Tampilkan posting dengan label Notes. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Notes. Tampilkan semua posting

Kamis, 01 Oktober 2015

Welcome October

Oktober! Bulan ke 10. Aaah, cepatnya waktu berlalu. Sebentar lagi tahun 2015 akan berakhir.

Dan aku? Apa hasil kerjaku tahun ini? Tahun ini hanya dua novelku yang terbit. Dua.

Apa saja yang kulakukan sepanjang tahun ini?  Aku sudah berusaha agar hidupku penuh warna, petualangan dan terus menambah wawasan baru.

Alhamdulillah tahun ini aku mendapat kesempatan ke luar negeri lagi. Walau masih hanya negara tetangga, tapi banyak menambah wawasanku.

Aku jadi makin sadar. Indonesia memang negara yang besar dan luaaas. Penduduknya banyaaaaak. Tak bisa dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Tidak mudah mengelola Indonesia. Begitu beragam adat istiadat, agama, bahasa, namun kami harus bisa hidup berdampingan dengan harmonis.

Jakarta tidak bisa dibandingkan dengan Kuala Lumpur. Jakarta lebih luas, lebih banyak warganya, lebih kompleks, lebih rumit, lebih megapolitan.




Bulan ini diawali dengan kesibukan mengirim pesanan pembaca. Satu per satu dikirim. Semoga banyak yang berminat membaca "Merindu Cahaya de Amstel"

Yuk, yang mau order langsung sama aku edisi bertandatangan, silakan kirim saja permintaan ordernya ke rumieko@yahoo.com






Biasanya aku mengirim novel pesanan teman-teman pembaca melalui JNE atau Pos Indonesia. Tergantung permintaan pembeli mau via apa. Sekarang makin happy karena kinerja Kantor Pos makin oke. Jam bukanya pun diperpanjang hingga pukul 19:00 WIB. Hebat kan? ^_^




Book trailer "Merindu Cahaya de Amstel" ini paaassss banget dengan bulan Oktober ^_^





Jumat, 28 Agustus 2015

Daftar Novel karya Arumi E.

Pengin tahu daftar buku karyaku apa saja? Ini dia daftarnya. ^_^

Daftar novel karya Arumi E.

1. Saranghaeyo (dengan nama pena Karumi Iyagi)
2. Four Seasons of Love (dengan nama pena Karumi Iyagi)
3. Symphony of Love (dengan nama pena Karumi Iyagi)
4. Sweet Sonata (dengan nama pena Karumi Iyagi)
5. Sakura Wish (dengan nama pena Harumi Kawaii)
6. Cinta Bersemi di Putih Abu-Abu
7. Zara Sang Detektif Cilik (kumcer anak)
8. Tahajud Cinta di Kota NewYork
9. Jojoba
10, Amsterdam Ik Hou Van Je
11. Longest Love Letter
12. Heart Latte (kumcer dewasa)
13. Hatiku Memilihmu
14. Cinta Valenia
15. Monte Carlo
16. Unforgotten Dream
17. Pertemuan Jingga
18. Eleanor
19. Merindu Cahaya de Amstel
20. Love in Adelaide
21. Love in Sydney

Coming soon :

22. Love in Montreal
23. Teror Diari Tua

Arumi E. juga pernah menerbitkan buku tentang Kpop Bigbang dan G Dragon.
Pernah juga menerbitkan novel duet berjudul "Cinta Yang Sempurna".
Menulis juga buku biografi karateka cilik "Bhagas dan Jurus-jurus Meraih Mimpi"











Minggu, 26 Juli 2015

Mengatasi Writer's Block



Sudah bulan ke tujuh di tahun 2015. Terakhir aku menyelesaikan tulisan bulan Februari. Saru outline-ku diterima salah seorang editorku sejak bulan Mei. Tapi sampai hari ini aku baru menulis sampai bab 2.

Yup. Aku terserang writer's block. Penghalang yang sering dialami penulis dalam berkreasi.
Ada banyak teori mengenai cara mengatasi writer's block. Tapi suatu cara belum tentu cocok untuk semua penulis. Lalu apa yang harus kulakukan supaya kembali produktif menulis?

Menonton banyak film, sudah. Membaca beberapa novel, sudah. Mencari inspirasi dengan berjalan-jalan juga sudah. Apa yang salah? Kenapa aku masih belum bisa fokus menyelesaikan outline yang sudah kususun?

Malas. Sepertinya itu satu-satunya alasan paling pas. Aku masih malas memaksa diriku untuk fokus pada calon naskah. Karena itu, aku akan mengadakan percobaan.

Aku akan menantang diriku sendiri menyelesaikan naskahku ini dalam 30 hari.

Aku akan mencoba membuat laporan singkat kemajuan tulisanku setiap hari.

Yaaa ... ini memang terinspirasi novel yang pernah kubaca. Yang berkisah tentang usaha seorang penulis melawan writer's block.

#30HariMenulisNovel

Jumat, 22 Mei 2015

Review amore ELEANOR



Sudah baca novel terbaruku ELEANOR?

Yang belum baca boleh nih baca review dari seorang pustakawati keren Mbak Luckty Giyan Sukarno.

Semoga jadi tertarik membacanya ya ^_^


“Jangan buang-buang waktu mencari yang tak perlu dicari.” (hlm. 15)

ELEANOR SAPTAJINGGA. Lahir tujuh Mei menjelang matahari terbit. Karena itulah ia dinamai “Sapta” yang berarti tujuh dan “Jingga” sesuai warna langit saat ia lahir. Eleanor percaya, berada di bawah nanungan zodiak Taurus membuatnya kreatif dan jiwa seninya tinggi. Sejak sekolah dasar dulu, ia menyukai kegiatan menggambar, kini kemampuannya itu sangat berguna saat ia harus menuangkan ide-ide desain pakaiannya melalui sketsa-sketsa gambarnya. Ia lulus dengan nilai terbaik dari kampus tempatnya belajar mode selama tiga tahun. Kemudian ia mengajukan lamaran untuk bekerja magang di sebuah butik di London. Ia tuangkan ide terbaiknya dalam contoh sketsa rancangan busa yang ia kirimkan.

Impian Eleanor terwujud. Ia diterima. Nantinya selama setahun ia akan tinggal di London selama setahun. Sebenarnya bukan hanya cita-citanya yang ingin ia wujudkan di sana. Ada seseorang yang ingin ia temui. Sesosok laki-laki yang telah memenuhi benaknya selama bertahun-tahun; papanya.
Dulu ibunya terlibat cinta dengan sesosok pemuda Inggris berambut pirang dengan sepasang mata biru yang dulu telah membuatnya mabuk kepayang, membuatnya lupa menjaga diri. Hingga akhirnya tengelam dalam hubungan cinta kelewat batas. Saat ia sadar telah melakukan kesalahan, semuanya sudah terlambat. Di rahimnya terlanjur tumbuh benih cintanya bersama Alan.

Klise. Tapi kenyataannya demikian, orangtua Alan tidak setuju Alan menikahinya. Ia kembali ke Indonesia dalam keadaan mengandung, berkeras mempertahankan bayinya hingga lahir. Saat putrinya berusia seminggu, Alan Stevens datang ke Jakarta hanya untuk memberi nama anaknya nama, Eleanor.

Eleanor mendengar sejarah kelahirannya itu setelah ia berusia sebelas tahun. Sejak mengetahui ia separuh Inggris, Eleanor mulai terobsesi segala sesuatu tentang Inggris. Betapa inginnya ia suatu saat nanti menginjakkan kaki ke tanah kelahiran ayahnya.

Dari ibunya, Eleanor tahu ayahnya sangat menyukai grup musik The Beatles, berharap dapat mengenali sang ayah dengan mengetahui hal-hal yang ayahnya sukai. Sampai akhirnya ia juga menyukai The Beatles.

Kesukaannya pada The Beatles membuatnya dianggap ketinggalan zaman dan berselera kuno. Ia tak peduli, sudah biasa dirinya menjadi bahan pergunjingan. Ia tahu bagaimana orang-orang memandang curiga melihat dirinya hanya hidup berdua dengan sang ibu. Apalagi perbedaan fisik mereka sangat mencolok.

“Sekarang, fokuslah dengan tugas-tugasmu di Deluxe. Bukan berarti kamu harus berhenti mencari papamu.aku tetap akan membantumu. Tapi jangan terlalu terpuruk saat kamu gagal apalagi sampai mempengaruhi semangat kerjamu.” (hlm. 79)



Eleanor, dari namanya saja langsung mengingatkan salah satu judul lagunya The Beatles, grup yang paling melegenda. Membahas The Beatles, sebelumnya saya pernah membahas novel teenlit yang bertema The Beatles yang berjudul The Lonely Hearts Club ditulis oleh Elizabeth Eulberg. Saya baca versi terjemahannya yang diterbitkan oleh Bentang Belia. Buku-buku ini memiliki kesamaan; beraroma The Beatles. Tapi tenang saja, ceritanya beda jauh. Yang ngaku garis keras sebagai penggemar The Beatles wajib baca buku ini :D

Buku ini memiliki rumus yang sama dengan Hatiku Memilihmu, buku yang ditulis Mbak Arumi sebelumnya; setting luar negeri dan tokoh utama perempuan yang memiliki perasaan di persimpangan karena hatinya terpaut diantara dua laki-laki.

Beberapa sindiran halus dalam buku ini:
Jangan diri baik-baik. Jangan mudah terpikat rayuan pemuda. (hlm. 16)
Belanja! Semua wanita pasti senang belanja, kan? (hlm. 59)
Jangan menangis saat sedang berjalan. Bahaya. Kamu bisa menabrak atau tertabrak orang lain. (hlm. 69)
Zaman sekarang semakin langka orang yang menyukai buku-buku tua. (hlm. 78)
Kamu boleh menangis. Tapi jangan lama-lama. (hlm. 79)
Jangan bicara kasar seperti itu. Papamu mengajarimu bersikap sopan pada orang lain, terutama yang lebih dewasa darimu. (hlm. 183)
Pesan moral dari buku ini adalah masa lalu tetaplah masa lalu. Masa lalu biarkan menjadi masa lalu. Masa lalu boleh saja suram, tapi jangan sampai membayangi masa depan. Karena hidup memang harus berjalan ke depan, bukan ke belakang.



Keterangan Buku:
Judul                                     : Eleanor
Penulis                                 : Arumi E.
Desain cover                      : Marcel A. W.
Proofreader                       : Ashma M. M.
Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama
Terbit                                    : 2015
Tebal                                     : 264 hlm.
ISBN                                      : 978-602-03-1325-2

Link asli review Mbak Luckty Giyan Sukarno : https://www.facebook.com/notes/luckty-giyan-sukarno/review-eleanor/10152710378037693?pnref=story

Sabtu, 25 April 2015

Resensi Novel "Pertemuan Jingga" dari Mbak Rena Puspa

Untuk memeriahkan acara talkshow "Geliat Novel Islami" Gramedia Pustaka Utama tanggal 6 Maret 2015 lalu, Gramedia mengadakan lomba review novel-novel Islami GPU. Salah satunya novel "Pertemuan Jingga".

Dan inilah review pemenang yang terpilih. Review yang dibuat Mbak Rena Puspa, penulis buku "Bahagia Ketika Ikhlas".

Baca yuuuk, review-nya. Siapa tahu setelah membacanya jadi tertarik mau beli dan baca juga ^_^



Judul                    : Pertemuan Jingga
Penulis                 : Arumi E.
Editor                   : Donna Widjajanto
Tata letak isi         : Shutterstock
Desain sampul      : Suprianto
Penerbit                : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                   : 2014
Tebal                    : 250 hlm.
ISBN                    : 978-602-03-1194-4


Cover :

Dominansi warna jingga pada cover bagian belakang dengan sebaran hijaunya rerumputan di atas 2 pasang kaki pada cover bagian depan, seolah menegaskan gambaran umum isi novel ini, yaitu berkisah tentang sepasang manusia yang bertemu dan disatukan oleh indahnya cahaya jingga, dimana hijaunya area rerumputan seolah mewakili tempat pertama kali mereka bertemu yaitu di pertanian cabai.

Sinopsis : 

Novel ini berkisah tentang Anthea seorang gadis berusia 24 tahun yang berprofesi sebagai arsitek yang masih junior. Namun terpaksa harus terdampar di sebuah tempat yang jauh sekali dari profesi aslinya, yaitu di kawasan pertanian cabai, dengan posisi barunya sebagai pengawas lapangan pertanian. Sejuknya hawa pegunungan wilayah Megamendung yang menjadi lokasi pertanian cabai tersebut, ternyata tidak serta merta menunjukkan bahwa bekerja di kawasan itu menjanjikan aura ketenangan, karena Anthea harus menghadapi kerasnya kehidupan dibalik pemandangan indah lokasi pertanian yang selintas tampak memanjakan mata. Begitu banyak intrik yang harus ditemui Anthea saat harus berjuang menekuni profesi barunya, terutama saat harus berhadapan dengan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pertanian. Betapa kemampuan leadership Anthea mendadak terasah maksimal, agar perkembangan lokasi pertanian dapat bersinergi dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Disamping itu jeritan nuraninya yang merasa posisi barunya, jauh sekali dari passion dia sebagai arsitek, seolah membuat perjuangan yang ada semakin tidak mudah.

Di tempat yang sama, Anthea memiliki rekan kerja bernama Bastian, dengan basic pendidikan sebagai insinyur pertanian. Seorang pemuda berusia 26 tahun, dengan pembawaan lugas dan apa adanya sering terlibat debat dengan Anthea. Meski dia memiliki pembawaan selalu ingin melindungi Anthea, namun komentar-komentar yang dikeluarkan seringkali terasa terlalu apa adanya, sehingga membuat Anthea berkali-kali tersinggung, lalu akhirnya mereka bertengkar. Namun percikan-percikan itu ternyata yang menjadi asal mulanya benih-benih cinta mulai tumbuh di hati keduanya.

Selain Bastian, ada Niken yang juga menemani Anthea bekerja di lokasi yang sama. Kisah persahabatan Anthea dengan Niken yang dipaparkan dalam novel ini juga seolah menunjukkan, persahabatan sejati tidak selalu dibangun dengan jalan yang mudah, karena ada kalanya pergesekan harus dilalui justru untuk semakin mengokohkan ikatan persahabatan yang ada.


Review :

Walaupun tidak ada "bandrol" novel islami pada bagian covernya, namun muatan yang terdapat dalam novel ini sarat dengan nilai-nilai islami. Salut dengan penulisnya yang mampu membuat muatan nilai Islam yang mungkin begitu berat saat harus tersaji dalam bentuk teori semata, namun bisa begitu ringan saat tersaji dalam kisah fiksi yang tidak menggurui. Dari alur cerita yang disuguhkan begitu terasa kehati-hatian penulis saat terus konsisten memasukkan nilai-nilai Islami dalam setiap adegan cerita. Mengapa saya sebut hati-hati ??, karena penulis seolah menginginkan nilai-nilai tersebut tidak muncul sebagai dogma yang terkesan "mengajari" pembacanya apa itu benar dan salah, namun nilai-nilai itu sanggup melebur dengan harmonisasi yang pas pada tokoh-tokohnya sekaligus rentetan kisah yang dipaparkannya. Dan berbeda dengan kebanyakan novel bergenre islami lainnya yang sarat dengan atribut simbol-simbol islamnya, novel ini justru memberikan warna lain. Penulis seolah ingin menegaskan nilai islam itu rahmat bagi semesta, namun juga tidak menabrak batas-batas yang ada. Karena sering saya temui tulisan yang seolah ingin menunjukkan Islam adalah agama yang toleran, namun toleransinya terasa berlebihan sehingga seperti sedang membiaskan nilai islamnya sendiri pada sebuah standar yang tidak jelas. Dan penulis novel ini pun terasa sekali kehati-hatiannya untuk tidak "terjebak" pada kondisi tersebut, batasan nilai yang diusungnya sangat jelas dan tegas. Dapat dilihat pada kutipan berikut "Janganlah takut kepada selain Allah, percayalah... Allah pemelihara mahlukNya" (halaman149), saat tokoh Anthea berjuang membuktikan bahwa mitos hantu itu tidak ada, lalu pada bagian terakhir penulis juga ingin menegaskan tidak ada hubungan pacaran sebelum menikah dalam islam, seperti terbaca pada kutipannya sebagai berikut :

"Laki-laki baik tidak akan menggantung perempuan yang disukainya dengan status tidak jelas. Itu sama saja dengan tidak menghargai. Laki-laki pemberani harus menghadapi orangtua perempuan yang disukainya untuk meminang perempuan yang dia yakini terbaik untuk pendamping hidupnya. Dan aku berani bilang, aku adalah laki-laki yang baik dan pemberani" jawab Bastian disertai seulas senyum. (halaman 248).

Selain sarat dengan muatan nilai islamnya, novel ini juga mengajarkan pembaca untuk gigih dalam berusaha saat harus mengejar cita-cita. Bagaimana seorang Anthea yang memiliki profesi sebagai arsitek ternyata tidak sungkan untuk terjun dalam beratnya dunia pertanian, merelakan tangannya menjadi kotor karena harus berdekatan dengan tanah hampir setiap hari, dan dia juga sanggup meninggalkan gemerlap ibukota untuk pindah ke daerah terpencil di pegunungan demi mendapatkan segudang pengalaman yang dia yakini sanggup menjadi bekal untuk meraih cita-citanya semula sebagai arsitek profesional.

Adapun tema cinta yang menjadi bagian penting dari novel ini tersaji sangat apik, jauh dari kesan picisan. Pembaca dibuat larut dalam kisah yang dipaparkan, namun tidak terjebak pada situasi "termehek-mehek" seperti umumnya novel cinta yang ada. Komposisinya begitu pas, betapa cinta memang selalu menjadi unsur universal yang mampu membuat semua perbedaan dapat bersatu.  Dunia Anthea yang selalu berhubungan dengan pembangunan gedung dimana didalamnya seringkali harus merusak tanaman, ternyata justru harus jatuh cinta pada Bastian seseorang yang begitu mencintai tanaman, dimana cinta lah yang menjadi pemersatu diantara keduanya.

Sebuah novel yang layak dibaca, karena tidak hanya menghibur, namun juga memberi semangat tentang bagaimana gigihnya perjuangan meraih cita-cita, sekaligus menjadi panutan tentang adab pergaulan antara lawan jenis yang ideal itu harus seperti apa.


Sumber aslinya bisa dibaca di sini yaaa : https://www.facebook.com/notes/rena-puspa/resensi-novel-pertemuan-jingga/875258579203200?pnref=lhc

Senin, 02 Februari 2015

February Wish

Waaah, nggak terasa sudah bulan Februari 2015. Bulan ini diawali dengan pengumuman pemenang giveaway novelku #PertemuanJingga, bekerja sama dengan Mbak Luckty seorang pustakawan di blognya.

Ini link pememangnya : https://luckty.wordpress.com/2015/02/01/pemenang-giveaway-pertemuan-jingga/

Selamat buat pemenangnyaa. Ada 2 pemenang, masing-masing berhak mendapatkan sebuah novel Pertemuan Jingga ^_^



Review novel ini yang ditulis Mbak Luckty bisa dibaca di sini yaa :)


Yuuuk, yang belum baca, jangan ketinggalan. Baca juga yaaa... Buat yang masih galau soal pekerjaan nggak sesuai passion mungkin bisa belajar dari Anthea, tokoh di novel ini yang seorang lulusan arsitek tapi terdampar di Pertanian Cabai dan harus berjuang menghadapi berbagai rintangan. :)

Mbak Luckty sang pustakawan bergaya bersama Pertemuan Jingga ^_^

Murid-murid SMANDA 2 Metro Lampung, narsis bareng Pertemuan Jingga ^_^


Oh iya, bulan ini juga akan terbit novel terbaruku. Novelku ke-16, novel ke-3 yang terbit di Gramedia Pustaka Utama. Seri amore. Bangga banget dengan novelku ini. Sinopsisnya tunggu yaaa. Ini covernya dulu :)





Bulan Februari juga aku diajak Elex Media untuk menjadi salah satu mentor dalam acara workshop menulis. Hayo, siapa yang ikutan? Ketemu ya nanti :)


Kamis, 20 November 2014

Indahnya memiliki harapan



Gara-gara nonton trailer film Cinderella versi baru buatan Disney, aku jadi teringat soundtrack film Cinderella versi kartun ini. Mendengar lagu ini, membuatku semangat lagi untuk punya harapan indah dan yakin suatu hari harapan itu akan terwujud.

Terkadang apa yang terjadi dalam hidup nggak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun bukan berarti kita menyerah dan berhenti berharap. Saat aku merasa sedih, aku ingat lagu ini, dan kembali dipenuhi harapan. Bahwa suatu hari nanti impianku akan menjadi nyata, aamiin.

Yuk, berdoa dan berusaha ^_^




A dream is a wish your heart makes
When you're fast asleep
In dreams you lose your heartaches
Whatever you wish for, you keep

Have faith in your dreams and someday
Your rainbow will come smiling thru

No matter how your heart is grieving
If you keep on believing
The dream that you wish will come true

A dream is a wish your heart makes
When you're feeling small, yeah
Alone in the night you whisper
Thinking no one can hear you at all

You wake with the morning sunlight
To find fortune that is smiling on you

Don't let your heart be filled with sorrow
For all you know, tomorrow
The dream that you wish will come true, oooh, yeah

A dream is a wish your heart makes
When you're fast asleep
In dreams you lose your heartaches
Whatever you wish for, you keep

You wake with the morning sunlight
To find fortune that is smiling on you

Don't let your heart be filled with sorrow
For all you know, tomorrow
The dream that you wish will come true

No matter your heart is grieving
If you keep on believing
The dream that you wish will come true
Ooh, yeah, come true


Sabtu, 11 Oktober 2014

Surat Untuk Bapak



Surat ini kutulis cukup lama. termuat dalam antologi Rindu Ayah. Kini, ending surat ini sedikit berubah. Yang tidak berubah adalah, aku tetap bangga pada Bapak dan berharap suatu hari nanti bisa membuat Bapak bahagia ...

Inilah suratku untuk Bapak ...

Dear Bapak,

Bapak, aku mohon maaf ya, mungkin jarang sekali aku mengucapkan terima kasih secara langsung pada Bapak, walau Bapak sudah memberi aku banyak. Tapi sungguh, rasa terima kasihku tak terkira pada Bapak. Mungkin aku tak mampu mengucapkan langsung, baiklah akan kuungkapkan rasa terima kasihku pada Bapak dalam suratku ini.

Terima kasih Pak, karena selalu mendukung aku. Aku tahu itu walau sering kali Bapak tidak terang-terangan menunjukkan dukungan Bapak untukku. Aku anak perempuan Bapak satu-satunya, di antara kedua adikku yang laki-laki. Walau aku anak pertama, tapi Bapak paling memperhatikan aku. Bapak rela mengantar aku ke mana saja atau menjemputku. Bapak selalu bilang, karena aku anak perempuan satu-satunya, maka Bapak harus menjagaku lebih. Ya, karena kedua adikku yang laki-laki gagah pastinya lebih mampu menjaga diri mereka sendiri.

Bapak telah mewarisikan bakat menggambar dan seni rupa kepadaku. Bapak juga yang dahulu pernah mengajari cara membuat patung dari tanah liat. Kita punya hobi yang sama, senang menggambar dan membuat relief atau patung. Aku ingat, kita pernah sama-sama mendesain kolam ikan di depan rumah kita, membuat gua-gua, bunga-bunga karang juga membuat air terjun mini. Aku senang membantu pekerjaan Bapak itu. Kolam ikan itu adalah hasil kerja sama kita berdua. Senangnya setelah kolam ikan itu jadi, hasilnya terlihat bagus sekali.

Aku ingat sejak aku masih sekolah dasar dulu, Bapak adalah Bapak yang paling perhatian di antara bapak-bapak temanku yang lain. Ketika aku pergi darmawisata bersama teman-teman satu kelas, teman-teman meledekku karena ternyata Bapak mengikuti Bus pariwisata kami dengan motornya di belakang bus kami. Awalnya aku malu disebut anak manja. Aku tidak manja. Bukan aku yang meminta Bapak mengikuti aku. Itu kemauan Bapak sendiri, kan? Bapak bilang, Bapak ingin mendapatkan kepastian bahwa putri tersayangmu ini selamat sampai tujuan. Aku sadar kemudian, bahwa Bapak memang lain daripada yang lain.

Bahkan hingga aku dewasa dan telah bekerja, seringkali aku pulang sangat larut, tapi Bapak, walau telah setengah baya, rela menjemputku. Apalagi ketika Jakarta macet bukan main akibat banjir di mana-mana, Bapak tanpa ragu menjemputku langsung ke kantorku, melajukan motor Bapak membelah banjir dari Cengkareng menuju kantorku di Sudirman. Walau banjir di mana-mana, walau gerimis mengguyur, Bapak tak gentar menerjang semua demi menjemput aku putri tersayangmu.

Hingga kemudian aku memutuskan berhenti bekerja dan memilih menekuni hobiku menulis serta memulai usaha kecil-kecilan membuat sepatu lukis, Bapak tak melarang. Walau aku merasa bersalah karena takut mengecewakan Bapak yang sudah menyekolahkan aku hingga meraih gelar Sarjana Arsitektur. Semula pasti Bapak berharap aku bisa menjadi Arsitek profesional seperti cita-citaku dahulu, mampu hidup mandiri dan mapan. Benar begitu kan, Pak? Itu pasti harapan setiap Bapak untuk anak-anaknya.

Tapi Bapak tak menunjukkan rasa kecewa, Bapak justru tetap mendukung apa pun keputusanku. Diam-diam Bapak menawarkan kepada teman-teman Bapak sepatu lukis buatanku. Diam-diam Bapak menjadi marketing sepatu lukis buatanku itu. Tanpa aku minta, itu adalah inisiatif Bapak sendiri, sebagai bentuk dukungan Bapak dengan apa yang aku kerjakan. Terima kasih, Pak, atas dukungan Bapak selalu.

Bapak juga tahu betapa aku sangat suka menulis cerita fiksi. Ketika kemudian cerita pendek hasil karyaku dimuat di beberapa media, diam-diam Bapak membeli majalah yang memuat cerpen karyaku itu dan memamerkannya kepada teman-teman Bapak, bahkan Bapak sengaja membeli beberapa majalah yang memuat cerpen hasil karyaku dan membagikannya kepada teman-teman Bapak. 

Aku baru tahu kemudian. Dan sedikit terkejut tak menyangka dukungan Bapak terhadap kegiatanku ternyata sangat besar. Ketika aku menanyakan alasan Bapak yang berbaik hati membeli majalah-majalah itu dan memberikannya untuk teman-teman Bapak, Bapak hanya menjawab, 
“Karena Bapak bangga kamu berhasil berprestasi, karyamu dimuat di media yang terbit di seluruh Indonesia.” 

Sungguh, aku terharu mendengarnya. Dukungan penuh dari Bapak itu sangat berarti buatku, telah meringankan langkahku untuk terus lanjut berkarya, apa pun yang aku suka dan menghasilkan hal positif.

Dalam hati aku berjanji, tak akan mengecewakan Bapak, tak akan membuat Bapak menyesal telah memberi aku pendidikan tinggi hingga meraih predikat sarjana, tapi pada akhirnya kini aku menekuni pekerjaan yang meyimpang dari pendidikanku itu. Akan aku buat Bapak bangga dengan prestasiku di bidang lain.

Harapan terbesarku kini, aku ingin membuat Bapak bahagia. Aku lihat bagaimana Bapak disayang anak-anak kecil di sekitar rumah. Mereka menyebut Bapak, “Eyang kakung” atau “Mbah kakung” yang artinya kakek. Mereka datang ke rumah setiap menjelang sore minta diajarkan menggambar. Dengan senang hati Bapak memberikan pelajaran menggambar kepada anak-anak kecil itu. Seolah anak-anak tetangga itu adalah cucu Bapak sendiri

Aku sadar, Bapak telah menjadi favorit anak-anak kecil di kampungku. selalu saja ada di antara mereka yang datang ke rumah dan mencari “Eyang Kakung” alias Bapak. Pernah Bapak bilang, 
“Nggak apa-apa, ngemong cucu orang dulu, sebelum nanti ngemong cucu sendiri.”

Aku tersenyum sekaligus merasa diingatkan. Maafkan aku ya, Pak. Tentu saja putrimu ini ingin sekali menikah. Tapi sayangnya aku memang belum diberikan jodoh. Dan aku berterima kasih karena walau hingga kini aku belum menikah, Bapak tak pernah memaksakan kehendak Bapak menjodohkan aku dengan pilihan Bapak misalnya. Bapak tak pernah mau memaksa anak-anaknya. 

Bapak berikan aku kebebasan untuk memilih sendiri jodoh yang terbaik untukku.
Sabar ya, Pak. Ya, aku sangat ingin menikah, kemudian memperoleh beberapa orang anak yang akan menjadi cucu-cucu kebanggaan Bapak. Mungkin cucu pertama adalah seorang anak laki-laki. Dan cucu berikutnya dua anak perempuan kembar. Aku ingin sekali itu terjadi, Pak. Sungguh! Aku ingin Bapak menjadi Mbah kakung bagi anak-anakku kelak. Aku yakin, pasti Bapak akan menjadi Mbah kakung terbaik di dunia.

Pasti Bapak akan membuatkan mainan-mainan tradisional untuk cucu Bapak kelak. Pasti anak-anakku nanti akan sayang sekali kepada Bapak sebagai Mbah kakung mereka yang penuh perhatian. Itu adalah harapan indahku, Pak.
Doakan aku ya, Pak. Doakan aku segera menemukan jodohku. Dalam setiap usai sholatku, selalu kupanjatkan doa untuk Bapak dan Ibu. Aku doakan semoga Bapak dan Ibu selalu diberi kesehatan dan kesabaran. 

Aku sangat bangga kepada Bapak. Bapakku yang penuh tanggungjawab. Yang masih semangat bekerja di usiamu yang telah enam puluh tahun ini. Bapak yang tak pernah mau mengecewakan pasien-pasiennya. Bapak yang selalu tepat waktu sejak dahulu, hingga kini. Bapak yang seringkali ngomel setiap aku ingin nebeng Bapak tapi lelet sekali. Yah, karena Bapak sangat disiplin dengan waktu, tak boleh terlambat sedikit pun dalam melaksanakan tugas.

Bapak yang selalu jujur dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluargamu. Karena bagi Bapak, rejeki halal bagi keluarga, Insya Alllah akan memberi keberkahan bagi kami. 

Terima kasih sekali lagi, Pak. Terima kasih karena telah menjadi Bapak yang baik. Bapak yang selalu bisa aku andalkan. Semoga suatu hari nanti aku mampu membalas jasa-jasa Bapak kepadaku. Pastinya aku tak akan mampu membalas semua kebaikan Bapak. Karena terlalu banyak yang telah Bapak berikan untuk kami. Sudah tentu hanya Allah yang mampu membalasnya. Alhamdulillah, Allah telah menganugerahkan Bapak yang baik untukku. 

Kini Bapak benar-benar pensiun dari pekerjaannya. Serangan stroke membuat Bapak tak bisa bekerja seperti dulu lagi. Tak apalah, memang sudah saatnya Bapak duduk tenang saja. Biarkan anakmu ini yang bekerja. Doakan saja aku selalu mendapat ide menulis kisah-kisah indah, karena inilah pekerjaanku sekarang, menulis novel.

Alhamdulillah, kesehatan Bapak semakin baik. Kita smaa-sama menjalani hidup ini dengan penuh keihlasan dan rasa optimis segalanya akan membaik dan membahagiakan. Ini adalah wujud kasih sayang Allah agar kita menjadi hamba yang lebih sabar dan agar keluarga kita semakin erat, saling peduli dan saling mengasihi.

Tambah sehat ya, Pak. Betapa Ibu dengan setia telah mendampingi dan menjaga Bapak. Suatu saat nanti, semoga aku bisa membahagiakan Ibu dan Bapak. 

Salam hormat,
Anak perempuanmu tersayang.


Rabu, 01 Oktober 2014

Berani Ambil Risiko


Selamat datang Oktober!

Semakin mendekati akhir tahun. Harusnya sih bulan ini sudah mulai hujan yaa. Tapi Jakarta masih panaaaas. Ah, nikmati sajalah. Tunggu saja Allah pasti akan melimpahkan berkah hujan-Nya.

1 Oktober ini masih ingat kan? Di tanggal ini dahulu Pancasila terbukti kesaktiannya. Selain itu, sebagai umat muslim, bersiap-siap menyambut Idul Adha.

Memulai bulan ini dengan semangat dan harapan tinggi. Wah, lihat, quote di kalenderku bulan Oktober pas banget.

"Aku mungkin belum sampai di sana, tapi aku sudah lebih dekat daripada kemarin."

Yup, betul banget!

Aku cukup puas dengan hasil kerjaku selama bulan September. Menyelesaikan dua revisi, menemani bapak ibu pulang kampung selama seminggu, dan puncaknya, berhasil menyelesaikan naskah hanya dalam waktu 10 hari. Naskah ini adalah tantangan baru yang nekat aku terima sebelum pulang kampung.
Padahal aku baru sampai di Jakarta kembali tanggal 17 September tengah malam.

Jadi, tugasku itu baru bisa mulai kukerjakan tanggal 19 September, tapi aku baru benar-benar memulainya tanggal 21 September dan deadline tanggal 30 September. Hm, berarti benar-benar 10 hari saja, kan? Untunglah aku sudah punya outline lengkap untuk tugasku kali ini. Aku sudah tahu apa yang akan kutulis dan jalan ceritanya seperti apa. Walau pun akhirnya tetap ada bagian yang berubah dari outline.

Aku lega, tanggal 30 kemarin aku bisa juga menyelesaikan naskahku itu. Mengapa kusebut naskah kali ini tantangan baru? Aku akui, aku memang nekat dan berani mengambil resiko. Bila ada yang menawarkan tugas yang memang menarik, aku tak akan menolaknya.

Hm, sebenarnya ini aku siapkan untuk kejutan. tapi kubagi sedikit deh bocorannya. Naskah kali ini bukan sekadar romantis atau novel islami. Tapi penuh ketegangan dan selama mengetiknya, aku nggak sanggup tidur dengan lampu dimatikan. Aku juga nggak berani mengerjakannya malam hari. Kali ini, aku mengerjakannya lebih santai, hanya siang hari. Dimulai pukul 9 pagi dan selesai pukul 4 sore.

Aih, ternyata aku bisa juga menyelesaikan sebuah naskah tanpa perlu begadang tiap malam. Inilah buktinya. Sekarang, kita tunggu saja ya realisasi novelku selanjutnya ini. Siap-siap merasakan ketegangan ...

Aku bertekad akan menghasilkan karya setiap bulan. untuk Oktober ini, aku akan menyelesaikan tugas menulis kisah roman islami. Hm, kembali dipenuhi perasaan cinta ^_^

Ohya, aku mau berbagi cerita pengalamanku berani mengambil resiko. Kenapa aku bisa bilang salah satu rahasia sukses seseorang karena berani mengambil resiko? Karena itulah yang kualami. Lantas, apakah sekarang aku sudah sukses? Ukuran sukses tiap orang tentu berbeda.

Bagiku bisa menerbitkan novel di penerbit idamanku, Gramedia Pustaka Utama, Gagas Media dan Elex Media, adalah ukuran sukses versi-ku. Bagaimana aku bisa mencapai impian besarku itu? Jawabannya satu, karena aku berani mengambil resiko. Jalannya pun tidak mudah. Panjang, berliku dan jatuh bangun.

Bermula dari menulis cerpen remaja dan cerpen anak sejak tahun 2005, dahulu rasanya menerbitkan novel bagiku adalah sebuah impian besar yang entah bagaimana cara mewujudkannya. Sampai kemudian tawaran itu datang untukku di tahun 2011. Seorang teman menantangku, apakah aku bisa menulis novel setebal 100 halaman A4, dengan setting Korea Selatan?

Ah, dahulu, merangkai kata sebanyak 100 halaman rasanya sulit sekali. Aku terbiasa menulis hanya berkisar 6-8 halaman A4 spasi 1.5. Bagaimana caranya menulis sebuah cerita sepanjang 100 halaman. Tantangan itu ditambah. Menulis naskah novel sebanyak 100 halaman dengan deadline satu minggu alias 7 hari.

Saat itu, rasanya mustahil sekali bagiku. Tapi apakah tantangan itu aku abaikan? Tidak, aku terima tawaran itu. Aku berani mengambil resiko apa pun yang akan kuhadapi nanti. Aku mulai memusatkan perhatianku pada kisah yang kutulis. Dua hari pertama aku gunakan untuk meriset setting cerita di dalam novelku. Lantas aku juga meriset nama-nama Korea dan sedikit bahasa Korea.

Aku bekerja hampir 24 jam. Karena tekadku kuat, maka aku paksakan diri mematuhi jadwal kerja yang kubuat sendiri. Aku menulis mulai pukul setengah 8. Istirahat tepat tengah hari untuk solat dan makan siang. Lanjut mengetik lagi. istirahat sore untuk solat asar, lalu aku lanjutkan lagi hingga pukul 5 sore. Setelah itu aku istirahat untuk mandi, beres-beres, solat magrib dan isya, makan malam, pukul 8 malam, aku lanjut mengetik lagi. Terus hingga menjelang pukul 3 pagi. Barulah aku tidur dan bangun saat subuh.

Dan percayalah pada keajaiban kesungguhan dan keyakinan. Dengan jadwal kerja yang sedemikian ketat, akhirnya ... aku sanggup menyelesaikan naskah novel pertamaku itu ^_^

Inilah novel yang pertama berhasil kuselesaikan dan akhirnya terbit, berjudul Saranghaeyo, dulu aku memakai nama pena Karumi Iyagi.



Setelah itu, beruntun terbit novel-novel karyaku yang lain. Symphony of Love, Four Seasons of Love, Sweet Sonata, Sakura Wish, Cinta Bersemi di Putih Abu-Abu, Zara Detektif Cilik, Heart Latte dan buku tentang boyband Korea favoritku, Bigbang, G-Dragon

Karyaku yang terbit tahun 2012

Karyaku yang terbit tahun 2012-2013


Setelah menulis novel yang pertama itu, selanjutkan aku semakin menikmati menulis kisah-kisah panjang, dan akhirnya mulai berhenti menulis cerita pendek.

Lalu tantangan berani mengambil resiko yang kedua kalinya datang menghampiri ...

Itu terjadi saat datang tawaran menulis novel roman Islami ber-setting New York dengan ketebalan 269 halaman dalam sebulan. Ini tantangan yang sangat berat. Pertama, aku belum pernah menulis cerita bernapaskan Islami, kedua aku belum pernah ke New York. Ketiga, 269 halaman dalam sebulan? WOW, tantangan yang berat banget yaa...

Apakah aku menolak tantangan ini? Tentu tidak. Aku nekat menerimanya. Aku berani mengambil resiko, aku memupuk rasa percaya diri, aku pasti bisa melakukannya. Dan, Alhamdulillah, aku bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik.

Hingga terbitlan novel Islami pertamaku berjudul "Tahajud Cinta di Kota NewYork" pada bulan April 2013.
Novel paling tebal yang kutulis sampai saat ini. Setelah terbit tebalnya menjadi 412 halaman.



Bahkan kemudian, novel ini membuka banyak kesempatan menulis selanjutnya. Alhamdulillah, banyak pembaca yang menyukai kisah yang kutulis ini. Bahkan kemudian menarik minat sebuah PH untuk mengadaptasinya menjadi film.

Apalagi tantangan berikutnya? Setelah cukup banyak novel karyaku yang terbit, satu persatu editor mulai menghubungiku. Salah satunya adalah Grasindo. Aku diminta menulis kisah roman young adult. Aku pun lantas punya ide membuat cerita yang terinspirasi kisah hidup sepupuku di Belanda. Maka terbitlah novelku berjudul "Amsterdam Ik Hou Van Je".



Novel ini terbit dengan banyak tantangan. Baru saja launching, aku dihantam kritik luar biasa. Apalagi kritik itu dibuat sedemikian rupa sekaligus untuk menjatuhkanku. Dikupas habis kesalahan-kesalahan karyaku itu tanpa menceritakan kelebihannya sedikit pun. Aku yang belajar menulis secara otodidak, mungkin sudah melakukan kesalahan. Tapi aku tidak putus asa. Kritik tajam disertai caci maki jangan dikira akan membuatku mundur. Karena sesungguhnya aku suka menulis dan aku mampu menulis. Jika kali ini aku dianggap salah, aku yakin selanjutnya aku dapat menciptakan karya yang lebih baik.

Kemudian terbitlah novelku berikutnya sebulan setelahnya, yaitu Jojoba dan Longest Love Letter.

Novelku yang juga terbit tahun 2013


Aku bersyukur, banyak editor yang memberiku kesempatan untuk membuktikan kemampuanku. Gagas Media menawarkanku untuk menulis salah satu seri setiap tempat punya cerita. Aku belum pernah ke Monte Carlo dan aku tahu, penulis lain seri ini adalah penulis-penulis top Gagas Media. Apakah aku minder lalu menolak? Oh, tentu tidak. Aku terima tantangan itu dengan penuh keyakinan. Dengan bimbingan 3 editor sekaligus, akhirnya novel kebanggaanku ini terbit bulan Mei 2014, "Monte Carlo".



Ini sebagian bukti keberanianku mengambil resiko. Ada banyak lagi tantangan lainnya yang ditawarkan padaku. Dan bila tawaran itu menarik minatku, tanpa ragu aku menerimanya.

Seperti yang sudah kuceritakan sebelumnya, tantangan yang baru saja aku terima dan aku selesaikan adalah menulis kisah menegangkan dan menyeramkan. Padahal aku penakut. Apakah aku menolak kesempatan ini? Tentu tidak. Aku menerimanya dengan penuh keyakinan.

Jadi rahasia sukses adalah, berani. Ayo berani menerima tantangan. Berani keluar dari zona nyaman. Tingkatkan terus standar tantangan yang kamu terima. Maka suatu saat kamu akan takjub dengan hasilnya.

Dan ini adalah novelku yang terbit bersamaan dengan Monte Carlo. Mengawali tahun 2014 yang penuh berkah. "Hatiku Memilihmu" dan "Cinta Valenia"




Nantikan ya, novel-novel terbaruku selanjutnya. Terbit kemudian tahun 2014 dua novel baruku. "Unforgotten Dream" dan Pertemuan Jingga.




Dan semua itu adalah buah dari keberanian mengambil resiko ^_^



Sabtu, 26 Juli 2014

Memories as architect : Ada Paris dan Jerman di Jogja ...

Ramadan hampir berakhir, dua hari lagi Hari Raya Idul Fitri.

Sebelum lebaran, aku ingin berbagi kisah pengalamanku saat merasakan ramadan di Jogja.

Tahun 2006 paska gempa dahsyat di Jogja, aku mendapat kesempatan ditugaskan di kota eksotis itu. Saat itu aku masih bekerja sebagai arsitek di kantor konsultan perencana PT. Hoemar Tjokroatmojo Architecture and Interior Design.

Aku senang sekali ditugaskan di Kota Jogja, bukan hanya karena aku cinta kota Gudeg itu, tapi juga karena di sanalah daerah asal muasal keluargaku.

Ibuku lahir dan besar di desa Janten, sebuah desa yang terletak di Kabupaten Kulon Progo, Jogjakarta. Memang cukup jauh dari Kota Jogja, butuh waktu satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor untuk mencapai Kota Jogja dari Desa Janten.

Rumah peninggakan Mbahku di Desa Janten, Temon, Kulon Progo
Tempat kami berkumpul setiap kali pulang kampung

Ditugaskan di Kota Jogja, berarti aku punya kesempatan untuk mengunjungi saudara dan kerabatku di Kulon Progo. Ada seorang bulikku dengan dua anak perempuannya yang tinggal di sana. Juga nenekku yang ketika itu sedang sakit.

“Jangan lupa, sering-sering menengok Mbah Widi.” pesan Ibuku.

Mbah Widi adalah sebutanku untuk nenekku dari pihak Bapakku. Hanya beliau satu-satunya nenek yang ketika itu masih aku punya.

Aku mengangguk. Pasti aku akan mengunjungi beliau. Karena selama ini aku sibuk bekerja di Jakarta, hanya setahun sekali aku punya kesempatan mengunjungi saudara dan kerabatku di Desa Janten. Dan kali ini adalah kesempatan langka aku ditugaskan di Kota Jogja, kota favoritku.


Sekolah SDN tepat di depan rumah peninggalan Mbah Janten

Kantor tempatku bekerja di Jakarta, bergerak dibidang konsultan desain. Setelah musibah gempa di Jogja itu, kantorku mendapat beberapa proyek untuk merenovasi bangunan-bangunan Departemen Perindustrian yang rusak akibat gempa. Aku ditugaskan bersama empat orang temanku. Kantor kami menyewakan sebuah rumah di kota Jogja untuk tempat kami tinggal dan bekerja selama bertugas di Jogja.

Kami terenyuh meyaksikan bangunan-bangunan yang rusak akibat gempa dahsyat dulu itu. Banyak masyarakat yang kehilangan rumah, terutama di daerah Bantul. Gedung-gedung Departemen Perindustrian yang harus kami renovasi juga rusak cukup parah dan sangat rentan bahaya. Harus segera direnovasi jika ingin tetap dipakai untuk kegiatan mereka sehari-hari. Aku dan keempat temanku membagi-bagi tugas, karena ada banyak gedung yang harus kami survei di lokasi yang berbeda. Tapi terkadang kami survei bersama-sama. Hingga memasuki masa Ramadhan, kami masih bertugas di Jogja.

Waktu berpuasa menjadi tak terasa karena kami semua sibuk bekerja. Kami  membuat jadwal, kapan hari untuk survei lokasi, kapan presentasi, dan kapan waktu mengerjakan gambar-gambar perencanaan dan gambar kerja serta membuat proposal.

Aku bertugas sebagai arsitek, yang membuat konsep dan gambar perencanaan. Dibantu dua temanku, Yana dan Dika yang membuat gambar kerja. Kiki kebagian tugas membuat rencana anggaran biaya. Sementara Mas Egoy bertugas menyusun proposal proyek renovasi bangunan-bangunan itu.
Kami sepakat, selama bulan puasa itu, kami hanya bekerja hingga pukul empat sore. Sesudah itu kami bersiap-siap menyambut waktu berbuka. Selama di Jogja, kami mencoba beberapa tempat yang dikenal sebagai tempat mencari makanan berbuka.

Seperti di pasar kota Gede, yang jaraknya lumayan dekat dari rumah kontrakan kami, aku merasakan sensasi yang berbeda berburu makanan berbuka di sebuah pasar di Kota Jogja. tentunya sangat berbeda dengan yang biasa aku santap di Jakarta. Ada gethuk, makanan dari singkong yang direbus, ditumbuk bersama gula. Ada tempe benguk, tempe bacem terbuat dari kacang benguk. Hm, cukup lucu ya namanya?
Kadang kami mencari makanan untuk berbuka di Jerman. Tak terbayang ada Jerman di kota Jogja, kan?

Tapi Jerman yang ada di Jogja, tentulah berbeda dengan Jerman yang ada di Eropa. Jerman di Jogja adalah singkatan dari Jejer Kauman. Kauman adalah sebuah daerah di kota Jogja. Ada sebuah gang terkenal di daerah itu yang setiap bulan puasa, menjelang berbuka dipenuhi oleh penjual makanan berbuka yang berjejer menggelar dagangannya di sepanjang gang itu. Karena itulah disebut Jejer Kauman. Masyarakat Jogja memang suka sekali membuat singkatan-singkatan yang terdengar unik, seperti Jejer Kauman disingkat Jerman.

Kami juga pernah berbuka puasa di Paris. Aneh ada Paris di Jogja? Paris di sini adalah Pantai Parangtritis. Begitulah masyarakat Jogja, senang sekali menciptakan singkatan nama sebuah lokasi hingga terdengar unik. Ini salah satu hal yang kukagumi dari kreatifitas masyarakat Jogja yang memang sebagian besar masih berjiwa seni tinggi dan lekat dengan budaya setempat dalam keseharian mereka.

Di daerah Paris, ada namanya Pantai Depok yang menjadi pusat penjualan ikan segar hasil tangkapan nelayan seperti ikan, kepiting, lobster, udang, cumi yang masih segar langsung dibawa dari laut. Di sini, kami bisa memilih dan membeli bermacam-macam hasil laut yang kami inginkan. lalu kami bawa ke pondok-pondok yang menyediakan jasa memasakkan ikan menjadi masakan seafood lezat, seperti cumi saos tiram, kepiting saos Padang, ikan Kuwe bakar.

Ada bayi hiu juga di sana! Ugh, karena penasaran dengan rasa hiu, hewan yang eksotis itu, maka aku pun membeli seekor untuk di panggang dan dimakan dengan sambal kecap. Nikmat juga rasanya! Total harga semuanya jauh lebih murah daripada masakan seafood di Jakarta. Kami pun puas dan kenyang!

Tapi sekarang aku sadar, sebaiknya ikan hiu (kalau memang benar itu ikan hiu) jangan ditangkap sembarangan. Biarkan mereka tumbuh tanpa diusik. Karena perkembangan mereka tentunya tidak semudah ikan lain yang biasa dikonsumsi manusia (benar nggak ya?)

Saat pekerjaan kami mendekati selesai, kami memanfaatkan waktu untuk rehat sejenak dengan jalan-jalan bersama-sama ke Borobudur. Ah, lumayan refreshing.

Borobudur dulu, tak lama sesudah gempa Jogja

Aku dan teman-temanku, bertahun-tahun lalu ^_^

Bangunan bersejarah di Jogja
Foto by Mas Egoy

Aku arsitek dan temanku Kiki penyusun RAB


Selama masa tugasku di Jogja, aku sempatkan untuk mengunjungi nenekku, Mbah Widi, yang tinggal di Desa Kulur, juga di Kabupaten Kulon Progo, Jogjakarta. Lokasinya sangat jauh dari Kota Jogja. Di sini juga bapakku menghabiskan masa kecilnya. Jadi bisa dibilang bapak dan ibuku tetanggan deh, sama-sama tinggal di Kabupaten Kulon Progo hanya beda desa.

Aku minta diantar sepupuku Mei untuk mencapai rumah Mbah Widi. Jalan menuju ke sana belum beraspal dan sedikit mendaki. Tetapi sesampai di sana, aku mendapatkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Sawah hijau membentang di lereng bukit Jeruk, salah satu bukit yang terdapat dalam jejeran bukit Menoreh. Oh, indahnya! Udaranya pun masih terasa sejuk dan segar. Bebas polusi!

Ketika itu Mbah Widi terlihat lebih sehat, walau beliau sudah tak mampu lagi berdiri dan berjalan. Usianya telah mencapai tujuh puluh enam tahun. Mbah Widi dirawat oleh bulikku, Bulik Pri. Aku senang sekali melihat rona senang di wajah Mbah Widi ketika melihatku datang.

“Ealah, lama nggak kelihatan cucu Mbah...”sambut Mbah Widi, senyumnya memperlihatkan giginya telah banyak yang tanggal.

Aku menghampirinya dengan senyum tak kalah sumringah, kucium punggung tangan kanannya, lalu kukecup pipi kanan dan kirinya.

“Maaf, Mbah, aku baru sempat berkunjung sekarang.” ucapku lembut sedikit merasa bersalah.

“Cucu Mbah ini sibuk cari duit...” kata Mbah Widi lagi, senyumnya semakin lebar, ompongnya semakin jelas terlihat.

Melihat kerentaannya, membuat rasa bersalahku semakin berlipat. Rambutnya telah semua memutih. Aku bekerja jauh di Jakarta dan tiap hari tenggelam dalam kesibukkanku menjalani tugas kantor, hingga hanya mendapat kesempatan berkunjung setahun sekali. Ini pun kebetulan aku ditugaskan di Jogja, jika tidak, maka aku hanya berkunjung menjelang hari raya Idul Fitri saja.

Aku sadari saat itu, karena Mbah Widilah maka aku hadir di dunia ini sebagai keturunannya. Semoga tak kulupakan itu, tak membuatku lantas alpa untuk memperhatikan beliau. Hari itu aku tak menginap. Sorenya aku harus kembali ke Kota Jogja, kembali berkutat dengan tugas-tugas kerjaku. Tapi aku berjanji kepada Mbah Widi dan pada diriku sendiri, selama aku bertugas di Jogja, aku akan sering mengunjunginya.

Sudah sebulan lebih aku bertugas di Jogja ketika menjelang bulan puasa yang hampir habis, aku mendengar kabar dari Bulik Pri bahwa Mbah Widi kembali terserang sesak nafas dan kemudian dirawat di Rumah Sakit yang cukup jauh dari rumah walau pun masih di kabupaten Kulon Progo. Aku segera meminta ijin teman-temanku yang juga bertugas bersama untuk kembali mengunjungi Mbah Widi. Aku tak menyangka teman-temanku justru menawarkan untuk ikut berkunjung. Maka, berangkatlah kami bersama ke Rumah Sakit Daerah Wates, di Kulon Progo.

Kami berangkat menjelang sore dan sampai di rumah sakit itu sesudah magrib. Sungguh aku menyesal karena tak datang lebih cepat, kawan! Aku terlambat hanya beberapa menit. Mbah Widi telah selesai menghembuskan nafasnya terakhir begitu aku menjejakkan kaki di kamarnya di rumah sakit itu. Aku terkejut melihat ada sesosok tubuh yang ditutupi selimut putih hingga ke wajahnya. Bulik Pri dan beberapa kerabatku yang lain telah berkumpul di sekeliling tubuh berselimut itu. Aku disambut dengan kalimat Bulik Pri yang mengejutkan.

“Rum, Mbah Widi udah nggak ada...”

Aku sedih karena datang terlambat. Menyesal tak datang sejak pagi. Tak kusangka kepergian Mbah Widi begitu cepat, padahal baru satu minggu sebelumnya aku mengunjunginya dan beliau terlihat masih sehat. Memang jika Allah sudah berkehendak, tak ada yang bisa kita lakukan kecuali menerima ketetapan-Nya dengan hati ikhlas.

Malam itu aku mengantar jenazah Mbah Widi kembali ke Desa Kulur. Aku ikut memandikan jenazahnya malam itu juga. Teman-temanku masih setia menemaniku di sana. Karena rumah Mbahku mendadak menjadi banyak orang, maka kami berlima tidur berdesakan dalam mobil kantor yang dibawa temanku. Untunglah mobil itu lumayan lega.

Keesokan paginya, saudara dan kerabatku dari Jakarta termasuk Bapakku datang juga ke rumah Mbah Widi. Bersama-sama kami mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Dua hari kemudian saudara, kerabat dan Bapakku kembali ke Jakarta, sementara aku kembali ke Kota Jogja melanjutkan tugasku.

Tiga hari sebelum Idul Fitri, aku dan empat temanku kembali ke Jakarta. Kami memilih merayakan lebaran di Ibukota. Tahun itu adalah bulan Ramadhan yang paling berkesan sekaligus mengharukan buatku, karena saat itu adalah pertama kali aku menjalani Ramadhan jauh dari Bapak, Ibu dan adik-adikku. Juga karena Ramadhan tahun itu aku kehilangan Mbah Widi, nenekku yang terakhir. Semoga arwah beliau mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, terutama karena beliau wafat di bulan suci Ramadhan, bulan penuh ampunan. Aamiin.

Selasa, 11 Maret 2014

Memory Kuliah part 2 : Kuliah Arsitektur? Siap-siap sering begadang

3D Max karyaku yang masih sangat simple ^_^

Kali ini aku masih ingin bercerita pengalamanku kuliah Arsitektur. Buat teman-teman yang juga bergelut di dunia Arsitektur, boleh ikut sharing ^_^

Saat kuliah dulu, ada satu dosen yang aku sukai cara mengajarnya. Ia senang bercerita, dan kisah yang diceritakannya selalu bisa membuka pikiranku. Tapi sayang karena merangkap sebagai dosen ITB, ia jarang sekali datang memberi kuliah. Ia hanya datang empat kali selama satu semester.  Pertemuan pertama saat saling berkenalan, pertemuan kedua sebelum ujian tengah semester, pertemuan ketiga antara waktu sesudah ujian tengah semester dan sebelum ujian akhir semester, pertemuan terakhir adalah menjelang ujian akhir semester.

Dosenku ini mengajar mata kuliah Metode Penelitian. Asyiknya, dosen yang satu ini baik hati banget. Banyak mahasiswa-mahasisiwi yang mendapat nilai bagus darinya. Aku mendapat nilai A! Wow, keren kan? Sekarang beliau dikenal sebagai ahli Arsitektur fengshui.

Aku ingat, saat dosenku ini bercerita kisah Rama, Sinta dan Rahwana. Walau sampai sekarang aku kurang paham apa hubungan cerita itu dengan metode penelitian, tapi aku suka cerita versinya. Menurutnya, dalam kisah Rama dan Sinta, selalu saja digambarkan Rama dan Sinta sebagai pasangan sejati. Padahal sesungguhnya, cinta Rahwana kepada Sinta lebih sejati daripada cinta Rama kepada Sinta. Kenapa begitu? Aku baru tahu selama Rahwana menculik Sinta, tak sekali pun ia menyentuh Sinta. Ia menjaga kesucian Sinta. Sedangkan Rama, justru meragukan kesucian Sinta ketika ia telah berhasil merebut Sinta kembali dari Rahwana. Sinta harus membakar dirinya untuk membuktikan kesuciannya kepada Rama.

Sejak mendengar cerita itu, aku tidak setuju jika ada sepasang kekasih disebut pasangan serasi bagai Rama dan Sinta.

Mata kuliah di jurusan Arsitektur banyak yang menarik. Aku suka terutama mata kuliah yang mengharuskan mahasiswa-mahasisiwi mengadakan studi dan survei langsung ke lapangan. Salah satunya adalah mata kuliah Studio Kota dan Pemukiman. Kami dibagi menjadi beberapa tim. Masing-masing tim terdiri dari empat mahasiswa-mahasiswi. Timku terdiri dari empat mahasisiwi. Kami mendapat tugas mengadakan studi dan survei daerah Jl. Pangeran Jayakarta.

Asyiknya, kami langsung terjun ke lokasi. Membuat peta, mewawancarai penduduk setempat dan memotret keadaan wilayah itu. Lalu kami bahas, apa saja yang perlu dibenahi di wilayah itu sehingga dapat tercipta lingkungan pemukiman dan perkotaan yang sehat dan teratur. Setelah semua bahan siap, kami membuat papan presentasi yang begitu lebar, tentang rencana yang ingin kami kembangkan di wilayah itu.

Aku suka dengan dosen yang mengajar mata kuliah ini. Beliau memberi kami kesempatan untuk berani mengungkapkan pendapat dan perencanaan kami. Karena dukungan Pak Dosen yang simpatik, aku pun penuh percaya diri mempresentasikan hasil tugas kami di hadapan teman-teman sekelas.

Tips untuk teman-teman yang sedang sibuk kuliah. Saat menjalani semua mata kuliah, selain harus belajar sungguh-sungguh dan menikmati semua tugas yang diberikan dosen, kita juga harus membiasakan diri bekerja dalam tim.

Ini penting, karena banyak sekali tugas kuliah yang tidak hanya harus dikerjakan sendiri, tapi juga dikerjakan dalam tim. Dan tugas tim, jauh lebih berat daripada tugas sendiri. karena masing-masing anggota tim dituntut nggak egois dan saling menghargai satu sama lain.

Aku pernah punya pengalaman satu tim dengan teman yang kurang menghargai kerja tim. Temanku yang satu itu malas sekali. nggak pernah datang saat kami kumpul bersama menyelesaikan tugas. Dia sama sekali nggak mengerjakan tugas bagiannya. Karena itu aku bersikap tegas, pada pengumpulan tugas, aku hapus namanya dari anggota tim. Kedengarannya kejam ya, tapi ini lebih baik, supaya temanku itu sadar, sifat malas dan egoisnya itu merugikan anggota tim lain.

Kami sungguh nggak rela berbagi nilai dengan anggota tim yang tidak mengerjakan tugasnya. Akhirnya ia terpaksa tidak lulus mata kuliah itu. Semoga temanku itu menjadi sadar, kerja tim itu sangat penting, masing-masing anggota tim harus bisa bertanggungjawab dengan tugasnya masing-masing.

Oya, kuliah di jurusan Arsitektur, berarti harus siap kurang tidur. Karena tugas kami super banyak, apalagi tugas Perencanaan Arsitektur. Wuiih, aku pernah terpaksa nggak tidur 2 hari karena harus ngebut menyelesaikan gambar konsep perencanaan desain berlembar-lembar. Apalagi kalau harus dilengkapi dengan maket. Weleh-weeh, bikin tepar deh. Siap-siap saja deh, minum banyak kopi berharap nggak ngantuk.

Kuliah di jurusan Arsitektur, tentu nggak lepas dari kerja praktek. Bagiku, ini adalah mata kuliah yang paling asyik. Mahasiswa-mahasiswi diberi kesempatan terjun langsung di proyek pembangunan suatu gedung. Mengikuti dengan detail bagaimana proses mengubah gambar Arsitektur menjadi bangunan nyata.

Tugas ini juga dikerjakan bersama-sama dalam satu tim. Masing-masing tim terdiri dari tiga mahasiswa-mahasiswi. Selain suka dengan mata kuliah satu ini, aku juga suka dengan dosen pembimbing mata kuliah ini yang sangat mendukung kami. Membantu kami mencari proyek yang mau menerima kami magang, walau hanya berupa selembar surat rekomendasi.

Timku terdiri dari sahabat-sahabatku sendiri, Ira dan Lala. Akhirnya kami mendapat tempat kerja magang di sebuah developer Perumahan Citra Garden, di daerah Jakarta Barat.

Tips buat teman-teman yang juga sedang menjalani kerja praktek, coba kerjakan tugas ini dengan sungguh-sungguh. Karena tugas kuliah yang satu ini sangat bermanfaat kelak di dunia kerja.

Awalnya, aku malas-malasan mengerjakan tugas ini, karena aku dan teman-teman harus masuk hampir setiap hari, kecuali jika ada mata kuliah lain di kampus. Karena masih terbiasa hanya kuliah, aku kurang tertarik dengan kerja lapangan, selain karena memang melelahkan, juga kotor karena harus ikut terkena debu-debu bahan bangunan, semen, bahkan aku harus ikut naik ke lantai  dua bangunan rumah yang baru setengah jadi hanya dengan tangga darurat dari kayu  yang dibuat asal jadi.

Ngeri sekali menaiki tangga itu. Bagi yang takut ketinggian, pasti tak akan sanggup. Tapi itu harus kujalani. Tugas ini kelak akan sangat berguna sebagai pengalaman di dunia kerja nantinya.

Karena foto perumahan tempat dulu aku kerja praktek sudah nggak ada,
ini saja deh yaa... villa di Cisarua hasil designku. Keren juga kan? ^_^

Beginilah realita dunia kerja di bidang Arsitektur. Bukan hanya harus berkutat dengan gambar menggambar di studio. Tapi juga harus terjun langsung ke lapangan. Melihat langsung seperti apa bahan-bahan bangunan dan bagaimana proses merealisasikan gambar yang telah kubuat menjadi bangunan sungguhan. Mulanya tugas ini memang menguras tenaga dan pikiran, tapi lama-lama aku justru semakin merasa asyik dan exited.

Rasanya sudah seperti Arsitek sungguhan, diperkenankan ikut membantu Manajer Proyek mengawasi pengerjaan bangunan agar tidak melenceng dari gambar kerja yang telah ditetapkan. Aku makin senang saat akhirnya mendapat nilai A untuk mata kuliah ini. Terima kasih banget deh kepada dosen mata kuliah kerja praktek yang menghargai jerih payah kami. Apalagi dosen kerja praktekku memang sekaligus dosen pembimbing kelas kami, kelas D. Hm, benar-benar dosen favorit.

Tapi nggak semua dosen sebaik beliau. Ada juga dosen yang membuatku down dan membuatku merasa menjadi mahasiswi paling bodoh sedunia.

Mau tahu lanjutan kisahku? Tunggu sambungannya yaaa ^_^

Bersambung ...

Aih, masa-masa kuliah ternyata bikin kangen juga ya saat kita kenang ...

Walau aku kini lebih fokus menulis novel, tapi kenangan dunia Arsitektur tak pernah kulupakan. Justru kujadikan sumber untuk ide-ide ceritaku. Salah satunya dalam Novel "Tahajud Cinta di Kota New York". Richard Wenner kugambarkan sebagai seorang arsitek keren dan cerdas. ^_^

Dan ... terbitnya novel baruku di Gramedia Pustaka Utama semakin memantapkan aku untuk berkarir sebagai penulis. Aku senang sekali setiap kali mendapat respon dari pembaca yang menyukai tulisanku. Buat yang hobi membaca kisah romantis, yuuuuk, koleksi novel terbaruku : 
"HATIKU MEMILIHMU"



Buku-buku karyaku yang telah terbit ^_^


Senin, 10 Maret 2014

Memory Kuliah part 1 : Jurusan Arsitektur? Siapa takut?

3D Max hasil karyaku. Simple banget ya ^_^
Foto by Arumi

Yup, aku ingin berbagi pengalaman saat kuliah dulu. Siapa tahu ada teman-teman yang tertarik masuk jurusan Arsitektur juga?

Sebelum memutuskan kecemplung dunia arsitektur, bolehlah baca kisahku ini dulu ... ^_^

Orang bilang, masa kuliah adalah saat yang menyenangkan. Hm, rasanya itu memang benar. Setelah sembilan tahun menjalani sekolah dasar sampai menengah atas selalu mengenakan seragam, masa kuliah menjadi begitu meyenangkan karena aku bisa ke kampus berpakaian bebas. Asalkan pantas, rapih dan sopan. Rasanya lega bisa tampil sesuai jati diri sendiri.

Lulus dari SMAN 78 Kemanggisan Jakarta Barat, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke Universitas Trisakti Jakarta, jurusan Arsitektur. Mengapa aku memilih jurusan Arsitektur? Tentu saja karena aku sangat suka menggambar.

Sebenarnya, jurusan Arsitektur bukan pilihan utamaku. Itu pilihan kedua. Pilihan pertamaku adalah desain grafis. Aku mengikuti dua macam tes di kedua jurusan itu. Keduanya sama-sama harus melalui tes menggambar. Di jurusan Grafis, aku harus menggambar kaleng coca cola dan botol minuman dengan detail secara manual hanya menggunakan pensil, sedangkan di jurusan Arsitektur aku harus menggambar bangunan kampus juga secara manual hanya menggunakan pensil. Tapi akhirnya aku diterima di jurusan Arsitektur. Kuhadapi saja kenyataan ini dengan ikhlas, toh di jurusan Arsitektur juga dibutuhkan keterampilan menggambar, walau pun aku masih harus mempelajari matematika, mekanika tanah, fisika bangunan dan struktur konstruksi, pelajaran-pelajaran yang cukup bikin kening berkerut.

“Sudah nggak apa-apa, baguslah jurusan Arsitektur, kan keren nanti lulus jadi Arsitek. Lagian, nanti bisa bikin usaha bareng sama tante yang desainer interior.”

Tanteku ikut memanas-manasi aku. Tanteku adalah alumni Universitas Trisakti Jakarta jurusan desain interior. Dia yang menyarankan aku memilih jurusan Arsitektur. Ya, aku memang suka menggambar. Itu adalah keahlian dasar yang dibutuhkan untuk menekuni ilmu Arsitektur. Maka, kujalani saja kuliahku di jurusan Arsitektur ini. Benar juga kata Tanteku, bakalan keren saat lulus nanti aku akan disebut Arsitek. Senyumku pun mengembang membayangkannya.

Pendidikanku di jurusan Arsitektur, dimulai dengan masa-masa mapram selama sebulan. Aku dan teman-temanku sesama mahasiswa-mahasiswi baru harus rela dan pasrah menjadi bulan-bulanan para senior. Kami harus meminta tandatangan semua kakak senior. Untuk mendapatkan satu tanda tangan saja, harus melalui berbagai ujian yang seringkali memalukan.
Tapi karena aku sudah bertekad ingin menikmati masa-masa mapram, cuek saja deh, buang jauh-jauh rasa malu.

Sebagai sesama mahasiswa-mahasiswi baru, kami saling dukung satu sama lain. Kami sadar, masa mapram di dunia kampus hanya akan kami alami sekali seumur hidup. Kelak akan menjadi momen bersejarah dalam hidup kami, menjadi kenangan tak terlupakan.

Aku dan teman-teman satu jurusan Arsitektur Trisakti saat masa ospek
Aku yang mana ya? ^_^
Foto by Arumi

Setelah selesai masa-masa penataran dan mapram yang menyenangkan, aku harus mulai konsentrasi menghadapi mata kuliah yang beragam. Berhadapan dengan dosen-dosen dengan berbagai karakter. Ada dosen ganteng, dosen baik hati, dosen galak, dosen yang jarang sekali datang dan macam-macam karakter dosen lainnya.

Seperti yang telah kusebutkan sebelumnya, kuliah Arsitektur tak luput dari pelajaran matematika. dan ternyata, banyak sekali teman-temanku yang sama denganku, kurang suka dengan pelajaran matematika.

“Heran, masih ada aja ya pelajaran matematika. Kirain terakhir waktu SMA,” keluh salah satu temanku.
“Iya, padahal gue juga paling alergi deh sama pelajaran matematika. Apalagi Trigonometri. Ampun deh,” aku ikut mengeluh.

Karena jurusan Arsitektur didominasi mahasiswa-mahasiswi yang lebih mahir menggambar daripada matematika, maka pelajaran matematika menjadi momok yang mengerikan bagi kami. Nilai matematika kami pun jarang yang bagus. Aku hanya mendapat nilai C. Itu saja sudah lumayan, karena beberapa temanku ada yang harus mengulang mata kuliah matematika ini.

“Memangnya apa hubungannya sih, matematika sama bangunan?” protes salah satu temanku yang pernah mengulang mata kuliah ini.

“Saudara-saudara, tolong jangan sepelekan mata pelajaran matematika. Ingat, matematika itu penting! Apalagi kalian mempelajari Arsitektur. Nanti akan banyak terlibat dengan hitung menghitung. Menghitung struktur, menghitung anggaran biaya proyek, semua butuh ilmu matematika.”

Begitu penjelasan Dosen matematikaku yang prihatin melihat nilai anak didiknya yang sangat payah.

Jangan heran ketika Dosen menyebut mahasiswa-mahasiswinya dengan sebutan saudara-saudara atau anda. Karena begitulah di dunia perkuliahan. Kami dianggap telah cukup dewasa dan tak pantas lagi disebut anak-anak.

Jika matematika adalah pelajaran yang bikin aku ketar-ketir, mata kuliah Apresiasi budaya menjadi mata kuliah yang bikin aku deg-deg-an setengah mati. Bukan karena materinya sulit, tetapi karena dosennya super duper sangat galak sekali >.<

Entah mengapa dosen yang satu ini senang sekali marah-marah. Jangan pernah telat ketika mengikuti mata kuliahnya. Terlambat semenit saja, tak bakal diijinkannya mengikuti mata kuliahnya.

Beliau juga seringkali menggebrak-gebrak meja. Jangan-jangan dosenku itu terinspirasi penjual soto gebrak yang top itu ^_^

Tak ada satu pun dari kami yang berani protes. Kami mahasiswa-mahasiswi baru, tak mungkin berani protes. Dan ujiannya, entah mengapa sulitnya bukan main. Dengan teganya dosenku yang satu itu memberi kami nilai yang menakjubkan. Ada yang mendapat nilai C, D bahkan E. Yang mendapat nilai A dan B? Tentu saja tak ada.

Anehnya, dosenku yang satu ini sangat ramah dan baik hati pada satu temanku, Lia. Kami semua selalu ketakutan jika tanpa sengaja bertemu dengan dosen itu di luar jam kuliah. Tetapi kepada Lia, dosen itu malah menyapa dengan ramah. Membuat kami terbengong-bengong saking herannya.

“Eh, Lia. Kuliah apa hari ini?” tanya dosenku itu ketika tanpa sengaja beliau bertemu dengan Lia, aku dan dua temanku lainnya di dalam lift.
“Eh, pagi, Pak. Ada kuliah Metode penelitian, Pak.” jawab Lia sambil memasang senyum yang tampak oleh kami berusaha dimanis-maniskan.
“Oh...” hanya itu sahut dosenku.
“Saya duluan Lia.” kata dosenku lagi begitu pintu lift membuka  di lantai 2.
“Oh, iya Pak. Silakan.” jawab Lia sambil terus tersenyum.

Kami ikut tersenyum dan mengangguk ke arah Pak Dosen walau pun jelas-jelas tidak ikut disapa.
Setelah Pak Dosen berlalu dari hadapan kami, seketika kami membombardir Lia dengan bermacam pertanyaan.

“Nah ya? Lo ada hubungan apa tuh sama Pak Dosen.” seru Indah.
“Iya ih, mencurigakan, kok dia ramah banget sih sama elo? Udah gitu cuma elo yang disapa.”

Lala ikut berseru.

“Jangan-jangan Pak Dosen naksir lo ya?” Aku ikut menuduh.
“Yee, mana gue tau. Nggak tau gue, sumpah, gue juga kaget tadi disapa sama dia. Sekarang malah gue yang takut nih, kenapa dia ramah gitu sama gue?” Lia segera membela diri.

“Wah, nggak ada penjelasan lain nih, berarti memang Pak Dosen naksir elo nih. Pake jampi-jampi apa lo, Dosen paling galak justru ramah sama elo.” seru Indah lagi kelihatan penasaran banget.
“Sumpah, gue nggak tau..” Wajah Lia tampak kebingungan.

Tapi kemudian, Lia pun menjadi bulan-bulanan ledekan kami.

“Hati-hati Lia, malam minggu siap-siap aja diapelin Pak Dosen. Hehehe...” goda Lala.
“Ih, ogah banget. Dia kan udah punya anak istri,” sahut Lia.

Dan ledekan kami semakin menjadi-jadi ketika pada ujian akhir mata kuliah Apresiasi Budaya, Lia mendapat nilai B! Dan hanya dia yang mendapat nilai B! Nah lho!

“Liaaa...gue semakin curiga nih!” seru Indah yang protes keras karena lagi-lagi ia mendapat nilai D.
“Eeeh, nih ya, gue jelasin. Behenti deh curiga macem-macem sama gue. Pak Dosen tuh ternyata temennya mama gue waktu SMA dulu. Makanya dia ramah sama gue. Trus kalo soal gue dapet nilai B, itu mah karena memang gue belajar serius kalee...”

Lia membela diri.

“Ah, yang bener lo belajar serius?” tanyaku kurang yakin.

Lia mengangguk mantap.

“Hiks, kenapa sih nyokap gue bukan teman SMAnya Pak Dosen jugaa...masa nilai gue D terus...” ratap Indah.

“Udahlah, Ndah. Tabahkan hatimu. Kan nanti lo bisa ulang lagi tuh mata kuliah semester depan,” hibur Lia.

Indah malah meratap semakin keras.

Bersambung ...

Segini dulu kisah susahnya masa kuliahku dulu yaa ... tunggu lanjutannya.

Seru juga kalau ingat masa-masa dulu saat aku masih bergumul dengan dunia Arsitektur. Kalau sekarang sih aku lebih bersemangat menulis.

Dan ... terbitnya novel baruku di Gramedia Pustaka Utama semakin memantapkan aku untuk berkarir sebagai penulis. Aku senang sekali setiap kali mendapat respon dari pembaca yang menyukai tulisanku. Buat yang hobi membaca kisah romantis, yuuuuk, koleksi novel terbaruku : 
"HATIKU MEMILIHMU"



Jangan lupa, buat teman-teman yang berminat membaca buku-buku karyaku, yuuuk, silakan ... ^_^

Buku-buku karya Arumi E. yang telah terbit