang menarik. Gambar yang juga menarik. Diselingi dialog-dialog cerdas dan lucu. Bikin penasaran. Apalagi ada horornya sedikit. Ada satu bagian yang agak mirip dengan salah satu novel Goosebumps yang pernah kubaca

Jumat, 22 Mei 2015

Review amore ELEANOR



Sudah baca novel terbaruku ELEANOR?

Yang belum baca boleh nih baca review dari seorang pustakawati keren Mbak Luckty Giyan Sukarno.

Semoga jadi tertarik membacanya ya ^_^


“Jangan buang-buang waktu mencari yang tak perlu dicari.” (hlm. 15)

ELEANOR SAPTAJINGGA. Lahir tujuh Mei menjelang matahari terbit. Karena itulah ia dinamai “Sapta” yang berarti tujuh dan “Jingga” sesuai warna langit saat ia lahir. Eleanor percaya, berada di bawah nanungan zodiak Taurus membuatnya kreatif dan jiwa seninya tinggi. Sejak sekolah dasar dulu, ia menyukai kegiatan menggambar, kini kemampuannya itu sangat berguna saat ia harus menuangkan ide-ide desain pakaiannya melalui sketsa-sketsa gambarnya. Ia lulus dengan nilai terbaik dari kampus tempatnya belajar mode selama tiga tahun. Kemudian ia mengajukan lamaran untuk bekerja magang di sebuah butik di London. Ia tuangkan ide terbaiknya dalam contoh sketsa rancangan busa yang ia kirimkan.

Impian Eleanor terwujud. Ia diterima. Nantinya selama setahun ia akan tinggal di London selama setahun. Sebenarnya bukan hanya cita-citanya yang ingin ia wujudkan di sana. Ada seseorang yang ingin ia temui. Sesosok laki-laki yang telah memenuhi benaknya selama bertahun-tahun; papanya.
Dulu ibunya terlibat cinta dengan sesosok pemuda Inggris berambut pirang dengan sepasang mata biru yang dulu telah membuatnya mabuk kepayang, membuatnya lupa menjaga diri. Hingga akhirnya tengelam dalam hubungan cinta kelewat batas. Saat ia sadar telah melakukan kesalahan, semuanya sudah terlambat. Di rahimnya terlanjur tumbuh benih cintanya bersama Alan.

Klise. Tapi kenyataannya demikian, orangtua Alan tidak setuju Alan menikahinya. Ia kembali ke Indonesia dalam keadaan mengandung, berkeras mempertahankan bayinya hingga lahir. Saat putrinya berusia seminggu, Alan Stevens datang ke Jakarta hanya untuk memberi nama anaknya nama, Eleanor.

Eleanor mendengar sejarah kelahirannya itu setelah ia berusia sebelas tahun. Sejak mengetahui ia separuh Inggris, Eleanor mulai terobsesi segala sesuatu tentang Inggris. Betapa inginnya ia suatu saat nanti menginjakkan kaki ke tanah kelahiran ayahnya.

Dari ibunya, Eleanor tahu ayahnya sangat menyukai grup musik The Beatles, berharap dapat mengenali sang ayah dengan mengetahui hal-hal yang ayahnya sukai. Sampai akhirnya ia juga menyukai The Beatles.

Kesukaannya pada The Beatles membuatnya dianggap ketinggalan zaman dan berselera kuno. Ia tak peduli, sudah biasa dirinya menjadi bahan pergunjingan. Ia tahu bagaimana orang-orang memandang curiga melihat dirinya hanya hidup berdua dengan sang ibu. Apalagi perbedaan fisik mereka sangat mencolok.

“Sekarang, fokuslah dengan tugas-tugasmu di Deluxe. Bukan berarti kamu harus berhenti mencari papamu.aku tetap akan membantumu. Tapi jangan terlalu terpuruk saat kamu gagal apalagi sampai mempengaruhi semangat kerjamu.” (hlm. 79)



Eleanor, dari namanya saja langsung mengingatkan salah satu judul lagunya The Beatles, grup yang paling melegenda. Membahas The Beatles, sebelumnya saya pernah membahas novel teenlit yang bertema The Beatles yang berjudul The Lonely Hearts Club ditulis oleh Elizabeth Eulberg. Saya baca versi terjemahannya yang diterbitkan oleh Bentang Belia. Buku-buku ini memiliki kesamaan; beraroma The Beatles. Tapi tenang saja, ceritanya beda jauh. Yang ngaku garis keras sebagai penggemar The Beatles wajib baca buku ini :D

Buku ini memiliki rumus yang sama dengan Hatiku Memilihmu, buku yang ditulis Mbak Arumi sebelumnya; setting luar negeri dan tokoh utama perempuan yang memiliki perasaan di persimpangan karena hatinya terpaut diantara dua laki-laki.

Beberapa sindiran halus dalam buku ini:
Jangan diri baik-baik. Jangan mudah terpikat rayuan pemuda. (hlm. 16)
Belanja! Semua wanita pasti senang belanja, kan? (hlm. 59)
Jangan menangis saat sedang berjalan. Bahaya. Kamu bisa menabrak atau tertabrak orang lain. (hlm. 69)
Zaman sekarang semakin langka orang yang menyukai buku-buku tua. (hlm. 78)
Kamu boleh menangis. Tapi jangan lama-lama. (hlm. 79)
Jangan bicara kasar seperti itu. Papamu mengajarimu bersikap sopan pada orang lain, terutama yang lebih dewasa darimu. (hlm. 183)
Pesan moral dari buku ini adalah masa lalu tetaplah masa lalu. Masa lalu biarkan menjadi masa lalu. Masa lalu boleh saja suram, tapi jangan sampai membayangi masa depan. Karena hidup memang harus berjalan ke depan, bukan ke belakang.



Keterangan Buku:
Judul                                     : Eleanor
Penulis                                 : Arumi E.
Desain cover                      : Marcel A. W.
Proofreader                       : Ashma M. M.
Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit                                    : 2015
Tebal                                     : 264 hlm.
ISBN                                      : 978-602-03-1325-2

Link asli review Mbak Luckty Giyan Sukarno : https://www.facebook.com/notes/luckty-giyan-sukarno/review-eleanor/10152710378037693?pnref=story

Minggu, 17 Mei 2015

Selamat hari Buku Nasional



Tahukah teman, hari ini diperingati sebagai HARI BUKU NASIONAL? Waaaah, keren ya. Kamu pasti suka baca buku, kan?

Aku sekarang ini suka menulis awalnya dulu karena suka membaca. Menerbitkan buku itu tidak mudah. Setelah proses yang panjang dan setelah buku terbit, sekarang ini penulis juga dituntut untuk maksimal membantu mempromosikan buku karyanya.

Karena itulah aku membuat fanpage di facebook untuk informasi mengenai buku-buku karyaku. Kalau berkenan silakan di like- di link ini ya ^_^ https://www.facebook.com/arumibooks

Ini tampilan muka fp novel-novel karyaku. Like yuk ^_^

Sabtu, 16 Mei 2015

Review Film : The Odd Life of Timothy Green

Photo from : http://en.wikipedia.org/wiki/The_Odd_Life_of_Timothy_Green
Film keluarga yang menarik. Produksi tahun 2012. merupakan film dengan genre fantasy comedy drama film.

Film ini bercerita tentang suami istri Jim dan Cindy Green yang sedih karena divonis dokter mereka tidak akan memiliki anak. Cindy bekerja di museum lokal, Jim bekerja di pabrik pencil di kota kecil tempat mereka tinggal. Cindy dan Jim menuliskan karakter anak yang mereka harapkan di sehelai kertas kecil, lalu memasukkannya ke kotak kayu dan menguburkannya di halaman. Tiba-tiba saja turun hujan deras disertai badai. Tapi anehnya hanya terjadi di rumah dan halaman suami istri Green. Setelah itu, tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah mereka seorang anak laki-laki berusia 10 tahun mengaku bernama Timothy.

 Timothy seperti layaknya anak normal biasa, hanya ada satu kejanggalan, pergelangan kakinya ditumbuhi daun. Pasangan Jim dan Cindy itu sudah lama sekali mendambakan anak, segera saja mereka menganggap Timothy sebagai anak mereka. Apa pun mereka lakukan demi kebahagiaan Timothy.

Kehadiran Timothy walau hanya semusim, tapi mampu menyadarkan beberapa orang dari kebiasaan buruk yang sebaiknya diubah. Ayah Jim yang semula tak peduli padanya, menjadi lebih peduli. Bos Cindy yang super jutek nggak pernah senyum, karena dilukis Timothy dengan jujur menyadari selama ini dia memiliki sifat yang tidak menyenangkan. Pelatih sepak bola Timothy yang semula meremehkan kemampuan Timothy bermain bola, justru bangga dengan gol yang diciptakan Timothy walau ke gawang sendiri. Kehadiran Timothy membuat beberapa orang menyadari ada yang harus diperbaiki dari sikap mereka.

Sayang, setelah tugasnya usai, daun-daun di kaki Timothy gugur dan itu artinya dia harus pergi.

Benar kata The Beatles. All you need is love. Dimulai dari saling peduli dan menghargai lalu muncul rasa menyayangi.

Film yang penuh makna, yang setelah selesai menonton membuat kita menarik napas lega dan tersenyum.