Tampilkan posting dengan label My Work Adventures. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label My Work Adventures. Tampilkan semua posting

Rabu, 05 Februari 2014

Pengalamanku : Kenangan Saat Menjadi Pengusaha Sepatu Lukis

Halo teman-teman. Apa kabar semua di musim hujan ini?

Semoga teman-teman selalu diberikan kesehatan, walau tantangan musim ini cukup berat. Walau bagaimana pun, hujan adalah anugerah Tuhan. Bersabarlah jika air yang melimpah ini memberi banyak cobaan. Semoga kita bisa melewatinya, dan tak ada lagi yang kebanjiran. Aamiin.

Kali ini aku ingin berbagi pengalamanku saat aku memutuskan tidak lagi mencari kerja sebagai arsitek, dan berpikir ingin menjadi pengusaha. Inilah kisahku ... yuk, baca sama-sama ^_^

Aku, melukis sepatu dan menulis buku ^_^

Tahun 2009, aku terpekur menghadapi kenyataan kembali kehilangan pekerjaan. Padahal rasanya saat itu adalah job description yang paling sesuai dengan yang aku inginkan. Namun apa daya, karena suatu masalah yang menimpa perusahaan tempatku bekerja, menyebabkan bosku terpaksa menutup usahanya.

Tiba-tiba saja aku enggan melamar menjadi pegawai lagi. Aku lelah jika harus memulai dari awal lagi. Di mana pun aku bekerja, rasanya tetap sama, aku hanyalah anak buah, yang harus menuruti ketentuan kantor dan menuruti perintah bos. Sudah lama memang aku bercita-cita kelak ingin memiliki usaha sendiri sehingga tak perlu lagi menjadi pegawai orang lain. Sesungguhnya aku tak betah dengan rutinitas kantor yang menjemukan. Apalagi jalanan di ibukota yang semakin padat membuatku kelelahan menempuh jarak pulang pergi dari rumahku ke kantor dan sebaliknya.

Anehnya, setelah selama sepuluh tahun berkecimpung di dunia Arsitektur, akhir tahun 2009 itu mendadak aku merasa jenuh dengan dunia itu. Aku tak punya niat sedikit pun memulai usaha sendiri di bidang Arsitektur. Tidak. Aku ingin mencoba sesuatu yang lain. Sesuatu yang beda dengan yang selama ini aku kerjakan. Aku pun memutuskan untuk mencoba usaha dari sesuatu yang menjadi hobiku. Kupelajari begitu banyak buku dan majalah mengenai usaha mandiri, mencoba mencari bidang usaha yang cocok untuk kutekuni dan modalnya terjangkau olehku. Selama berbulan-bulan aku mengadakan survei pribadi.

Awalnya aku tertarik untuk berbisnis jualan pernak-pernik aksesoris wanita, khususnya remaja putri. Karena aku sendiri sesungguhnya menyukai aksesoris-aksesoris funky itu. Aku pun mengadakan survei ke tempat yang banyak menjual pernak-pernik aksesoris wanita seperti Pusat Grosir Jatinegara dan Pasar Pagi Asemka. Menimbang-nimbang apakah modal yang aku punya cukup untuk memulai usaha itu.

Tapi ternyata butuh modal yang tak sedikit untuk memulai usaha berjualan aksesoris wanita. Aku pun mengurungkan niatku berusaha di bidang itu. Apalagi kemudian aku membaca sebuah informasi satu usaha yang sangat menarik minatku karena usaha itu bisa memanfaatkan keahlianku menggambar, yaitu usaha membuat sepatu lukis. Ya, aku bisa menggambar dan yang paling penting, aku suka menggambar. Lalu, bagaimana caranya aku memulai usaha ini?

Aku tak bertanya pada siapa pun bagaimana cara membuat sepatu lukis. Aku mencari sendiri segala informasi mengenai sepatu lukis melalui google. Mencari informasi bahan sepatu apa yang dapat dilukis dan cat apa yang biasa digunakan. Setelah semua informasi kukumpulkan, maka aku pun nekat memulai usaha ini. Aku memesan satu lusin sepatu kanvas putih polos dan seperangkat cat acrylic via online.

Perlahan aku mulai mencoba kemampuanku melukis di sepatu kanvas itu.
Terlebih dahulu kubuat sketsa dengan pensil 2B. Lalu sketsa yang kubuat itu kuwarnai dengan cat acrylic yang telah aku siapkan. Awalnya sangat sulit. Aku harus melapisi sepatu itu dengan tiga kali cat ulang. Terkadang aku salah mencampur warna. Aku mengalami beberapa kali kegagalan, walau akhirnya cat di sepatu kanvas itu bisa dikoreksi. Satu lusin sepatu kanvas polos yang pertama kubeli itu kupakai untuk bahan eksperimen.

Hasil karya sepatu lukisku yang pertama. Masih sederhana gambarnya

Setelah semua kulukis dengan warna-warni yang menurutku cukup menarik, lalu kucoba menitipkannya di toko pernak-pernik milik tetangga. Selama berbulan-bulan, tak ada yang berminat. Ternyata gambar di sepatu itu masih kurang menarik minat orang yang melihatnya untuk membeli. Akhirnya selusin sepatu lukis hasil lukisanku pertama itu kupakai sendiri, beberapa kuberikan untuk saudara-saudara dan ibuku. Aku hampir menyerah. Modal yang kukeluarkan cukup banyak, tapi tak satu pun sepatu yang menghasilkan uang.

Namun pesanan sepasang sepatu lukis dari seorang temanku menjadi awal yang baik yang kemudian memompa semangatku untuk terus berusaha mewujudkan mimpiku. Apalagi setelah sepatu temanku itu aku selesaikan, temanku sangat puas dengan sepatu lukis buatanku itu.

“Bagus, Rum! Rapi banget seperti gambar aslinya.” kata temanku itu.

Ia memesan sepatu lukis bergambar tokoh Snoopy karakter favoritnya.

Pesanan temanku yang membuatku semangat dan yakin ^_^

Lukisan Snoopy pesanan temanku. Katanya dipakai saat ia jalan-jalan ke Singapura loh ^_^

Aku sangat berterima kasih kepada temanku itu, ia telah mengembalikan semangatku untuk kembali fokus dengan cita-cita memiliki usaha mandiri. Ia telah memberi aku kepercayaan. Apalagi kemudian ia mengajakku untuk ikut memamerkan sepatu lukisku di garage sale yang akan diselenggarakannya.
Selama seminggu penuh aku membuat tujuh sepatu lukis untuk dipamerkan dan dijadikan contoh.


Sepatu yang kubuat dalam seminggu untuk diikutsertakan dalam garage sale
Maaf ya, waktu difotonya salah setting. Ini dibuat tanggal 08/09/2009 ^_^

Garage sale itu hanya berlangsung selama dua hari. Tetapi hasilnya, aku mendapat sepuluh pesanan sepatu lukis sekaligus! Repot dan melelahkan karena aku harus begadang setiap malam agar sepatu-sepatu pesanan itu dapat selesai tepat waktu. Tapi aku senang. Semua itu mengembalikan lagi semangatku yang semula sempat jatuh. Semakin meyakinkan aku bahwa dengan kemauan dan kerja keras, sepertinya aku bisa mengembangkan usaha membuat sepatu lukis ini. Memang semua butuh proses, bahkan memajang foto-foto sepatu lukis yang telah aku buat di facebook-ku pun baru terpikir setelah beberapa bulan aku memiliki akun facebook.

Aku mulai mengolah tampilan facebook-ku menjadi lebih menarik. Foto-foto sepatu lukis yang telah kubuat, kukumpulkan dalam satu album. Kuberi nama album itu Arumi Painted Shoes. Kuberi sedikit keterangan mengenai sepatu lukisku berikut harganya. Kemudian untuk mempromosikannya, secara berkala aku tinggal men-share album itu. Mudah sekali!

Favoritku, si ganteng Shinichi Kudo ^_^


Katara dan Pangeran Zuko
dari serial Avatar

Ditantang membuat mata yang persis sama dengan gambar manga-nya
Alhamdulillah, pemesan puas dengan hasil lukisku ini ^_^

Benarlah, setelah beberapa waktu, keampuhan facebook mulai tampak. Ada beberapa pengguna facebook yang melihat foto-foto sepatuku itu menghubungiku dan menyatakan berminat untuk memesan. Aku senang sekali. Facebook membantuku untuk berani memulai usaha onlineku. Tapi usaha melalui facebook juga memberi pengalaman buatku bahwa kita harus hati-hati dengan pengguna facebook yang belum sungguh kita kenal.



Aku melukisnya sendiri secara manual dengan hati looh ^_^

Tips dariku untuk teman-teman yang mungkin juga ingin membuka usaha via facebook, usaha online adalah usaha yang berbasis pada kepercayaan. Karena itu kita harus tegas. Awalnya, aku merasa tak enak jika orang yang memesan sepatu lukis buatanku harus membayar terlebih dahulu padahal sepatunya belum aku buat. Maka, kubuat dulu sepatu mereka, aku kirim, baru kemudian mereka bayar.
Tetapi, ternyata tak semua pengguna facebook mempunyai niat yang baik. Ada seseorang yang telah memesan sepatu lukis buatanku, aku buat dengan susah payah sebaik mungkin, kemudian aku kirimkan kepadanya melalui jasa titipan kilat. Tapi ternyata kemudian ia tak membayar sepatu lukis pesanannya itu. Ada saja alasannya. Aku pun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menyesali mengapa ia tega berbuat itu.

Berdasarkan pengalaman itu, maka untuk pesanan selanjutnya, aku buat sepatunya sebaik mungkin, setelah sepatu jadi, aku up load fotonya di facebook lalu aku tag kepada si pemesan. Jika mereka sudah puas dengan hasilnya, barulah aku kirim melalui jasa titipan kilat. Karena pengalaman terdahulu, maka aku mengirim sepatu pesanan itu sesudah sang pemesan mentransfer pembayaran ke rekeningku.

Masih ada pengalaman pahit lainnya. Ada seseorang yang telah memesan empat pasang sepatu lukis. Dengan antusias, kubuat pesanan itu dengan sebaik-baiknya. Aku selalu berusaha agar sepatu lukis buatanku bagus hasilnya dan memuaskan pemesan. Karena aku berjanji akan menyelesaikannya hanya dalam waktu seminggu, aku pun rela mengerjakan sepatu-sepatu lukis itu hingga bergadang semalaman.

Tapi apakah yang terjadi? Setelah sepatu-sepatu itu selesai kubuat, lama sang pemesan tak memberi kabar. Aku tak akan mengirim sepatu lukis pesanannya itu  sebelum ia mentransfer uang pembayarannya. Namun ia tak juga mentransfer uang pembayaran sampai berbulan-bulan kemudian. Dan ternyata ia membatalkan pesanan.

Aku sempat merasa sangat kecewa karena merasa hasil kerja kerasku sia-sia. Pengalaman ini memberiku pelajaran, bahwa memang dalam usaha online, kita harus bertindak tegas. Untuk pesanan selanjutnya, aku selalu mengingatkan kepada pemesan agar mentransfer terlebih dahulu harga sepatu yang ingin dipesan, barulah nanti pesanan aku kerjakan. Jika sudah dibayar, bekerja seharian tanpa berhenti pun aku rela. Aku pasti akan memberikan hasil yang terbaik.

Pernah juga terjadi sepatu yang dipesan seorang konsumen ternyata kebesaran, sehingga aku harus melukis ulang gambar yang sama di sepatu lain. Kendala juga pernah muncul dari pengadaan bahan baku. Beberapa kali aku terpaksa berganti supplier, karena mereka mengecewakan dan merugikan aku, seringkali barang yang dikirimkan padaku tak sesuai dengan yang aku pesan. Sampai akhirnya aku memutuskan membeli sendiri bahan baku langsung di pasar grosir. Lebih melelahkan, karena aku harus berbelanja sendiri ke Pasar Jatinegara untuk mendapatkan sepatu dengan harga grosir. Apalagi aku tak bisa mengendarai motor. Setiap saat berbelanja, aku berangkat pagi-pagi naik biskota. Biasanya aku hanya sanggup membawa sepatu sebanyak enam sampai tujuh pasang saja.




Pernah suatu kali aku nekat membeli sembilan pasang sekaligus. Semua sepatu yang kubeli kumasukkan ke dalam tas sangat besar. Kembali ke rumah aku tetap naik bis sambil membawa tas besar berisi sembilan pasang sepatu kanvas polos itu. Ternyata berat sekali. Lenganku seketika saja merasa kelelahan. Apalagi dari ujung jalan menuju rumahku, aku masih harus berjalan sejauh lebih dari enam ratus meter. Apesnya, begitu aku turun dari angkot, hujan deras mendadak muncul. Payung kecil yang kubawa tak mampu melindungiku dari terpaan air hujan yang sangat keras. Tapi aku tetap berjalan sambil menenteng tas berat itu. Kujadikan itu sebagai cobaan untuk menguatkan mental pantang menyerahku. Sesungguhnya dalam kesengsaraan, ada kenikmatan yang tersembunyi, tatkala segala jerih payah kita kelak membuahkan hasil. Walau rasanya lelah sekali membeli sendiri bahan baku langsung ke pusat grosir, tapi aku puas karena aku bisa memilih bahan baku yang aku butuhkan.

Aku juga mulai belajar membuat blog sebagai sarana untuk memperkenalkan karya sepatu lukisku. Pesanan semakin banyak. Bahkan ada beberapa yang ingin menjadi reseller. Aku tak bisa menerima semuanya, karena aku membuat sepatu-sepatu itu hanya sendirian. Semua kulakukan sendiri, mulai dari membeli bahan baku, melukisnya, mempromosikannya bahkan mengirimnya via titipan kilat. Aku memang merasa lebih nyaman untuk mengerjakan semuanya sendiri. Saat itu aku memutuskan baru menerima satu reseller saja. Hingga lebih dari setahun aku bekerja sama dengannya. Saat itu, kunikmati menjalankan usaha ini, sekaligus menekuni hobi.






Inilah beberapa karya lukisku. Alhamdulillah, pemesan selalu puas ^_^

Sampai kemudian aku mulai merasakan kemajuan usaha sepatu lukisku. Aku tak menyesal dengan keputusanku memilih berusaha mandiri. Dengan memiliki usaha sendiri, aku masih punya waktu dan kesempatan melakukan banyak hal menarik diluar pekerjaanku sehari-hari. Selain menekuni usaha sepatu lukisku ini, aku juga bisa kembali mengasah hobi menulisku. Keuntungan lain memiliki usaha sendiri di rumah, aku tak lagi terikat oleh jam kerja yang mengharuskan masuk kantor pukul setengah sembilan hingga pukul lima sore. Artinya aku tak perlu lagi berjibaku dalam kemacetan jalan raya Jakarta setiap jam sibuk pergi dan pulang kerja. Bila ingin bepergian pun aku tak perlu repot mengambil cuti karena aku bisa mengatur waktu kerjaku dengan fleksibel. Inilah asyiknya menjadi bos bagi diri sendiri.


Ada yang pesan gambar batik pun kuterima,
walau ternyata susah juga membatik dengan cat acrylic





Melukis logo-logo klub sepakbola ini adalah tantangan terberat

Pesanan gambar aktor Korea

Melukis aktor Korea pun bisa ^_^


Melukis Michael Jackson pun bisa ^_^

Seiring berjalannya waktu, ternyata sekarang ini kesempatan menulis semakin terbuka untukku. Passion terbesarku pun akhirnya beralih ke menulis. Walau sampai saat ini masih saja ada yang memesan sepatu lukis kepadaku, tetapi sayangnya aku belum mampu memenuhi.

Namun bagi teman-teman yang berminat membuka usaha melukis sepatu, semoga pengalamanku ini bisa menambah informasi, bagaimana lika-liku sebuah usaha. Memang berat pada awalnya, banyak tantangan yang harus dilalui, tapi jika kita berhasil melewati semuanya, maka kejayaan insya Allah akan digapai.

Semangat ya! ^_^

Kisah pengalamanku jatuh bangun membuka usaha sepatu lukis ini termuat dalam buku "Bye-Bye Office" terbitan MIC Publishing.



Namun kini, aku memilih menjadi penulis novel saja ... ^_^

Dan ini adalah salah satu mimpiku yang terwujud tahun ini. Akhirnya, novelku terbit di penerbit idamanku, Gramedia Pustaka Utama. "HATIKU MEMILIHMU" Koleksi yuuuk... ^_^




Sekarang, aku memutuskan menulis novel saja
Entah kapan aku akan melukis sepatu lagi ... ^_^

Rabu, 18 Desember 2013

Laugh at your job : Masakan daging palsu ...

Kali ini aku ingin berbagi pengalamanku saat bekerja di perusahaan ke 7.

Akhirnya ... aku kembali bekerja di sebuah konsultan desain arsitektur dan interior, Envirotect Consultant Design.

Kenangan tamasya ke Taman Safari bersama tim Envirotect...
Kangen teman-teman ^_^

Mendapat kesempatan bekerja di sebuah perusahaan konsultan desain arsitektur dan interior yang dimiliki orang asing ternyata cukup memberi banyak pengalaman penuh warna. Pemilik perusahaan itu adalah seorang warganegara Singapura. Tak biasa berbahasa Indonesia, hanya mampu berbahasa Inggris dan Mandarin. Mungkin sebuah keberuntungan jika kemudian aku bisa bekerja di perusahaan itu karena jelas-jelas aku tak paham bahasa Mandarin dan Bahasa Inggrisku pun pas-pasan.

Seminggu pertama aku bekerja, aku masih tenang-tenang saja. Meja di sebelah mejaku kosong. Kata temanku, itu adalah meja Pak Paul yang sedang mudik ke kampungnya. Aku membayangkan dia mudik ke salah satu pelosok kampung di Indonesia. Seminggu kemudian, barulah aku terkejut melihat rekan kerjaku yang akan duduk bersebelahan denganku itu. Sosoknya lumayan tinggi agak besar, berkulit putih, berwajah kebule-bulean. Ia tersenyum ketika melihatku. Sebelum duduk, ia bertanya.

Can you speak English?
Terbengong-bengonglah aku untuk sesaat. Lalu kujawab,“Little-little sih, i can.”
Ia mengangguk-angguk.
Good, good, because i can not speak Indonesian. I am from Philipine, just call me Paul.” katanya.

Ow, jelaslah sudah. Maka hari-hari selanjutnya aku harus membiasakan diri sering-sering mengobrol dalam bahasa Inggris patah-patah dengan si Paul. Apalagi ternyata dia hobi ngobrol. Mungkin karena di Jakarta ia tinggal hanya sendiri, tanpa keluarganya, maka aku dijadikannya sebagai tempat curhat apa saja. Cerita tentang dua anaknya yang sudah kuliah, tentang kota Manila yang dulu semacet Jakarta tapi sekarang tidak lagi semenjak ada MRT. Aku lebih sering mengangguk-angguk mengiyakan saja semua ceritanya walau kadang aku kurang paham maksudnya.

Ada satu lagi kisah lucu, ketika pada suatu hari aku memesan stiker nama dari temanku, si Paul tertarik ingin ikut memesan juga.



Ingat dulu banyak teman di Envirotect yang tertarik memesan stiker nama seperti ini ^_^


For my son, Kapin.” katanya.
Mulanya kupikir, nama orang Filipina lucu juga. Kapin. Hampir saja aku pesankan stiker bertuliskan nama “Kapin” , tapi untunglah ketika kuminta ia menulis kata pesanannya, ejaan nama anaknya yang benar adalah “Cavin”. Aku baru tahu kemudian, bahwa orang Filipina memang sering melafalkan huruf ‘f’ dan ‘v’ menjadi ‘p’.

Baru tiga bulan aku bekerja di sana ketika memasuki bulan Ramadan. Untuk menghormati anak buahnya yang mayoritas beragama Islam, Bosku mengadakan acara buka puasa bersama. Sebagai pegawai baru, tentu saja aku antusias menyambut acara buka bersama itu.

Meja rapat yang panjang diubah menjadi meja makan. Menjelang magrib, berbagai makanan mengundang selera tersaji di atas meja. Ada gulai ikan kakap, sate ayam, soto babat, mi goreng seafood, dendeng daging, ikan lele panggang bumbu manis tabur wijen.

Tajil juga tersedia, ada bakpao mungil, kue-kue tradisional, es buah. Sungguh semua mengundang selera. Semua pegawai yang berpuasa mau pun yang tak berpuasa telah berkumpul di sekeliling meja makan. Menjelang detik-detik azan magrib, bosku memberi sambutan, tentu saja dalam bahasa Inggris. Tapi Bosku itu rupanya keasyikan bicara sehingga azan magrib lewat beberapa menit, ia masih saja berbicara. Dan malangnya, tak ada yang berani menegur.

Lima belas menit sesudah azan magrib, barulah beliau selesai berpidato dan mepersilahkan kami makan. Langsung saja kami yang kelaparan menyerbu makanan yang tersedia. Tapi setelah aku mengunyah makanan itu, aku merasa ada yang aneh dengan rasa makanannya. Sate ayamnya terlalu manis, tepatnya, semua makanan terlalu manis.

“Rasa dagingnya aneh ya. Rasa ayamnya nggak seperti ayam biasanya,” bisikku pada seorang temanku yang telah lama bekerja di sana.
“Udah nyobain belum tuh soto babat?” tanya temanku itu.
Tentu saja semua makanan aku coba, soto babat, mi goreng seafood, gulai ikan kakap, dendeng daging, lele panggang.
“Ngomong-ngomong, semua daging ini halal kan ya? Kok rasanya nggak kayak daging yang biasa gue makan?” tanyaku pada temanku itu.
“Semua makanan ini dijamin halal, Rum!” jawab temanku.
“Yakin lo?”
“Ya iyalah! Secara semua ini daging palsu.”
“Daging palsu? Maksud lo? Ayamnya ayam tiren gitu? Babatnya bukan babat sapi?” tanyaku kebingungan.
“Ini semua sebenarnya bukan daging,” jawab temanku itu lagi.
“Hah? Masak sih? Waduh, kalo bukan daging apa dong? Dari karet atau dari plastik? Jangan nakut-nakutin nih, gue udah makan banyak!” seruku panik, karena semua makanan telah kucoba.

“Hehe, tenang aja Neng, nggak apa-apa. Semua daging ini daging buatan dari gluten, tepung terigu yang udah diolah sampai menyerupai daging gitu. Bos kita itu kan vegetarian, dia nggak makan daging, jadi kita juga harus ikutan deh nggak makan daging.”

Temanku menjelaskan.

“Oooh, gitu. Kirain gue daging palsu apaan,” jawabku lega sambil nyengir.
“Elo tau nggak, anjingnya aja vegetarian.” kata temanku lagi sambil asyik mengunyah sate ayam palsu.
“Hah?” sahutku takjub sambil geleng-geleng.

Aku ingat, bosku dan keluarganya memang vegetarian. Karena itu, inilah makanan yang mereka sajikan tiap kali mentarktir pegawainya saat buka puasa. Semua masakan vegetarian.

"Makanya gue sih sebenarnya nggak antusias kalau ada acara buka bersama di kantor. Dagingnya palsu semua. Biar gimana, tetap enakan yang asli," kata temanku lagi.

Aku hanya nyengir. Sebagai omnivora, aku menyetujui pendapat temanku. Tapi acara buka puasa bersama di kantorku itu cukup mengesankan. Setidaknya, aku jadi punya kesempatan mencicipi makanan vegetarian yang bentuknya benar-benar persis seperti daging asli.

Tapi ... benar kata temanku, aku tetap lebih suka sate ayam asli.

Maaf ya, ayam-ayam ... Hikssss


Senin, 02 Desember 2013

Laugh at Your Job : Mendadak Basah

Welcome Desember... bulan terakhir di tahun 2013..

Hm, kali ini aku mau cerita pengalaman lucu saat aku bekerja dulu... yuk baca ... ^_^




By : Arumi E.

Hidupku yang tadinya nyaman bekerja sebagai arsitek baru lulus di sebuah perusahaan konsultan desain kecil, terusik ketika Bos-ku mendadak punya rencana pensiun jadi arsitek dan ingin beralih profesi menjadi petani cabe. Ini sungguh-sungguh terjadi! Aku syok ketika mendengar niat Bos-ku itu.

Awalnya aku merasa nggak karuan. Baru kerja tiga bulan harus di PHK? Duh, cari kerja kan susah. Dengan rasa sedikit putus asa, kupandang wajah Bosku yang lumayan ganteng walau sudah setengah baya itu. Senyam-senyum berharap ada keajaiban yang akan membuat bos-ku itu nggak mem-PHK aku. Dan benar saja! Entah akibat senyum manisku yang berhasil menawan Bosku itu atau karena nasib baik sedang sudi mampir dalam kehidupanku yang waktu itu rasanya mendadak ruwet, aneh bin ajaib, Bos-ku itu menawarkan hal yang nggak aku sangka-sangka.

“Kamu mau kerja di pertanian cabe, di Mega Mendung?” tanya Bos-ku sambil memandangku dengan tatapan penuh keprihatinan dan kasihan.
“Hah? Gue kerja di pertanian cabe? Nggak salah nih? Bertahun-tahun gue belajar arsitektur kenapa malah dapet tawaran kerja jadi petani?” pikirku kaget sampai tersedak dalam hati.
“Kerja di pertanian cabe, Pak? Mm...kira-kira nanti tugas saya di sana apa, Pak? Nyangkul-nyangkul gitu nggak?” tanyaku antara ogah tapi mau. Bayanganku, kerja di pertanian berarti harus megang pacul dan ikut nyangkul.
“Kamu nggak perlu nyangkul lah Rum! Kamu kan bukan petani. Tugas kamu bikin peta. Nanti pohon-pohon cabe itu akan ditanam berdasarkan blok-bloknya. Blok A, B, C, D, E, dan seterusnya. Nah, tugas kamu menggambarkan blok-blok itu menjadi peta pertanian cabe dan mengatur petani-petani supaya membentuk lahan sesuai dengan peta yang kamu rencanakan.” Bos-ku menjelaskan panjang lebar sekaligus tinggi.

Singkat kata singkat cerita, setelah aku pikir bolak-balik, aku setuju dengan tawaran Bos-ku itu. Daripada di-PHK dan harus mulai cari kerja baru lagi, menjalani tes gambar autocad dan 3D max yang njlimet itu tapi belum tentu diterima. Lagipula berdasarkan penjelasan Bos-ku, tugasku nanti masih ada relevansinya dengan dunia arsitektur. Masih ada gambar-gambarnya walau yang kugambar nanti bukan rencana gedung melainkan rencana lahan pertanian cabe.

Di Mega Mendung, aku tinggal di Mess milik TNI-AL yang disewakan. Bangunan mess itu berlantai tiga. Terbuat dari struktur baja yang kokoh. Berdinding anyaman bambu artistik, berlantai papan, dan beratap asbes gelombang.

Kamarku dan Noni, sekretaris merangkap HRD, terletak di lantai tiga. Untuk menuju ke lantai tiga, tersedia tangga dari besi yang sangat curam dan hanya pas untuk satu orang. Untungnya, di lantai tiga itu juga tersedia kamar mandi sehingga kami nggak perlu naik-turun tangga curam itu jika hanya ingin ke kamar mandi. Karena hanya aku dan Noni perempuan yang tinggal di Mess itu, maka lantai tiga itu khusus untuk kami, laki-laki dilarang masuk. Semua pegawai laki-laki tinggal di lantai dua. Lantai paling bawah berfungsi sebagai tempat menyimpan barang-barang pertanian.

Di malam hari sepinya bukan main karena mess itu terletak di atas bukit yang jauh dari jalan raya Ciawi-Puncak juga jauh dari perkampungan penduduk. Hanya dikelilingi lahan kosong seluas sembilan hektar lebih yang nantinya direncanakan akan ditanami pohon cabe. Yang terdengar hanya suara jangkrik dan kadang auman serigala juga. *segitunya.*

Walau kerja di pertanian itu capek, tapi udara Mega Mendung yang adem dan sejuk membuatku dan Noni lumayan betah tinggal di sana. Apalagi lokasinya dekat puncak, kalau mau ke puncak tinggal naik angkot saja sebentar.

Pada suatu weekend, temanku Yuke berencana menginap di “mess”ku itu. Katanya dia ingin menikmati suasana di pertanian cabe. Aku oke saja. apalagi Yuke yang biasa tajir minta dijemput di swalayan Cipayung. Artinya, aku bakal ditraktir banyak cemilan, he...he...he...

“Lo ambil aja Rum apa yang elo suka. Gue traktir deh. Kasian gue liat elo makin item dan kurusan gara-gara kerja di pertanian.” kata Yuke setibanya aku dan Noni di swalayan itu.

Tanpa banyak tanya, segera saja dengan antusias, kumasukkan ke troli  makanan-makanan kesukaanku dan kebutuhan sehari-hari selama sebulan seperti sabun, odol, shampo, minyak goreng, mi instan, saos, kecap, kopi instan, kopi susu jahe instan, teh celup, (teh pelangsing sekalian mumpung ditraktir, hehehe, kalau beli sendiri ogah karena mahal) sampai troli itu penuh.

“Hah? banyak amat lo ngambil belanjaannya Rum?” tanya Yuke dengan mata terbelalak kaget melihatku mendorong troli yang penuh barang ke meja kasir.
“Elo tadi kan bilang gue boleh ambil apa aja yang gue suka, Yuk...” jawabku mengingatkan Yuke.
“Iya, tapi kira-kira lah, jatah lo dua ratus ribu aja nih.” kata Yuke.

Dengan setengah nggak rela, aku kurangi isi troli itu. But, anyway, aku tetap hepi karena mendapat stok cemilan, sabun, odol, shampo, deterjen, mi instan dan minyak goreng  buat sebulan.
Ketika melihat mess tempat kami tinggal itu, barulah Yuke syok.

“Lo tinggal di gubuk ini, Rum?” tanya Yuke yang biasa hidup enak di kota dengan fasilitas serba oke itu terheran-heran.
 “Enak aja dibilang gubuk. Rumah ini keren, Yuk. Gaya arsitektur jaman sekarang yang lagi tren, minimalis. Kalo lo mau tau gaya rumah minimalis kayak apa, ya kayak gini, Yuk. Percaya deh sama gue, secara gue kan arsitek! hehehehe...” jawabku membela diri dengan sedikit banyak membual.

Tinggal di tempat yang sepi dan gelap, membuat Yuke sedikit gelisah.  Yuke yang penakut mulai bertingkah. Kemana-mana minta diantar. Termasuk ke kamar mandi. Padahal kamar mandi nggak jauh dari kamar tidur.

“Rum, anterin gue pipis dong!” bisik Yuke sambil mengguncang-guncangkan tubuhku yang sedang asyik mimpi ketemu Keanu Reeves sampai terngorok-ngorok. Aku terpaksa bangun dan mengucek-ngucek mata. Menatap nanar ke arah jam weker yang terlihat samar karena gelap. Ampun, baru jam satu malam! Yuke nih, mengganggu saja!

“Perasaan gue tadi udah nganterin elo ke kamar mandi tiga kali. Masa sekarang pengen ke kamar mandi lagi sih, Yuk?” protesku.
“Abis dingin banget sih, gue jadi pengen pipis mulu.” jawab Yuke menunjukkan wajah mohon pengertian.
Dengan sangat terpaksa, aku antar Yuke ke kamar mandi yang cuma berjarak tiga meter dari kamar tidur.
“Puas-puasin pipisnya, jangan sampe ntar pengen pipis lagi.” kataku setengah menyindir.

Selesai Yuke pipis, aku dan Yuke meneruskan tidur. Noni masih asyik mimpi sambil ngorok. Rasanya selama beberapa saat aku tidur dengan damai disertai mimpi lanjutanku nge-date bareng Keanu Reeves.

Sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba saja dalam mimpiku itu gelombang tsunami menerpaku dan membuatku basah kuyup. Aku berteriak-teriak minta tolong karena hampir tenggelam dalam gelombang.
Aku terbangun karena rasa basah itu hangat dan terdengar bunyi gemericik air.... Kasur palembang tempat kami tidur berhimpitan bertiga benar-benar basah. Pakaianku juga benar-benar basah. Ternyata basah ini nyata, bukan mimpi. Tapi darimana asal basah ini? Di sini nggak ada gelombang tsunami, hujan gerimis pun nggak.

Aku melihat Yuke yang tidur di tengah di antara aku dan Noni masih merem sambil mengisap jempol tangan kirinya. Bajunya paling basah. Aku baru sadar gemericik air itu berasal dari Yuke.

“Yuke! Bangun oi! Elo ngompol ya?” teriakku setengah kesal ketika sadar apa yang terjadi sambil menggoyang keras tubuh Yuke.

Yuke langsung melek. Dia bangkit dan duduk.

“He...he...sori Rum. Abis gue nggak tahan pengen pipis lagi. Pengen bangunin elo takut elo marah gue bangunin terus.” jawab Yuke sambil nyengir dengan ekspresi wajah tak bersalah.
“Udah gitu tega banget lagi lo ngompolnya banyak banget sampe ngebasahin gue begini. Kirain gue kebanjiran!” protesku keras.

Yuke terus nyengir sambil mengedip-kedipkan matanya.

“Abis pipis semalem, gue minum isotonik sebotol.” sahut Yuke cuek.
Aku kesal, nggak menyangka Yuke yang sudah sebesar itu masih nekat ngompol. Ngompolin aku pula!

“Iiiyyy!!” teriakku dan Noni yang juga terbangun mendadak kompak, geli banget membayangkan badanku terkontaminasi pipis Yuke. Aku dan Noni berebut dulu-duluan ke kamar mandi ingin selekasnya membasuh tubuh. Jika perlu mandi hadas besar sekalian. Nggak peduli air di waktu menjelang subuh itu sedingin air dalam kulkas.

“Yukeee!! Sumpah, gue nggak mau elo nginep di mess gue lagi! Nggak peduli andai elo nraktir gue belanjaan sampe sepuluh troli! Gue tetep ogah tidur di sebelah lo lagi!” janji gue yakin.

Pagi itu aku memaksa Yuke menggotong kasur palembang kami ke luar kamar dan menjemurnya di pagar selasar lantai tiga dekat tangga. Kusiram sekalian bekas ompol Yuke dan kusikat dengan rinso. Para petani yang mulai berdatangan terheran-heran melihat kami mencuci kasur.

“Kasurnya kenapa Mbak, kok dicuci segala?” tanya salah satu petani itu.
“Kasurnya kepipisan tikus nih! Bau pesing!” jawabku asal sambil melirik ke arah Yuke yang tampangnya mendadak manyun.


Senin, 04 November 2013

Sengsara Membawa Nikmat

Desa Janten, Temon, Kulon Progo, Jogjakarta
Tak jauh dari Pegunungan Menoreh


By : Arumi E

Kali ini aku ingin berbagi pengalamanku di masa lalu, saat pernah putus asa mengais rezeki. Tapi aku pantang menyerah. Dan semangat terus maju akhirnya berbuah manis.

Benarlah kata pepatah, hidup itu memang ibarat roda yang berputar. Kadang kita berada di atas, tapi seringkali kita berada di putaran terbawah. Nasib seperti itu pun pernah kurasakan. Aku adalah sarjana lulusan arsitektur, yang setelah melamar ke sana-sini, akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan Konsultan Desain Arsitektur. Bukan sebuah perusahaan besar, tapi aku merasa bersyukur, karena tak mudah untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan keahlian dan minat kita. Ini bukan pekerjaan pertamaku setelah lulus kuliah, tapi aku berharap ini lebih baik dari sebelumnya.

Dengan penuh semangat kukerjakan semua tugas yang menjadi tanggungjawabku. Hingga memasuki bulan kelima aku bekerja di sana, aku merasa semakin nyaman dan semakin paham dengan tugas-tugasku. Walau aku harus kerja rangkap, selain sebagai arsitek yang merancang desain bangunan yang kebanyakan rumah mewah berlantai dua, sekaligus juga aku bekerja sebagai drafter yang mengerjakan semua gambar kerja untuk bangunan yang aku desain itu. Karena arsitek di kantor tempatku bekerja itu memang hanya aku dan Bosku.

Aku jalani itu semua sebagai salah satu proses belajar untuk menempa kemampuanku. Aku tak mengeluh. Barulah memasuki bulan keenam, aku mengalami ujian. Aku mendengar kabar, Bosku ingin menutup kantornya itu dan beralih profesi menjadi petani cabai. Hatiku berdebar, merasa tak berdaya, jika perusahaan Bosku itu ditutup, maka sudah bisa dipastikan, aku akan kembali menganggur. Pasti tak mudah untuk mendapatkan pekerjaan baru. Aku pasrah, menangis dalam hati. Apalagi ketika Bos memanggilku dan membenarkan kabar itu. Aku tertunduk lesu.

Namun sebelum aku pergi, Bos menawarkan padaku pekerjaan di pertanian cabai miliknya di Mega Mendung. Aku terperangah, ah, sungguhkah itu? Tapi aku hanya tahu tentang ilmu arsitektur, sedikitpun aku tak tahu tentang pertanian. Bosku malah memberi nasihat, bahwa sebaiknya mumpung aku masih muda, aku pelajari semua, jangan hanya terpaku pada satu bidang saja. Setelah aku pertimbangkan, maka aku terima tawaran Bosku itu. Aku pikir, bekerja apa saja asalkan halal, masih jauh lebih baik daripada tak bekerja.

Dimulailah petualanganku bekerja sebagai pengawas pertanian cabai. Sebenarnya hampir tak ada bedanya mengawasi pembangunan gedung dengan mengawasi pertanian cabai. Sama-sama kerja lapangan yang terpanggang di bawah terik sinar matahari. Tapi kali itu aku bertanggung jawab terhadap mahluk hidup, ratusan bibit cabai yang masih rapuh. Salah sedikit saja, maka bibit-bibit cabai yang masih belia itu terancam mati.

Aku tinggal di mess yang tersedia di lahan pertanian itu. Dan diperbolehkan pulang sebulan sekali. Sekuat tenaga aku berusaha beradaptasi dengan pekerjaan di pertanian. Secara kilat aku harus belajar cara menyemai bibit cabai dan cara menanamnya di lahan pertanian. Setelah dua bulan bekerja di pertanian itu, aku menyerah dan memutuskan berhenti. Bukan maksudku menolak rejeki pekerjaan itu, tapi aku masih ingin mengejar mimpiku menjadi seorang arsitek.

Aku bertekad akan berusaha mencari pekerjaan lain yang lebih sesuai dengan minat dan keahlianku. Aku pun pamit kepada Bosku dan rekan-rekan kerjaku. Walau bagaimana pun, tak akan kulupakan kenangan bekerja di pertanian, yang tak hanya penuh kerja keras, tapi juga ada suka.

(Pengalamanku bekerja di pertanian cabai ini menjadi inspirasi novel karyaku yang akan terbit bulan Mei 2014. Tunggu ya ... ^_^. Bukankah ternyata, pekerjaan apa pun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh tak hanya menjadi sumber rezeki pada saat itu, tapi bisa jadi akan memberi rezeki di saat kemudian)

Kembali ke Jakarta, kembali aku berkutat dalam perjuangan mendapatkan pekerjaan baru. Berlembar-lembar lamaran aku kirimkan ke banyak perusahaan. Beberapa memanggilku untuk wawancara dan tes gambar, tapi satu pun belum ada yang menerimaku sebagai pegawai. Hingga akhirnya aku mendapat ide ingin mencari kerja di Jogjakarta. Kebetulan, Mbah Putriku tinggal di sana.

Kubayangkan nyamannya tinggal di Jogja, pasti tak sebising dan sepadat Jakarta. Tentunya tak akan membuat stress. Kusampaikan niatku itu kepada Bapak dan Ibuku. Bapak dan Ibu menyerahkan keputusan kepadaku, karena aku dianggap telah dewasa, pantas memutuskan sendiri jalan hidupku. Berangkatlah aku ke Jogja, tepatnya, ke Desa Janten, Kulon Progo, berbekal tabungan selama aku bekerja sebelumnya.

Mbah Putri, Bulik dan dua sepupuku mendukung niatku untuk tinggal bersama mereka. Kehadiranku akan membuat rumah Mbah Putri yang lumayan luas menjadi semakin ramai. Rumah Mbahku itu cukup jauh dari kota Jogja, berjarak sekitar 45 km, satu jam perjalanan dengan bus antar kota.

Rumah peninggalan Mbah Putri di Desa Janten. Masih sejuk, banyak pepohonan.
Sekarang Mbahku sudah nggak ada ...

Mulailah aku membeli surat kabar lokal setiap hari, mencari info lowongan pekerjaan. Jarang sekali ada lowongan untuk lulusan Arsitektur di Jogja saat itu. Kebanyakan lowongan itu minta pelamar datang langsung.

Suatu hari di surat kabar itu kutemukan iklan lowongan kerja sebagai arsitek sekaligus drafter. Kali itu pun pelamar diminta datang langsung. Jam enam pagi aku berangkat ke kota Jogja membawa satu berkas surat lamaran. Setelah berkali-kali nyasar, tepat jam sembilan pagi aku sampai di kantor developer yang membuka lowongan itu. Aku menunggu cukup lama, sampai akhirnya tiba giliranku menghadap bagian personalia (HRD). Aku masuk dan memberi salam dengan sopan Aku dipersilakan duduk. Pak HRD itu membolak-balik berkas lamaranku.

“Kamu lulusan Jakarta?” tanyanya dengan pandangan heran.
“Benar, Pak.” jawabku sopan.
“Kenapa kamu melamar kerja di Jogja?” tanyanya lagi.
Aku agak bingung memikirkan jawabannya. Kenapa ya?
“Karena Mbah Putri saya tinggal di Jogja, Pak. Saya ingin menemani beliau.” jawabku sekenanya.
“Kamu aneh, lulusan Jogja berebut mencari kerja di Jakarta, eh, kamu lulusan Jakarta malah cari kerja di Jogja. Di sini gajinya kecil loh.” kata Pak HRD itu.

Ah, aku tidak minta gaji besar, bagiku yang penting mendapatkan pekerjaan. Namun tetap saja hingga berhari-hari kemudian aku tak juga mendapat panggilan. Tak putus asa, kucari lowongan lain. Kudatangi satu persatu. Sendirian aku menjelajahi Kota Jogja, berkali-kali aku nyasar, tapi aku tak menyerah. Setiap hari aku berangkat dari Desa Janten pukul enam pagi. Pukul 5 sore, aku harus segera pulang, karena bus dari kota Jogja yang menuju Desa Janten hanya beroperasi hingga pukul 5 sore.

Pernah aku terlambat, pukul 6 sore baru beranjak pulang. Terpaksa aku naik bus antar kota jurusan Purworejo. Aku turun di jalan masuk Desa Janten dan harus berjalan kaki sepanjang satu kilo meter untuk sampai di rumah Mbahku. Langit sudah gelap, waktu menunjukkan pukul 7 malam. Sepanjang jalan itu tak ada satu pun lampu jalan yang terpasang. Aku hanya mengandalkan cahaya dari sepeda atau motor penduduk desa yang kebetulan lewat. Tapi sedikitpun aku tak takut. Aku berjalan perlahan, menikmati suasana saat itu. Kurasakan sengsara itu membawa nikmat, bukankah aku masih diberi kesempatan menghirup udara desa yang segar dan mendengarkan suara jangkrik yang bersahut-sahutan? Bukankah itu anuegrah?

Tak terasa, dua bulan sudah aku mengadu nasib di Jogja. Sudah begitu banyak kantor yang kudatangi untuk melamar pekerjaan. Tabunganku mulai menipis. Tapi aku belum berhasil mendapat pekerjaan. Aku harus pulang, aku tak mau membebani Mbah Putri dan Bulikku. Terpaksa aku pamit dan kembali ke Jakarta. Ah, ternyata mencari pekerjaan di kota Jogja juga tak mudah.

Sesampai di Jakarta aku kembali kebingungan, uang tabunganku tinggal dua ratus ribu rupiah. Aku menangis tak berdaya, tak tahu apalagi yang harus kuperbuat. Aku pantang meminta ongkos dari orangtuaku. Bagiku, sudah cukup mereka bekerja keras membiayaiku sekolah hingga lulus Sarjana. Setelah itu, aku harus mampu berusaha memenuhi kebutuhan hidupku sendiri. Walau aku masih tinggal bersama orangtuaku, aku tak ingin membebani mereka.

Aku bertanya-tanya, apakah keputusanku berhenti bekerja di pertanian dulu adalah suatu kesalahan? Artinya aku menolak rejeki? Aku mohon ampun kepada Allah, tahajud setiap malam, berdoa memohon dibukakan jalan. Tak sengaja, kudengar lagu Opick featuring Melly Goeslaw berjudul: TAKDIR

Dihempas gelombang, dilemparkan angin
Sekisah kubersedih kubahagia
Di indah dunia yang berakhir sunyi
Langkah kaki di dalam rencana-Nya
Semua berjalan dalam kehendak-Nya
Nafas, hidup, cinta dan segalanya
Dan tertakdir menjalani segala kehendak-Mu, ya Robbi
Kuberserah, kuberpasrah hanya kepada-Mu, ya Robbi
Bila mungkin ada luka, coba tersenyumlah
Bila mungkin tawa, coba bersabarlah
Karena air mata tak abadi
Akan hilang dan berganti

Hm, menyejukkan hati. Lirik lagu yang menyentuh dan melodinya yang syahdu, menjadi Theme Song hidupku saat itu. Semua berjalan dalam kehendak-Nya. Ya, aku seperti kembali diingatkan akan Firman Allah: Sesudah kesulitan akan datang kemudahan. Aku tak akan berputus asa. Aku yakin Allah akan menepati janji-Nya.

Beberapa minggu kemudian, aku mendapat panggilan dari bank tempat aku menabung, mereka menyampaikan bahwa aku memenangkan undian mendapat hadiah tabungan sebesar 2.5 juta rupiah. Rasanya aku tak percaya, tabunganku yang hanya dua ratus ribu rupiah bisa memenangkan undian? Tapi itu kenyataan, aku takjub ketika melihat buku tabunganku, saldoku bertambah banyak. Aku mengucap syukur yang tiada terkira, apalagi ini namanya jika bukan pertolongan Allah secara langsung? Dengan uang itu, aku dapat membiayai usahaku mencari pekerjaan baru.

Setelah sebulan berusaha mencari kerja ke sana-sini, akhirnya aku diterima bekerja di sebuah Konsultan Desain Arsitektur dengan gaji dua kali lipat dari gaji yang pernah aku dapatkan sebelumnya. Pekerjaanku juga meningkat, tak lagi hanya mendesain rumah tinggal, kantorku yang baru itu menangani proyek pembangunan gedung-gedung pemerintahan. Membuatku bangga karena ikut terlibat dalam proses mendesain renovasi gedung-gedung yang cukup penting, salah satunya adalah Gedung Sekretariat Negara. Resume-ku pun menjadi jauh lebih baik.

Sungguh luar biasa pertolongan Allah.

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". 

Al Qur'an surat Ghâfir ayat 60

Note : 
Ini baru sepenggal kisah pengalamanku berjuang mengais rezeki. Setelah ini masih banyak hal lainnya yang aku alami, sampai akhirnya kini aku memutuskan menjadi penulis novel ^_^

Dan ... terbitnya novel baruku di Gramedia Pustaka Utama bulan Mei 2014 semakin memantapkanku untuk berkarir sebagai penulis. Aku senang sekali setiap kali mendapat respon dari pembaca yang menyukai tulisanku. Buat yang hobi membaca kisah romantis, yuuuuk, koleksi novel terbaruku : 

"HATIKU MEMILIHMU"


Selasa, 29 Oktober 2013

Asyiknya mendapat penghasilan dari hobi

Sketsa-ku


Ya, sejak sekolah dasar aku hobi menggambar dan mengarang. Bahasa Indonesia dan Seni Rupa adalah dua mata pelajaran yang paling aku suka. Kemudian aku memadukan kedua hobiku itu dengan membuat komik. Di sela-sela mengerjakan PR matematika atau pelajaran lainnya, aku malah menggambar. tentu saja menggambar saat waktunya mengerjakan PR ini kulakukan diam-diam jangan sampai ketahuan ibuku.

Sketsa-ku juga ^_^


Semakin lama, keahlian menggambarku semakin baik. Hingga akhirnya selepas SMA, aku memutuskan kuliah di jurusan arsitektur. Kuliah yang menyenangkan. Karena banyak sekali tugas menggambar sesuai dengan hobiku, walau aku sempat merasa minder. Saat SD, SMP dan SMA hasil karya seni rupaku menjadi yang terbaik. Namun saat berkumpul dengan sesama mahasiswa-mahasiswi yang semuanya pandai menggambar, ternyata keahlian menggambarku belum ada apa-apanya. Apalagi di jurusan arsitektur, kami tidak hanya dituntut mampu menggambar dengan hasil yang bagus, juga harus mampu membuat konsep rancangan bangunan dengan baik. Belum lagi harus menguasai matematika, fisika bangunan dan penghitungan struktur. Huft, inilah yang membuatku sempat ketar-ketir semasa kuliah. Walau mata kuliah terberat tentu saja Perencanaan Arsitektur dan ujian akhir.

Hasil rancanganku dengan 3D Max.
Nggak mahir menggambar dengan 3D Max
Walau lama kelamaan kuliah arsitektur terasa berat, akhirnya aku berhasil lulus juga sesuai jadwal. Sesudah lulus, tak mudah mendapatkan pekerjaan sebagai arsitek. Aku harus terdampar dulu di sebuah perusahaan kontraktor pertambangan emas Pongkor. Seminggu sekali aku harus cek lokasi ke Gunung Pongkor, Leuwiliang, Bogor.  Di sana hanya aku satu-satunya yang arsitek. Aku sering diledek kesasar. Karena aku dikelilingi insinyur-insinyur sipil dan pertambangan.

Tapi kujalani saja pekerjaanku itu dengan senang hati. Kuanggap salah satu bentuk mendapat pengalaman yang belum tentu akan dialami calon-calon arsitek lainnya. Sampai kemudian aku merasa petualanganku di pertambangan emas ANTAM itu sudah saatnya diakhiri.

Kemudian aku mencari pengalaman lain. Hingga merasakan menjadi arsitek sekaligus drafter di sebuah perusahaan desain kecil-kecilan. Sungguh-sungguh kecil-kecilan karena proyek-proyeknya pun kecil-kecil. Seputar renovasi rumah. Bosan di sini, aku pindah ke perusahaan konsultan desain arsitektur lainnya yang kuharap lebih baik dari sebelumnya. Tapi ternyata siapa duga, baru tujuh bulan bekerja di sana, bosku mendadak berubah pikiran ingin menjadi petani cabai. Terkejut, tapi aku tak bisa mengelak dari kenyataan ini. Pilihanku hanya dua, berhenti bekerja atau tetap bekerja sebagai pengawas pertanian cabai. Aku tak punya pilihan lain, saat itu aku tahu, tidak mudah mendapat pekerjaan baru. Jadilah aku terdampar di pertanian cabai di daerah Megamendung selama tiga bulan.

Aku tidak menyesali pengalamanku di pertanian cabai itu. Banyak sekali kejadian seru yang kualami di sana. Malah menjadi inspirasi sebuah novel yang akan terbit bulan Mei 2014 nanti. Hm, diam-diam aku mulai memikirkan pengalamanku di pertambangan emas Gunung Pongkor untuk kujadikan novel juga ;)

Bosan berada di pertanian cabai, aku kembali ke Jakarta dan kembali mencari pekerjaan sebagai arsitek. Akhirnya keberuntungan berpihak padaku. Aku mendapatkan pekerjaan idamanku. Di sebuah perusahaan konsultan desain arsitektur yang lebih besar dari sebelumnya. Aku terlibat dalam proyek-proyek yang cukup besar. Kebanyakan proyek pembangunan gedung pemerintah. Seperti Gedung ESDM, gedung Sekretariat Negara, gedung-gedung pemerintahan di Jogja. Sungguh pengalaman seru yang menambah wawasan dan keahlianku. Dua tahun aku bekerja di sini saat satu hal membuatku memutuskan mundur.

Begini deh kira-kira rumah rancanganku.
Biasanya aku melukis manual, ini dengan 3D max.
Aku kurang mahir 3D max

Okay, kali berikutnya aku mencoba pengalaman bekerja di sebuah kontraktor terkenal. Aku mendapat kesempatan ikut terlibat dalam Proyek Mal Pluit Junction yang dikerjakan kontraktor Adhi Karya. Dulu, aku sangat mengidamkan bisa bekerja di Adhi Karya. Akhirnya berhasil juga. Tapi siapa sangka, bekerja di lapangan setiap hari ternyata berat juga. Jam kerja sangat panjang. Dari pukul 8.30 pagi hingga paling cepat pukul 10.00 malam. Seringkali aku pulang pukul 12.00 malam. Rasanya sesampai di rumah aku tak sanggup mengerjakan yang lain karena paginya harus segera bersiap berangkat ke proyek lagi.

Baru tiga bulan aku bekerja di proyek Adhi Karya itu, aku mendapat tawaran bekerja di Dunkin Donut. Satu hal yang membuatku akhirnya memutuskan menerima pekerjaan menjadi arsitek untuk divisi pengembangan bangunan Dunkin Donut, karena di sini jam pulang kerja hanya sampai pukul 6.00 sore. Asyik kan?

Sayangnya, di Dunkin Donut pun aku tak bertahan lama. Hanya enam bulan, kemudian aku pindah ke perusahaan Konsultan arsitektur lagi, Envirotec. Ini konsultan desain yang mengerjakan desain Kota Casablanca. Lumayan, aku pernah ikutan terlibat membuat gambar kerjanya ^_^

Ya, ya ... banyak sekali pengalaman yang sudah kudapat. Hingga tiba-tiba saja aku merasa bosan menjadi pegawai dan bosan menjadi arsitek. Ini gawat sekali. Bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkan keputusanku ini pada kedua orangtuaku? Tapi rasanya memang aku sungguh-sungguh bosan ...

Pada saat yang bersamaan, perusahaan terakhirku terkena masalah. Aku pun terpaksa berhenti sekaligus aku berhenti mengirim surat lamaran ke perusahaan mana pun ... aku memutuskan ingin punya usaha sendiri ... keputusan nekat tapi tetap keukeuh kujalani.

Kulupakan ijazah arsitektur-ku, aku memutuskan membuka usaha membuat sepatu lukis. Yup, aku kembali pada hobi lamaku, menggambar.






Melukis ini saat ngefans sama Kang Ji Hwan ^_^


Inilah sebagian hasil sepatu lukis yang kulukis sendiri. Ternyata aku sudah melukis lebih dari 200 sepatu. Alhamdulillah, pembeli sepatu-sepatuku mengaku puas dengan hasil lukisanku. Walau pun usaha melukis sepatu ini juga sempat mengalami tantangan berat berliku yang hampir membuatku putus asa. Tapi karena aku suka melukis, maka aku terus melukis.

Sambil sibuk bekerja di bidang yang berhubungan dengan arsitektur, aku tetap menulis. Cerpen pertamaku dimuat di majalah remaja tahun 2005. Sejak itu menulis dan menggambar menjadi dua hal yang kukerjakan seiring sejalan. Bahkan setelah aku sibuk merintis usaha sepatu lukisku, aku tetap menulis.

Ah, sampai kemudian karena tantangan menulis sebuah novel membuatku berhenti melukis ...

Ya, setelah novel pertamaku "Saranghaeyo" terbit, aku tidak bisa berhenti menulis. Aku menulis terus sejak akhir tahun 2010 hingga sekarang. Sampai kemudian terbit novel-novelku selanjutnya, Four Seasons Of Love, Sweet Sonata, Sakura Wish, Cinta Bersemi di Putih Abu-Abu, Cinta yang Sempurna, Tahajud Cinta di Kota New York, Jojoba, Amsterdam Ik Hou Van Je, Heart Latte, Longest Love Letter ...

Dan selanjutnya akan terbit novel-novelku yang lain. Sampai tahun depan aku berencana menulis. Entah kapan aku akan melukis lagi. Kesibukan menulis membuatku tak sempat lagi memenuhi pesanan-pesanan melukis sepatu yang masih kerapkali datang.

Kali ini aku memilih menekuni hobiku yang satu lagi, menulis. Saat ini aku sangat menikmati pekerjaanku yang tidak tunduk pada bos mana pun. Aku bekerja dengan aturanku sendiri selain aturan yang telah ditentukan penerbit karyaku.

Aku mengerjakan hobi sekaligus mendapat uang dari hobiku ini. Asyik kan?

How wonderful life ... ^_^

Yuk, teman-teman, jangan putus asa bekerja keras, terus berusaha mencapai cita-cita. Jangan ragu mencari apa sesungguhnya passion-mu, yang akan membuatmu bergairah menjalani hari-harimu sekaligus terus menghasilkan karya.

Di sela-sela menulis, terkadang aku iseng bikin sketsa. Menggambar tetap deh nggak bisa ditinggalkan :)

Lukisanku untuk lomba ilustrasi majalah Story. Nggak menang sih ^_^

Untuk ilustrasi buku anak ^_^

Ehm ...
Saat ngefans sama Spiderman ^_^
Nah, kalau sekarang, aku lebih fokus menjadi penulis novel. Ini beberapa novel dan bukuku yang sudah terbit. Ada yang diterbitkan Zettu, DeTeens, Grasindo dan Adibintang. Tahun ini akan ada beberapa novelku yang terbit di penerbit idamanku. Tunggu kabar selanjutnya yaaa ^_^

Novelku yang sudah terbit ^_^

My books ^_^


~ oOo ~