Selasa, 31 Mei 2016

Ada Apa Dengan Cinta 2, film yang saya tonton sebanyak 4 kali di bioskop!



Setelah sekian lama film Ada Apa Dengan Cinta tayang di bioskop Indonesia, terhitung sudah sebulan lebih. Jumlah penonton sudah mencapai 3,6 juta lebih. Sudah sejak lama pengin sekali menulis tentang kesan-kesan saya pada film ini. Tapi baru sekarang sempat saya tuliskan, sembari menunggu saya menontonnya 4 kali sesuai rencana saya.

Kabar AADC2 akan dibuat sudah ada sejak tahun 2014. Sejak itu saya sangat menunggu hadirnya film ini. Ada banyak faktor mengapa saya ingin sekali menonton film ini.

Pertama, karena pemeran utamanya Nicholas Saputra. Aktor Indonesia favorit saya sejak pertama kali kemunculannya di AADC1.

Semua film yang diperankan Nicholas Saputra pasti saya tonton di bioskop, kecuali beberapa film yang memang tidak ditayangkan di bioskop dan sampai sekarang sulit mendapat akses menontonnya.

Saya memang sudah suka Nico sejak melihatnya di AADC1. Wajahnya suka banget. Cakeep. Bentuk hidung yang bagus, mata yang tajam, bibir yang sering cemberut tapi gemesin. Resmilah sejak saat itu saya jatuh cinta pada sosok Nicholas Saputra.

Kedua, karena saya suka film AADC1. Menurut saya itu adalah film remaja Indonesia terbaik. Akting Dian sangat brilian. Walau kisahnya sederhana, tapi film ini memang menarik. Apalagi ditambah musik dari Melly Goeslow dan Anto Hoed yang luar biasa bernyawa, memorable banget sampai sekarang.

Ketiga, karena diproduksi Miles Production. Selama ini film-film Miles selalu bagus. Ditambah disutradarai Riri Riza.

Maka, saya pun dengan antusias menonton AADC2 sendirian! Yah, saya ingin menikmati film ini secara personal. Memang saya baru menontonnya di minggu kedua, karena berharap penonton sudah mulai longgar dan sengaja memilih waktu di jam pertama.

Jujur, saat pertama kali kamera memunculkan sosok Rangga, airmata saya mengembang di pelupuk mata. Yaa, betapa rindunya saya pada sosok Rangga. Melihatnya lagi serasa rindu bertahun-tahun yang akhirnya terurai. Saya nggak mengada-ada. Sungguhan lho ini. Terhitung airmata saya hampir mengalir di tiga bagian. Padahal ini bukan film sedih. Tapi saya ikut merasakan kesedihan Rangga saat dia minta maaf pada Cinta, dan Cinta yang berusaha keras menahan emosinya.

Adegan berikutnya yang mengharukan adalah saat Rangga akhirnya bertemu ibunya. (Ups! Semoga ini bukan spoiler)

Semua hal di film ini terasa sangat tepat. Pemilihan New York bagian Brooklyn yang pas dengan karakter Rangga. Banyak yang menyesalkan kenapa penampilan Rangga tidak seperti AADC versi iklan line. Saya justru merasa di film ini adalah gambaran Rangga yang sesuai dengan karakternya sejak SMA dulu.

Puisi yang dibacakan Nico dengan suara yang jauh lebih matang dibanding 14 tahun lalu pun bikin saya merinding. Jadi pengin meluk Rangga...eh? >.<

Setting Jogja yang lekat dengan seni dan kebudayaan kontemporer pun sangat terasa pas dengan karakter Rangga dan Cinta. Selain karena saya orang Jogja, sehingga setting film ini terasa sangat familier, seolah saya ikut melebur dalam film yang saya tonton ini.

Sinematografinya pun aduhai. Memanjakan mata dan memberi atmosfir magic nan romantis. Musik yang pas di tiap adegan membuat saya semakin terhanyut.

Saya suka banget lagu "Jangan Ajak-Ajak Dia" yang mengiringi adegan Rangga dan Cinta di Punthuk Setumbu. Musiknya asyik, walau liriknya kalau diperhatikan bagai ajakan selingkuh sesaat. Suara hati Rangga meminta Cinta melupakan dulu sebentar tunangannya, fokus sama dia aja. Ranggaaa ... diam-diam menghanyutkan yaa... kayaknya kalem, sebenarnya sedang membujuk dengan halus tanpa kentara bahkan Cinta pun nggak sadar. Tapi saya nggak menyalahkan Rangga. Selama janur kuning belum melengkung masih boleh kok memperjuangkan cinta ;) *eh ya, ini bukan spoiler kan? Udah pada tau, kan? Udah banyak yang nonton juga ... ;)

Hal lain yang menjadi daya tarik film ini, chemistry Rangga dan Cinta yang terasa kuat banget. Penonton dibuat percaya, mereka benar-benar Rangga dan Cinta yang saling memendam perasaan. Melupakan kenyataan pemerannya adalah Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo. Yang ada di layar keduanya adalah Rangga dan Cinta yang ditakdirkan bersama, sepasang belahan jiwa.

Alhasil, menonton cuma sekali bagi saya tidak cukup. Saya pun menonton lagi bersama teman-teman. Dua kali pun belum cukup, saya menonton untuk yang ketiga kalinya bersama teman lain. Barulah menjelang akhir Mei, saya memutuskan menonton lagi untuk yang keempat kali sendirian. Kembali saya ingin menikmati kisah Rangga dan Cinta secara personal. Membiarkan diri saya terhanyut ikut terbawa perasaan Rangga dan Cinta. Dan endingnya sungguh-sungguh membuat saya bahagia. Jarang-jarang ada film yang setelah selesai membuat saya tersenyum lega dan bahagia.

Lalu saat film berakhir, saya sangat berharap, Miles Production berniat membuat versi extended-nya. Dijamin akan kembali menciptakan baper massal. Atau dibuat versi AADC The Wedding seperti film Tangled yang juga ada versi Tangled The Wedding. Membayangkan versi ini ada adegan persiapan Rangga dan Cinta menuju janji suci pernikahan. Cinta dipingit, ada acara midodareni bareng genk Cinta. Rangga yang nyuri-nyuri kesempatan ketemu Cinta ... aaah, imajinasi yang indah banget yaa.

Akhir kata, saya ikut bangga, film AADC2 bisa mencapai jumlah penonton sebanyak ini. Berharap bisa tembus 4 juta penonton. Aamiin.

Ayo dong, rugi deh kalau nggak nonton film ini. Saya pun masih mau nonton lagi kalau saja saya tidak diharuskan mulai konsentrasi menulis naskah saya selanjutnya yang DL-nya sebelum lebaran.





Menonton #AADC2 sekali lagi untuk yang ke-4 kali, sebelum konsentrasi menulis naskah mulai 1 Juni. Nggak bosan nontonnya. Ceritanya sederhana tapi dikemas apik. Musik yang pas di setiap adegan, senimatografi ciamik. Puisi yang mencabik perasaan. Chemistry pemain yang luar biasa. Penonton dibikin percaya, Rangga dan Cinta benar-benar pasangan yang pas. Aku bisa merasakan apa yang dirasakan Cinta. Ah..ah. Tidak ada akting yang berlebihan, semua tampak real. 

Memecahkan rekor saya sendiri, film yang saya tonton di bioskop lebih dari dua kali. 

Thank you Mbak @mirles, Mas @rizariri, Mas @nicholassaputra, Mbak @therealdisastr. Sudah bikin saya bahagia dengan menonton film ini ^_^



Ini pesan dari Mbak Mira Lesmana ...ahahah


Minggu, 22 Mei 2016

Backpacker stories part 7 : Colmar Tropicale, Bukit Tinggi, Malaysia

Hari ke-7 perjalananku.

Sejak subuh aku sudah bangun. Mandi kemudian shalat. Pukul setengah 9 kami check out dari hostel lalu segera menuju taksi yang sudah menunggu di depan hostel. Dua teman backpacker yang kemarin bertemu di Berjaya Square pun sudah datang. Jadilah kami berempat menuju Colmar Tropicale.

Perjalanan dari Kuala Lumpur cukup jauh. Kurang lebih sekitar 1 jam. Sesuai perkiraanku, sesampai di sana kami disambut cuaca panas dan terik. Gerbang bangunan bergaya Colmar Prancis terlihat.




Sebelum menjelajahi Colmar Tropicale, kami akan menuju Taman ala Jepang dulu. Sambil menunggu shuttle bus, kami memotret sebentar. Lalu busa datang, kami pun terburu-buru naik.

Kebun teh ala Jepang ini cukup membuat ngis-ngosan karena tempatnya yang naik terus. Huft, kaki mulai pegal menaiki tangga yang cukup tinggi. Namun udaranya memang sejuk.








Setelah puas menikmati kebun ala Jepang, kami kembali menunggu shuttle bus yang akan membawa kami kembali ke Colmar Tropicale.

Ini berupa satu deretan bangunan dengan desain ala Colmar di Prancis. Bagian depan bangunan-bangunan itu adalah cafe-cafe yang harga menunya lumayan mahal. Satu porsi makanan rata-rata 25-35 ringgit per orang.













Setelah makan siang, kami pun kembali ke ke kota, dua teman kami mampir ke Batu Caves, sedangkan aku dan satu temanku langsung menuju KL Central. Check in di hostel tak jauh dari KL Central.

Setelah istirahat, malamnya aku janjian dengan teman yang tinggal di KL untuk bertemu di Twin Towers. 

Akhirnya, setelah sebelumnya berkali-kali aku ke sana selalu siang hari, aku bisa melihat menara kembar itu di malam hari. Lampunya memang indah.


Pernah tinggal di KL hampir sebulan, baru kali ini melihatnya di malam hari


Air mancur menari hanya ada saat malam hari di KL

Hari ke-8 ...

Esok harinya kami bangun pagi-pagi karena harus segera berangkat ke bandara. Dari KL Central, kami naik bus menuju KLIA 1. Baru kali ini aku ke bandara KLIA1, biasanya selalu ke KLIA2.



Akhirnya, traveling kami harus berakhir. Saatnya kembali ke Jakarta. Membawa semua kenangan dan pengalaman.

Di bandara makan dulu. Aku milih mi kari. Enak banget!




Sabtu, 21 Mei 2016

Backpacker stories part 6 : Dari Siem Reap ke Kuala Lumpur

Hari ke-6 perjalanan ...

Setelah seharian yang melelahkan keliling Angkor Wat, kami berusaha tidur lelap. Walau akhirnya aku baru tidur lewat 12 malam. Padahal besok kami harus bangun jam 4 pagi. Pukul setengah enam kami harus sudah ke bandara karena pesawat kami menuju Kuala Lumpur akan terbang pukul setengah 9 pagi.

Pihak hostel sudah memesankan tuk-tuk. 4$ menuju bandara Siem Reap. Jalanan masih lengang. Di sini memang tidak serama Ho Chi Minh. Bandaranya pun tidak besar.

Aku masih sempat membeli beberapa suvenir di bandara sebelum boarding.

Di bandara Siem Reap

Bye Siem Reap ...





Sampai di Kuala Lumpur pukul 1 siang. Dari bandara KLIA kami naik bus menuju KL Central. Hostel kami tak jauh dari Berjaya Hills, karena esok hari kami rencana pergi ke Colmar Tropicale. Pembelian tiket shuttle bus menuju Colmar dibeli di Berjaya Square lantai 8.

Sampai Berjaya Square pukul 4 sore. Kantor pembelian shuttle bus tutup. Kami mengira petugasnya sedang pergi. Akhirnya kami ke hostel yang tepat berada di belakang Berjaya Square.

Setelah check in dan menaruh barang, kami kembali ke tempat pembelian tiket shuttle bus. Sayang sekali, tiket shuttle bus menuju Colmar untuk besok sudah habis ...

Untunglah kami bertemu dua orang backpacker juga asal Jakarta yang ingin ke Colmar juga esok hari. Kami pun sepakat patungan naik taksi esok pagi tepat pukul 9 malam.

Hari itu aku dan temanku hanya jalan-jalan saja di Berjaya Square dan makan malam. Lalu kembali ke hostel, beristirahat. Besok kami harus bangun pagi-pagi lagi sekaligus check out kemudian pindah ke hostel yang dekat dengan KL Central. Agar hari minggu saat kami ingin kembali ke Jakarta, kami dapat mencapai KL Central dengan mudah.


Kenang-kenangan dari Kamboja












Jumat, 20 Mei 2016

Backpacker stories part 5 : Seharian di Angkor Wat, Siem Reap, Kamboja

Hari ke-5 perjalanan kami.

Pukul setengah 4 pagi kami sudah bangun. Bersih-bersih badan, lalu siap-siap berangkat pukul setengah 5. Kami sarapan cepat hanya pisang dan roti seadanya.

Tuk-tuk sudah menunggu di depan hostel. Kami sepakat akan diantar mengelilingi Angkor Wat seharian dengan biaya $20 . Satu tuk-tuk pas muat untuk kami berempat.

Sesampai di gedung tempat pembelian tiket yang cukup besar, ada banyak loket dan sudah banyak turis yang mengantri membeli tiket. Ternyata banyak juga yang ingin menyaksikan matahari terbit di Angkor Wat yang legendaris.

Tiketnya seharga $20 per orang. Kami dipotret, lalu foto kami dicetak di tiketnya. Jadi, tiket itu benar-benar hanya bisa dipakai untuk yang membelinya.

Setelah membeli tiket, tuk-tuk mengantar kami ke candi pertama, Angkor Wat.



Sudah banyak sekali pengunjung yang bersiap mencari posisi terbaik mengabadikan detik-detik terbitnya matahari dari belakang candi Angkor Wat.










Sayangnya, hari itu langit agak berawan, sehingga tidak menampakkan semburat jingga saat matahari muncul. Namun kami sudah cukup puas bisa merasakan antusias turis yang sama-sama menunggu matahari terbit.









Pendapat saya tentang Angkor Wat ini ... bagus, tapi ya di Indoensia pun banyak candi seperti ini. Jadi aku sudah biasa melihat candi. Tapi tetap ada suasana yang berbeda, menambah ilmu dan wawasan, serta kenalan baru.

Yup, ini salah satu asyiknya backpackeran. Sesama backpacker kami saling bantu, kenalan deh sama backpacker asal Polandia.

Setelah puas menjelajahi Angkor Wat, kami menuju candi selanjutnya. Komplek Angkor Wat ini luas sekali. Kurang lebih 165 hektar. Sehingga kami perlu tuk-tuk untuk mengantar kami dari satu candi ke candi lain.

Aku tidak hapal semua nama candi-candinya. Tapi ada candi yang ujung atasnya ada pahatan wajah di keempat sisinya. Ini namanya Candi Bayon.



Ini lah candi bayon. Four face statue











Setelah melihat-lihat Candi Bayon, kami pindah ke candi selanjutnya,



















Aku lupa nama candi selanjutnya. Namun karena cuaca semakin panas, kami hanya memotret depannya. Setelah itu kami minta antar tuk-tuk mencari makan siang.

Ternyata susah mencari makanan halal di sini. Kami dibawa ke restoran tapi ada menu tidak halal di sini. Salah satu teman yang boleh menyantap makanan apa saja memilih makan siang, sementara kami bertiga yang muslim hanya menemani sambil ngadem dan memanfaatkan wifi gratis di restoran itu :D

Setelah makan siang, kami diantar ke Ta Phrom. Inilah candi yang ngetop karena ada di film Tomb Rider dan Indiana Jones.

Suhu saat itu panas sekali. Mencapai 40 derajat. Jalan menuju candi berupa tanah biasa yang menjadi penuh debu.








Setelah memotret spot paling top di sini, karena adegan Tomb Rider ada di sini, kami pun keluar dari candi itu. Sampai tuk-tuk kami, kami sudah dihadang anak-anak penjual cinderamata. Herannya, mereka semua menebak kami orang Malaysia. Setiap bertemu penduduk lokal, selalu saja ditebak sebagai orang Malaysia.

"Ringgit! Ringgit!" teriak mereka. Uuh, kenapa nggak ada yang kenal Indonesia sih?

Setelah itu kami memilih menunggu sore duduk di tuk-tuk. Kecuali dua temanku mau bersusah payah menelusuri candi yang menjadi salah satu candi tempat mendapatkan sunset terbaik.





Akhirnya ... penjelajahan kami di komplek Angkor Wat berakhir. Kami kembali ke hotel dalam keadaan tubuh sudah sangat lengket dan lapar bukan main.

Setelah mandi dan istirahat sejenak, kami makan malam di street food bersama backpacker asal Polandia dan Swedia. Seruuuu banget. Kami saling bertukar cerita, saling add facebook dan mereka berjanji, suatu saat akan traveling ke Indonesia.