Senin, 20 Januari 2014

Catatan Perjalanan 8 : From Jogja To Jakarta



7 Januari 2014

Akhirnya ... Kembali ke Jakarta ...

Begitu sampai di pintu keluar Stasiun Senin, aku berpisah dengan Bulik Tatik, Mbak Nany dan Erma. Mereka akan ke rumah Budeku dulu di daerah percetakan, sementara aku harus kembali pulang secepatnya karena ada email yang harus segera kukirim untuk editorku.

Ah, Jakarta. Pulang ke rumah di pukul setengah 4 sore saja sudah terjebak macet. Masih untung aku dijemput bapakku dengan motor. Masih bisa menyelip-nyelip di antara kemacetan jalanan yang mulai disesaki kendaraan roda empat.

Hm, okay keadaan jalan di sini sangaaaat berbeda dengan Singapura dan Jogja. Welcome to Jakarta, yang sekarang ini kemacetannya sudah tidak mengenal waktu lagi.

Tapi masih ada untungnya lagi, saat itu belum mulai hujan terus menerus setiap hari. Saat itu Jakarta malah sedang panas sekali ...

Sampai rumah, aku segera mengirim email untuk editorku. Ini penting sekali, supaya novelku selanjutnya bisa segera terbit. Ternyata ada sedikit perubahan rencana, Sepertinya penerbitannya akan diundur bulan berikutnya. Nggak apa-apa deh, yang penting segera terbit di awal-awal tahun ini. Aamiin.

Keesokan paginya, tepatnya pukul 4 pagi, Mei sepupuku dari Jogja sudah datang bersama anaknya Marianqa. Mereka baru saja berlibur selama seminggu di rumah kakek dan nenek Marianqa di daerah Depok.

Sorenya, rombongan Mbak Nany, Erma dan Bulik Tatik juga datang ke rumahku. Mereka dari daerah Pondok Cabe seusai menjenguk ibunda Mbak Nany.

Wuaaah, asyiiik, makin rame. Dimulailah liburan tahap ke berapa yaa? Ketiga atau keempat >.< Saking banyaknya liburan kali ini ;)

Kami berdiskusi, sebaiknya jalan-jalan ke mana, kami hanya punya waktu seharian besok, karena lusa Bulik Tatik, Mbak Nany, Erma dan Mei akan kembali ke Jogja.

Setelah menimbang-nimbang, Mei punya usul ke Monas saja, karena Marianqa, keponakanku yang baru berusia 5 tahun itu belum pernah melihat Monas.

Sepertinya itu usul yang bagus. Yang terpenting adalah kebersamaan kami, Monas cukup asyik juga kok, walau sampai sekarang lift untuk mencapai puncak Monas belum selesai direnovasi.

8 Januari 2014


Hari itu, Jakarta masih cerah, bahkan cenderung panas. Sebelum kami menuju Monas, adikku mengajak kami makan es krim di toko es krim legendaris di Jakarta, Ragusa. Setelah selama ini aku hanya mendengar tentang es krim ini, akhirnya merasakan juga rasanya.

Setelah puas makan es krim, kami segera menuju Monas. Sudah lama aku tidak menyambangi Monas. Rasanya kok terlihat berbeda ya, lebih gersang dibandingkan terakhir yang kulihat. Maksudku, Taman yang ada di sekeliling Monas dulu rasanya ditumbuhi rumput hijau dan tanaman hias, kenapa kali itu meranggas?

Karena kereta yang mengantar pengunjung Monas dari pintu gerbang menuju pintu masuk Monas penuuuh sekali antriannya, kami memutuskan berjalan kaki saja. ternyata jauh juga yaaaa.... ^_^

Tapi kami tetap bersemangat, yang penting kami nikmati saja kebersamaan kami ini.

Kami semua sudah pernah ke Monas, tapi ini menjadi pengalaman pertama buat Marianqa melihat Monas. Keponakanku yang masih TK itu terlihat sangat antusias. Juga saat naik menuju cawan Monas. Dari cawan Monas, kami melihat pemandangan aneh, ada pocong mejeng di tepi jalan yang menuju pintu masuk Monas di tengah hari bolong!

Saat Marianqa kuberitahu ada pocong tengah hari bolong, dia langsung antusias ingin melihat si pocong dari dekat. Waah, malah nggak takut yaaa...

Kebetulan kami memang tak lama berada di cawan, yang penting Marianqa sudah melihat tempat itu seperti apa. Kami pun turun kembali. Tujuannya? Mendekati sang pocong ...

Ternyata itu adalah orang yang berdandan menjadi pocong. Siapa saja boleh berfoto setelah membayar seikhlasnya, dimasukkan ke kotak yang disediakan dekat tempatnya berdiri.

Hm, kreatif juga caranya mencari uang. Selain pocong, di sebelah pocong ada laki-laki yang berdandan sebagai Kuntilanak lengkap menggendong boneka sebagai anaknya.

Lalu satu lagi ada tentara berwarna biru. Yang ini mirip seperti yang beraksi di kota tua Jakarta. Hanya saja yang di kota tua, tentaranya berwarna hijau.

Marianqa agak malu untuk berfoto, tapi setelah ditemani ibunya, dia mau juga. Berani juga ya dia ...


Marianqa dan mamanya mejeng bareng Mr. Pocong

Marianqa dan mamanya mejeng bareng Om kuntilanak ^_^
Saat aku tanya pada Marianqa kenapa dia kok berani foto sama yang seram gitu?
"Aku tahu itu bohongan," jawab Marianqa
"Kok bisa tahu?" tanyaku lagi.
"Soalnya setannya bilang gini, ayo sini foto sama om ..." jawab Marianqa lagi.

Hahaha, kami yang mendengarnya pun tertawa. Marianqa keponakan ini memang cerdas. Padahal baru 5 tahun loh ^_^





Gaya Maianqa bersama tentara biru

Setelah kami puas melihat-lihat Monas dan Marianqa puas berfoto bersama pocong, kuntilanak dan tentara biru, kami kembali ke parkiran. Kali ini naik kereta mobil yang disediakan gartis mengantar pengunjung  Monas dari pintu masuk menuju pintu gerbang.


Mejeng dalam kereta mobil
Dari Monas, kami makan siang di Sate Senayan. Semula kami berencana ingin lanjut ke kota tua, tapi tau sendiri deh lalu lintas Jakarta supeeeer macet walau bukan jam sibuk, saat sampai di kota tua pun kami tak menemukan tempat parkir. Akhirnya kami memutuskan pulang saja.

Sampai rumah tepat menjelang magrib. Kami beristirahat dan menikmati sehari lagi kebersamaan kami dengan ngobrol panjang lebar.

Ah, besok sore saudara-saudaraku aku akan kembali ke Jogja. Dan tanggal 14 Januari Mbak Nany akan kembali ke Belanda. Liburan panjang yang seru ini benar-benar harus berakhir sekarang ini.

9 Januari 2014

Pagi-pagi aku mengajak Erma ke pasar dekat wilayah tempat tinggalku untuk membeli bekal yang nanti akan dibawa saudara-saudaraku dalam perjalanan kembali ke Jogja. Suasana pasar sudah mulai dipenuhi suasana imlek. Di pasar ini memang banyak yang berjualan keturunan China. Banyak kue-kue khas China, pernak-pernik imlek, dan pakaian merah khas imlek.

Erma berinisiatif membeli sebuah pakaian ala imlek untuk Marianqa. Sesampai di rumah, Marianqa langsung memakainya dan sibuk bergaya untuk difoto. Wow, baru tahu keponakanku ini jago gaya juga yaa ...



Marianqa bergaya dengan pakaian imlek


Masih ada waktu bagi kami untuk ngobrol-ngobrol sampai pukul empat sore. Sesudah itu, adikku mengantarkan rombongan saudaraku yang akan ke Jogja menuju pool bus malam.

Goodbye everyone ... Semoga kami selalu sehat dan dilancarkan dalam segala urusan sehingga kami dapat berkumpul lagi tahun depan. Aamiin

***

Sabtu, 18 Januari 2014

Catatan Perjalanan 7 : First Time in Singapore day#3

6 Januari 2014

Akhirnya, kami harus bersiap meninggalkan Singapura. Sebelum subuh kami sudah bangun. Pukul 8 kami sudah siap check out dari hotel.

Ah, waktu rasanya cepat sekali berlalu. Setelah yakin tak ada barang yang tertinggal, tepat pukul setengah sembilan kami menuju lobby. Mengembalikan kunci dan mengucapkan selamat tinggal. Kami diberikan suvenir berupa bolpoin 3 buah bertanda Hotel Holiday Inn sebagai kenang-kenangan.

Suvenir dari Holiday Inn

Cuaca mendung dan gerimis. Sebelum masuk ke dalam taksi, kami masih sempat berfoto bertiga di depan hotel. Petugas hotel berbaik hati memotret kami.

Keberadaan kami di sini harus diabadikan.
Ini hasil foto petugas hotel.
Agak buram, tapi lumayan deh ^_^

Setelah itu kami masuk ke dalam taksi yang sudah menunggu di depan hotel. Supir taksinya ramah, menjawab semua pertanyaan tentang gedung-gedung menarik yang kami lewati. Pukul 9 kami sudah sampai di bandara. Perjalanan lancar walau hujan gerimis, tak ada jalanan yang macet dipenuhi mobil. Okay, nggak usah dibandingkan dengan Jakarta lagi yaa. Biar gimana keadaan Jakarta, aku tetap loveee Jakarta kok. Buktinya betah tinggal di Jakarta ^_^

Sesampai di bandara pertama-tama kami melaporkan diri dulu. Setelah itu barulah mencari sarapan. Lagi-lagi kami memilih KFC, untungnya menu sarapan berbeda dengan menu semalam.

Banyak hal menarik di Bandara Changi yang belum sempat kami lihat.
Ini salah satu yang menarik, Kinetic Rain Sculpture.
Patung berupa titik air hujan yang seolah menetes dari atas ke bawah

Kami masih punya waktu satu jam sebelum check in. Usai sarapan kami memilih berjalan-jalan melihat-melihat bandara Changi. Kemudian memutuskan mencoba Sky Train ke terminal 2.

Nunggu Sky Train ke terminal 2

Mejeng depan pintu Sky Train




Salah satu bagian di terminal 2

Yaah, memang bandara ini nyaman banget deh. Semoga nanti di Indonesia juga ada ya bandara yang serupa ini. Besar dengan fasilitas lengkap dan canggih.

Kami nggak lama kok di terminal 2. Jalan-jalan sebentar, foto bersama Spongebob, setelah itu kami kembali ke terminal 1 dengan Sky Train lagi. Lalu segera check in, karena pesawat kami akan berangkat pukul 11 pagi.

Di terminal 2 nggak lama. Cuma sempat foto sama Spongebob ^_^

Ruang tunggu setelah check in luas sekali, ada fasilitas internet gratis.

Luas banget ya ruang tunggunya sebelum masuk pesawat. Mm... nggak tega deh membandingkannya dengan ruang tunggu di Bandara Adisucipto. Hehehe. Ah, siapa tahu bandara Jogja yang baru nanti nggak kalah bagus dengan Bandara Changi. Positive thinking. Still love Indonesia ^_^

Nah, saat masuk ke ruang tunggu, aku mendapat pengalaman yang baru aku tahu saat itu. Ternyata saat melewati pemeriksaan, jaket harus dibuka, sementara aku memakai jaket tapi dalamanku kaos berlengan pendek. Aku berhijab, tentunya tidak mungkin membuka jaket. Aku sempat panik. Petugas bandara menunjukkan wajah kesal saat aku jelaskan aku tidak bisa membuka jaketku. Akhirnya aku diperiksa dengan diraba seluruh tubuhku oleh petugas bandara wanita, untuk benar-benar yakin aku tidak membawa apa pun yang terlarang dibalik pakaianku.

Ini jadi pelajaran penting buatku. Lain kali aku nggak akan memakai jaket lagi bila ingin naik pesawat, karena biasanya kalau aku pakai jaket, baju dalamanku hanya kaos berlengan pendek.

Untunglah aku terbukti aman dan dipersilakan masuk ke ruang tunggu. Ah, sebentar lagi kami harus benar-benar meninggalkan Singapura ...

Aku sudah bersiap mengencangkan seat bealt, baru saja akan mematikan HP saat kemudian ada panggilan masuk. Saat kubaca nama yang tertera di layar, waaah, itu editorku! Segera saja kuangkat penuh antusias. Ternyata editorku meminta agar aku segera mengirimkan Say Thanks dan foto profil untuk novelku yang akan segera terbit. Waaaah, bahagianya. Tapi bagaimana? Aku masih di Singapura, dan tidak langsung pulang, tujuanku ke Jogja dulu. Tanggal 7 Januari pagi baru akan berangkat ke Jakarta dengan Fajar Utama. Untunglah editorku berbaik hati mau menunggu kiriman email dariku. Aku pun merasa lega dan senang sekali.

Ah, awal tahun ini memang sungguh membahagiakan. Banyak rezeki yang aku terima. Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah.

Perjalanan pesawat lancar tanpa hambatan, hanya ada awan mendung yang sesekali mengganggu penerbangan.

Dua jam kemudian kami sudah mendarat di bandara Adisucipto yang imut-imut ^_^

Begitu menjejakkan kaki di lantai bandara, aku segera menyalakan HP. Barulah semua pesan sejak tanggal 4 Januari berdatangan masuk.

Termasuk pesan penting yang memang kutunggu-tunggu, mengenai novelku "Tahajud Cinta di Kota New York". Waah, ini memang sudah hari kerja ya, begitu sampai Jogja, tugas langsung menyerbuku. Yup, masa liburan memang sudah saatnya berakhir.

Aku sudah puas sekali diajak ke berbagai tempat oleh Mbak Nany yang murah hati.

Dari bandara ke Desa Janten, kami naik Trans Jogja. Mirip Trans Jakarta tapi lebih imut. Wah di Jogja semua serba imut deh :)

Tapi sepertinya cobaan menerjang kami, tinggal 2 halte menuju terminal akhir, semua penumpang diturunkan karena pintu bus macet tak bisa ditutup. Padahal menunggu bus selanjutnya lama juga. Saat akhirnya bus datang, penumpangnya sudah penuh. Hanya Erma yang berhasil masuk bus, aku dan Mbak Nany dilarang masuk karena bus sudah penuh. Jadilah kami harus menunggu bus berikutnya. Lama lagi deh. Tapi aku manfaatkan saja waktu menunggu mengobrol dengan Mbak Nany. Akhirnya bus datang juga. Sampai di terminal kami lanjut lagi naik bus antar kota jurusan Purworejo. Sampai di Pasar Gamping, Erma menawarkan rujak es krim, pas memang busnya ngetem di situ sebentar.

Wah, kebetulan banget deh. Selama di Jogja aku memang belum sempat makan rujak es krim kesukaanku.
Tak lama bus melaju, cuaca semakin ekstrim, hujan sangat deras tiba-tiba turun. Butuh waktu hampir satu jam dari Kota Jogja ke Desa Janten. Untunglah saat kami harus turun di Mlangsen, hujan sudah reda.

Erma sudah minta tolong tetangga untuk menjemput kami dengan motor. Pertama dua motor mengantarku dan Mbak Nany. Setelah kami berdua sampai, satu motor kembali lagi kembali ke Mlangsen menjemput Erma.

Akhirnya ... Jam 6 sore barulah kami semua sampai di rumah Janten. Huft, lama juga ya perjalanan dari Singapura menuju Desa Janten. Terutama pas naik busnya, penuh liku banget >.<.

Bagaimana pun repotnya perjalanan pulang, alhamdulillah, akhirnya kami semua kembali sampai di rumah dengan selamat.


Ini foto dari Vera Prasetya ^_^


Tadi pagi masih di Singapura, sorenya udah di Desa Janten lagi ^_^

Perjalanan belum berakhir. Kami harus kembali packing. Erma dan Mbak Nany sesudah mandi segera mencuci pakaian mereka yang kotor, sedangkan aku tidak packing lagi, karena pakaian kotorku akan langsung kubawa ke Jakarta. Tas besar berisi pakaian kotor hanya ditambah oleh-oleh khas Janten yang membuatnya menjadi supeeer berat. Anyway, thanks oleh-olehnya, Bulik Tatik ^_^

Hari yang melelahkan. Kami tidur awal. Besok kami harus bangun pagi-pagi sekali. Pukul enam pagi harus sudah berangkat ke Stasiun Wates, naik kereta Fajar Utama menuju Jakarta. Mbak Nany, Erma dan bulik Tatik ikut serta. Liburan kami akan dilanjutkan di Jakarta.

Wow, ini benar-benar pengalaman liburan terpanjang yang pernah kualami deh. Seruuuu dan menyenangkan kumpul-kumpul terus bersama keluargaku tercinta. Keluarga besar Martodijoyo ^_^

Tunggu lanjutan kisah kami saat liburan di Jakarta dilanjutkan yaa ... rombongan peserta liburan akan bertambah

*feeling greatful ^_^


***


Kamis, 16 Januari 2014

Catatan Perjalanan 6 : First Time in Singapore day#2, Part 2

Souvenir khas Singapura

5 Januari 2014, 
16.00 - 23.00 waktu setempat

Langit mulai mendung, hujan rintik-rintik mulai berjatuhan. The Merlion sudah habis-habisan kami foto. Lalu untuk kembali ke hotel, apakah kami harus kembali berjalan kaki menuju stasiun MRT Promenade? Hadeuuuh, kayaknya nggak deh. Kami sudah nggak sanggup lagi kalau harus berjalan 10.000 langkah lagi, hehehe.

Kami memutuskan akan menempuh jalan pulang yang berbeda dengan saat datang. Hm, kenapa sih nggak naik taksi saja yang gampang? Oh, kami memang sengaja ingin bertualang. Ingin merasakan seluk beluk kota ini, menjelajahi selangkah demi selangkah. Supaya perjalanan kami ini meninggalkan kesan mendalam.

Pasti beda rasanya, mencari-cari jalan sendiri bila dibandingkan dengan diantar sampai tujuan begitu saja oleh sopir taksi. Lagipula, kami kan belum puas mencoba bus kota Singapura. Yup, kali ini kami akan menggunakan transportasi bus. Kan kami masih punya kartu yang berlaku 3 hari. Sayang dong kalau nggak dipakai.

Kami melangkah mencari halte bus. Tidak terlalu jauh dari The Merlion, tepat di depan Hotel The Fullerton ada sebuah halte. Aku langsung mempelajari peta, mencari tahu bus apa yang menuju Stasiun MRT Harbourfront. Tak perlu menunggu lama, bus yang harus kami naiki datang. Ternyata tidak terlalu jauh dari tempat itu menuju Harboufront.

Tapi kenapa saat datang tadi kami berputar-putar melewati banyak tempat ya? Hehehe. Yaah, namanya juga coba-coba. Sekarang sih sudah tahu. Ternyata dari Harbourfront bisa naik bus yang lebih dekat ketimbang naik MRT menuju Promenade. Semoga lain kali kalau datang ke sini lagi, kami sudah tahu jalan terdekat menuju The Merlion.

Kami berhenti di Stasiun MRT Harbourfront. Dari situ, kami menuju stasiun MRT China Town. Seperti saat kami memulai perjalanan di pagi hari.

Tapi anehnya ... saat kami keluar dari stasiun MRT China Town, kok beda ya dengan China Town saat kami berangkat tadi pagi? Wuaaah, kami mulai kebingungan. Melihat-lihat sebentar pasar di China Town yang penuh lampion dan pernak-pernik imlek. Sayangnya, karena kami kebingungan melihat suasana yang berbeda dengan saat kami berangkat, kami jadi enggan memotret suasana China Town yang meriah ini.

Mood narsis kami mendadak merosot hingga ke titik nol, membuat kami tak berminat foto-foto walau latar belakang di sini banyak yang bagus, yang muncul justru rasa tak sabar ingin segera kembali ke hotel. Kami ingin mandi dulu lalu melanjutkan acara jalan-jalan setelah tubuh kami kembali segar. Tapi apa daya, kami tidak melihat tanda-tanda atau gedung yang kami kenal, berada di sekitar hotel kami.

Kami bertanya pada beberapa orang. Anehnya, nggak ada yang tahu di mana letak Hotel Holiday Inn. Waduuh, hotel setinggi itu ternyata nggak semua warga tahu di mana letaknya. Kami yakin sekali, hotel kami nggak jauh dari situ.

Akhrnya kami ke halte bus terdekat, mempelajari peta yang ada di sana. Setelah aku lihat, ternyata letak hotel kami jauh juga dari situ. Walaah, rasanya nggak sanggup jika harus jalan kaki lagi. Aku yakin banget hotel kami ada di sekitar wilayah Tiong Bahru. Karena itu aku mencari nomor bus yang menuju Tiong Bahru.

Kami pun naik bus itu. Tapi ... setelah bus melaju agak lama, kok sepertinya aku kenal banget dengan jalan yang dilewati bus ini ... Lhaaa ... ini kan ke arah Stasiun MRT Harbourfront lagi ... >.<

Yup, kami kembali ke depan Stasiun MRT Harbourfront. Muter-muter deeeh. Beginilah rasanya nyasar, hehehe ... Tapi kami tetap santai kok, belum panik. Kami memutuskan tetap menikmati perjalanan dan menikmati bus kota Singapura yang nyaman ini. Kan nggak perlu bayar lagi, tinggal pake kartu.


Mejeng bareng Erma di lobby yang menghubungkan
 stasiun MRT Harbourfront dengan mal. 

Ternyata tadi kami salah arah. Seharusnya kami naik bus yang ke arah sebaliknya, yang menuju Tiong Bahru. Kami pun menyeberang, menuju jalan sebaliknya, kembali naik bus dengan nomor yang sama. Kami yakin sekali, jika waspada melihat kanan kiri, kami pasti bisa melihat gedung Hotel Holiday Inn yang cukup tinggi. Tapi semakin lama, jalan yang kami lewati semakin tidak kami kenal. Tidak ada tanda-tanda terlihat bangunan hotel kami, atau setidaknya gedung-gedung yang ada di sekitar hotel kami.

Kami memutuskan turun di halte berikutnya, dan mempelajari peta lagi. Akhirnya aku baru sadar, Hotel Holiday Inn terletak di Outram Road.

Setelah berkali-kali membaca peta tapi tidak paham juga, akhirnya Mbak Nany bertanya pada seorang gadis yang juga menunggu bus di halte itu.

Asyiknya bertanya dengan warga Singapura, mereka umumnya membawa gadget canggih, sehingga saat kami bertanya arah, dengan ramah mereka menjawab sambil mencarikan alamat kami via google. Dari situ mereka bisa menjelaskan bus apa yang bisa kami tumpangi untuk menuju Outram Road.

Oya, kenapa kami nggak searching sendiri? Alasannya adalah karena koneksi browsing kami terputus semua. Pulsaku malah sudah benar-benar habis karena aku nggak tau biaya pulsa dari Singapura ke Jakarta mahal sekali. Mengabarkan berita via sms ke ibuku, dikenakan biaya 5000 tiap sekali sms terkirim. Walah, langsung ludes. Mau beli nomor Singapura tanggung, besok sudah pulang. Hehehe, jadilah selama di kota ini kami nggak bisa koneksi ke mana-mana.

Berbekal informasi dari gadis tadi, kami pun menyeberang jalan menunggu di halte seberang, mencari-cari nomor bus yang disarankan. Tapi ternyata tidak lewat situ. Waduuuuh. Tadi yang dimaksud halte yang mana ya? Katanya disuruh nyebrang? *tepok jidat

Akhirnya kami cari sendiri informasi di peta yang terpasang di halte itu, bus apa yang melewati Outram Road. Kami hitung, berapa halte yang akan dilalui. Yup, kami yakin saja deh, semoga kali ini benar. Daerah itu ternyata adalah daerah Kampung Bugis. Tak jauh dari situ ada sebuah masjid besar. Akhirnya, aku bisa mendengar suara adzan di kota ini. Tepat saat itu waktu adzan magrib. Aku memang sedang berhalangan sholat, tapi cukup senang mendengar suara adzan. Serasa di kampung sendiri ^_^

Begitu bus yang kami tunggu datang, kami segera naik, memilih tempat duduk dekat pintu keluar, agar mudah turun jika sudah sampai di Outram Road. Kami mulai menghitung halte yang kami lewati.

Huft, karena mulai ribet memikirkan jalan kembali ke hotel, kami sudah tak punya daya lagi untuk foto-foto. Capek juga, hehehe. Akhirnya bus sampai di halte Outram Road. Langit sudah gelap, sudah sekitar pukul tujuh lewat. Kami turun di situ walau tidak yakin ini sudah di dekat hotel kami, karena sejauh mata memandang, kami tidak melihat ujung atas bangunan Hotel Holiday Inn.

Waduuuh, masih nyasar juga? Padahal kami sudah turun di Outram Road, persis seperti di peta dan alamat hotel kami.

Mbak Nany mulai menyerah, dan memutuskan naik taksi saja. Apalagi saat bertanya pada seorang kakek yang menunggu di halte bus, kakek itu juga menyarankan naik taksi saja karena dia juga nggak tahu di mana letak Hotel Holiday Inn.

Tapi kemudian ada wanita muda baik hati yang bertanya kami mau ke mana. Lagi-lagi dengan gadget canggihnya, dia mencari letak tepatnya Hotel Holiday Inn via google. Ternyata katanya, bisa dicapai dengan bus yang nanti akan dinaikinya juga. Akhirnya kami pun ikut naik bus bersama dia.

Dua halte kemudian, Erma berteriak, "Itu Holiday Inn!"

Kami cepat-cepat turun. Ternyata bus itu berhenti di halte yang terletak di belakang Holiday Inn. Wuaaah, leganya bukan main saat akhirnya kami melihat hotel kami.

Senangnya saat akhirnya melihat tulisan Holiday inn

Kami segera menuju kamar kami. Cuci muka, bersih-bersih badan tapi memilih nggak mandi dulu. Karena kami sudah sangat lapar, kami memutuskan akan keluar lagi untuk makan malam. Masih tetap memilih naik bus. Kami yakin kali ini kami tidak akan tersesat lagi, karena kami sudah mencatat bus apa saja yang lewat di halte seberang hotel kami.

Kuil dekat Holiday Inn, bisa menjadi pertanda hotel sudah dekat

Tujuan kami ke mana saja yang penting pusat keramaian dan ada restoran. Akhirnya saat bus sampai di Orchard Road, kami turun di halte depan Plaza Singapura. Langsung kami berjalan cepat menuju restoran apa saja. Saat menemukan KFC, langsung deh pesan banyaak. Wah, sepertinya kok menu KFC di situ beda ya dengan menu di Indonesia. Menunya enak-enak ^_^

Kami makan dan masih ngobrol-ngobrol sampai satu persatu toko di mal itu tutup. Sudah pukul 10 malam. Sebenarnya mal ini keren juga buat latar belakang foto-foto. Ada patung artistik. Tapi kami sudah nggak sanggup lagi foto-foto. Ingin cepat-cepat kembali ke hotel karena tubuh mulai terasa lelah.

Kami segera meninggalkan mal berjalan menuju halte di seberang jalan. Menurut keyakinan kami, bus yang menuju hotel kami pasti akan lewat di halte seberang mal ini, kebalikan dengan arah datangnya. Tapi apa yang terjadi? Saat kami membaca papan petunjuk di halte itu, terdaftar ada lebih dari 10 jurusan bus yang melewati halte ini, tapi satu pun tak ada nomor bus yang lewat hotel kami.

Waduuuh... masa nyasar lagi? Hihihi dasar kami pantang menyerah, lagi-lagi kami bertanya pada penunggu halte lainnya. Dan lagi-lagi gadis yang kami tanya mencari info jalur bus yang lewat hotel kami via gadget canggihnya. Dia memberikan nomor busnya sekaligus berapa halte yang harus dilewati. Ternyata, informasinya benar sekali. Syukurlah warga Singapura ramah-ramah dan mau peduli menjawab pertanyaan kami, membantu wisatawan mendapat informasi.

Bus itu berhenti di halte yang agak jauh dari Holiday Inn, kami masih harus jalan kaki sedikit. Nggak apa-apa deh, yang penting akhirnya kami sampai di hotel.

 Huft, legaa dan puas karena kami benar-benar bertualang seharian ini.

Sampai di kamar hotel kami bergantian mandi air hangat. Wuuuaah, enak sekali rasanya badan kami yang pegal-pegal tersiram air hangat dari pancuran. Setelah itu, kami masih harus packing karena besok pukul 9 pagi, kami sudah harus check out dan melaju menuju Bandara Changi.

Ah, rasanya singkat banget kunjungan kami di sini. Besok sudah harus kembali pulang ...


Aku membeli magnet refrigerator yang menggambarkan
beberapa larangan di Singapura,
berikut dendanya bila melanggar :)

Suvenir yang dibeli di Mal Harbourfront


Tiket MRT dan bus yang tidak sempat kami kembalikan,
Akibatnya, kami tidak mendapatkan kembali uang  jaminan 10 dolar Singapura untuk tiap kartu.
Nggak apa-apa deh, kartunya bisa disimpan sebagai suvenir ^_^


Rabu, 15 Januari 2014

Catatan Perjalanan 5 : First Time in Singapore day#2, Part 1

Photo by Arumi E

Photo by Arumi E

5 Januari 2014, 
09.00 - 16.00 waktu setempat

Hari kedua di Singapura, kami bangun pagi-pagi sekali. Pukul 6.00 kami sudah antri mandi. Pukul 8.00 kami sudah keluar hotel untuk mencari sarapan di luar. Kami memang sengaja tidak memilih paket sarapan di hotel. Rasanya lebih seru kalau menjelajahi Singapura untuk mencari sarapan sendiri.

Inilah pertama kalinya kami mencoba bus di kota ini. Waaah, nyaman banget. Mirip Trans Jakarta. Ber-AC, tapi tidak perlu naik dari halte khusus. Cukup di halte biasa. Haltenya pun dilengkapi dengan keterangan bus apa saja yang berhenti di halte tersebut dan daerah mana saja yang dilewati. Lengkap dengan petanya. Jadi, bagi orang yang belum tahu, bisa membaca informasinya di setiap halte.

Naik bus kota, bisa membayar dengan koin tunai, atau dengan kartu berlangganan. Tapi saat kami naik pertama kali, kami belum benar-benar mengerti. Bus pertama yang kami naiki, saat bertanya pada sopirnya, ternyata tidak bisa bahasa Inggris, kami pun turun lagi, menunggu bus berikutnya.

Di bus berikutnya, untunglah sopirnya bisa berbahasa Inggris dan orangnya baik sekali. Saat kami bertanya di mana bisa membeli tiket bus untuk satu hari all in, sopir bus bilang bisa dibeli di stasiun MRT. Kami diantar hingga stasiun MRT terdekat, yaitu di Clark Quay. Dan gratis, kami bertiga nggak usah bayar. Baik banget yaaa sopir busnya ... ^_^

Di stasiun MRT Clark Quay, lagi-lagi kami dibuat bertanya-tanya, hihihi. Maklumlah, pertama kali ke Singapura, jadinya yaa sering noraknya. Terutama aku dan Erma. Kalau Mbak Nany sih masih mending, di Belanda juga ada MRT, cuma beda tipis aja. Tiket MRT bisa dibeli dengan mesin. Tapi yaaah walau sudah baca petunjuk pemakaian, tetap saja kami kelihatan bingungnya. Syukurlah warga Singapura baik-baiiiiikkkkk banget deh.

Seorang cowok Singapura mengajarkan kami cara membeli tiket via mesin. Saat kami bertanya di mana membeli tiket yang bisa dipakai seharian, cowok itu bilang bisa dibeli di tempat pembelian tiket, hihihi, yaiyalah yauw. dia menunjukkan tempatnya, tapi ternyata di situ masih tutup.Cowok itu menyarankan kami ke stasiun MRT China Town saja. Biasanya sudah buka. Kami pun membeli tiket MRT 3 lembar untuk sekali jalan. ternyata kubaca bisa dipakai sebanyak 6 kali.

Naah, akhirnya kami berkesempatan merasakan MRT Singapura. Aku yang jarang nemu transportasi canggih langsung saja terkagum-kagum. Interiornya sih mirip ya sama Trans Jakarta. Tapi kata Mbak Nany, MRT itu nggak ada masinisnya. semua diopersikan dengan komputer. Waaah, canggih ya... Horaaay, lagi-lagi aku membayangkan, kelak jika MRT di Jakarta sudah jadi, akan seperti inilah bentuknya.

Tapi karena MRT di Jakarta nanti di atas jalan raya, aku memperkirakan bentuknya akan lebih menyerupai Sky train di Bandara Changi, beda dengan MRT Singapura yang berada di bawah tanah. MRT ini panjang banget, gerbongnya banyak. Petunjuk-petunjuknya juga jelas sekali, memaksa calon penumpang untuk mengikuti aturan yang sudah ditetapkan.

Seperti contohnya, di lantai tempat menunggu pintu MRT terbuka, diberi tanda di mana tempat berdiri calon penumpang dan di mana tempat yang akan dilalui penumpang yang nanti turun. Jadi harus disiplin ya, benar-benar menunggu semua penumpang turun, barulah kita boleh masuk. Dan itu tak perlu diberitahu kondektur, kita sudah paham sendiri. Ohya, lagipula, MRT ini minim pegawai kok. Sopirnya aja nggak ada, apalagi kondekturnya, hehehe. Tapi buktinya bisa tertib. Wanita didahulukan duduk. Lelaki tahu diri mengalah berdiri jika masih ada wanita yang perlu duduk. Kan lelaki harus menunjukkan sikap gentleman, hehehe.

Hayooo, orang Indonesia seperti ini juga yuuuk. Menghargai orang yang lebih membutuhkan tempat duduk. Dahulukan orangtua, penyandang disabilitas dan ibu hamil atau ibu yang membawa anak kecil.

Mirip ya sama interior Trans Jakarta yang terbaru ^_^

Mejeng di dalam MRT walau agak burem ^_^

Ohya ... ada cerita yang bikin kami cengar-cengir saat berada di MRT. Pagi-pagi MRT masih sepi, di sekitar kami hanya ada 2-3 orang yang duduk. Aku duduk di deretan kursi yang kanan kiriku kosong. Erma dan Mbak Nany duduk di deretan kursi di depanku. Karena Erma memang hobi ngemil, ternyata dia membuka kantong chips dalam tasnya, dan diam-diam dia mengunyah chips. Aku memandangi Erma, tau-tau Erma mengeluarkan sebungkus chips dan mengulurkannya ke arahku.

"Mau Mbak?" katanya.

Otakku berpikir, di Trans Jakarta aja nggak boleh makan di dalam bus, apalagi di sini yang tentunya lebih rapi lagi. Walau memang nggak ada yang berjaga di depan pintu. Tapi anehnya kok bungkusan chips itu aku terima.

"Boleh ya makan di dalam?" tanyaku tapi sambil membuka bungkus chips dan mencomot beberapa, lalu memasukkan ke dalam mulutku dan mengunyahnya.

"Boleh aja kayaknya," jawab Erma, sambil matanya jelalatan melihat-lihat dinding MRT kalau-kalau ada tulisan dilarang makan di dalam MRT.

Eng ing eng! Ternyata memang ada tulisan itu! Dilarang makan dan minum di dalam MRT, jika melanggar dendanya 500 dolar Singapura! Langsung saja aku menyimpan bungkus chips ke dalam tas.

Huft! Kami pikir selesai sampai di situ. Larangan itu hanya sekadar aturan agar dipatuhi warga Singapura yang naik MRT. Tapi kemudian aku baru sadar, tak jauh dari pintu terpasang kamera CCTV, diberi keterangan, tempat ini diawasi CCTV. Walah! Jadi aku makan keripik tadi pasti sudah terekam CCTV itu!

Waah, untung saja tak lama kami turun di stasiun China Town. Huft!!

"Haduuh kalian ini, dendanya 500 dolar loh," kata Mbak Nany.

Kami cuma bisa cengar-cengir. Yaah, semoga kami dimaklumi sebagai wisatawan kurang pengetahuan yang masih kesasar di sini. Lagipula aku cuma sekali ngunyah doang kok. Begitu sadar langsung aku masukkan tas lagi chipsnya :D

Tiap pintu keluar MRT, dilengkapi petunjuk peta.
Mendukung banget deh buat turis

Di Stasiun China Town, kami membeli tiket untuk dipakai bebas selama seharian, berlaku bagi MRT dan bus ke jurusan mana saja. Satu tiket seharga 20 dolar Singapura. 10 dolar tiketnya berlaku untuk 3 hari. 10 dolar lagi jaminan, kalau kartu dikembalikan paling lambat 3 hari sesudah dibeli, kami akan mendapat uang kembali masing-masing 10 dolar.

Setelah membeli tiket, kami memutuskan keluar stasiun dan berjalan-jalan melihat-lihat China Town. Ternyata tempat ini tak jauh dari tempat yang semalam kami telusuri. Waah, ternyata semalam kami berjalan cukup jauh juga ya ...

Nah, ada lagi yang bikin aku terkejut saat kami baru saja keluar stasiun hendak masuk ke mal pecinan, ada seorang pemuda yang menghadang kami. Dia minta diberi uang karena baru keluar dari penjara. Pakaiannya biasa, tidak lusuh, penampilannya juga tidak seperti preman terminal di Jakarta. Aku terkejut karena ternyata di Singapura ada juga orang yang minta uang mengaku baru keluar dari penjara. Kok mirip ya sama yang sering naik ke kopaja di Jakarta, hehehe. Ternyata saat kami bilang, sorry, pemuda itu nggak memaksa. Kami bisa tenang melanjutkan perjalanan.

Erma, mejeng di tempat kita sarapan
Setelah sarapan di China Town, kami naik MRT lagi menuju Harbourfront. Aku yang sok tahu ini yakin banget, The Merlion itu ada di Harbourfront. Karena kan berupa pelabuhan tuh. Aku membayangkan letaknya dekat-dekat pelabuhan, hehehe

Sampai di Harbourfront
Stasiun Harbourfront menjadi pemberhentian MRT terakhir untuk line warna ungu. Ada mal besar di sini, menghubungkan dengan pelabuhan kapal ferry.

Toiletnya bersih dong pastinya. Plus tersedia tempat sampah yang dipisahkan jenis sampahnya.


Hm, jalan-jalan ke Singapura itu bisa sekalian studi banding loh. Kebiasaan yang bagus-bagus bisa diterapkan di Indonesia. Salah satunya ya tempat sampah yang dipisah-pisah berdasarkan jenis sampahnya seperti ini.

Semula kupikir The Merlion itu letaknya nggak jauh dari Harbourfront. Ternyata ini tempat menuju pelabuhan kapal feri bagi yang mau menyeberang ke Sentosa Island. Bisa juga naik kereta gantung. Tapi kami nggak ada rencana ke Sentosa Island.

Kami pelajari lagi peta, dan baru sadar ternyata The Merlion itu letaknya di sekitar Marina Bay. Kami naik MRT lagi ke jurusan Marina Bay. Saat Mbak Nany melihat ada stasiun bernama Holland Village, dia mengajak berhenti sebentar, ingin tahu, seperti apa tempatnya. Apakah seperti Holland?


Pintu keluar MRT, di Holland Village








Setelah kami melihat-lihat, walau pun masih ada beberapa restoran China, ternyata di Kampung Belanda ini memang cukup banyak restoran ala Eropa. Kami perhatikan juga banyak orang-orang berambut pirang dan berwajah Eropa. Mungkin di wilayah ini memang banyak orang Belanda yang tinggal di sini kali ya ...

Setelah berjalan-jalan, kami menemukan Holland Village Market. Ada food center di sini. Kami memutuskan makan siang dulu. Mbak Nany memesan nasi lemak ala Malay untuk dicoba rame-rame dan membeli kwetiaw rebus bebek panggang lagi.

Nah, di sini lagi-lagi kuperhatikan, ada orang-orang tua yang bekerja sebagai pembersih meja. Hebat ya di sini, nenek-nenek dan kakek-kakek masih diterima bekerja dan masih semangat bekerja.

Ada lagi cerita lucu. Saat kami mulai makan, ada seorang nenek China yang bertugas membersihkan meja, berdiri di samping meja kami. Dia melihat ke arahku dan bertanya apa aku muslim? Aku sholat kan? Karena dari sekian banyak orang yang makan di situ, memang hanya aku yang memakai kerudung. Aku menjawab iya. Dia bilang aku nggak boleh makan kwetiaw rebus itu, karena nggak halal. Aku diberi tahu yang mana yang menjual masakan halal.

Mbak Nany sudah bilang kalau itu kwetiaw bebek panggang, nenek itu tetap saja bilang aku nggak boleh makan, hehehe.

Wah, jadi terharu dengan perhatian nenek itu. Padahal sepertinya dia bukan muslim, tapi dia peduli dengan kebutuhan muslim yang harus makan makanan halal. Aku pun berhenti deh ikut-ikut mencicipi kwetiaw itu. Aku sudah cukup kenyang kok, tadi kan sudah ikut makan nasi lemak plus lauknya bertiga. Lumayan enak juga.


Menu makan siang di Holland Village, Nasi lemak

Nah, ada satu lagi nih hal yang patut dicontoh di sini. Walau ini pasar, tapi kerapihan dan kebersihannya terjaga. Bahkan waktu kami melihat pasar tradisionalnya, tetap rapi dan bersih juga. Yang aku suka, tersedia toliet bersih dan standar, dalam arti juga disediakan toilet untuk penyandang disabilitas. Sepertinya kota ini sangat peduli dengan hak dan fasilitas penyandang disabilitas

Erma, mejeng di depan Holland Road
Setelah itu kami masih penasaran ingin tahu Taman Bunga seperti apa. Bayangan kami jangan-jangan ada kebun tulip nih, hehehe. Ternyata semacam perumahan. Di daerah ini rumahnya masih berupa rumah satu-satu, bukan bangunan bertingkat tinggi. Mirip di Indonesia deh. Ada carportnya. Dan banyak orang berwajah Eropa. Kita malah berjalan di belakang seorang lelaki muda berambut pirang yang menuntun anaknya yang juga berambut pirang. Mbak Nany kuminta ngajak ngobrol siapa tau orang Belanda, hehehe.

Anaknya itu berlari-lari hingga jatuh dan akhirnya nangis. Yaaah, nggak jadi deh nanya-nanya karena bapaknya segera menggendong anaknya pulang.

Kami masih penasaran, melihat ada ramai-ramai di dekat situ. Ternyata itu adalah bazaar yang menjual barang-barang second. Banyak dijual pakaian-pakaian bekas, tas, sepatu. Sempat nggak menyangka juga, wah, ternyata warga Singapura senang belanja barang second juga yaaa ...

Mbak Nany tertarik pada sebuah tas berwarna coklat. Harganya 3 dolar Singapura. Dibeli deh ... Lumayan buat kenang-kenangan ...

Ini dia tas yang beli di bazaar barang second.
Lumayan ...

Setelah puas melihat-lihat Holland Village, kami kembali masuk ke stasiun MRT dan melanjutkan perjalanan ke stasiun Promenade. Berdasarkan informasi dari peta yang kami baca, jika ingin ke Marina Bay harus turun di stasiun Promenade, lalu transit menuju yang ke arah Marina Bay.

Keluar dari stasiun Promenade, kami malah keterusan berjalan hingga bertemu dengan Singapore Flyer. Waah kok mirip ya sama London Eye. Ternyata nggak usah jauh-jauh ke London kalau mau naik ini. Cukup ke Singapura aja, hehehe. Tapi pemandangannya kan beda yaaa...



Keluar dari stasiun Promenade sempat bingung.
Foto-foto dulu deh ^_^

Kami terus berjalan, sekali-kali foto-foto. Hingga akhirnya kami sampai ke The Helix. Aku masih belum tahu di mana letak The Merlion. Barulah setelah berjalan di Marina Bay Seating Gallery aku bisa melihat The Merlion dari kejauhan. Walah... akhirnya... ketemu juga. Nggak perlu naik MRT lagi. tapi kayaknya harus jalan jauuuh banget nih ...

Ah, nggak apa-apa deh, sekalian olahraga. Kami kan memang hobi jalan ... ^_^

Akhirnya sampai di dekat Outdoor Theatre


Dari sini The Merlion masih jauuuh ...

The Merlion masih jauh di belakang

Setelah dengan pedenya minta fotoin bule yang lewat, akhirnya kami bisa berfoto bertiga ^_^
Tapi ... The Merlion-nya nggak kelihatan >.<


Saat kami sudah sampai di depan Esplanade Mal, Mbak Nany bilang nyerah nggak mau jalan lagi sampai Ke The Merlion. Katanya jauuuuh. Waduuuh sayang banget kan, masa udah ke Singapura tapi nggak mejeng dekat The Merlion. Setelah istirahat sebentar, foto-foto, makan keripik, makan es krim durian, akhirnya Mbak Nany mau juga melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hayuuuuh, semangaaaat!!

Depan Esplanade Mal mejeng dulu foto sama patung ^_^

Kami berjalan kaki perlahan menyusuri pedestrian, di sebelah kiri kami, pemandangan ke arah air laut dengan beberapa kapal pesiar kecil berlayar membawa wisatawan. Sebelah kanan jalan raya dibatasi bangku panjaaang terbuat dari beton yang menerus, menyatu dengan pot tanaman.

Yeay! Akhirnya... sampai juga ke The Merlion yang tadi terlihat jauuuuh dan kecil.


Akhirnya ... ketemu juga The Merlion ^_^

Mejeng dengan Mbak Nany

Waah, Erma latar belakangnya lebih bagus ^_^
Sepertinya kami sudah berjalan 10.000 langkah deh, hehehe. Tapi fun kok, karena kami sangat menikmati perjalanan kami. Bisa dilihat nih di peta, kira-kira sejauh apa kami sudah berjalan mulai dari stasiun MRT  Promenade sampai ke The Merlion Park.

Bisa dilihat, stasiun MRT Promenade di sudut kanan atas, kami terus berjalan melewati Singapore Flyer,
terus melewati The Helix, terus melangkah melewati Marina Bay Seating Gallery.
Maju terus sampai Esplanade Mal. Istirahat sebentar.
Lalu lanjut lagi berjalan sampai ke The Merlion Park. Jauuuuh kan? Hehehe


Sudah selesaikah petualangan kami hari itu? Beluuum ... masih ada hal menegangkan lainnya saat kami berusaha pulang kembali ke hotel. Asyiknya nyasar bertiga di Singapura. Tunggu lanjutan ceritanya yaaa ^_^