Rabu, 05 Februari 2014

Pengalamanku : Kenangan Saat Menjadi Pengusaha Sepatu Lukis

Halo teman-teman. Apa kabar semua di musim hujan ini?

Semoga teman-teman selalu diberikan kesehatan, walau tantangan musim ini cukup berat. Walau bagaimana pun, hujan adalah anugerah Tuhan. Bersabarlah jika air yang melimpah ini memberi banyak cobaan. Semoga kita bisa melewatinya, dan tak ada lagi yang kebanjiran. Aamiin.

Kali ini aku ingin berbagi pengalamanku saat aku memutuskan tidak lagi mencari kerja sebagai arsitek, dan berpikir ingin menjadi pengusaha. Inilah kisahku ... yuk, baca sama-sama ^_^

Aku, melukis sepatu dan menulis buku ^_^

Tahun 2009, aku terpekur menghadapi kenyataan kembali kehilangan pekerjaan. Padahal rasanya saat itu adalah job description yang paling sesuai dengan yang aku inginkan. Namun apa daya, karena suatu masalah yang menimpa perusahaan tempatku bekerja, menyebabkan bosku terpaksa menutup usahanya.

Tiba-tiba saja aku enggan melamar menjadi pegawai lagi. Aku lelah jika harus memulai dari awal lagi. Di mana pun aku bekerja, rasanya tetap sama, aku hanyalah anak buah, yang harus menuruti ketentuan kantor dan menuruti perintah bos. Sudah lama memang aku bercita-cita kelak ingin memiliki usaha sendiri sehingga tak perlu lagi menjadi pegawai orang lain. Sesungguhnya aku tak betah dengan rutinitas kantor yang menjemukan. Apalagi jalanan di ibukota yang semakin padat membuatku kelelahan menempuh jarak pulang pergi dari rumahku ke kantor dan sebaliknya.

Anehnya, setelah selama sepuluh tahun berkecimpung di dunia Arsitektur, akhir tahun 2009 itu mendadak aku merasa jenuh dengan dunia itu. Aku tak punya niat sedikit pun memulai usaha sendiri di bidang Arsitektur. Tidak. Aku ingin mencoba sesuatu yang lain. Sesuatu yang beda dengan yang selama ini aku kerjakan. Aku pun memutuskan untuk mencoba usaha dari sesuatu yang menjadi hobiku. Kupelajari begitu banyak buku dan majalah mengenai usaha mandiri, mencoba mencari bidang usaha yang cocok untuk kutekuni dan modalnya terjangkau olehku. Selama berbulan-bulan aku mengadakan survei pribadi.

Awalnya aku tertarik untuk berbisnis jualan pernak-pernik aksesoris wanita, khususnya remaja putri. Karena aku sendiri sesungguhnya menyukai aksesoris-aksesoris funky itu. Aku pun mengadakan survei ke tempat yang banyak menjual pernak-pernik aksesoris wanita seperti Pusat Grosir Jatinegara dan Pasar Pagi Asemka. Menimbang-nimbang apakah modal yang aku punya cukup untuk memulai usaha itu.

Tapi ternyata butuh modal yang tak sedikit untuk memulai usaha berjualan aksesoris wanita. Aku pun mengurungkan niatku berusaha di bidang itu. Apalagi kemudian aku membaca sebuah informasi satu usaha yang sangat menarik minatku karena usaha itu bisa memanfaatkan keahlianku menggambar, yaitu usaha membuat sepatu lukis. Ya, aku bisa menggambar dan yang paling penting, aku suka menggambar. Lalu, bagaimana caranya aku memulai usaha ini?

Aku tak bertanya pada siapa pun bagaimana cara membuat sepatu lukis. Aku mencari sendiri segala informasi mengenai sepatu lukis melalui google. Mencari informasi bahan sepatu apa yang dapat dilukis dan cat apa yang biasa digunakan. Setelah semua informasi kukumpulkan, maka aku pun nekat memulai usaha ini. Aku memesan satu lusin sepatu kanvas putih polos dan seperangkat cat acrylic via online.

Perlahan aku mulai mencoba kemampuanku melukis di sepatu kanvas itu.
Terlebih dahulu kubuat sketsa dengan pensil 2B. Lalu sketsa yang kubuat itu kuwarnai dengan cat acrylic yang telah aku siapkan. Awalnya sangat sulit. Aku harus melapisi sepatu itu dengan tiga kali cat ulang. Terkadang aku salah mencampur warna. Aku mengalami beberapa kali kegagalan, walau akhirnya cat di sepatu kanvas itu bisa dikoreksi. Satu lusin sepatu kanvas polos yang pertama kubeli itu kupakai untuk bahan eksperimen.

Hasil karya sepatu lukisku yang pertama. Masih sederhana gambarnya

Setelah semua kulukis dengan warna-warni yang menurutku cukup menarik, lalu kucoba menitipkannya di toko pernak-pernik milik tetangga. Selama berbulan-bulan, tak ada yang berminat. Ternyata gambar di sepatu itu masih kurang menarik minat orang yang melihatnya untuk membeli. Akhirnya selusin sepatu lukis hasil lukisanku pertama itu kupakai sendiri, beberapa kuberikan untuk saudara-saudara dan ibuku. Aku hampir menyerah. Modal yang kukeluarkan cukup banyak, tapi tak satu pun sepatu yang menghasilkan uang.

Namun pesanan sepasang sepatu lukis dari seorang temanku menjadi awal yang baik yang kemudian memompa semangatku untuk terus berusaha mewujudkan mimpiku. Apalagi setelah sepatu temanku itu aku selesaikan, temanku sangat puas dengan sepatu lukis buatanku itu.

“Bagus, Rum! Rapi banget seperti gambar aslinya.” kata temanku itu.

Ia memesan sepatu lukis bergambar tokoh Snoopy karakter favoritnya.

Pesanan temanku yang membuatku semangat dan yakin ^_^

Lukisan Snoopy pesanan temanku. Katanya dipakai saat ia jalan-jalan ke Singapura loh ^_^

Aku sangat berterima kasih kepada temanku itu, ia telah mengembalikan semangatku untuk kembali fokus dengan cita-cita memiliki usaha mandiri. Ia telah memberi aku kepercayaan. Apalagi kemudian ia mengajakku untuk ikut memamerkan sepatu lukisku di garage sale yang akan diselenggarakannya.
Selama seminggu penuh aku membuat tujuh sepatu lukis untuk dipamerkan dan dijadikan contoh.


Sepatu yang kubuat dalam seminggu untuk diikutsertakan dalam garage sale
Maaf ya, waktu difotonya salah setting. Ini dibuat tanggal 08/09/2009 ^_^

Garage sale itu hanya berlangsung selama dua hari. Tetapi hasilnya, aku mendapat sepuluh pesanan sepatu lukis sekaligus! Repot dan melelahkan karena aku harus begadang setiap malam agar sepatu-sepatu pesanan itu dapat selesai tepat waktu. Tapi aku senang. Semua itu mengembalikan lagi semangatku yang semula sempat jatuh. Semakin meyakinkan aku bahwa dengan kemauan dan kerja keras, sepertinya aku bisa mengembangkan usaha membuat sepatu lukis ini. Memang semua butuh proses, bahkan memajang foto-foto sepatu lukis yang telah aku buat di facebook-ku pun baru terpikir setelah beberapa bulan aku memiliki akun facebook.

Aku mulai mengolah tampilan facebook-ku menjadi lebih menarik. Foto-foto sepatu lukis yang telah kubuat, kukumpulkan dalam satu album. Kuberi nama album itu Arumi Painted Shoes. Kuberi sedikit keterangan mengenai sepatu lukisku berikut harganya. Kemudian untuk mempromosikannya, secara berkala aku tinggal men-share album itu. Mudah sekali!

Favoritku, si ganteng Shinichi Kudo ^_^


Katara dan Pangeran Zuko
dari serial Avatar

Ditantang membuat mata yang persis sama dengan gambar manga-nya
Alhamdulillah, pemesan puas dengan hasil lukisku ini ^_^

Benarlah, setelah beberapa waktu, keampuhan facebook mulai tampak. Ada beberapa pengguna facebook yang melihat foto-foto sepatuku itu menghubungiku dan menyatakan berminat untuk memesan. Aku senang sekali. Facebook membantuku untuk berani memulai usaha onlineku. Tapi usaha melalui facebook juga memberi pengalaman buatku bahwa kita harus hati-hati dengan pengguna facebook yang belum sungguh kita kenal.



Aku melukisnya sendiri secara manual dengan hati looh ^_^

Tips dariku untuk teman-teman yang mungkin juga ingin membuka usaha via facebook, usaha online adalah usaha yang berbasis pada kepercayaan. Karena itu kita harus tegas. Awalnya, aku merasa tak enak jika orang yang memesan sepatu lukis buatanku harus membayar terlebih dahulu padahal sepatunya belum aku buat. Maka, kubuat dulu sepatu mereka, aku kirim, baru kemudian mereka bayar.
Tetapi, ternyata tak semua pengguna facebook mempunyai niat yang baik. Ada seseorang yang telah memesan sepatu lukis buatanku, aku buat dengan susah payah sebaik mungkin, kemudian aku kirimkan kepadanya melalui jasa titipan kilat. Tapi ternyata kemudian ia tak membayar sepatu lukis pesanannya itu. Ada saja alasannya. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menyesali mengapa ia tega berbuat itu.

Berdasarkan pengalaman itu, maka untuk pesanan selanjutnya, aku buat sepatunya sebaik mungkin, setelah sepatu jadi, aku up load fotonya di facebook lalu aku tag kepada si pemesan. Jika mereka sudah puas dengan hasilnya, barulah aku kirim melalui jasa titipan kilat. Karena pengalaman terdahulu, maka aku mengirim sepatu pesanan itu sesudah sang pemesan mentransfer pembayaran ke rekeningku.

Masih ada pengalaman pahit lainnya. Ada seseorang yang telah memesan empat pasang sepatu lukis. Dengan antusias, kubuat pesanan itu dengan sebaik-baiknya. Aku selalu berusaha agar sepatu lukis buatanku bagus hasilnya dan memuaskan pemesan. Karena aku berjanji akan menyelesaikannya hanya dalam waktu seminggu, aku pun rela mengerjakan sepatu-sepatu lukis itu hingga bergadang semalaman.

Tapi apakah yang terjadi? Setelah sepatu-sepatu itu selesai kubuat, lama sang pemesan tak memberi kabar. Aku tak akan mengirim sepatu lukis pesanannya itu  sebelum ia mentransfer uang pembayarannya. Namun ia tak juga mentransfer uang pembayaran sampai berbulan-bulan kemudian. Dan ternyata ia membatalkan pesanan.

Aku sempat merasa sangat kecewa karena merasa hasil kerja kerasku sia-sia. Pengalaman ini memberiku pelajaran, bahwa memang dalam usaha online, kita harus bertindak tegas. Untuk pesanan selanjutnya, aku selalu mengingatkan kepada pemesan agar mentransfer terlebih dahulu harga sepatu yang ingin dipesan, barulah nanti pesanan aku kerjakan. Jika sudah dibayar, bekerja seharian tanpa berhenti pun aku rela. Aku pasti akan memberikan hasil yang terbaik.

Pernah juga terjadi sepatu yang dipesan seorang konsumen ternyata kebesaran, sehingga aku harus melukis ulang gambar yang sama di sepatu lain. Kendala juga pernah muncul dari pengadaan bahan baku. Beberapa kali aku terpaksa berganti supplier, karena mereka mengecewakan dan merugikan aku, seringkali barang yang dikirimkan padaku tak sesuai dengan yang aku pesan. Sampai akhirnya aku memutuskan membeli sendiri bahan baku langsung di pasar grosir. Lebih melelahkan, karena aku harus berbelanja sendiri ke Pasar Jatinegara untuk mendapatkan sepatu dengan harga grosir. Apalagi aku tak bisa mengendarai motor. Setiap saat berbelanja, aku berangkat pagi-pagi naik biskota. Biasanya aku hanya sanggup membawa sepatu sebanyak enam sampai tujuh pasang saja.




Pernah suatu kali aku nekat membeli sembilan pasang sekaligus. Semua sepatu yang kubeli kumasukkan ke dalam tas sangat besar. Kembali ke rumah aku tetap naik bis sambil membawa tas besar berisi sembilan pasang sepatu kanvas polos itu. Ternyata berat sekali. Lenganku seketika saja merasa kelelahan. Apalagi dari ujung jalan menuju rumahku, aku masih harus berjalan sejauh lebih dari enam ratus meter. Apesnya, begitu aku turun dari angkot, hujan deras mendadak muncul. Payung kecil yang kubawa tak mampu melindungiku dari terpaan air hujan yang sangat keras. Tapi aku tetap berjalan sambil menenteng tas berat itu. Kujadikan itu sebagai cobaan untuk menguatkan mental pantang menyerahku. Sesungguhnya dalam kesengsaraan, ada kenikmatan yang tersembunyi, tatkala segala jerih payah kita kelak membuahkan hasil. Walau rasanya lelah sekali membeli sendiri bahan baku langsung ke pusat grosir, tapi aku puas karena aku bisa memilih bahan baku yang aku butuhkan.

Aku juga mulai belajar membuat blog sebagai sarana untuk memperkenalkan karya sepatu lukisku. Pesanan semakin banyak. Bahkan ada beberapa yang ingin menjadi reseller. Aku tak bisa menerima semuanya, karena aku membuat sepatu-sepatu itu hanya sendirian. Semua kulakukan sendiri, mulai dari membeli bahan baku, melukisnya, mempromosikannya bahkan mengirimnya via titipan kilat. Aku memang merasa lebih nyaman untuk mengerjakan semuanya sendiri. Saat itu aku memutuskan baru menerima satu reseller saja. Hingga lebih dari setahun aku bekerja sama dengannya. Saat itu, kunikmati menjalankan usaha ini, sekaligus menekuni hobi.






Inilah beberapa karya lukisku. Alhamdulillah, pemesan selalu puas ^_^

Sampai kemudian aku mulai merasakan kemajuan usaha sepatu lukisku. Aku tak menyesal dengan keputusanku memilih berusaha mandiri. Dengan memiliki usaha sendiri, aku masih punya waktu dan kesempatan melakukan banyak hal menarik diluar pekerjaanku sehari-hari. Selain menekuni usaha sepatu lukisku ini, aku juga bisa kembali mengasah hobi menulisku. Keuntungan lain memiliki usaha sendiri di rumah, aku tak lagi terikat oleh jam kerja yang mengharuskan masuk kantor pukul setengah sembilan hingga pukul lima sore. Artinya aku tak perlu lagi berjibaku dalam kemacetan jalan raya Jakarta setiap jam sibuk pergi dan pulang kerja. Bila ingin bepergian pun aku tak perlu repot mengambil cuti karena aku bisa mengatur waktu kerjaku dengan fleksibel. Inilah asyiknya menjadi bos bagi diri sendiri.


Ada yang pesan gambar batik pun kuterima,
walau ternyata susah juga membatik dengan cat acrylic





Melukis logo-logo klub sepakbola ini adalah tantangan terberat

Pesanan gambar aktor Korea

Melukis aktor Korea pun bisa ^_^


Melukis Michael Jackson pun bisa ^_^

Seiring berjalannya waktu, ternyata sekarang ini kesempatan menulis semakin terbuka untukku. Passion terbesarku pun akhirnya beralih ke menulis. Walau sampai saat ini masih saja ada yang memesan sepatu lukis kepadaku, tetapi sayangnya aku belum mampu memenuhi.

Namun bagi teman-teman yang berminat membuka usaha melukis sepatu, semoga pengalamanku ini bisa menambah informasi, bagaimana lika-liku sebuah usaha. Memang berat pada awalnya, banyak tantangan yang harus dilalui, tapi jika kita berhasil melewati semuanya, maka kejayaan insya Allah akan digapai.

Semangat ya! ^_^

Kisah pengalamanku jatuh bangun membuka usaha sepatu lukis ini termuat dalam buku "Bye-Bye Office" terbitan MIC Publishing.



Namun kini, aku memilih menjadi penulis novel saja ... ^_^

Dan ini adalah salah satu mimpiku yang terwujud tahun ini. Akhirnya, novelku terbit di penerbit idamanku, Gramedia Pustaka Utama. "HATIKU MEMILIHMU" Koleksi yuuuk... ^_^




Sekarang, aku memutuskan menulis novel saja
Entah kapan aku akan melukis sepatu lagi ... ^_^

Sabtu, 01 Februari 2014

February Wishes : My dreams come true

Tak terasa, akhirnya kita tinggalkan bulan Januari penuh kenangan dan kini mulai memasuki bulan Februari penuh harapan...

Aku masih bersabar menunggu semua rencana-rencana tahun lalu terwujud di bulan ini.

Editorku menjanjikan, bulan ini akan terbit novelku terbaru, berjudul "Hatiku Memilihmu". Alhamdulillah, novelku ini akan terbit di salah satu penerbit idamanku.

Untuk sementara covernya seujung dulu yaa ... karena masih dalam proses revisi ^_^



Untuk sementara ini aku belum akan menceritakannya secara detail. Yang jelas, ini adalah buah karyaku yang kuharap lebih baik dari sebelumnya, karena aku menuliskan kisah ini setelah aku mendapat begitu banyak pengalaman berharga. Ditambah sentuhan editorku yang cemerlang, membuat kisah ini semakin nyaman dibaca dan aku berharap semoga terhindar dari kesalahan fatal dan kelak pembaca novelku ini menyukai kisah ini.

Kemudian ada lagi satu novelku yang akan terbit berjudul "Monte Carlo", ini juga akan terbit di penerbit idamanku lainnya, Gagas Media. Tapi aku belum tahu kepastian waktu terbitnya. Ini pun naskah yang sudah mengalami begitu banyak pembelajaran. Insya Allah jauh lebih bagus dari karya-karyaku sebelumnya. Sungguh suatu anugerah tak terkira saat nanti akhirnya aku menerima bukti terbit novelku yang satu ini.

Dan satu lagi berita bahagia yang masih aku simpan rapat-rapat tentang novelku "Tahajud Cinta di Kota New York", aku masih bersabar untuk membagi kabar bahagia ini. Clue-nya ini adalah impian terbesar seorang penulis novel ... Hm, bisa menebak? ^_^

Baiklah ... sekarang saatnya aku kabarkan, "Tahajud Cinta di Kota New York" akan diadaptasi menjadi film oleh MD Pictures. Alhamdulillah ... mohon doanya ya teman-teman ^_^




Tunggu ya, sampai nanti akhirnya kontrak ditandatangani, barulah aku berani menyampaikan kepada teman-teman satu kabar bahagia yang dua bulan terakhir ini membuatku merasa sangat bersyukur telah dikaruniai rezeki demikian banyaknya.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Insya Allah ini semua adalah buah dari kerja keras, pantang menyerah, keinginan untuk selalu terus mengasah kemampuan dan bersedia belajar menulis yang lebih baik lagi, serta tentu saja doa yang tak pernah putus, baik doaku sendiri maupun dari orangtua, saudara-saudaraku dan teman-teman semua.

Terima kasih, sungguh aku merasa berlimpah berkah. Semoga apa pun kebahagian yang kelak kuterima, aku selalu ingat untuk tetap bersikap rendah hati, menyadari sekuat apa pun aku bekerja, hasilnya tentu tak akan bisa seratus persen sempurna. Aku masih jauh dari hebat, masih harus terus mengasah kemampuan dan ingat, bahwa di atas langit, masih ada langit ...

Ini dia, salah satu mimpiku yang menjadi kenyataan. Novel terbaruku diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Terbit 12 Mei 2014. Yang suka baca novel romance Islami, yuk, koleksi ^_^



Yuk, semangat mengisi bulan Februari ini dengan karya terbaik kita ^_^

Oya, satu lagi info yang ingin kubagi, kemarin saat perayaan imlek, keluargaku mendapat rezeki kiriman banyak sekali kue keranjang dari teman dan tetangga yang merayakan imlek. Sungguh indah kebersamaan, sungguh damai saling berbagi kebahagiaan.

Selamat tahun baru, selamat bulan baru ^_^



Novelku yang sudah edar di toko buku ^_^