Senin, 04 November 2013

Sengsara Membawa Nikmat

Desa Janten, Temon, Kulon Progo, Jogjakarta
Tak jauh dari Pegunungan Menoreh


By : Arumi E

Kali ini aku ingin berbagi pengalamanku di masa lalu, saat pernah putus asa mengais rezeki. Tapi aku pantang menyerah. Dan semangat terus maju akhirnya berbuah manis.

Benarlah kata pepatah, hidup itu memang ibarat roda yang berputar. Kadang kita berada di atas, tapi seringkali kita berada di putaran terbawah. Nasib seperti itu pun pernah kurasakan. Aku adalah sarjana lulusan arsitektur, yang setelah melamar ke sana-sini, akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan Konsultan Desain Arsitektur. Bukan sebuah perusahaan besar, tapi aku merasa bersyukur, karena tak mudah untuk mendapatkan sebuah pekerjaan yang benar-benar sesuai dengan keahlian dan minat kita. Ini bukan pekerjaan pertamaku setelah lulus kuliah, tapi aku berharap ini lebih baik dari sebelumnya.

Dengan penuh semangat kukerjakan semua tugas yang menjadi tanggungjawabku. Hingga memasuki bulan kelima aku bekerja di sana, aku merasa semakin nyaman dan semakin paham dengan tugas-tugasku. Walau aku harus kerja rangkap, selain sebagai arsitek yang merancang desain bangunan yang kebanyakan rumah mewah berlantai dua, sekaligus juga aku bekerja sebagai drafter yang mengerjakan semua gambar kerja untuk bangunan yang aku desain itu. Karena arsitek di kantor tempatku bekerja itu memang hanya aku dan Bosku.

Aku jalani itu semua sebagai salah satu proses belajar untuk menempa kemampuanku. Aku tak mengeluh. Barulah memasuki bulan keenam, aku mengalami ujian. Aku mendengar kabar, Bosku ingin menutup kantornya itu dan beralih profesi menjadi petani cabai. Hatiku berdebar, merasa tak berdaya, jika perusahaan Bosku itu ditutup, maka sudah bisa dipastikan, aku akan kembali menganggur. Pasti tak mudah untuk mendapatkan pekerjaan baru. Aku pasrah, menangis dalam hati. Apalagi ketika Bos memanggilku dan membenarkan kabar itu. Aku tertunduk lesu.

Namun sebelum aku pergi, Bos menawarkan padaku pekerjaan di pertanian cabai miliknya di Mega Mendung. Aku terperangah, ah, sungguhkah itu? Tapi aku hanya tahu tentang ilmu arsitektur, sedikitpun aku tak tahu tentang pertanian. Bosku malah memberi nasihat, bahwa sebaiknya mumpung aku masih muda, aku pelajari semua, jangan hanya terpaku pada satu bidang saja. Setelah aku pertimbangkan, maka aku terima tawaran Bosku itu. Aku pikir, bekerja apa saja asalkan halal, masih jauh lebih baik daripada tak bekerja.

Dimulailah petualanganku bekerja sebagai pengawas pertanian cabai. Sebenarnya hampir tak ada bedanya mengawasi pembangunan gedung dengan mengawasi pertanian cabai. Sama-sama kerja lapangan yang terpanggang di bawah terik sinar matahari. Tapi kali itu aku bertanggung jawab terhadap mahluk hidup, ratusan bibit cabai yang masih rapuh. Salah sedikit saja, maka bibit-bibit cabai yang masih belia itu terancam mati.

Aku tinggal di mess yang tersedia di lahan pertanian itu. Dan diperbolehkan pulang sebulan sekali. Sekuat tenaga aku berusaha beradaptasi dengan pekerjaan di pertanian. Secara kilat aku harus belajar cara menyemai bibit cabai dan cara menanamnya di lahan pertanian. Setelah dua bulan bekerja di pertanian itu, aku menyerah dan memutuskan berhenti. Bukan maksudku menolak rejeki pekerjaan itu, tapi aku masih ingin mengejar mimpiku menjadi seorang arsitek.

Aku bertekad akan berusaha mencari pekerjaan lain yang lebih sesuai dengan minat dan keahlianku. Aku pun pamit kepada Bosku dan rekan-rekan kerjaku. Walau bagaimana pun, tak akan kulupakan kenangan bekerja di pertanian, yang tak hanya penuh kerja keras, tapi juga ada suka.

(Pengalamanku bekerja di pertanian cabai ini menjadi inspirasi novel karyaku yang akan terbit bulan Mei 2014. Tunggu ya ... ^_^. Bukankah ternyata, pekerjaan apa pun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh tak hanya menjadi sumber rezeki pada saat itu, tapi bisa jadi akan memberi rezeki di saat kemudian)

Kembali ke Jakarta, kembali aku berkutat dalam perjuangan mendapatkan pekerjaan baru. Berlembar-lembar lamaran aku kirimkan ke banyak perusahaan. Beberapa memanggilku untuk wawancara dan tes gambar, tapi satu pun belum ada yang menerimaku sebagai pegawai. Hingga akhirnya aku mendapat ide ingin mencari kerja di Jogjakarta. Kebetulan, Mbah Putriku tinggal di sana.

Kubayangkan nyamannya tinggal di Jogja, pasti tak sebising dan sepadat Jakarta. Tentunya tak akan membuat stress. Kusampaikan niatku itu kepada Bapak dan Ibuku. Bapak dan Ibu menyerahkan keputusan kepadaku, karena aku dianggap telah dewasa, pantas memutuskan sendiri jalan hidupku. Berangkatlah aku ke Jogja, tepatnya, ke Desa Janten, Kulon Progo, berbekal tabungan selama aku bekerja sebelumnya.

Mbah Putri, Bulik dan dua sepupuku mendukung niatku untuk tinggal bersama mereka. Kehadiranku akan membuat rumah Mbah Putri yang lumayan luas menjadi semakin ramai. Rumah Mbahku itu cukup jauh dari kota Jogja, berjarak sekitar 45 km, satu jam perjalanan dengan bus antar kota.

Rumah peninggalan Mbah Putri di Desa Janten. Masih sejuk, banyak pepohonan.
Sekarang Mbahku sudah nggak ada ...

Mulailah aku membeli surat kabar lokal setiap hari, mencari info lowongan pekerjaan. Jarang sekali ada lowongan untuk lulusan Arsitektur di Jogja saat itu. Kebanyakan lowongan itu minta pelamar datang langsung.

Suatu hari di surat kabar itu kutemukan iklan lowongan kerja sebagai arsitek sekaligus drafter. Kali itu pun pelamar diminta datang langsung. Jam enam pagi aku berangkat ke kota Jogja membawa satu berkas surat lamaran. Setelah berkali-kali nyasar, tepat jam sembilan pagi aku sampai di kantor developer yang membuka lowongan itu. Aku menunggu cukup lama, sampai akhirnya tiba giliranku menghadap bagian personalia (HRD). Aku masuk dan memberi salam dengan sopan Aku dipersilakan duduk. Pak HRD itu membolak-balik berkas lamaranku.

“Kamu lulusan Jakarta?” tanyanya dengan pandangan heran.
“Benar, Pak.” jawabku sopan.
“Kenapa kamu melamar kerja di Jogja?” tanyanya lagi.
Aku agak bingung memikirkan jawabannya. Kenapa ya?
“Karena Mbah Putri saya tinggal di Jogja, Pak. Saya ingin menemani beliau.” jawabku sekenanya.
“Kamu aneh, lulusan Jogja berebut mencari kerja di Jakarta, eh, kamu lulusan Jakarta malah cari kerja di Jogja. Di sini gajinya kecil loh.” kata Pak HRD itu.

Ah, aku tidak minta gaji besar, bagiku yang penting mendapatkan pekerjaan. Namun tetap saja hingga berhari-hari kemudian aku tak juga mendapat panggilan. Tak putus asa, kucari lowongan lain. Kudatangi satu persatu. Sendirian aku menjelajahi Kota Jogja, berkali-kali aku nyasar, tapi aku tak menyerah. Setiap hari aku berangkat dari Desa Janten pukul enam pagi. Pukul 5 sore, aku harus segera pulang, karena bus dari kota Jogja yang menuju Desa Janten hanya beroperasi hingga pukul 5 sore.

Pernah aku terlambat, pukul 6 sore baru beranjak pulang. Terpaksa aku naik bus antar kota jurusan Purworejo. Aku turun di jalan masuk Desa Janten dan harus berjalan kaki sepanjang satu kilo meter untuk sampai di rumah Mbahku. Langit sudah gelap, waktu menunjukkan pukul 7 malam. Sepanjang jalan itu tak ada satu pun lampu jalan yang terpasang. Aku hanya mengandalkan cahaya dari sepeda atau motor penduduk desa yang kebetulan lewat. Tapi sedikitpun aku tak takut. Aku berjalan perlahan, menikmati suasana saat itu. Kurasakan sengsara itu membawa nikmat, bukankah aku masih diberi kesempatan menghirup udara desa yang segar dan mendengarkan suara jangkrik yang bersahut-sahutan? Bukankah itu anuegrah?

Tak terasa, dua bulan sudah aku mengadu nasib di Jogja. Sudah begitu banyak kantor yang kudatangi untuk melamar pekerjaan. Tabunganku mulai menipis. Tapi aku belum berhasil mendapat pekerjaan. Aku harus pulang, aku tak mau membebani Mbah Putri dan Bulikku. Terpaksa aku pamit dan kembali ke Jakarta. Ah, ternyata mencari pekerjaan di kota Jogja juga tak mudah.

Sesampai di Jakarta aku kembali kebingungan, uang tabunganku tinggal dua ratus ribu rupiah. Aku menangis tak berdaya, tak tahu apalagi yang harus kuperbuat. Aku pantang meminta ongkos dari orangtuaku. Bagiku, sudah cukup mereka bekerja keras membiayaiku sekolah hingga lulus Sarjana. Setelah itu, aku harus mampu berusaha memenuhi kebutuhan hidupku sendiri. Walau aku masih tinggal bersama orangtuaku, aku tak ingin membebani mereka.

Aku bertanya-tanya, apakah keputusanku berhenti bekerja di pertanian dulu adalah suatu kesalahan? Artinya aku menolak rejeki? Aku mohon ampun kepada Allah, tahajud setiap malam, berdoa memohon dibukakan jalan. Tak sengaja, kudengar lagu Opick featuring Melly Goeslaw berjudul: TAKDIR

Dihempas gelombang, dilemparkan angin
Sekisah kubersedih kubahagia
Di indah dunia yang berakhir sunyi
Langkah kaki di dalam rencana-Nya
Semua berjalan dalam kehendak-Nya
Nafas, hidup, cinta dan segalanya
Dan tertakdir menjalani segala kehendak-Mu, ya Robbi
Kuberserah, kuberpasrah hanya kepada-Mu, ya Robbi
Bila mungkin ada luka, coba tersenyumlah
Bila mungkin tawa, coba bersabarlah
Karena air mata tak abadi
Akan hilang dan berganti

Hm, menyejukkan hati. Lirik lagu yang menyentuh dan melodinya yang syahdu, menjadi Theme Song hidupku saat itu. Semua berjalan dalam kehendak-Nya. Ya, aku seperti kembali diingatkan akan Firman Allah: Sesudah kesulitan akan datang kemudahan. Aku tak akan berputus asa. Aku yakin Allah akan menepati janji-Nya.

Beberapa minggu kemudian, aku mendapat panggilan dari bank tempat aku menabung, mereka menyampaikan bahwa aku memenangkan undian mendapat hadiah tabungan sebesar 2.5 juta rupiah. Rasanya aku tak percaya, tabunganku yang hanya dua ratus ribu rupiah bisa memenangkan undian? Tapi itu kenyataan, aku takjub ketika melihat buku tabunganku, saldoku bertambah banyak. Aku mengucap syukur yang tiada terkira, apalagi ini namanya jika bukan pertolongan Allah secara langsung? Dengan uang itu, aku dapat membiayai usahaku mencari pekerjaan baru.

Setelah sebulan berusaha mencari kerja ke sana-sini, akhirnya aku diterima bekerja di sebuah Konsultan Desain Arsitektur dengan gaji dua kali lipat dari gaji yang pernah aku dapatkan sebelumnya. Pekerjaanku juga meningkat, tak lagi hanya mendesain rumah tinggal, kantorku yang baru itu menangani proyek pembangunan gedung-gedung pemerintahan. Membuatku bangga karena ikut terlibat dalam proses mendesain renovasi gedung-gedung yang cukup penting, salah satunya adalah Gedung Sekretariat Negara. Resume-ku pun menjadi jauh lebih baik.

Sungguh luar biasa pertolongan Allah.

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". 

Al Qur'an surat Ghâfir ayat 60

Note : 
Ini baru sepenggal kisah pengalamanku berjuang mengais rezeki. Setelah ini masih banyak hal lainnya yang aku alami, sampai akhirnya kini aku memutuskan menjadi penulis novel ^_^

Dan ... terbitnya novel baruku di Gramedia Pustaka Utama bulan Mei 2014 semakin memantapkanku untuk berkarir sebagai penulis. Aku senang sekali setiap kali mendapat respon dari pembaca yang menyukai tulisanku. Buat yang hobi membaca kisah romantis, yuuuuk, koleksi novel terbaruku : 

"HATIKU MEMILIHMU"


2 komentar:

  1. Itu deket rumah aku kak, aku tinggal di Kulon Progo juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah, tetanggaan dong ya kita. penginnya sih akhir tahun ini ke sana, refreshing, sudah kangen Kulon Progo ... ^_^

      Hapus