Laman

Sabtu, 11 Oktober 2014

Surat Untuk Bapak



Surat ini kutulis cukup lama. termuat dalam antologi Rindu Ayah. Kini, ending surat ini sedikit berubah. Yang tidak berubah adalah, aku tetap bangga pada Bapak dan berharap suatu hari nanti bisa membuat Bapak bahagia ...

Inilah suratku untuk Bapak ...

Dear Bapak,

Bapak, aku mohon maaf ya, mungkin jarang sekali aku mengucapkan terima kasih secara langsung pada Bapak, walau Bapak sudah memberi aku banyak. Tapi sungguh, rasa terima kasihku tak terkira pada Bapak. Mungkin aku tak mampu mengucapkan langsung, baiklah akan kuungkapkan rasa terima kasihku pada Bapak dalam suratku ini.

Terima kasih Pak, karena selalu mendukung aku. Aku tahu itu walau sering kali Bapak tidak terang-terangan menunjukkan dukungan Bapak untukku. Aku anak perempuan Bapak satu-satunya, di antara kedua adikku yang laki-laki. Walau aku anak pertama, tapi Bapak paling memperhatikan aku. Bapak rela mengantar aku ke mana saja atau menjemputku. Bapak selalu bilang, karena aku anak perempuan satu-satunya, maka Bapak harus menjagaku lebih. Ya, karena kedua adikku yang laki-laki gagah pastinya lebih mampu menjaga diri mereka sendiri.

Bapak telah mewarisikan bakat menggambar dan seni rupa kepadaku. Bapak juga yang dahulu pernah mengajari cara membuat patung dari tanah liat. Kita punya hobi yang sama, senang menggambar dan membuat relief atau patung. Aku ingat, kita pernah sama-sama mendesain kolam ikan di depan rumah kita, membuat gua-gua, bunga-bunga karang juga membuat air terjun mini. Aku senang membantu pekerjaan Bapak itu. Kolam ikan itu adalah hasil kerja sama kita berdua. Senangnya setelah kolam ikan itu jadi, hasilnya terlihat bagus sekali.

Aku ingat sejak aku masih sekolah dasar dulu, Bapak adalah Bapak yang paling perhatian di antara bapak-bapak temanku yang lain. Ketika aku pergi darmawisata bersama teman-teman satu kelas, teman-teman meledekku karena ternyata Bapak mengikuti Bus pariwisata kami dengan motornya di belakang bus kami. Awalnya aku malu disebut anak manja. Aku tidak manja. Bukan aku yang meminta Bapak mengikuti aku. Itu kemauan Bapak sendiri, kan? Bapak bilang, Bapak ingin mendapatkan kepastian bahwa putri tersayangmu ini selamat sampai tujuan. Aku sadar kemudian, bahwa Bapak memang lain daripada yang lain.

Bahkan hingga aku dewasa dan telah bekerja, seringkali aku pulang sangat larut, tapi Bapak, walau telah setengah baya, rela menjemputku. Apalagi ketika Jakarta macet bukan main akibat banjir di mana-mana, Bapak tanpa ragu menjemputku langsung ke kantorku, melajukan motor Bapak membelah banjir dari Cengkareng menuju kantorku di Sudirman. Walau banjir di mana-mana, walau gerimis mengguyur, Bapak tak gentar menerjang semua demi menjemput aku putri tersayangmu.

Hingga kemudian aku memutuskan berhenti bekerja dan memilih menekuni hobiku menulis serta memulai usaha kecil-kecilan membuat sepatu lukis, Bapak tak melarang. Walau aku merasa bersalah karena takut mengecewakan Bapak yang sudah menyekolahkan aku hingga meraih gelar Sarjana Arsitektur. Semula pasti Bapak berharap aku bisa menjadi Arsitek profesional seperti cita-citaku dahulu, mampu hidup mandiri dan mapan. Benar begitu kan, Pak? Itu pasti harapan setiap Bapak untuk anak-anaknya.

Tapi Bapak tak menunjukkan rasa kecewa, Bapak justru tetap mendukung apa pun keputusanku. Diam-diam Bapak menawarkan kepada teman-teman Bapak sepatu lukis buatanku. Diam-diam Bapak menjadi marketing sepatu lukis buatanku itu. Tanpa aku minta, itu adalah inisiatif Bapak sendiri, sebagai bentuk dukungan Bapak dengan apa yang aku kerjakan. Terima kasih, Pak, atas dukungan Bapak selalu.

Bapak juga tahu betapa aku sangat suka menulis cerita fiksi. Ketika kemudian cerita pendek hasil karyaku dimuat di beberapa media, diam-diam Bapak membeli majalah yang memuat cerpen karyaku itu dan memamerkannya kepada teman-teman Bapak, bahkan Bapak sengaja membeli beberapa majalah yang memuat cerpen hasil karyaku dan membagikannya kepada teman-teman Bapak. 

Aku baru tahu kemudian. Dan sedikit terkejut tak menyangka dukungan Bapak terhadap kegiatanku ternyata sangat besar. Ketika aku menanyakan alasan Bapak yang berbaik hati membeli majalah-majalah itu dan memberikannya untuk teman-teman Bapak, Bapak hanya menjawab, 
“Karena Bapak bangga kamu berhasil berprestasi, karyamu dimuat di media yang terbit di seluruh Indonesia.” 

Sungguh, aku terharu mendengarnya. Dukungan penuh dari Bapak itu sangat berarti buatku, telah meringankan langkahku untuk terus lanjut berkarya, apa pun yang aku suka dan menghasilkan hal positif.

Dalam hati aku berjanji, tak akan mengecewakan Bapak, tak akan membuat Bapak menyesal telah memberi aku pendidikan tinggi hingga meraih predikat sarjana, tapi pada akhirnya kini aku menekuni pekerjaan yang meyimpang dari pendidikanku itu. Akan aku buat Bapak bangga dengan prestasiku di bidang lain.

Harapan terbesarku kini, aku ingin membuat Bapak bahagia. Aku lihat bagaimana Bapak disayang anak-anak kecil di sekitar rumah. Mereka menyebut Bapak, “Eyang kakung” atau “Mbah kakung” yang artinya kakek. Mereka datang ke rumah setiap menjelang sore minta diajarkan menggambar. Dengan senang hati Bapak memberikan pelajaran menggambar kepada anak-anak kecil itu. Seolah anak-anak tetangga itu adalah cucu Bapak sendiri

Aku sadar, Bapak telah menjadi favorit anak-anak kecil di kampungku. selalu saja ada di antara mereka yang datang ke rumah dan mencari “Eyang Kakung” alias Bapak. Pernah Bapak bilang, 
“Nggak apa-apa, ngemong cucu orang dulu, sebelum nanti ngemong cucu sendiri.”

Aku tersenyum sekaligus merasa diingatkan. Maafkan aku ya, Pak. Tentu saja putrimu ini ingin sekali menikah. Tapi sayangnya aku memang belum diberikan jodoh. Dan aku berterima kasih karena walau hingga kini aku belum menikah, Bapak tak pernah memaksakan kehendak Bapak menjodohkan aku dengan pilihan Bapak misalnya. Bapak tak pernah mau memaksa anak-anaknya. 

Bapak berikan aku kebebasan untuk memilih sendiri jodoh yang terbaik untukku.
Sabar ya, Pak. Ya, aku sangat ingin menikah, kemudian memperoleh beberapa orang anak yang akan menjadi cucu-cucu kebanggaan Bapak. Mungkin cucu pertama adalah seorang anak laki-laki. Dan cucu berikutnya dua anak perempuan kembar. Aku ingin sekali itu terjadi, Pak. Sungguh! Aku ingin Bapak menjadi Mbah kakung bagi anak-anakku kelak. Aku yakin, pasti Bapak akan menjadi Mbah kakung terbaik di dunia.

Pasti Bapak akan membuatkan mainan-mainan tradisional untuk cucu Bapak kelak. Pasti anak-anakku nanti akan sayang sekali kepada Bapak sebagai Mbah kakung mereka yang penuh perhatian. Itu adalah harapan indahku, Pak.
Doakan aku ya, Pak. Doakan aku segera menemukan jodohku. Dalam setiap usai sholatku, selalu kupanjatkan doa untuk Bapak dan Ibu. Aku doakan semoga Bapak dan Ibu selalu diberi kesehatan dan kesabaran. 

Aku sangat bangga kepada Bapak. Bapakku yang penuh tanggungjawab. Yang masih semangat bekerja di usiamu yang telah enam puluh tahun ini. Bapak yang tak pernah mau mengecewakan pasien-pasiennya. Bapak yang selalu tepat waktu sejak dahulu, hingga kini. Bapak yang seringkali ngomel setiap aku ingin nebeng Bapak tapi lelet sekali. Yah, karena Bapak sangat disiplin dengan waktu, tak boleh terlambat sedikit pun dalam melaksanakan tugas.

Bapak yang selalu jujur dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluargamu. Karena bagi Bapak, rejeki halal bagi keluarga, Insya Alllah akan memberi keberkahan bagi kami. 

Terima kasih sekali lagi, Pak. Terima kasih karena telah menjadi Bapak yang baik. Bapak yang selalu bisa aku andalkan. Semoga suatu hari nanti aku mampu membalas jasa-jasa Bapak kepadaku. Pastinya aku tak akan mampu membalas semua kebaikan Bapak. Karena terlalu banyak yang telah Bapak berikan untuk kami. Sudah tentu hanya Allah yang mampu membalasnya. Alhamdulillah, Allah telah menganugerahkan Bapak yang baik untukku. 

Kini Bapak benar-benar pensiun dari pekerjaannya. Serangan stroke membuat Bapak tak bisa bekerja seperti dulu lagi. Tak apalah, memang sudah saatnya Bapak duduk tenang saja. Biarkan anakmu ini yang bekerja. Doakan saja aku selalu mendapat ide menulis kisah-kisah indah, karena inilah pekerjaanku sekarang, menulis novel.

Alhamdulillah, kesehatan Bapak semakin baik. Kita smaa-sama menjalani hidup ini dengan penuh keihlasan dan rasa optimis segalanya akan membaik dan membahagiakan. Ini adalah wujud kasih sayang Allah agar kita menjadi hamba yang lebih sabar dan agar keluarga kita semakin erat, saling peduli dan saling mengasihi.

Tambah sehat ya, Pak. Betapa Ibu dengan setia telah mendampingi dan menjaga Bapak. Suatu saat nanti, semoga aku bisa membahagiakan Ibu dan Bapak. 

Salam hormat,
Anak perempuanmu tersayang.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar