Tampilkan posting dengan label Cerpenku. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label Cerpenku. Tampilkan semua posting

Jumat, 27 September 2013

Cerpen Arumi E : Anakku, Bukan Anakku

Photo from DaisyBlossomCreation


Anakku, Bukan Anakku

Sebuah #ceritapendek karya Arumi E


Baru saja aku mengempaskan tubuh penatku ke atas tempat tidurku yang empuk, Raka langsung melompat ke atas tubuhku.

“Ayah pulangnya lama!” teriak anak laki-laki berusia enam tahun itu.
“Hei, kok Raka masih bangun? Jam berapa ini?” ucapku berusaha tetap bersikap lembut padanya.

Walau sebenarnya aku lelah bukan main. Pekerjaan di kantor yang menumpuk membuatku harus lembur setiap hari dan pulang ke rumah hampir selalu larut malam.

“Ayah kan udah janji mau ajak Raka ke kota,” rajuk anak itu, tetap tak mau pindah dari atas tubuhku.

Aku menghela napas panjang. Aku ingat janjiku padanya. Janji itu kuucapkan sejak dua minggu yang lalu. Tapi hingga hari ini aku belum bisa menepatinya. Sesungguhnya aku tak ingin mengecewakannya. Anak itu adalah pelipur laraku. Walau aku tahu, dia bukan darah dagingku, tapi aku sudah ikut merawatnya sejak ia lahir.

“Nanti kalau pekerjaan ayah sudah selesai ya,” bujukku, lalu kuangkat tubuhnya, sambil aku bangun dari pembaringanku.
“Kapan, Yah? Besok?” desak Raka.
“Bukan besok, besok kan ayah masih harus kerja.”
“Hari minggu?” desak anak itu lagi memandangiku penuh harap.

Aku tak tega melihat wajah lugunya. Walau aku tak yakin hari minggu besok aku bisa memenuhi janjiku, aku tetap mengangguk untuk membuatnya diam.

“Asyik! Hari minggu jalan-jalan ke kota!” seru anak itu tampak gembira sekali.
“Dan sekarang Raka harus tidur. Mau ayah ceritakan dongeng sebelum tidur?”

Biasanya anak itu paling suka mendengarkan aku mendongeng untuknya sebelum tidur. Tapi ia terlalu gembira mendengar janjiku akan mengajaknya ke kota. Hingga ia menggeleng, lalu turun dari pangkuanku dan melesat pergi menyampaikan berita yang membuatnya gembira itu kepada ibuku.

Aku kembali menghela napas panjang. Aku lelah. Sangat lelah. Bukan hanya fisikku yang lelah, tetapi juga hatiku. Kalau saja…ah, aku malas mengenang masa lalu. Terlalu menyakitkan. Terkadang wajah Raka mengingatkan aku akan luka yang dibuat wanita itu di hatiku. Tapi aku tak pernah menyalahkan Raka. Raka pribadi yang lain, walau orangtua kandungnya membuatku muak.

Ini salahku sendiri…bukan, mungkin salah ayahku, entahlah. Berkali-kali aku ingin berhenti menyalahkan siapa pun atas nasib yang kualami sekarang, tetapi di saat pikiranku penat, perasaan kecewa itu muncul lagi.
Kubawa tubuh lelahku ke kamar mandi. Ingin kubasuh tubuh penat ini, berharap air malam yang sejuk akan membuat tubuhku terasa lebih segar dan membuat kepalaku yang mulai panas menjadi dingin.

***
“Kau masih mau menikah denganku walau pun aku sudah hamil? Kamu sudah gila ya?” ucap wanita itu dengan suara tinggi.

Heran, mengapa ia tidak malu mengucapkan kalimat itu dengan suara keras di tempat umum seperti ini? Walau pun ini di taman dan tak terlalu ramai orang, tetapi masih ada satu dua orang yang berlalu lalang. Aku melirik ke sekelilingku, memantau apakah ada yang mendengar suara keras wanita di hadapanku ini.

“Aku sudah berjanji pada ayahku, akan memenuhi permintaannya.”
“Kamu laki-laki lemah. Nggak punya prinsip. Mau saja diatur orangtua!” teriaknya lagi, tatapannya menyiratkan kebencian.

Aku mendengus menahan kesal. Aku tak peduli ia menyebutku apa. Aku hanya ingin berbakti kepada orangtua. Sesungguhnya aku juga tak sudi menikah dengan wanita ini. Di mataku dia bukan wanita yang baik. Hamil di luar nikah, dilakukan dengan sengaja bersama kekasihnya, sudah cukup bagiku untuk menilai wanita seperti apa dia. Tapi menikah dengannya adalah pesan terakhir ayahku. Dan demi memenuhi permintaan ayahku itu, aku sampai rela kehilangan kekasihku sendiri yang sesungguhnya lebih aku cintai.
Fania. Aku membiarkan kekasihku itu menangis saat kusampaikan niatku untuk meninggalkannya.

“Memangnya kau tak bisa menolak keinginan ayahmu itu, Dam?” tanya Fania di sela-sela isak tangisnya.

Aku menatapnya pilu. Tapi sekali lagi tak bisa berbuat apa-apa.

“Jika ayahku masih hidup, aku berani menentangnya, Fania. Tapi ayahku berpesan seperti itu di saat-saat akhir hidupnya. Apa yang bisa aku perbuat? Jika aku menolak, bukan saja mungkin aku dilaknat arwah mendiang ayahku, tapi itu artinya aku juga menyakiti hati ibuku yang sangat ingin aku menuruti permintaan terakhir ayahku.”

Sebut saja aku laki-laki pengecut, Fania. Sama seperti wanita satunya lagi yang menyebutku lelaki lemah, batinku.

Aku tahu Fania sangat terluka. Pasti ia kini sangat membenciku. Tapi lagi-lagi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tetap meninggalkannya, kemudian menikah dengan wanita yang dijodohkan denganku yang sudah hamil lebih dulu dengan pacarnya. Ya, sebut saja aku laki-laki bodoh. Aku memang bodoh. Karena ternyata pilihanku untuk menikahi wanita hamil itu memang sebuah keputusan salah. Yang kemudian hari aku sesali, hingga detik ini. Luka yang ditinggalkan wanita itu masih menganga. Aku memang tak pernah mencintainya.

Tapi anehnya, aku jatuh cinta pada Raka. Buah hati wanita itu dengan pacar bejatnya. Aku melihat wajah Raka saat baru saja menyapa dunia ini. Dan aku langsung jatuh hati padanya. Aku melihat kemurnian di wajah mungilnya. Sejak saat itu, aku tak ingin lepas dari Raka. Bahkan aku lebih memerhatikan Raka dibanding ibu kandungnya sendiri. Ayah kandungnya? Jangan tanya! Sekali pun ia tak pernah mengunjungi darah dagingnya itu! Tapi memang lebih baik begitu, karena jika laki-laki brengsek itu berani datang ke rumahku, aku akan menghajarnya hingga babak belur.

Aku menyayangi Raka seperti darah dagingku sendiri. Kupenuhi segala kebutuhannya. Bahkan aku rela bangun tengah malam untuk mengganti popoknya yang sudah penuh dan membuatnya berhenti menangis. Tak ada yang tahu bahwa Raka sesungguhnya bukan anakku. Termasuk ibu. Aku telah membuat perjanjian tak tertulis dengan ibunya Raka, ia boleh melakukan apa saja, asal jangan bilang siapa pun bahwa Raka sebenarnya bukan anakku. Bahkan di akte kelahiran Raka pun tertera namaku sebagai ayah kandungnya.

Wanita yang kemudian menjadi istriku itu setuju saja. Apalagi saat ia sadar, ayah kandung Raka tak peduli sedikit pun pada Raka. Lelaki brengsek itu pergi begitu saja dan tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Tapi aku salah. Laki-laki brengsek itu memang tak pernah muncul di hadapanku, tapi diam-diam ia menemui istriku dan mereka kembali bermain gila di belakangku. Aku tahu, bahkan memergoki mereka, saat tanpa sengaja melihat mereka berdua di sebuah hotel yang sama dengan hotel tempat aku mewakili kantorku mengikuti sebuah seminar.

Saat itu aku marah besar. Tentu saja aku marah. Sebenarnya aku bukan lelaki lemah, bukan juga pengecut, apalagi lelaki bodoh. Aku hampiri mereka berdua, dan aku damprat mereka di depan umum. Tak peduli ketika itu kami jadi bahan tontonan orang-orang yang lalu lalang di lobby hotel itu.

Sejak kejadian itu, sikapku pada istriku berubah. Aku tak mau lagi menyentuhnya. Sebelumnya aku memang jarang menyentuhnya. Kecuali jika hasrat memang sudah tak bisa dibendung lagi. Dan itu sama sekali bukan atas nama cinta. Tapi sesudah kejadian aku memergoki mereka berselingkuh di belakangku, aku tak sudi lagi menyentuh tubuh istriku. Jangankan menyentuhnya, bicara dengannya saja aku malas. Hingga akhirnya ia bosan sendiri hidup bersamaku dan menuntut cerai. Dengan senang hati kuturuti permintaannya dengan satu syarat, ia tak boleh membawa Raka. Ia setuju saja setelah aku membekalinya sejumlah uang. Ia sepertinya tak terlalu keberatan meninggalkan Raka. Aku yakin, aku pasti lebih mencintai Raka dibanding dia, ibu kandung Raka.

Aku menghela napas panjang. Membuka mataku sehabis mengenang kembali kejadian itu. Semua kejadian masa lalu itu terulang kembali secara berurutan dalam benakku, bagaikan film yang diputar ulang.
Dan kemudian nasib membawaku kembali ke sini. Setelah menceraikan wanita itu, aku memutuskan pulang ke desa, menemani ibu yang kini tinggal sendiri. Ibu senang sekali menyambut kedatanganku. Apalagi aku datang bersama Raka, anak yang ia kira cucunya. Ibu menyesali keputusanku bercerai. Tapi ibu maklum ketika kukemukakan alasanku bercerai karena aku semakin tak menemukan kecocokan dengan wanita itu. Kami jelas tak saling mencintai, sejak awal hingga akhir hubungan kami.
Aku melihat kesedihan menggelayut di wajah tua ibuku. Aku tak tega melihatnya. Tapi beginilah memang nasibku adanya.

“Ibu merasa bersalah pada Fania,” ucap ibu kemudian setelah terdiam agak lama.

Aku sedikit tersentak saat mendengar nama itu lagi. Fania. Apa kabarnya kini?

“Fania?” sahutku datar.
“Kau pasti masih ingat Fania kan, Damar?” tanya ibu tiba-tiba, matanya yang masih saja tampak teduh menatapku dalam-dalam. Aku menelan ludah.
“Tentu saja aku ingat, Bu. Bagaimana bisa aku melupakan Fania? Tapi sudah lama aku tak mendengar kabarnya. Aku takut mengganggunya jika aku mencarinya. Aku pasrah jika hingga kini dia masih membenciku.” jawabku, lalu menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi kayu di ruang tamu rumah ibuku.

Ibu tersenyum. “Besok ibu akan ke rumah orangtua Fania,”  ucap ibu lembut.

Aku kembali terkesiap. “Untuk apa, Bu?’” tanyaku cemas.

“Untuk apa? Kamu ini aneh, Damar. Kami tinggal di desa yang sama. Tentu saja kami masih sering saling mengunjungi. Walau pun kau tak jadi menikah dengan Fania, bukan berarti kami putus hubungan tetangga. Ibu akan ceritakan pada ibunya Fania kalau kamu sudah bercerai.”
“Tapi, untuk apa ibu memberitahu aku sudah bercerai?” tanyaku lagi sedikit keberatan dengan rencana ibuku.
“Hubungan kami masih baik. Kami biasa saling memberi kabar satu sama lain.” jawab ibu dengan suara tenang.

Lalu ibu bangkit dari duduknya dan meninggalkan aku sendiri merenungi rencana ibu itu. Aku baru tahu kemudian, ibu bukan hanya menceritakan tentang perceraianku kepada ibunya Fania. Tetapi juga menyampaikan bahwa aku berniat menyambung kembali hubunganku dengan Fania. Ah, andai saja aku tahu ibu akan mengatakan semua itu, pasti sudah kucegah. Aku hanya bisa pasrah, jika kelak Fania dan ibunya memakiku sebagai lelaki tak tahu diri.

***
Hari Minggu itu aku tak jadi mengajak Raka ke Kota Jogja. Anak itu sempat merajuk hebat. Aku tak tega lagi-lagi membuat anak itu kecewa. Tapi aku memang tak bisa pergi terlalu jauh. Butuh waktu satu jam perjalanan untuk pergi ke kota. Sementara tengah hari nanti, ada urusan yang harus aku selesaikan di kantor. Kantorku itu adalah usaha yang aku rintis sendiri. Di desa ini tak banyak lowongan kerja yang tersedia. Maka kuputuskan membuka usaha sendiri. Aku menghimpun beberapa warga desa yang mahir membuat kerajinan tangan semacam tas dari bahan eceng gondok yang dikeringkan. Lalu aku salurkan barang-barang itu ke kota. Usahaku itu sudah mulai menunjukkan hasil. Orderan kini semakin membanjir. Bahkan hingga ke luar pulau.

Sekarang ini aku semakin sibuk karena mulai merintis pengiriman barang ke luar negeri. Dengan mempromosikan usahaku ini secara online, kini orderan yang kuterima lebih luas lagi, hingga ke negara lain. Tak kusangka banyak warga Eropa yang tertarik dengan tas yang terbuat dari bahan alami itu. Tapi ternyata tidak mudah mengekspor barang ke luar negeri. Aku harus mengurus perijinan dan sebagainya. Karena itulah beberapa hari terakhir ini aku sibuk sekali di kantor dan seringkali pulang larut malam.

“Bagaimana kalau kita ke Wates saja yuk!” bujukku pada Raka yang masih menangis dan menyebutku pembohong berkali-kali.

Wates adalah kota kecil ibukota Kabupaten Kulon Progo. Kota ini sejak dahulu hingga kini keramaiannya tak pernah bertambah. Tentu jauh lebih ramai daripada Desa Glagah. Tetapi jelas masih kalah ramai dibandingkan Kota Jogja.

“Ayah janjinya ke kota!” teriak Raka masih bernada marah.
“Iya sayang, tapi hari ini ayah belum bisa mengajak ke kota. Kita ke pasar Wates saja yuk, kamu boleh minta apa saja. Nanti ayah belikan es krim kesukaanmu,” bujukku lagi.

Raka masih sesegukan. Perlahan tangisnya mereda. Lalu menatapku. Aku tak tega melihat ekpresi kecewa di matanya.

“Nanti dibeliin es krim?” tanyanya penuh harap.
“Iya,” janjiku.
“Raka lagi pilek,” bisik ibuku tiba-tiba.

Aku tertegun. Ah, saking sibuknya, aku sampai tidak paham keadaan anakku tersayang saat ini. Aku tidak tahu Raka sedang pilek. Pantas sejak tadi hidungnya berair. Aku kira itu karena ia menangis.

“Kata nenek, Raka lagi pilek? Mm, berarti es krimnya diganti coklat saja ya? Sama susu kotak kesukaan Raka,” kataku meralat janji yang telah terlanjur kuucapkan.

Dan itu hanya membuat Raka kembali menangis.

“Nggak mau! Raka mau es krim!”
“Bagaimana kalau coklat dan mainan baru? Robot-robotan?” bujukku sambil memeluk tubuhnya yang basah oleh air mata.

Kubelai rambutnya lembut. Aku merasa sangat bersalah.

“Robot!” teriaknya.

Aku mengangguk. Lalu kumandikan ia dan kupakaikan baju terbaiknya yang bergambar tokoh hero favoritnya. Ia berhenti menangis dan berubah bersemangat karena kujanjikan membelikannya mainan robot. Aku mengutuk diriku sendiri yang terlalu banyak berjanji pada anak ini, tapi kemudian aku sendiri yang mengingkarinya. Kali ini aku bertekad sungguh-sungguh akan membelikannya mainan favoritnya itu.

Walau aku memiliki mobil, tetapi aku sengaja mengajak Raka mengendarai angkutan umum menuju Kota Wates. Aku ingin Raka banyak berinteraksi dengan orang lain. Anak itu tampak sangat bersemangat, tak sabar ingin segera mendapatkan mainan yang kujanjikan. Aku tersenyum melihat perubahan drastis sikapnya. Ah, anak kecil, betapa mudahnya berubah suasana hatinya. Beberapa saat yang lalu ia masih menangis hebat, sekarang ia sudah meloncat-loncat ceria.

Sesampainya di Kota Wates, aku segera mengajak Raka masuk ke sebuah toko serba ada terbesar di sini. Aku tidak salah, berbagai mainan anak-anak tersedia di tempat ini. Kubiarkan Raka memilih mainan yang disukainya. Segera saja ia memilih sebuah mainan robot berukuran lumayan besar. Kubelikan mainan itu, lalu ia memeluk erat kotak mainannya dan tertawa senang. Ia juga memilih beberapa coklat dan susu coklat dalam kotak kesukaannya. Lalu kami beranjak keluar. Tapi Raka langsung tertarik melihat gerobak es dawet tak jauh dari toko.

“Aku mau itu!” teriaknya sambil berjalan cepat mendekat ke gerobak es dawet itu.
“Kamu lagi pilek, jangan minum es!” cegahku buru-buru saat kemudian kulihat seseorang memberi segelas es dawet pada Raka.
 “Damar..Damara…” ujar wanita yang menyodorkan segelas es dawet pada Raka.

Aku tersentak, kemudian memerhatikan sosok wanita itu lebih seksama.

“Fania!” sahutku dengan suara sedikit keras karena terkejut.

Sungguh aku tak menduga akan bertemu dengannya di sini. Setelah enam tahun lamanya terakhir kali aku bertemu dengannya, baru kini aku melihatnya lagi. Aku tak lupa dengan sosoknya. Wanita manis bertinggi sedang dan bertubuh ramping. Ia tak banyak berubah. Hanya terlihat lebih matang. Segera saja mataku menelusuri jari tangannya, mencari-cari adakah cincin yang tersemat di sana.
Apakah kau sudah menikah Fania?

Setelah berbasa basi sebentar, aku ajak ia ke sebuah rumah makan sederhana. Berbincang di tempat ini pasti lebih nyaman daripada di pinggir jalan. Kubiarkan Raka sibuk dengan mainan barunya tak jauh dari tempat kami duduk.

“Itu anakmu?” tanya Fania.

Aku menatapnya dan mengangguk. Tak perlu kukatakan anak siapa dia sebenarnya. Lagipula, aku memang sudah menganggap Raka sebagai anak kandungku sendiri. Tak peduli betapa salahnya itu.

“Apa kabar, Fania? Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kamu tidak berubah,” kataku sambil kuperhatikan sekali lagi sosoknya yang telah sekian lama tak aku lihat.
“Aku baik. Tentu saja aku berubah. Sekarang tambah tua. Kau sendiri, bagaimana kabarmu?” jawabnya disertai tanya.
“Kau tak berubah, tetap tampak manis dan ramping. Kabarku? Hm, mungkin kau sudah mendengar apa yang terjadi padaku dari ibumu,” jawabku seraya tersenyum pasrah.
Fania tak menyahut. Ia hanya tersenyum tipis.
“Maafkan ibuku yang telah datang ke rumahmu dan menceritakan tentang aku pada ibumu. Aku pasrah jika kau masih membenciku,” ucapku.

Fania mengalihkan pandangannya, terlihat jengah kutatap sekian lama.

“Siapa bilang aku membencimu?” tanyanya kemudian.
“Aku sadar aku telah menyakiti hatimu, Fania,” sahutku pilu.
“Apakah kau masih saja merasa bersalah, Dam? Itu masa lalu. Aku tak mau terpaku pada masa lalu. Ini aku yang lain, aku yang sekarang, aku yang baru.”

Ucapan Fania itu hanya membuat rasa pilu di hatiku semakin membuncah. Aku tak berani lagi memandang ke arahnya. Kualihkan pandanganku kepada Raka yang masih saja asyik mengutak-atik mainan barunya, tak peduli sedikit pun pada kami berdua.

“Kamu sedang cuti?” tanya Fania tiba-tiba mengejutkan aku.

Aku kembali menoleh ke arahnya.

“Sudah sejak setahun lalu aku kembali tinggal dengan ibuku. Aku membuka usaha sendiri di sini,” jawabku.

Walau telah enam tahun berlalu tanpa Fania, saat aku melihatnya lagi di sini, aku sadari perasaanku padanya tak pernah hilang. Jika selama ini aku menjauh darinya, itu hanya karena aku merasa bersalah padanya dan tak punya nyali untuk berhadapan langsung dengannya.

“Setahun lalu aku sudah bercerai dengan istriku secara agama, tetapi surat resmi perceraian kami dari pengadilan baru kuterima sebulan yang lalu,” lanjutku
Fania masih diam tak menyahut.
“Kapan kamu  pulang ke Jakarta?” tanyaku, mencoba memilih pertanyaan yang tak lagi menyinggung perasaan Fania.
“Besok sore.”
“Kalau begitu mampirlah ke rumahku sebentar dan jangan menolak karena sudah begitu lama kita tidak bertemu, banyak hal yang ingin kuceritakan padamu,” ujarku setengah memaksa.

Namun ternyata tanpa dipaksa, Fania setuju ikut denganku mengunjungi rumah ibuku. Kami naik andong, sejenis delman, sembari kembali berbincang. Raka senang sekali dan langsung minta duduk di samping pak kusir. Aku tersenyum melihat tingkah anak itu. Lalu perhatianku kembali kepada Fania yang duduk di hadapanku. Ah, Fania, entah terbuat dari apa hatimu. Kau masih berkenan bersikap baik padaku, lelaki yang telah menyakiti hatimu sekian waktu lalu.

Ibu tampak sumringah melihat kedatanganku bersama Fania. Tapi kemudian kuberi isyarat pada ibu agar membiarkan kami berbincang berdua saja. Ibu hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah membawa Raka yang tampak gembira karena mendapatkan mainan robot baru. Kupersilakan Fania duduk di ruang tamu, sementara kutinggal ia untuk menyiapkan minuman. Ketika aku kembali, kulihat ia membuka-buka album foto keluargaku yang kuletakkan di rak bawah meja tamu.

“Ah, kau melihat album foto kami. Pasti kau penasaran ingin tahu wajah mantan istriku, ya?” tegurku sedikit menggodanya.
“Maaf, aku melihat tanpa permisi. Album fotonya tergeletak di bawah meja. Membuatku ingin melihat isinya,” sahutnya tampak jelas menahan sipu.
“Tak ada foto mantan istriku di situ. Aku sudah lama membuangnya,” ujarku.
“Siapa bilang aku ingin tahu wajah istrimu? Tak ada gunanya juga kan? Ah, ternyata kau tak berubah,”
“Apanya yang tak berubah?”
“Tetap saja sering terlalu percaya diri.”

Aku tertawa kecil. Lalu kupersilakan ia minum. Segera saja ia minum seteguk sirup jeruk dingin yang kuhidangkan. Tampaknya ia memang kehausan setelah berjalan kaki dari pasar ke rumah ini. Lalu aku ingat, ada sedikit makanan kecil yang sebaiknya juga kuhidangkan. Aku permisi kembali ke dapur. Kutinggalkan Fania yang tampaknya beralih tertarik dengan tumpukan majalah wanita langganan ibuku yang juga tergeletak di rak bawah meja tamu. Aku baru saja hendak melangkah menghampiri Fania sambil membawa satu toples makanan kecil saat kulihat sehelai foto melayang jatuh dari majalah yang ada di pangkuannya.

Fania mengambil foto yang terjatuh itu. Dengan mimik wajah serius ia amati foto itu. Lalu tiba-tiba saja kulihat ekspresi wajahnya berubah. Sepertinya ia sangat terkejut. Aku sudah berdiri di dekatnya, kemudian ikut melihat foto yang dipegangnya. Aku ikut terkejut. Mengapa foto itu masih ada di situ? Harusnya foto itu sudah musnah. Foto itu hanya mengusik luka di hatiku yang baru saja mulai pulih.
Terekam dalam sehelai foto itu, aku bersama Nina, mantan istriku saat ia masih mengandung Raka.

“Jadi, perempuan ini adalah mantan istrimu?” tanya Fania membuatku terkejut.
“Iya. Wajahmu tampak terkejut melihat foto itu. Apakah kau mengenalnya?” tanyaku curiga.
“Aku tidak mengenalnya. Tapi aku tahu namanya Nina. Dia teman seperjalananku di kereta dua hari yang lalu,” jawab Fania, lalu ia tersenyum sinis.

Aku tercengang. Takdir sungguh tak dapat diduga. Siapa yang mengira Fania bisa duduk berdampingan dengan mantan istriku yang telah menyakiti hatinya. Aku tak tahu apakah Nina menceritakan tentang aku pada Fania. Tetapi melihat raut wajahnya dan kekukuhannya untuk segera pamit pulang seolah menjadi petunjuk yang jelas bagiku. Masihkah aku punya kesempatan untuk bersama Fania lagi?

~ oOo ~

Rabu, 25 September 2013

Cerpen Arumi E : Déjà vu



Déjà vu

 #CeritaPendek by Arumi E, termuat dalam kumpulan cerpen romantis yang disajikan secara unik "Heart Latte"


Crown Café, day #6

Lucu. Ini adalah kencanku yang pertama kali dengan Restu, setelah sebelumnya secara tak sengaja kami tiga kali bertemu ketika kami masih belum saling mengenal. Restu mengajakku ke kafe favoritnya ini.

“Kamu harus coba cappuccino di sini. Rasanya spesial,” kata Restu.
“Spesial bagaimana?” tanyaku
“Coba saja sendiri ya?” sahut Restu

Kemudian Restu memesankan secangkir cappuccino untukku. Dan saat minuman itu di hidangkan di meja kami, aku tertegun melihat hiasan lambang cinta di permukaannya.

“Ini bagaimana buatnya?” tanyaku lugu.

Restu tersenyum lebar.

“Itu namanya heart latte art. Sengaja aku pilih lambang cinta untukmu, melambangkan perasaanku padamu,” jawab Restu sambil tersenyum sedikit menggoda, lalu ia menyeruput minumannya yang berwarna lebih pekat.

Aku tersipu, berusaha menyembunyikan perasaan melambung yang tiba-tiba menyergap. Setelah sekian lama sendiri tanpa kekasih, baru kali ini ada lelaki yang memperlakukanku seperti ini. Membuat hatiku berbunga-bunga bagai kembali ke masa remaja. Aku merasa beruntung bertemu Restu. Takdir memang terkadang tak terjelaskan. Lucu, jika kuingat lagi bagaimana awal mula aku bertemu Restu.

Pertemuan pertama

Aku malas pulang. Walau sejak pukul satu siang tadi kantorku telah tutup. Hari ini hari Sabtu, inginnya bisa kuhabiskan untuk menghibur diri, setelah lima hari sebelumnya berkutat dengan tugas-tugas kantor. Biasanya aku tak mengeluh, makan sendiri, nonton bioskop sendiri, ke toko buku sendiri, tapi hari ini lain. Aku gundah, apakah karena beberapa hari lagi ulang tahunku yang ke tiga puluh lima?

Usia yang sangat matang, kata orang. Secara teori, harusnya aku sudah menikah dan memiliki dua atau tiga orang anak, seperti teman-teman seusiaku. Tapi prakteknya tidak, aku masih sendiri. Jomblo. Jangankan calon suami, seorang lelaki yang dekat denganku atau sekedar naksir pun tak ada. Sepanjang pengetahuanku tak ada. Hingga detik ini dan entah sampai kapan.

Biasanya aku tak terganggu dengan keadaanku ini. Sudah lama aku pasrah. Sungguh bukan mauku masih tetap melajang hingga usiaku kini. Jangan memaksaku untuk merasa bersalah, karena aku tak pernah merasa salah.

“Ibu enggak mau maksa kamu, Ibu enggak minta apa-apa, Ibu ikhlas, Git...” kata Ibu suatu kali ketika aku menjawab “Enggak tau” atas pertanyaan Ibu kapan aku akan menikah. Pertanyaan yang sudah ratusan kali diajukan kepadaku. Tetapi jawabanku selalu sama.

Aku memang tidak tahu. Manalah aku tahu, bukan aku yang menakdirkan jodoh dan matiku, kan? Jangan juga bilang aku terlalu pemilih atau aku kurang beramal, kurang bergaul, kurang usaha. Aku sudah cukup berusaha mencari belahan jiwaku, tapi jika hingga kini tak juga berujung indah, itu sama sekali bukan salahku.

Brukk!

Tubuh tinggi tegap yang membenturku lumayan keras membuyarkan lamunanku. Segera kurapikan kacamata minus yang hampir terlepas dari wajahku.

“Maaf, maaf Mbak...Saya enggak sengaja, saya terburu-buru.” kata sosok yang menabrakku itu. Aku hanya tersenyum kecil dipaksakan seraya berkata,
“Enggak apa-apa...” lalu memandang sekilas ke arahnya.

Sejurus kemudian aku hampir ternganga menatap sosok itu. Jika saja aku tak segera sadar, maka aku pasti sudah mempermalukan diriku sendiri. Aku sedikit tersentak ketika masih kusempatkan menoleh sekilas, kulihat ia mengambil empat bungkus pembalut sekaligus dari berbagai merk!

“Ah, ayolah Git, kau berkhayal lagi!! Tentu saja sosok menarik seperti dia pasti sudah ada yang punya. Ia pasti berbelanja barang-barang itu untuk pacarnya atau malah istrinya. Wanitanya pasti egois dan ia tipe lelaki yang dikendalikan wanitanya...” batinku sambil tergelak dalam hati. Seulas senyum kubuat untuk menertawai ketololanku sendiri.

oOo

Restu

Sudah sering aku direpotkan oleh Aruni, tapi baru kali ini aku benar-benar kewalahan. Keterlaluan, entah ia memang kelewat manja atau sekedar ingin mempermainkan aku? Tapi aku tetap harus menuruti permintaannya. Aku tak mau dipusingkan oleh rengekannya, atau mendengarkan ancamannya akan kabur dari rumah jika permintaannya tak aku turuti. Andai saja...ah, sudahlah, aku tak mau berandai-andai. Memang sudah takdirku harus menghabiskan hidup bersama Aruni.

Aku melangkah masuk ke dalam supermarket ini, kebingungan mencari barang yang diminta Aruni. Aku sama sekali tak paham soal barang ini. Di mana sih barang itu diletakkan? Ingin bertanya pada petugas toko, aku takut ditertawakan. Sudahlah biar kucari sendiri, walau itu artinya aku terpaksa harus menyusuri satu persatu deretan rak di supermarket ini. Aku sedang fokus mencari barang titipan Aruni ketika kemudian...

Brukk!

Aku menabrak seorang wanita. Segera aku meminta maaf. Ketika kulihat sekilas wanita itu berbalik beranjak pergi menjauh dariku, segera kuambil beberapa bungkus barang yang kuyakin itulah yang dimaksud Aruni. Kuambil empat bungkus sekaligus dari berbagai merk. Aku tak tahu mana yang paling disukai Aruni. Lalu diam-diam bergegas menuju meja kasir...

oOo

Aruni

Aruni mengembuskan nafas kesal. Kalut melihat darah keluar dari tubuhnya. Ia tahu tentang ini. Walau tak pernah dibahas secara detail di sekolahnya, ia tahu bahwa pada saatnya nanti, sebagai wanita normal, ia akan mengalami fase ini. Tapi sungguh ia tak menyangka ketika saat itu tiba, ia di dera rasa panik dan sakit luar biasa di bagian perutnya. Papa malah kebingungan ketika ia menceritakan kejadian ini.
Ah, andai saja ia punya Mama, selalu itu yang disesalkan Aruni.

“Pakai ini, Neng! Dulu Mbok Nah juga pakai ini...” kata Mbok Nah, perempuan setengah baya yang telah berpuluh tahun bekerja untuk Papa.
Aruni tertegun memandangi tumpukan kain kusam berwarna putih kekuningan yang diberikan Mbok Nah.
“Kain apa itu Mbok?”
“Dulu kalau Mbok datang bulan di”ganjel” pakai ini...” jawab Mbok Nah.
“Di”ganjel”? Ah, Mbok! Aku nggak mau pake kain kusam gitu. Aku mau pakai yang seperti iklan di TV, Mbok! Yang setipis kertas dan katanya serasa tak memakai apa-apa.”
“Wah, enggak pakai apa-apa telanjang dong, Neng?”

Aruni kesal, tapi terpaksa tertawa mendengar keluguan Mbok Nah. Mbok Nah memang wanita produk dulu, pasti di jamannya dulu, memang kain-kain itulah yang dipakainya setiap datang bulan. Kembali Aruni merindukan seorang Mama.

Andai saja ia punya Mama, Mama pasti mengerti soal ini. Pasti Mama akan menyiapkan yang terbaik untuknya. Tapi sekejap pun Aruni tak pernah melihat Mamanya secara langsung. Ia hanya tahu wajah Mama dari foto-foto yang masih disimpan Papa.

Mama wafat karena melahirkan Aruni. Itulah mengapa Nek Frida, Neneknya, selalu bersikap ketus dan tak ramah kepadanya. Tak berubah, setelah bertahun-tahun kemudian, hingga kini Aruni berusia tiga belas tahun, dendam Nek Frida padanya tak juga surut. Stempel itu tetap melekat pada sosok Aruni, seorang anak penyebab kematian ibunya. Laksana tato di kulit tubuh yang tak bisa dihapus.

“Ah, andai Papa memberikan aku hadiah seorang Mama...” batin Aruni menahan perih di hatinya, juga perih di perutnya yang tiba-tiba terasa melilit.
“Papa, cepat pulang, aku enggak tahan...sakit, Pa…” lanjutnya lirih.

oOo

Pertemuan kedua

Senin. Hari yang padat. Aku pasrah jika kemudian aku tak kebagian tempat duduk. Sudah biasa. Kedua kakiku telah terlatih berdiri lama. Kupilih tempat paling nyaman untuk berdiri bergantungan. Di bagian depan, tak jauh di belakang sopir, di depan deretan kursi yang sudah dipenuhi penumpang lain yang beruntung. Aku memantapkan posisi berdiriku. Cukup nyaman, tujuanku masih jauh, aku berharap beberapa orang yang duduk di depanku akan turun tidak lama lagi, kemudian aku bisa mendapatkan sebuah kursi kosong.

“Silakan duduk, mbak! Gantian...”

Aku terkejut ketika seorang lelaki yang duduk di depanku bangun berdiri dan memberikan kursinya untukku. Tak kusia-siakan kesempatan itu. Segera aku duduk. Memang sudah seharusnya wanita didahulukan. Itulah sikap lelaki yang gentleman. Bukan berarti aku perempuan lemah, tetapi jika memang ada kesempatan duduk nyaman, mengapa harus capek berdiri? Aku menyamankan letak dudukku, lalu baru kuingat belum mengucapkan terimakasih.

“Terima kasih...Mas...”

Kalimatku menggantung ketika memandang wajah lelaki yang kini berdiri di hadapanku itu. Seorang lelaki yang menarik. Terlihat matang, dewasa. Tubuhnya tinggi tegap. Dan sepertinya aku pernah melihatnya belum lama ini, di suatu tempat pada suatu waktu, tapi aku tak ingat di mana ....

oOo

Restu

Senin. Hari yang padat. Hari ini memang hari paling sial buatku. Aku tak pernah suka hari Senin. Terutama hari Senin ini. Mobilku mogok justru sesaat sebelum aku berangkat ke kantor. Terpaksa aku harus naik busway. Aku memilih tidak naik taksi karena kupikir jalur busway pasti lebih lancar dibanding jalur biasa. Namun kenyataannya aku harus mengantri lebih dari tiga puluh menit hanya untuk mendapat bus yang tak terlalu padat. Aku malas berdesak-desakan. Beruntung aku masih dapat duduk. Hingga beberapa detik kemudian, kulihat wanita tinggi langsing di depanku berdiri kerepotan. Dan baru aku sadar, di antara semua penumpang yang mendapat duduk di samping kanan-kiriku, hanya aku yang laki-laki.

Bukan karena malu, jika kemudian kurelakan tempat dudukku untuk wanita yang berdiri di depanku itu. Tapi karena itu adalah kewajibanku sebagai seorang laki-laki. Aku harus mendahulukan wanita. Dan aku yakin, sefiminis apa pun seorang wanita, pasti tak akan menolak diberikan tempat duduk di dalam bus penuh sesak seperti ini. Apalagi kemudian aku baru sadar, sepertinya aku pernah bertemu dengan gadis itu. Di suatu tempat, pada suatu waktu. Tapi aku tak ingat di mana ....
oOo

Pertemuan ketiga

Hari Minggu ini aku terlambat datang. Masih terengah ketika kutemui Suster Via.

“Maaf, suster, aku terlambat.”
“Tak apa Git. Tugasmu sudah dgantikan oleh yang lain. Tapi untunglah kau datang. Ada yang ingin bertemu denganmu.”

Aku mengangkat alis kananku, “Siapa?” tanyaku heran.

“Kau tunggu saja di depan Ruang Rontgen. Dia akan menemuimu.”
“Apakah aku kenal dia?”
“Belum, tapi dia kenal kamu.”

Aku masih ingin bertanya lagi, tapi Suster Via memberi isyarat bahwa dia sedang sibuk. Kuturuti saja permintaannya, aku melangkah menuju Ruang Rontgen. Hari ini banyak sekali antrian menunggu di depan Ruang Rontgen. Semua kursi telah terisi. Aku terpaksa berdiri menunggu. Kulihat sekeliling, memperhatikan kalau-kalau ada sosok yang aku kenal.

“Silakan duduk Mbak! Gantian...”

Suara itu berasal dari seorang lelaki yang duduk di kursi paling pinggir di samping aku berdiri. Aku memandanginya agak lama, mendadak kurasakan waktu berhenti untuk sesaat. Momen ini, rasanya kuingat pernah kualami. Deretan kursi yang penuh, aku tak kebagian duduk, lalu seorang lelaki menawarkan kursinya untukku. Rasanya seperti Déjà vu.

Lelaki itu! Ya, lelaki itu adalah Déjà vu.

Seingatku lebih dari dua kali aku melihat sosoknya, di suatu tempat, di suatu waktu. Aku tak menolak tawarannya. Segera aku duduk. Kali ini tak lupa kuucapkan terima kasih.

“Papa!”

Lelaki itu menoleh ke arah seorang anak dengan perban di kepala yang duduk di atas kursi roda. Suster Via yang mendorong kursi roda itu.

“Aruni, ini dia pahlawan penyelamatmu,” kata Suster Via sambil memandang ke arahku. Aku bangkit berdiri, sedikit terkejut melihat Suster Via sudah ada di sini.

Gadis belia itu menatapku tak berkedip. Memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung sepatu fantovelku.

“Terima kasih, Tante, atas sumbangan darahnya. Karena pertolongan Tante, aku akan segera sembuh. Kata dokter, tulang kakiku yang patah juga akan pulih beberapa bulan lagi,” katanya sambil tersenyum.
Mengertilah aku, dia adalah gadis yang kemarin mendapatkan darahku. Aku membalas senyumnya.

“Kebetulan saya ada saat dibutuhkan.” jawabku sedikit canggung.
“Oya, kenalkan, ini Papaku,” kata Aruni, ia menarik tangan lelaki yang tadi memberikan kursinya padaku.

Sekarang aku ingat lelaki itu. Pertemuan pertamaku dengannya di sebuah supermarket, ia membeli pembalut empat bungkus sekaligus. Pertemuan kedua terjadi dalam busway, ia memberikan tempat duduknya untukku. Dan kini aku kembali bertemu dengannya. Ah, andai saja ia belum menikah, pasti sudah kuanggap semua pertemuan tak disengaja itu sebagai pertanda.
Lelaki itu mengucapkan kalimat berirama sambil mengulurkan tangannya,

“Saya Restu, seorang duda beranak satu.”

Ah, duda! Mengapa tak terpikir olehku kemungkinan itu? Duda yang menarik, simpatik dan sopan. Masih terlihat muda. Mungkin hanya beberapa tahun lebih tua dariku. Pasti dulu ia menikah di usia muda, hingga kini telah memiliki putri yang beranjak remaja. Tubuhnya tegap dan atletis, menunjukkan bahwa ia rajin berolahraga.

Kulirik sekilas wajah berbinar putrinya yang tak lepas memandangi kami sejak tadi. Aku punya firasat, gadis belia itu suka kepadaku. Dan dari cara lelaki itu memandangku, bolehlah aku sedikit berharap. Kusambut uluran tangan Restu, kugenggam hangat seraya kusebutkan namaku,

“Digita, panggil saja Gita, masih single, belum pernah menikah.”
Senyumku mengembang, membalas senyumnya yang menawan.

~ oOo ~

Note : 
Cerita lengkapnya silakan baca di bukuku "HEART LATTE" yaaa.... ada 12 cerpen yang disajikan secara unik, dengan setting yang sama, Crown Cafe. 
Rencananya, 12 cerpen tersebut akan kukembangkan masing-masing menjadi 12 novel. Setuju nggak teman-teman? ^_^

Terima kasih bagi yang sudah berkenan mampir dan membaca isi blogku ini yaaa ... 
Dank u weel, Gamsahamnida, Merci, Thank you so much, matur nuwun ... 

Jumat, 13 September 2013

Cerpen : Too Young to Have A Baby

Credit photo from We Made

Too Young To Have A Baby

Karya Arumi E.
Sebuah cerpen yang termuat dalam buku Antologi Kolase


Crown Café, day #13, 19.17 WIB


Aku baru saja memutuskan ingin mengaduk secangkir cappuccino berhias heart latte art di hadapanku, kemudian niatku itu urung kulaksanaan ketika aku melihat berita itu. Tak biasanya televisi datar yang menggantung di atas meja racik kopi itu menayangkan berita. Biasanya yang dipilih saluran musik hits dari tv kabel.

Aku sudah lama enggan menonton berita tentang negeri ini, tetapi saat ini aku melihatnya tak sengaja. Entah siapa yang mengganti saluran musik menjadi saluran berita televisi nasional. Berita itu mengabarkan tentang ditemukannya seorang bayi dalam kardus terapung yang tersangkut sampah di sungai kotor. Kamerawan tanpa rasa iba menyorot wajah sang bayi yang membiru, ditambah reporter mengatakan bayi itu masih hidup walau detak jantungnya sangat lemah. Pemandangan itu bagai mengoyak batinku, seolah dengan mesin waktu aku terlempar ke masa lalu. Mengembalikan ingatanku pada sebuah dosa besar yang pernah kuperbuat…

Beib

Sejak sebuah roh ditiupkan ke dalam tubuh mungilku ini, aku dapat merasakan hangatnya tempat ini. Ada sebuah saluran yang menghubungkan perutku entah kemana, hingga setiap saat aku selalu mendapat sumber energi dan protein untuk terus tumbuh dan berkembang. Semakin sempurna dalam bentuk. Semakin besar dalam ukuran. Tempat ini penuh air, membuat aku terombang ambing, jungkir balik kadang ke atas, kadang ke bawah.

Aku punya hubungan istimewa dengan pemilik tempat ini. Sering kudengar samar bisikan sedu sedan dan helaan nafasnya yang letih. Kadang pula kudengar suara berdetak cepat dan keras yang menggangguku, membuatku lama terjaga.
Kadangkala, tempat ini terasa begitu tenang. Aku sering mendengar suara musik lembut atau untaian doa-doa indah dibacakan untukku. Kadang ia mengajakku berbincang,  seperti kali ini,

“Halo, beib…” Lembut ia menyapa.

Aku selalu senang mendengar sapaan lembutnya. Aku menggerakkan tubuhku sebagai jawaban.

“Lagi ngapain?”  tanyanya.
Aku menggerakkan kakiku keatas.
“Eh, jangan nendang-nendang ya, beib. Sebentar lagi kamu bisa keluar. Sebentar lagi kita ketemu. Kamu pasti cakep seperti aku, he…he… Jangan nakal ya, beib. Baik-baik di situ.” katanya sambil mengusap lembut tempatku ini dari luar.

Aku senang! Aku kegirangan! Aku melonjak-lonjak! Aku juga ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini. Ingin cepat-cepat bertemu dengannya.Kemudian seperti biasanya, suara alunan merdu mulai terdengar. Dia nyanyikan sebuah lagu dengan suaranya yang menenangkan.

“Timang-timang, my beib sayang!”

Ooi, membuaiku. Mataku pun terpejam meresapi nikmatnya suasana ini.
Begitulah biasanya. Begitulah hari-hari aku lalui bersamanya. Hubungan kami begitu dekat, begitu akrab. Kami selalu saling berbagi. Aku merasa nyaman di sini. Merasa hangat dan aman berada dekat bersamanya.

Tapi hari ini tak seperti hari-hari yang lain. Aku rasakan dia sejak tadi mengeluh kesakitan. Anehnya, aku juga dapat merasakan apa yang ia rasakan. Aku merasakan kesakitannya. Tempat aku berpijak dan terayun-ayun ini terasa menegang. Lalu berguncang-guncang. Terdengar lenguhan pilu. Tempat ini terasa bergerak, seperti pindah terburu-buru. Dia panik, aku pun ikut panik! Tempat ini berguncang semakin keras. Aku takut, karena lalu kudengar ia merintih kesakitan. Kurasakan juga tekanan-tekanan di sekitar tempatku ini.

Mendadak aku terputar balik. Rasanya kepalaku menjadi di bawah dan kakiku di atas. Aku semakin panik dan takut. Apalagi kudengar rintihannya semakin keras dan tertahan. Kemudian aku seperti terdorong ke bawah, setiap usai terdengar sebuah erangannya yang memilukan. Tubuhku semakin terdorong, terus terdorong ke bawah. Terdengar teriakan begitu kerasnya. Memekakkan telingaku. Tubuhku terdorong kencang, merosot ke bawah. Mulanya tersendat. Kemudian terasa lancar. Aaaghhh…!! Seperti melewati sesuatu…

Sekejap rasa dingin menyergap ubun-ubunku, lalu dadaku. Sedikit demi sedikit tubuhku keluar dari tempatku yang biasanya nyaman ke tempat asing yang tak kukenal. Kemudian sampailah ujung-ujung jariku juga tersergap rasa dingin. Seluruh tubuhku kini telah berpindah ke tempat lain. Keluar dari tubuhnya. Aku merasa tak nyaman. Tak ada lagi kehangatan yang biasanya menyelimuti tubuhku.

Maka aku pun mengeluh kecewa, “Oeeeeee!! Oeee!!”

“Ssstt!! Cup, cup! Jangan nangis sayang, aku di sini mendekapmu.” kata sebuah suara yang sudah sangat aku kenal.

Sepasang lengan berkulit lembut meraih tubuhku perlahan dengan sangat hati-hati, membopongku, mendekapku dan memberiku kehangatan. Sesuatu yang basah dan hangat menjilati kelopak mataku. Sebentuk bibirnya yang lembut menghisap cairan di mulutku. Aku kembali merasa tenang, hangat, aman. Tapi kemudian rasa sakit bukan kepalang kurasakan ketika benda panjang di perutku yang dahulu biasa kami gunakan sebagai saluran berbagi makanan dipotong dengan sesuatu. Aduh, sakit, sakit sekali!

“Oeee!!” jeritku keras kesakitan.        
“Cup, cup! Sabar ya, sayang. Cuma sakit sedikit kok! Dikasih obat supaya nggak infeksi, ya?” katanya menghiburku sambil mengusap bekas lukaku akibat potongan tadi dengan cairan yang sedikit membuat perih.

“Ah, siapa bilang sakit sedikit? Ini sakit sekali!” keluhku dalam hati.

Aku menatapnya sedikit kesal. Ia malah tersenyum manis kepadaku. Rasa kesalku pun musnah. Lihat senyum tulusnya. Lihat wajahnya. Wajah yang selama ini aku rindukan. Setelah sekian lama aku hanya dapat mendengar suaranya.
Dia mirip aku, mungkin. Lihat, ia punya sepasang mata indah sama seperti mataku. Hidungnya mancung dan bibirnya mungil berwarna merah jambu. Dia juga memiliki sepasang tangan seperti aku. Hanya saja, semua miliknya jauh lebih besar dari punyaku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Kelelahan menatapnya tak berkedip sekian lama.
Ia menepuk lembut bagian belakang tubuhku. Aku terbatuk. Mencoba menyapanya. Namun yang keluar dari mulutku hanya suara nyaring tak bermakna,    

“ Oeeee….Oeeee!”

Aku kecewa, kenapa suaraku begini? Padahal banyak yang ingin kutanyakan padanya. Bagaimana dia dapat memahaminya bila setiap aku membuka mulut dan mencoba bersuara yang terdengar cuma suara ‘Oeee’?

“My beib, syukurlah kamu selamat!” katanya sambil dikecupnya keningku.

Aku mengerahkan segala kemampuanku untuk bertanya padanya, siapakah dia sebenarnya? Apa makna kebersamaan kami selama ini? Mengapa kini aku merasa berada di tempat yang asing? Tempat yang tak biasanya? Tapi lagi-lagi yang terdengar cuma suara “ Oeeee!”
“Sttt!! Cup, cup! Jangan keras-keras, beib. Nanti ada yang denger.” ucapnya sambil terus menciumi pipiku.

“Ini Mama, beib. Jangan nangis ya.”

Ah, akhirnya ia menyebutkan namanya. Mama? Itukah namanya? Begitukah aku harus memanggilnya? Mama...Tiba-tiba kurasakan setetes air hangat jatuh ke pipiku diiringi isak tertahan.

“Beib, Mama sayang kamu. Mama nggak mau pisah sama kamu. Tapi beib, Mama nggak sanggup jaga kamu…hk…hk…” lirih suara sosok yang menyebut dirinya Mama ini.
“Besok Mama harus pergi sekolah. Kalau ada yang tahu Mama melahirkan kamu, bisa gawat, beib.”

Air yang semula hanya setetes itu kemudian jatuh ke pipiku bertetes-tetes, membasahi hampir seluruh wajahku.

“Semoga Tuhan mengampuni Mama. Semoga Tuhan menjagamu. Mama terpaksa harus membawamu pergi dan meninggalkanmu. Maafkan Mama, beib.” lanjutnya seraya sibuk menyeka tumpahan air yang tak terbendung dari matanya.

Aku tak mengerti maksud Mama. Aku tak mengerti mengapa ia menangis. Namun aku tak mampu menyampaikan tanyaku padanya.
Aku hanya bisa pasrah ketika Mama membungkus tubuhku rapat-rapat dengan sesuatu yang terasa panas di kulitku. Kemudian memasukkan tubuhku yang sudah terbungkus ini ke dalam suatu tempat yang pengap. Aku merasa sesak. Aku takut. Aku didekap, dan perlahan dibawa pergi, entah kemana.

oOo

Perjalanan ini terasa cukup lama. Sampai akhirnya aku diletakkan di tempat yang membuatku terombang-ambing. Tubuhku terus terombang-ambing dalam kesunyian dan kegelapan. Tanpa arah tujuan. Aku terus berteriak-teriak sekuat tenaga namun tak juga kudengar suara jawaban Mama. Apakah Mama telah meninggalkan aku? Sendiri di sini, kedinginan? Nafasku semakin sesak. Tubuhku melemas.
Setelah sekian lama, tiba-tiba kurasakan tubuhku berhenti bergerak. Sepertinya tertahan sesuatu. Sekaranglah saatnya aku memohon pertolongan dengan mencoba berteriak sekuat tenaga. Berharap akan ada yang mendengar.

“Oeeee!  Oeeee!” Aku terus berteriak.

Aku ingin hidup. Aku harus hidup. Aku ingin bertemu kembali dengan Mama. Mama, kembalilah. Aku masih ingin bersamamu lebih lama lagi, merasakan kehangatan pelukanmu.        

“Oeeee! Oeeee!”

Suaraku serak. Nafasku  terus menyesak. Tubuhku lemas lunglai tak berdaya. Tapi aku tak putus asa. Aku akan terus berteriak sampai ada yang mendengarku dan datang menyelamatkan aku. Waktu berlalu. Terus kutunggu. Tubuhku mendingin. Nafasku satu-satu. Coba lagi, teriak lagi, harus bisa!

“Oeeeee! Oeeee!”

Syukurlah, setelah sekian lama, setelah tenggorokkanku mengering, lamat-lamat kudengar suara kecipak air. Sesuatu menuju ke arahku. Semoga seseorang yang diutus Tuhan untuk menolongku. Janganlah mahluk lain yang justru akan mencelakakan aku.

Kembali terasa tubuhku diangkat. Kembali melalui kecipak suara air. Tidak terayun lagi karena didekap erat. Kemudian tubuhku dikeluarkan dari tempat menyesakkan ini. Dan pembungkus tubuhku dibuka. Ahhhh! Aku dapat bernafas lega. Aku terbatuk-batuk. Melepaskan emosiku dengan suara “ Oeee” yang panjang.
Kucoba mengerjapkan mataku. Dan perlahan mencoba membukanya. Ah, terangnya! Semula menyilaukan. Namun kucoba terus mengerjapkannya berulang-ulang hingga terbiasa dengan kilauan cahaya dan mampu melihat keadaan sekelilingku.

Hm, ini memang sungguh tempat yang asing. Hiruk pikuk. Penuh wajah-wajah. Adakah Mama di antara mereka? Salah satu diantaranya meraihku. Mendekapku. Membawaku masuk ke sebuah benda yang lantas bergerak dengan suara menderum. Hingga beberapa saat kemudian benda ini berhenti di suatu tempat. Aku dibawa ke sebuah ruangan luas. Ditidurkan di atas alas yang bergerak meluncur menuju sebuah ruangan serba putih.

Beragam benda ditempelkan di tubuhku yang telanjang dan mulai mendingin. Ada cairan yang dimasukkan ke tubuhku. Membuatku merasa hangat. Tubuhku diusap dengan air yang juga terasa hangat. Kemudian kembali dibungkus namun kali ini dengan bahan yang terasa lembut dikulit. Aku hangat, nyaman, tenang, merasa aman. Dimanapun aku kini berada, aku merasa keadaanku jauh lebih baik. Mama? Aku teringat lagi kepada Mama.

“Mama di mana?” tanyaku dalam hati.
Beberapa sosok berpakaian serba putih mengerumuniku dengan beragam ekspresi. Takjub, kasihan, heran, senang, gemas. Salah satu dari mereka berujar,
“Suatu keajaiban bayi ini masih hidup. Padahal tubuhnya sudah sangat dingin dan mulai membiru.”  kata seorang berpakaian serba putih.
“Oalah, Nduk! Kok tega-teganya Ibumu membuangmu ke kali. Jahat banget!”  seru salah seorang yang lain.

Aku mendelik. Aku menyeru “ Oeee”  berkepanjangan.

“Yah, paling lahir dari hasil hubungan gelap. Nggak diharapkan, nggak diinginkan. Kasihan…Padahal anak cakep begini,” yang lainnya lagi menimpali.
Seruan “ Oee”ku semakin keras.

Aneh, ketika aku sudah merasa nyaman dan aman, aku justru merasa tersinggung ketika orang lain menyalahkan Mama. Aku teringat dengan masa-masa indah yang telah kami lalui bersama. Berbagi makanan bersama. Lagu-lagu merdu yang dilantunkannya untukku. Doa-doa indah penuh harapan yang dipanjatkannya untukku.

Pasti, di dasar hatinya yang paling dalam, Mama sungguh menyayangiku. Tapi entah masalah apa yang menghimpitnya hingga Mama memilih jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya dengan membuangku. Membuangku, bukan membunuhku sebelum lahir, bukankah itu bukti itikad baik Mama memberikan aku kesempatan untuk hidup? Membuangku, sambil berdoa, berharap aku ditemukan oleh orang yang tepat. Apakah itu sebuah dosa? Apakah itu perbuatan terlaknat? Bahkan sekalipun aku memaafkannya?

oOo

Crown Café, day #13, 21. 05 WIB

Sudah lama aku menolak menonton berita di televisi. Bahkan fisikku terpengaruh tiap kali aku menonton berita. Kepalaku pusing, perutku mual. Berita yang ditayangkan televisi di negeri ini didominasi berita buruk. Membuat pikiran positif yang susah payah kubangun seolah lenyap begitu saja bagai setetes air yang dipanaskan.

“Devan brengsek!” makiku dalam hati.

Ah, keterlaluan! Bahkan sebuah nama yang sudah aku sumpahi tak akan pernah kusebut lagi, kini tanpa sadar terucap dari bibirku.

“Devan brengsek! Tapi ...aku juga bodoh!”

Dahulu, dalam setahun masa awal kehilanganku, entah sudah berapa ribu kali aku mengucapkan kata-kata makian seperti ini. Mengutuk Devan dan mengutuk diriku sendiri. Devan telah menghancurkan masa remajaku, menghempaskanku ke dalam keterpurukan, lalu menambah daftar dosaku dengan dosa yang paling tak termaafkan.

Devan teman satu kelasku di masa SMA yang memang memiliki modal fisik menawan. Dengan wajah tampannya ia berusaha memikat banyak gadis. Termasuk aku. Aku tak menolak rayuannya, siapa yang tak merasa melambung dirayu Devan pemuda paling popular di sekolahku dulu? Pada masa itu, aku yang polos tak menyadari, Devan adalah seorang perayu ulung. Aku terhanyut segala bujuk rayu Devan dan menerima begitu saja ajakan Devan untuk berhubungan lebih jauh lagi. Berdalih sebagai bukti cinta, Devan berhasil membuatku menyerahkan kegadisanku begitu saja.

Sampai kemudian aku merasakan perubahan pada tubuhku. Rasanya, ada sesuatu yang tumbuh dalam rahimku yang masih belia. Tapi bodohnya, aku tak berani mengatakannya pada siapa pun. Tidak kepada Ayah dan Ibuku. Bahkan kepada Devan sang biang keladi pun tidak.

Aku menyimpan rahasiaku sendiri. Untunglah tubuhku tergolong mungil. Sehingga aku bisa menyembunyikan perutku yang semakin membesar dari semua orang. Aku memang terbiasa memakai kemeja sekolah satu nomor lebih besar. Kemejaku yang kebesaran itu mampu menyamarkan ukuran perutku yang membesar.

Aku juga memutuskan untuk tak pernah bilang pada Devan. Aku yakin, jika kuceritakan kehamilanku saat itu pada Devan, ia pasti akan semakin melecehkanku. Apalagi baru tiga bulan berpacaran, Devan memutuskanku begitu saja. Lalu seenaknya menggandeng pacar baru. Aku memutuskan untuk melupakan semuanya. Biar rasa berdosa ini kutanggung sendiri hingga mati, asalkan tak ada yang tahu kejadian yang sebenarnya.

“Nit! Nit! Nit!”

Aku ingat telepon yang kuterima dari teman sebangku Windy, tak lama setelah aku melahirkan dan membuang bayiku. Ya, setelah susah payah aku membesarkan bayiku dalam rahimku, begitu ia lahir aku membuangnya! Bayangkan betapa banyaknya dosa yang telah aku lakukan saat itu.

“Ada apa, Win?” tanyaku menjawab telepon dari Windy itu.
“Sep, gila deh! Lo udah tau belum? Mantan lo si brengsek itu...” suara Windy terdengar kencang dan tidak sabar.
Dadaku berdegup kencang.
“De...van?” tanyaku hati-hati.
“Tau enggak lo, sabtu besok Devan mau nikah sama Roselia pacar barunya. Devan ketahuan menghamili Roselia! Ternyata Roselia udah hamil dua bulan! Gila nggak tuh!” jawab Windy terdengar menggebu-gebu menahan emosi.

Ketika itu seketika jantungku rasanya hampir berhenti.

“Apa???!!!?” teriakku keras.
“Ck...ck...untung aja dulu lo putus sama dia, Sep! Kalau enggak, bisa-bisa elo yang jadi korban kebiadaban Devan!” seru Windy.

Handphone dalam genggaman tanganku segera saja meluncur jatuh. Aku merasa sangat bodoh. Aku hancur lebur. Mengapa bodohku estafet dan permanen? Mengapa aku selalu salah mengambil keputusan?

Kupandangi lagi secangkir cappuccino berhias heart latte art di hadapanku yang belum jadi kuaduk. Cappuccino itu sudah berubah dingin. Sedingin hatiku yang telah membeku selama bertahun-tahun. Kajadian dulu itu menyisakan trauma yang tak pernah bisa sembuh walau sepuluh tahun telah berlalu. Aku tak pernah bisa lagi memercayai lelaki mana pun. Sebaik apa pun sikapnya di hadapanku, aku tak akan lagi mau dibodohi.

~ oOo ~

Jumat, 21 Juni 2013

Cerpen teenlitku dimuat di WonderTeens Magz "Jimat Misterius"



Jimat Misterius

Cerpen teenlit karyaku yang dimuat di majalah remaja WonderTEENS edisi Juni 2013.

Sudah lama sekali cerpen ini kukirimkan. Ternyata akhirnya dimuat juga. Berkisah tentang gadis SMA yang takut nggak naik kelas karena nilai ulangan Fisikanya selalu merah. Di tengah kegalauan, ia disarankan pergi ke dukun supaya mendapat jimat yang akan membuatnya mampu menjawab soal-soal ulangan dengan baik.

Apakah jimat itu benar-benar ampuh? Lagipula, percaya dukun itu kan syirik...Dania nggak mau menduakan Tuhan...

Ia membuang jimat itu dan bertekad belajar sungguh-sungguh untuk menghadapi ujian. Tetapi apa yang terjadi? Jimat itu muncul lagi secara misterius. Padahal sudah dibakar oleh Dania loh. Ih, jimat apa sih nih sebenarnya?

Yang penasaran ingin baca kelanjutan kisahnya, yuuuuuk... beli majalahnya yaaa... mumpung masih bulan Juni :)

Jumat, 07 September 2012

Pengalaman pertama menulis cerpen dewasa, langsung dimuat di Majalah Sekar

Sudah lama aku menulis cerpen remaja, sudah sejak tahun 2005, kemudian aku lanjutkan dengan menulis cerpen anak dan mulai terpublikasi di majalah anak sekitar tahun 2009. Dan tahun ini barulah aku memutuskan ingin mencoba menulis cerpen dewasa. Cerpen dewasa yang kumaksud di sini adalah cerpen yang menceritakan tentang pernak-pernik kehidupan di atas usia 25 tahun. Walau pun aku sudah menulis lima novel bergenre teen romance dan romance untuk kategori usia yang lebih dewasa, tetapi baru kali ini aku akhirnya mencoba mengirim cerpen dewasa karyaku ke majalah wanita. Aku coba mengirim ke majalah Sekar.

Cerpen ini terinspirasi dari kisah seseorang, kuberi judul "Setelah Aku Menikah". Aku kirimkan saat bulan ramadhan. Sepertinya rejeki ramadhan masih terbawa pada karyaku ini, karena tak lama, tanggal 5 September 2011, cerpenku ini dimuat di majalah Sekar edisi 91/12.

Sungguh aku tak mengira akan secepat ini. Membuat semangatku semakin berkobar untuk membuat cerpen dewasa lainnya dan mengirimkannya lagi. Bagi kawan-kawan yang juga suka menulis cerpen untuk dewasa, jangan ragu untuk mengirimkannya ke media. Sungguh, terkadang kejutan manis datang begitu saja menyampaikan kabar gembira :)






Selasa, 17 Juli 2012

Tato Pak Tito

Cerpen anak karyaku yang dimuat di majalah anak "Irfan" volume 2, November 2011

Apa benar Pak Tito punya tato? Mana boleh, Pak Tito kan guru...Sandi pun penasaran, dan nekat menyelidiki rahasia di balik lengan panjang baju Pak Tito...

Ada guru baru di kelas Sandi. Pak guru muda itu memperkenalkan diri sebagai Pak Tito, guru olahraga baru menggantikan Pak Soni yang pindah tugas ke sekolah lain.
Pak Tito berpakaian rapi. Memakai kemeja biru berlengan panjang. Sepertinya Pak Tito belum mendapat seragam kaos olahraga.
"Hari ini teori dulu ya, bapak akan menjelaskan tentang asal usul Olimpiade." kata Pak Tito.
Segera saja Sandi dan teman-teman satu kelasnya menyukai Pak Tito. Pak Tito ramah dan akrab. Setelah hampir sebulan Pak Tito mengajar, Sandi merasa ada yang aneh dengan Pak Tito.
"Aneh nggak sih, Pak Tito selalu memakai baju lengan panjang. Aku jadi penasaran, ada apa ya dibalik lengan panjang baju Pak Tito?" bisik Sandi pada sahabat-sahabatnya Dika, Reyza dan Aida.
"Aneh kenapa?" Dika balik bertanya
"Dulu lengan kaos olahraga Pak Soni pendek. Tapi kenapa Pak Tito memakai kaos olahraga berlengan panjang? Kamu ingat nggak Dik, saat kemarin seluruh baju Pak Tito basah karena mengambil bola yang jatuh ke dalam kolam ikan hias di belakang sekolah, Pak Tito tidak menggulung lengan kaos olahraganya, padahal Pak Tito menggulung celana panjangnya." kata Sandi.
"Memangnya apa yang disembunyikan Pak Tito?" tanya Reyza heran dengan keheranan Sandi.
"Jangan-jangan lengan Pak Tito penuh tato. Karena itulah Pak Tito selalu memakai baju lengan panjang." ucap Sandi pelan.


To be continued...

Minggu, 15 Juli 2012

Nightmare On Palm Street

By : Arumi Ekowati


Surprised dengan ilustrasinya yang bagus banget... kesannya jadi horor beneran, padahal.... hm, baca aja deh sendiri di Story Teenlit Magazine terbaru, edisi 31, terbit 25 Februari 2012



Semilir angin malam membuat Gina menggigil kedinginan begitu ia keluar dari mobil Papanya. Ia biarkan Papa berjalan lebih dahulu memasuki rumah yang akan dihuni keluarga mereka nantinya. Ini bukan rumah baru. Kabarnya telah dibangun sejak sepuluh tahun lalu. Dan telah berganti kepemilikan sebanyak tiga kali. Papa Gina kini adalah pemilik baru rumah ini.
Gina menghela nafas pasrah. Jika saja bisa, ia ingin menolak tinggal di sini. Rumah ini jauh lebih kecil dari rumah mereka sebelumnya. Terletak di pinggiran Ibukota yang masih sepi. Rumah di kanan kiri rumah itu kosong dan dibiarkan tak terawat, penuh ditumbuhi ilalang tinggi.
Tapi Papa terpaksa menjual rumah mereka sebelumnya yang terletak di pusat kota dan berukuran dua kali lebih besar dari rumah ini. Sebagian hasil menjual rumah mereka sebelumnya digunakan untuk membeli rumah ini dan sebagian lagi untuk menalangi usaha Papa yang tahun ini banyak merugi.
Jalan Palem nomor 5, itu alamat rumah yang akan dihuni keluarga Gina ini. Pagar besinya sederhana dan banyak berkarat di sana sini. Lebar rumah ini hanya tujuh meter. Tak ada garasi, hanya sebuah carport. Terasnya kecil berukuran dua meter kali tiga meter.
“Ayo, Gin! Cepat masuk!” ajakan Papa mulai menyerupai perintah ketika Papa melihat Gina masih termangu di teras ragu untuk melangkah masuk ke dalam rumah.
“Kamar kamu di belakang dekat ruang makan. Jendela kamar kamu menghadap taman belakang, jadi, kamu masih bisa menghirup udara segar jika jendela kamarmu dibuka.” kata Papa sambil menunjukkan kamar Gina.
Gina memasuki kamarnya perlahan. Semua barang-barangnya telah dipindahkan ke kamar ini. Interior berikut warna dindingnya, telah ditata menyerupai kamarnya terdahulu.
“Kamu suka kamar baru kamu, sayang? Nggak jauh beda dengan kamar kamu yang dulu, kan?” kata Mama sambil membantu Gina memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam lemari.
“Jujur saja, sedikit spooky, Ma! Rumah di kanan kiri rumah ini kan masih kosong.” jawab Gina.
“Hei, anak Mama takut dengan rumah kosong?” goda Mama.
“Ma, kata orang, rumah kosong itu biasanya dihuni mahluk yang nggak terlihat.” jawab Gina sedikit cemberut.
“Justru karena nggak terlihat, berarti nggak perlu takut, kan?” sahut Mama.
Gina semakin cemberut.

Malam itu Gina kesulitan tidur. Pikirannya masih dipenuhi rasa was-was teringat rumah kosong di kanan kiri rumahnya yang gelap, penuh ditumbuhi rumput dan semak liar. Walau ia terbiasa tidur dalam gelap, tapi kali ini Gina tak berani mematikan lampu kamarnya. Menjelang jarum pendek jam wekernya menyentuh angka dua, mata Gina mulai terpejam. Akhirnya tubuhnya yang terasa lelah setelah seharian sibuk membereskan barang-barangnya, menuntut untuk diistirahatkan.
Dalam alam mimpinya, gambaran rumah kosong di kanan kiri rumahnya kembali hadir. Gina berada di dalam rumah kosong sebelah rumahnya itu. Lalu tiba-tiba muncul sosok berwajah penuh jerawat dan bergigi kawat menyeringai lebar ke arahnya! Mendadak ia bangun terduduk di tempat tidurnya.
“Ih! Mimpi apaan sih? Nggak enak banget! Kenapa aku mimpiin wajah aneh gitu? Nggak bisa apa mimpi yang romantis? Mimpi ditaksir Nicholas Saputra kek! Atau diajak kencan Justin Bieber!” rutuk Gina komat-kamit sendiri.
Gina kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya membelalak menatap langit-langit kamarnya. Ia ragu untuk memejamkan mata.
“Mungkin aku harus melihat-lihat poster Zac Efron supaya aku mimpiin wajah gantengnya!” pikir Gina.
Segera dicarinya gulungan poster-poster selebritis favoritnya yang belum sempat ia pasang di dinding kamar. Ada banyak poster selebriti tampan koleksinya. Ia beberkan satu persatu. Ada Robert Pattinson, Taylor Lautner, Jonas Brother, Zac Efron. Hm, wajah-wajah menawan itulah yang ia harapkan hadir dalam mimpinya. Setelah puas melihat-lihat selama hampir dua puluh menit, Gina kembali tertidur.
Baru saja mata Gina terpejam selama tiga puluh menit, mendadak ia kembali terbangun.
“Astaga! Kenapa wajah aneh itu lagi yang muncul dalam mimpiku? Kenal juga nggak. Lihat juga kayaknya belum pernah.” omel Gina.
Ia pun tak berani lagi memejamkan matanya. Baru menjelang pukul empat pagi, Gina kembali tertidur. Hanya satu jam ia memejamkan mata, karena pukul lima pagi, pintu kamarnya diketuk keras oleh Mama yang membangunkannya untuk segera sholat subuh.
* * *
Vero menyikut pinggang kiri Gina sedikit keras. Membuat tubuh Gina yang hampir limbung ke depan terlonjak kaget.
“Gin, jangan tidur dong. Pak Buchori melototin kamu tuh.” bisik Vero.
Gina buru-buru menegakkan duduknya. Tapi baru saja sebentar tegak, matanya sayup-sayup hampir saja terpejam lagi. Untunglah bel istirahat segera berbunyi, menandakan pelajaran kimia dari Pak Buchori telah usai.
“Kamu kenapa sih, Gin?” tanya Vero setelah Pak Buchori keluar kelas.
“Semalam aku kurang tidur. Aku mimpi aneh, Ver.” jawab Gina sambil bergidik.
“Gara-gara rumah barumu itu, ya? Jangan-jangan rumah barumu itu banyak mahluk halusnya.” sahut Vero sambil nyengir.
“Ih, jangan nakut-nakutin gitu dong, Ver!”
Gina melotot sebal melihat Vero nyengir semakin lebar.
Malam harinya, wajah penuh jerawat dengan gigi berkawat kembali hadir dalam mimpi Gina. Jadilah malam itu lagi-lagi Gina kurang tidur dan kembali paginya ia terkantuk-kantuk di kelas.
“Gin! Bangun! Ampun deh, masih pagi kamu sudah merem!” lagi-lagi Vero menyikut pinggang kiri Gina.
“Duh, nyikutnya keras amat sih, Ver!” protes Gina sambil sedikit meringis.
“Tuh, ada anak baru! Kamu kan berharap banget ada murid cowok baru di kelas kita.” sahut Vero sambil menunjuk ke arah depan kelas dengan dagunya.
Gina segera mengalihkan pandangannya ke depan kelas. Mata Gina segera membelalak ketika melihat sosok mahluk yang berdiri di depan kelas. Apalagi kemudian mahluk itu nyengir lebar ke arahnya. Giginya berhias kawat gigi kuno, persis sekali seperti...
“Ver, please, jangan bilang kalau ini nyata, please, bilang ini cuma mimpi.” bisik Gina menghiba kepada Vero.
“Apaan yang cuma mimpi?”
“Mahluk cowok yang berdiri di depan kelas itu, apa yang kamu lihat nggak seperti yang aku lihat, kan?”
“Memangnya apa yang kamu lihat, Gin?”
“Cowok nggak gitu tinggi, bertubuh cenderung ceking, bertampang jadul, muka penuh jerawat, pakai kawat gigi.”
“Lah, memang benar, itulah anak baru di kelas kita. Kamu suka ya, Gin?”
“Ih, enak aja!” bantah Gina
to be continued...

Selasa, 10 Januari 2012

Cerpen : KUNANG – KUNANG CINTA



Selamat tahun baru 2012 teman-teman....Mengawali tahun baru ini, aku ingin sharing cerpen duetku bersama sahabatku Riri Ansar yang sama-sama hobi menulis. Cerpen ini fiksi, tapi terinspirasi dari kisah nyata gadis cilik penderita kanker bernama sayitri. semoga bermanfaat bagi yang membaca. Enjoy it. :)


KUNANG – KUNANG CINTA
~ Riri Ansar & Arumi Ekowati ~

Gayatri melangkah terburu-buru keluar kelas, dengan langkah hampir setengah berlari. Ia harus segera sampai di rumah, menyiapkan santap siang untuk neneknya. Harus, karena hanya dia yang tinggal bersama neneknya. Tak ada waktu untuk bercengkrama dengan teman-temannya sepulang sekolah. Termasuk tak ada waktu untuk melayani rayuan Bisma. Sebenarnya, itu bukan rayuan, hanya permintaan Bisma untuk mengantarnya pulang bareng. Sudah berkali-kali ia menolaknya, tapi Bisma seperti tak pernah surut langkah membujuknya.
“Tri, kamu mau pulang bareng denganku?” tanya Bisma mencegat Gayatri.
“Nggak usah, Bisma, aku bisa pulang sendiri.” jawab Gayatri sopan.
“Rumah kita berdekatan. Nggak ada salahnya kan pulang bareng?” bujuk Bisma.
“Justru aku nggak enak kalau kita pulang bareng. Apa kata teman-teman nanti jika melihat kita boncengan.” sahut Gayatri sambil tersenyum, tak dikuranginya sedikit pun kecepatan langkahnya.
“Atri!” Bisma mengejar Gayatri, hingga menjejeri langkah Gayatri sambil tetap menuntun sepedanya.
“Kenapa sepedamu selalu kau tuntun begitu? Sepedamu jadi tak ada gunanya.” kata Gayatri, matanya melirik ke arah Bisma yang berjalan di samping kanannya.
“Aku tak akan mengayuhnya sampai kau mau aku bonceng.” sahut Bisma
“Apa kamu nggak capek, Bisma?” tanya Gayatri heran.
“Harusnya aku yang bertanya, apakah kamu nggak capek, Tri? Bukankah kau akan lebih cepat sampai ke rumahmu jika kau mau membonceng sepedaku?” Bisma balik bertanya.
“Aku nggak mau merepotkanmu, Bisma.”
“Aku nggak merasa repot.”
Gayatri enggan menyahut lagi. Ia mempercepat langkahnya tanpa memedulikan Bisma. Bisma membiarkan Gayatri berjalan di depannya. Sementara, ia mengikuti dari belakang sambil tetap menuntun sepeda tuanya. Bisma menghela nafas panjang. Ia kehabisan akal mencari cara mengembalikan keceriaan Gayatri. Ia menyesal tak bisa lagi melihat lekukan kecil di kanan kiri pipi gadis itu yang muncul tiap kali ia tersenyum.
Senyum khas Gayatri lenyap bersamaan dengan kepulangan ibunya dari Malaysia dalam keadaan sekarat. Bukan, ibu Gayatri bukan korban kekejaman majikan seperti yang sering diberitakan di televisi. Ibu Gayatri dipulangkan majikannya karena sakit-sakitan akibat kanker yang dideritanya. Tak lama setelah kepulangannya, ibu Gayatri wafat. Bisma ingat bagaimana Gayatri tak berhenti menangis melihat tubuh ibunya yang terbujur kaku. Sudah lima bulan berlalu sejak kematian ibunya, tapi keceriaan Gayatri tak pernah kembali.
***
Gayatri tak bisa melupakan kejadian tadi siang. Saat Argan tak sengaja menubruk tubuhnya. Ketika itu ia sibuk memerhatikan buku-buku yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan, hingga tak melihat ada seseorang melangkah tepat ke arahnya.
“Eh, maaf!” seru Argan tadi siang.
Lalu tanpa diminta, Argan segera mengambilkan buku-buku Gayatri yang berjatuhan di lantai. Gayatri tercengang. Ia tahu siapa Argan. Siapa yang tak kenal Argan di desa ini. Anak pak lurah. Pujaan banyak gadis di desanya ini. Yang membuat Gayatri tercengang, Argan yang selama ini seolah tak terjangkau olehnya, meminta maaf lebih dulu, bahkan bersedia memungut buku-bukunya yang berjatuhan.
“Terima kasih, Kak.” ucap Gayatri saat Argan menyerahkan buku-buku itu kepadanya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Argan.
Gayatri bengong sesaat dan sedikit gelagapan saat menjawab,
“Saya nggak apa-apa, Kak!”
“Maaf, ya, aku yang salah, berjalan sambil sms-an, jadi tak melihat ada orang lain.”
“Eh, saya juga salah, Kak. Jalan sambil menunduk.”
Syukurlah kalau kamu nggak apa-apa. Sudah ya?” kata Argan seraya tersenyum, lalu melangkah pergi. Meninggalkan jejak di hati Gayatri. Membuat ia memikirkan Argan hingga malam ini. Lalu, buku hariannya hari ini terasa berbeda dibanding hari-hari sebelumnya yang suram. Ia tersenyum, kemudian menuliskan kejadian siang tadi dalam buku hariannya dengan kalimat pembuka,
Hari ini aku senang sekali…
***
Hari minggu ini Gayatri menemani neneknya bekerja di sawah. Ia tak tega membiarkan neneknya sendirian bekerja keras di usianya yang telah lebih dari separuh baya. Andaikan bisa, ingin rasanya ia menggantikan neneknya bekerja. Tapi ia harus sekolah. Neneknya yang selalu menyemangatinya sekolah. Belum lagi ia ingat pesan terakhir ibunya, agar ia tak berhenti menuntut ilmu, karena ilmu itu adalah harta yang tak ternilai. Untunglah bapaknya yang bekerja sebagai buruh serabutan di Jakarta masih bisa mengirimkan uang untuk biaya sekolahnya.
Sawah ini hanya sepetak kecil. Peninggalan kakeknya dahulu. Saat ini adalah saat menanam, setelah selesai menanam, neneknya tak perlu datang ke sawah sepanjang hari, kecuali melihat keadaan sawahnya dan memberi pupuk. Gayatri melirik neneknya yang terus menanam bibit-bibit padi dengan cekatan. Ada rasa kasihan di hatinya melihat neneknya itu. Ia bertekad akan membantu neneknya sebisa mungkin, di sela-sela tugas-tugas sekolahnya.
Sinar mentari semakin menyengat. Tiba-tiba saja Gayatri merasakan nyeri di kepalanya. Rasanya bagaikan ada ribuan kunang-kunang menyerangnya. Lalu semua tampak gelap dan beberapa detik kemudian tubuhnya merosot jatuh di atas pematang sawah.
***
“Atuh kumaha, Neng? Kamu kenapa tiba-tiba pingsan tadi?” Suara halus neneknya dengan logat sunda yang kental lamat-lamat terdengar di telinga Gayatri.
Gayatri membuka matanya. Kepalanya masih terasa berdenyut.
“Entahlah Nek, tadi rasanya kepala Atri pusing sekali. Seperti diserbu ribuan kunang-kunang.” sahut Gayatri.
“Sini, nenek kerik badan kamu pakai ramuan bawang. Masuk angin ini kamu, Neng.” kata neneknya lagi.
Gayatri tak menolak ketika neneknya membuka pakaiannya, lalu melumuri punggungnya dengan minyak kelapa bercampur tumbukan bawang merah. Sesekali ia mengernyit menahan perih, saat kulit punggungnya dikerik dengan uang logam lima ratus rupiah. Mungkin benar kata neneknya, ia hanya masuk angin.
***
“Gayatri!”
Gayatri ragu untuk menoleh. Tapi seingatnya itu bukan suara Bisma yang ia kuatirkan akan memaksanya pulang bareng lagi. Gayatri melongo tak percaya melihat sosok yang menyebutkan namanya tadi.
“Kak Argan?” Dia heran, bagaimana anak pak lurah itu bisa tahu namanya? Ia bukan siapa-siapa. Berkenalan pun tidak pernah.
“Mau kuantar pulang?” tanya Argan dengan senyumnya yang menawan. Ia duduk di atas sebuah motor matik yang tampak baru.
“Saya, Kak? Tapi…eh, maaf, kenapa kak Argan mau mengantar saya pulang?” tanya Gayatri semakin heran.
“Karena kulihat kamu jalan sendiri hampir setengah berlari. Rumahmu cukup jauh juga, kan? Kuantar kamu sampai depan kantor kelurahan, dari situ kau hanya tinggal berjalan sedikit lagi ke rumahmu.”
Gayatri kembali melongo. Argan tahu di mana rumahnya? Bagaimana bisa?
“Tapi Kak…”
“Sudahlah! Nggak apa-apa. Ayo membonceng di motorku.” kata Argan.
Sesungguhnya Gayatri memang tak ingin menolak. Ini seperti mimpi di siang hari. Argan yang beberapa hari ini membuatnya senang, yang membuatnya sering mencuri pandang saat kebetulan berpapasan di lingkungan sekolah, justru menawarkan mengantarnya pulang. Segera ia duduk di boncengan motor Argan dan sedikit ragu menggenggam ikat pinggang Argan di kanan kiri sebagai pegangan.
Bisma patah hati melihat adegan itu. Ia kecewa pada Gayatri. Gayatri menolak membonceng di sepedanya yang memang sudah tak mentereng lagi. Tapi tak menolak membonceng di motor baru Argan anak pak lurah. Hati Bisma terasa ngilu.
***
Pagi ini Gayatri berjalan menuju sekolahnya dengan hati riang. Hari-hari belakangan ini ia semakin semangat berangkat ke sekolah. Tentu saja karena Argan. Tak bisa dipungkiri, hatinya melambung menerima segala perlakuan Argan kemarin. Walau ia masih tak tahu apa maksud Argan sebenarnya, ia tak peduli. Itu sudah cukup membuat keceriaannya kembali. Lesung pipinya kembali sering terlihat. Sapaan ramahnya kembali mencerahkan hari setiap orang yang ditemuinya.
“Atri!”
Gayatri tahu, kali ini Bisma yang memanggilnya. Ia menoleh dan tersenyum manis.
“Kuantar ke sekolah yuk!” ajak Bisma.
Hati Gayatri sedang senang. Ia tak keberatan berbagi kebahagiaan. Maka tak ditolaknya tawaran Bisma itu. Ia segera duduk di boncengan sepeda Bisma. Membuat Bisma bahagia dan melupakan kekecewaannya kemarin. Bisma tersenyum lebar sambil mengayuh sepedanya penuh semangat. Ia bertekad, sepulang sekolah, ia akan mengantar Gayatri pulang.
Tapi nyatanya Bisma ragu menghampiri Gayatri yang berjalan cepat-cepat sejak keluar kelas seusai jam pelajaran terakhir. Ia hanya memerhatikan dari belakang. Ingin tahu, apakah Argan akan menawarkan mengantar Gayatri pulang lagi.
Argan baru muncul setelah mereka cukup jauh meninggalkan sekolah. Gayatri mengenal suara motor Argan. Segera ia menoleh dengan hati berbunga-bunga. Tapi bunga-bunga di hatinya itu mendadak layu saat dilihatnya Argan tidak sendiri di atas motornya. Ada gadis lain yang juga mengenakan seragam putih abu-abu membonceng di motor Argan. Gadis itu memeluk pinggang Argan tanpa malu-malu. Argan berlalu begitu saja melewati Gayatri tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Senyum manis segera lenyap dari wajah Gayatri
Bisma cepat-cepat menghampiri Gayatri yang kini melangkah gontai.
“Atri, aku antar yuk!” sapa Bisma.
Gayatri hanya menoleh sekilas. Ia terlihat enggan menjawab. Tiba-tiba saja Gayatri merasakan kepalanya kembali berdenyut. Lalu, pandangannya kabur, bagaikan ribuan kunang-kunang menyerangnya. Tubuhnya lunglai hampir jatuh. Dengan sigap Bisma menangkap tubuh Gayatri.
“Tri, kamu kenapa?” tanya Bisma bingung.
Gayatri masih sempat berucap, “Kunang-kunang…” sebelum akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri dalam pelukan Bisma.
Susah payah Bisma mendudukkan Gayatri di boncengan sepedanya, lalu ia biarkan tubuh Gayatri bersandar di bahu kanannya. Sekuat tenaga Bisma menuntun perlahan sepedanya menuju rumah Gayatri.
***
“Terima kasih, Bisma. Kamu sudah menolongku dan mengantarkan aku sampai rumah. Kalau nggak ada kamu, apa jadinya aku pingsan di jalan.” ucap Gayatri.
“Kamu nggak mungkin pingsan di jalan sendirian, Tri. Karena sebenarnya, aku selalu ada di belakangmu.” sahut Bisma sambil tersenyum.
Gayatri menatap mata Bisma dalam-dalam. Ia memang merasakan ada rasa sayang di situ. Yang selama ini tak pernah ia gubris.
“Kamu memang teman yang baik, Bisma.” kata Gayatri membalas tersenyum.
“Ada apa denganmu, Tri? Kenapa mendadak pingsan?” tanya Bisma.
“Entahlah. Sekarang ini kepalaku sering terasa sakit sekali. Jika sakit itu menyerang, rasanya seperti ada ribuan kunang-kunang menyerbuku. Lalu semua menjadi gelap dan aku tak ingat apa-apa lagi.” jelas Gayatri.
“Sejak kapan kau merasa begitu?” tanya Bisma tampak cemas.
“Beberapa bulan yang lalu. Akhir-akhir ini aku semakin sering pingsan. Setiap kali aku merasa sedikit lelah, kepalaku rasanya langsung berdenyut.” jawab Gayatri.
“Mulai besok dan seterusnya, aku akan memboncengmu pergi dan pulang sekolah. Kamu nggak boleh menolak, Tri. Aku nggak mau kamu terlalu capek.” kata Bisma.
Gayatri tersenyum. Ia bisa membaca ketulusan hati Bisma. Ah, kenapa selama ini ia tak menyadarinya?
“Baiklah aku tak akan menolak.” sahut Gayatri.
Bisma tersenyum senang. Ia bertekad akan selalu menjaga Gayatri. Tak akan dibiarkannya Gayatri kembali diserbu ribuan kunang-kunang.
***
“Kau bawakan aku kunang-kunang, Bisma?” tanya Gayatri heran.
Ini malam minggu. Aneh, Bisma mendadak berkunjung ke rumahnya, membawa setandan pisang raja dan sebuah toples kaca bening berisi kunang-kunang.
“Apakah seperti ini kunang-kunang yang sering menyerbu kepalamu?” tanya Bisma.
“Tidak, kunang-kunang ini jauh lebih cantik. Darimana kau mendapatkannya?”
“Di lereng bukit, aku menangkapnya kemarin malam.”
Gayatri tertegun, memandangi Bisma hampir tanpa kedip.
“Aku tak menyangka kau menangkap kunang-kunang untukku.”
“Karena kau bilang sering diserbu kunang-kunang, aku jadi penasaran bagaimana rupa kunang-kunang sebenarnya. Aku dengar di lereng bukit masih banyak kunang-kunang di malam hari. Aku berusaha menangkapnya beberapa. Hanya dapat sepuluh ekor.”
“Tentu saja bukan kunang-kunang seperti ini yang menyerbu kepalaku, Bisma. Kunang-kunang yang menyerbu kepalaku adalah kunang-kunang yang mematikan.”
Bisma tercekat mendengar kalimat Gayatri itu.
“Tri, kenapa kamu bicara begitu?” tanya Bisma gundah.
“Terima kasih kau sudah membuat aku melihat kunang-kunang sungguhan. Ini sudah cukup, mereka bisa mati kalau dibiarkan di dalam toples terlalu lama.”
Gayatri meraih tangan Bisma, menuntunnya ke pinggiran kebun depan rumahnya. Suara jangkrik yang bersahutan menghiasi malam. Tak ada cahaya di hamparan kebun itu. Bulan tak sedang purnama. Hanya kerlap-kerlip bintang tampak di langit.
“Bukalah toples ini, Bisma.”
Bisma menurut. Ia membebaskan sepuluh kunang-kunang yang dengan susah payah ia kumpulkan kemarin malam. Membiarkan mereka terbang ke arah hamparan kebun. Menciptakan titik-titik cahaya kuning di beberapa tempat.
“Pernahkah kau mendengarkan nyanyian kunang-kunang?” tanya Gayatri.
“Ah, tak mungkin kunang-kunang bisa bernyanyi.” jawab Bisma.
“Jika aku sudah tak ada, aku akan menjelma menjadi kunang-kunang dan akan bernyanyi untukmu.” ucap Gayatri.
“Gayatri, jangan bicara seperti itu.” sahut Bisma kembali gundah.
“Sakit kepalaku semakin sering menyerang. Mungkin ini sakit yang sama dengan sakit yang diderita ibuku dulu. Katanya penyakit seperti itu bisa menurun.”
“Gayatri… Aku sayang kamu.” ucap Bisma hampir lirih.
Gayatri meraih tangan Bisma dan menggenggamnya erat.
“Terima kasih sudah menyayangi aku, Bisma.”
Hanya itu jawaban Gayatri. Ia enggan menjanjikan terlalu banyak kepada Bisma. Ia takut tak bisa menepatinya. Tiba-tiba Gayatri meringis menahan sakit. Sekali lagi, rasanya seperti ada ribuan kunang-kunang menyerbu kepalanya. Padahal ia sedang tak merasa lelah. Ia justru sedang merasa bahagia karena merasakan kasih sayang Bisma.
Pandangan Gayatri mulai mengabur. Ia tak bisa melihat apa-apa, hanya titik-titik warna kuning laksana ribuan kunang-kunang mengelilinginya. Lalu semua berubah gelap.
“Bisma, ini kunang-kunang cinta…” ucap Gayatri lirih, kemudian ia jatuh dalam pelukan Bisma.
~ Tamat ~

Dedicated to : Gadis manis bernama Sayitri

Selasa, 20 September 2011


Mengapa Edelweis Harus Mati?

Cerpen Misterius sekaligus megharukan karyaku yang dimuat di STORY Teenlit Magazine edisi 22, terbit 25 Mei 2011

Tatkala malaikat mempertanyakan tugasnya : Mengapa Edelweis Harus Mati?


Kupandangi sosok cantik itu dari kejauhan. Wajahnya halus bak pualam. Rambut hitam lurus panjangnya diikat ekor kuda. Memperlihatkan leher jenjangnya dengan jelas. Jika ada manusia yang terlahir mendekati sempurna, maka gadis itu adalah salah satunya. Anugerah kecantikan dan keindahan ragawi rasanya sudah cukup menjadi jaminan kesuksesan hidupnya kelak. Andai aku seorang cast director, pasti aku sudah mengontraknya menjadi model iklan, model profesional atau pemeran utama sebuah film romantis.

Keberuntungannya masih ditambah dengan otak yang brilian. Lulus dari sekolah menengah atas dengan nilai hampir sempurna. Jika ia mau, ia telah diterima di sebuah perguruan tinggi negeri ternama tanpa melalui tes. Sekiankah keberuntungannya? Belum, masih ditambah bahwa gadis itu adalah anak satu-satunya keluarga Pambudi, seorang pengusaha retail terkenal, pewaris kekayaan melimpah. Bahkan kedua orangtuanya telah menyiapkan sebuah perusahaan untuknya hingga kelak ia tak perlu capek-capek mencari pekerjaan.

“Coba bacakan kakak buku barumu, Priska.”
Suaranya terdengar lembut dan halus. Jari jemarinya yang lentik segera menuntun jari-jari mungil gadis kecil yang disebutnya Priska pada sederetan huruf-huruf braille.

“Pada zaman dahulu kala, ada seorang putri cantik yang kesepian…” Priska melafalkan kata-kata bacaannya dengan artikulasi yang kurang jelas.

Aku tersenyum melihat pemandangan indah itu. Kuperhatikan lagi sosok gadis cantik itu. Aku tahu namanya Edelweis. Nama yang indah, andai ia bisa hidup abadi seperti bunga Edelweis. Sayangnya, aku tahu ia tak akan hidup abadi. Bahkan aku tahu kapan tepatnya ia akan mati.
“Sayang sekali jika gadis secantik dan sebaik itu harus mati muda.” batinku.

Ya, usianya baru menginjak tujuh belas tahun. Baru saja kuliah semester satu di sebuah sekolah tinggi keguruan dan ia mengambil jurusan pendidikan untuk guru Sekolah Luar Biasa, yang mengkhususkan diri pada pendidikan untuk anak-anak penyandang cacat.

Bukankah itu pilihan yang luar biasa untuk gadis seusianya? Sejak orangtuanya mengajaknya berkunjung ke sebuah panti yang merawat anak-anak cacat ketika ia kecil dulu, ia langsung jatuh hati dengan anak-anak penghuni panti itu. Kemudian secara rutin ia mengunjungi panti. Keberadaan anak-anak itu telah memberinya ide untuk kemudian memilih malanjutkan pendidikannya di bidang keguruan untuk anak-anak berkebutuhan khusus.

Awalnya, keinginannya itu tentu ditentang kedua orangtuanya. Mereka mengharapkan ia menjadi penerus usaha mereka, jika bisa sekaligus menjadi publik figur. Mengikuti ajang Puteri Indonesia atau apalah, kontes-kontes semacam itu, aku yakin ia pasti menang.

Tapi keputusan gadis itu tak tergoyahkan. Maka di sinilah ia sering menghabiskan waktu, di panti asuhan Kasih Ibu, yang merawat tak kurang dari empat puluh anak penyandang cacat, beberapa ada yang menyandang cacat ganda. Buta sekaligus pendengarannya sedikit terganggu, autis sekaligus jantungnya tak sempurna, lumpuh sekaligus gagal ginjal di usia dini. Gadis itu, tak bosan-bosannya menjadi teman setia anak-anak itu. Menghabiskan waktunya seusai kuliah untuk mengajari anak-anak itu berbagai keterampilan dan pengetahuan.

Untuk kesekian kalinya aku menyambangi gadis itu di panti ini. Kuputuskan, sudah saatnya aku berinteraksi langsung dengan Edelweis, bercakap-cakap, menggali lebih dalam informasi tentang dia langsung dari sumbernya.

“Maaf, Nona, aku tak sengaja!” kataku sambil buru-buru membereskan buku-buku yang berantakan karena aku dengan sengaja menabrak sosok yang membawa setumpuk buku itu.
“Nggak apa-apa, Mas! Saya juga terlalu terburu-buru, jadi nggak lihat kanan kiri.” sahut gadis yang sengaja kutabrak itu sambil mengumbar seulas senyum manis.
Mungkin cara yang kupilih untuk berkenalan dengannya terlalu norak dan kampungan. Tapi caraku itu terbukti ampuh. Karena kemudian aku terlibat perbincangan akrab dengan gadis yang sejak awal aku melihatnya sudah menarik minatku.

“Please, jangan panggil aku Mas dong, aku nggak seperti mas-mas, kan?” protesku sedikit nakal.
“Oh, maaf, jangan sebut aku Nona juga, ya? Sebutan yang terlalu hebat untukku.” sahutnya, senyum indah di wajahnya tak jua surut.
“Baiklah, jadi aku harus menyebutmu apa?”
Cara berkenalan yang jelas aku rekayasa, tapi toh gadis itu menjawab juga.
“Panggil saja aku Edel.” jawabnya.
“Edel? Namamu Edel?”
Ia tertawa kecil. Cantiknya semakin kentara.
“Itu nama panggilanku, nama panjangku Edelweis.” jawabnya lagi.
“Oh, mengapa nama secantik itu kau penggal menjadi Edel?” sudah pasti pertanyaanku barusan terdengar gombal. Tapi aku tak peduli. Apa pun akan kukatakan untuk menarik perhatian mahluk cantik ini.
Ia kembali tertawa kecil.
“Supaya praktis saja, kalau memanggil Edelweis akan terlalu panjang.”
“Hm, aku lebih suka memanggilmu Edelweis. Aku tak merasa membuang-buang waktu menyebut namamu secara lengkap.” jawabku masih bernada gombal.
“Silahkan, jika memang kamu lebih suka menyebutku begitu. Dan namamu?” tanyanya kemudian.
“Panggil saja aku Iz…”jawabku.
Ia terlongo sesaat. Wajah cantiknya berubah terlihat lucu dan menggemaskan.
“Namamu sependek itu?”
“Sebut saja begitu biar praktis.” jawabku lagi.
“Ah, kau curang. Kau tak mau menyebut nama pendekku supaya praktis.”
Tak tega aku memandang wajahnya yang kemudian terlihat gusar.
“Oke, namaku Izra.”
“Izra apa?”
“Izra saja. Kali ini tidak kupenggal supaya pendek dan praktis dipanggil. Tapi karena namaku memang hanya Izra. Jangan tanya padaku kenapa namaku cuma segitu. Tanyakan saja kepada yang memberiku nama.” jawabku.
“Baiklah, akan kupanggil kamu Izra. Maaf, apakah kamu ingin berkunjung ke panti ini?”
“Iya, aku tertarik ingin menulis tentang kegiatan panti ini. Aku kontributor satu majalah remaja di Ibu kota. Boleh, kan?” kataku seraya memperlihatkan kartu pers-ku.
Ia hanya melihat sekilas. Kartu itu palsu atau asli tampaknya ia tak peduli.
“Tentu saja boleh, kami senang jika semakin banyak yang tahu tentang panti ini. Agar semakin banyak masyarakat yang peduli dan mau berbagi kasih dengan anak-anak cacat yang ada di panti ini.” jawab Edelweis.
“Kau bekerja di sini?” tanyaku.
“Aku hanya sukarelawan. Kebetulan aku kuliah di bidang keguruan untuk sekolah luar biasa. Di sini aku dapat berlatih berkomunikasi dan berhubungan dengan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.”
“Wah, kamu luar biasa. Jarang loh, ada remaja yang peduli dengan anak-anak cacat.” pujiku tulus. Ini bukan gombal, aku sungguh-sungguh kagum pada gadis ini.
“Ah, biasa saja. Kebetulan aku berminat dan berbakat di bidang pengajaran. Dan membuat anak-anak ini tertawa senang adalah kebahagiaan tersendiri buatku. Ayo masuk, biar kukenalkan kau dengan mereka satu persatu.” katanya, lalu ia melangkah perlahan masuk ke dalam panti. Kuikuti ia dari belakang.

“Gadis cantik ini namanya Priska. Halo Priska, kenalkan ini Kak Izra.” kata Edelweis sambil menuntun Priska mendekatiku dan membantu tangan mungil Priska menyalamiku.
“Halo Priska.” sapaku lembut.
“Priska tak bisa melihat, tapi ia pandai membaca. Maksudku, membaca huruf braille tentu saja. Usianya baru sembilan tahun. Priska bukannya tak bisa melihat sejak lahir, tapi karena ia menjadi korban kekerasan ayahnya sendiri ketika baru berusia satu tahun. Kalau saja ada yang berbaik hati mendonorkan kornea matanya untuk Priska, maka ia mungkin bisa melihat lagi.” Edelweis menjelaskan panjang lebar.
Aku mengangguk dan tersenyum.
“Nah, cowok ganteng ini namanya Zidan. Umurnya sudah sepuluh tahun. Ada kelainan pada jantungnya, sehingga Zidan tak boleh terlalu capek.” kata Edelweis sambil membelai seorang anak laki-laki yang tak bisa diam. Mata anak itu bergerak ke sana ke mari.

Edelweis mengenalkan aku pada anak-anak yang lain, ada Tegar seorang bocah lelaki yang baru berusia sebelas tahun tapi sebelah ginjalnya tak berkembang sehingga tak berfungsi dengan baik. Sementara ginjalnya yang sebelah lagi juga kurang sempurna. Kakinya mengecil hingga ia tak bisa berjalan. Untunglah ada seorang baik hati yang menyumbangkan kursi roda untuknya.

Edelweis juga mengenalkan aku dengan semua pengajar, pengasuh, pengelola dan kepala panti anak cacat ini. Anak-anak yang diasuh di sini, ada yang masih memiliki orang tua tapi sangat miskin sehingga tak mampu merawat mereka. Ada juga yang sudah yatim piatu, bahkan ada yang sengaja dibuang orangtuanya.
“Bayangkan, bagaimana aku tak terenyuh melihat mereka. Harus ada yang peduli kepada mereka. Dan aku ingin menjadi salah satunya.” celoteh Edelweis.
Aku mengangguk takjub.

“Dan bagaimana mungkin aku sanggup mencabut nyawa gadis sebaik hati ini?” batinku.
Pengamatanku terus berlanjut. Setiap hari aku berkunjung ke panti itu, menyaksikan Edelweis dengan tulus memberikan perhatian dan kasih sayangnya pada semua anak penghuni panti. Aku semakin jatuh hati padanya. Bagaimana tidak, sudah kuceritakan tentang kesempurnaan gadis itu sebelumnya, tak ada alasan untuk membiarkannya mati muda. Bagaimana kelak nasib anak-anak itu yang tampak sudah terlanjur mencintainya?

“Kau sudah punya pacar?” tanyaku pada Edelweis di kunjunganku yang ke sekian kali ke panti Kasih Ibu.

Edelweis tak langsung menjawab. Mata indahnya sedikit membelalak, ia tak menduga aku akan mengajukan pertanyaan seperti itu.

“Tak ada yang jatuh cinta padaku.” jawab Edelweis beberapa menit kemudian.
“Tak mungkin...Pasti banyak cowok yang naksir pada gadis cantik dan baik hati seperti kamu.” sahutku.

“Ah, aku tak sehebat itu...” kata Edelweis, semu merah di kedua pipinya jelas menunjukkan ia sedikit malu kupuji seperti itu.
“Sungguh tak ada yang benar-benar cinta padaku. Ada beberapa yang mengaku suka, tapi tindakan mereka tak menunjukkan bahwa mereka benar-benar suka. Mereka menganggapku gadis aneh, karena aku lebih suka menghabiskan waktu di panti ini daripada jalan-jalan ke mal, makan di cafe atau nonton film.” lanjut Edelweis.
Lalu ia menoleh, menatapku agak lama.

“Baru kau saja cowok yang aku tahu juga menaruh minat dengan kegiatan di panti ini.” kata Edelweis, senyumnya merekah manis.
Oh, andai ia tahu siapa aku sebenarnya, masihkah ia sudi memberiku senyum semanis itu? Esok hari menjelang sore, aku diperintahkan untuk mengambil nyawanya. Keteguhkan dalam hati, jika memang gadis itu harus mati, akan kupilihkan cara mati yang terbaik, yang tak akan membuatnya merasakan sakit.
* * *

Priska masih rajin membaca. Ada banyak yang menyumbangkan buku-buku bacaan berhuruf braille untuk Priska. Edelweis seringkali menge-print cerita-cerita atau pengetahuan untuk anak-anak yang diambilnya dari internet di perpustakaan Gedung Depdiknas. Di sana, telah tersedia printer yang hasil print-out-nya dalam bentuk huruf braille. Priska selalu menerimanya dengan suka cita. Pengetahuannya semakin bertambah. Ia mulai senang mengarang cerita dongeng anak-anak. Edelweis dengan sabar membantu menuliskan ide-ide cerita Priska dalam sebuah buku.

“Priska pasti menjadi penulis hebat kelak jika ia sudah bisa melihat.” kata Edelweis bangga.
Tiba-tiba saja Zidan mengamuk. Anak itu menyandang autis, sungguh heboh jika ia ngambek. Ia berteriak-teriak keras dan melempar barang apa saja yang ada di dekatnya. Edelweis mendekati Zidan dan berusaha membuat anak itu tenang.
“Kenapa, sayang? Zidan mau apa?” ucap Edelweis lembut.
“Mau coklat, mau coklat, mau coklaaaaaat!!” teriak Zidan sambil menunjuk-nunjuk arah luar.
“Mm, coklatnya diganti mainan saja ya? Zidan nggak boleh makan coklat. Nanti Kak Edel belikan Zidan mobil-mobilan.” kata Edelweis masih dengan suara lembutnya.

Awalnya Zidan menggeleng, tapi setelah Edelweis berjanji akan membelikan mainan saat itu juga, ia mengangguk. Kata-kata lembut dan janji Edelweis telah melunakkan hatinya. Edelweis bangkit lalu beranjak keluar panti. Aku mengikuti langkah cepat-cepat gadis itu. Keinginannya untuk segera memenuhi permintaan Zidan membuatnya melangkah terburu-buru dan tak memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Kubiarkan ia melangkah menyeberangi jalan raya. Walau aku tahu beberapa detik kemudian akan ada sebuah mobil sedan sporty yang melaju sangat cepat menabrak tubuh langsingnya. Niatku untuk memilihkan cara mati yang lebih baik tak kesampaian. Aku tak punya kuasa untuk itu. Aku juga terlarang untuk menunda sekejap saja proses kematiannya. Tapi aku masih boleh mencegahnya mati dalam keadaan terlalu parah. Segera kutangkap tubuhnya yang terpental. Tak kan kubiarkan kepala indahnya jatuh membentur aspal dan remuk tak berbentuk.

Dalam sekejap, sudah banyak orang mengerumuni kami. Setelah aku yakin ada seorang yang mengambil alih menolongnya, menghentikan sebuah taxi dan membawanya ke rumah sakit terdekat, kutinggalkan ia dan kuperhatikan dari jauh. Kuikuti ia hingga ruang UGD rumah sakit itu. Namun hanya beberapa jam saja Edelweis mampu bertahan. Kemudian, kutuntun lembut jiwanya terbang ke langit...
* * *

“Aku sangat mencintai anak-anak ini. Aku rela memberikan segalanya demi melihat mereka bahagia. Diam-diam aku telah mendaftarkan jantungku, ginjalku, mataku untuk didonorkan bagi anak-anak yang membutuhkan. Kalau-kalau saja nanti umurku tak panjang, mereka bisa mengambilnya dariku.” papar Edelweis dalam perbincanganku terakhir dengannya, sebelum Zidan mengamuk, sebelum ia melangkah ke jalan raya...

Keinginan Edelweis telah terwujud. Matanya kini telah menjadi milik Priska. Gadis kecil itu semakin rajin membaca semenjak ia dapat melihat. Jantung Edelweis yang sehat telah berdetak lembut dalam rongga dada Zidan. Satu ginjalnya telah menggantikan ginjal Tegar yang telah rusak.

Kedua orangtua Edelweis yang telah membiayai operasi itu, selain juga gencar mencari bantuan sponsor. Walau mereka berduka, tapi mereka mendukung niat suci Edelweis. Mereka sering mengunjungi panti, memandang Priska, Zidan dan Tegar seolah seperti memandang langsung Edelweis putri terkasih mereka.

Aku tersenyum lega. Inilah ternyata alasan mengapa Edelweis harus mati muda. Bisa kupastikan, Edelweis pun tersenyum bahagia di langit.

~ Tamat ~

Inspired by : “ Touched by An Angel television series”