Selasa, 22 September 2009

Selamat Hari Raya Idul Fitri


Tak ada yang berubah setiap tahun dalam merayakan Idul Fitri. Jam enam pagi bersama ibu berjalan ke masjid yang lokasinya lumayan jauh. Cukup untuk berolahraga pagi. Setelah selesai sholat Ied, aku bermaaf-maafan dengan bapak ibu dan kedua adik laki-lakiku. Kemudian kami berkeliling kampung bermaaf-maafan dengan para tetangga.
Pukul sepuluh, kami segera berangkat ke rumah Mbahku di Slipi untuk bersilaturahmi dengan seluruh keluarga dari pihak bapak. Selanjutnya, selepas dhuhur, kami berangkat ke daerah Percetakan untuk bersilaturahmi ke rumah Bude dan Pakdeku untuk berlebaran dengan keluarga dari pihak ibu. Kami sampai kembali dirumah menjelang magrib. Lelahnya bukan main. Tapi senang karena telah berjumpa dengan saudara dan tetangga.

Tak ada yang berubah setiap tahun dalam merayakan Idul Fitri. Mungkin hanya usiaku yang bertambah. Yang lainnya sama. Jumlah anggota keluargaku belum bertambah. Kemana-mana kami masih berlima, bapak, ibu kedua adik laki-lakiku dan aku sendiri. tak ada tambahan mantu, mertua, adik ipar atau keponakan.

Kadang kuimpikan suasana Idul Fitri yang berbeda. Berkunjung ke rumah bapak ibu membawa cucu mereka, atau ke rumah mertua. tapi sepertinya aku masih harus menunggu suasana lebaran yang berbeda itu. doaku senantiasa, Allah berkenan segera memberikan kedua orangtuaku besan, mantu dan cucu. Semoga. Amiiin.

Jumat, 18 September 2009

Aku ingin KAU cintai lagi...



Aku hanya seorang hamba biasa. Yang tak luput dari kesalahan. Tak kan kujadikan iblis penggoda atau setan perayu sebagai kambing hitam atas semua kesalahan yang telah kulakukan. Kesalahan itu murni salahku sendiri. Karena hawa nafsu yang mengalahkan logika dan hati.

Aku hanya seorang hamba biasa. Yang tak luput dari melakukan kesalahan. Yang terkadang ijtihadku terlalu berlebihan. Yang salah, rasanya menjadi tidak salah lagi. Rasanya aku baik-baik saja. Namun manusia selalu harus diuji terlebih dahulu agar menyadari kesalahannya. Ketika kemudian rasanya semua yang aku lakukan salah. Semua harapanku terpatahkan. Jalanku tersendat. Aku seperti bidak Raja dalam sebuah permainan catur yang di-skak mat! Tak bisa kemana-mana! Semua jalan seolah tertutup.

Aku hanya seorang hamba biasa. Yang bahkan kemudian tak keberatan apabila dicintai dengan cara biasa oleh Mu, Sang Maha Pencinta. Karena aku sadar, aku hanya mampu mencintai-Mu dengan cara biasa pula. Oh, betapa salahnya aku! Kau tak pernah mencintai hamba-Mu dengan cara biasa. Kau selalu mencintai hamba-Mu dengan cara luar biasa!

Aku hanya seorang hamba biasa. Yang pada akhirnya tak mampu menolak daya tarik bulan Ramadhan, bulan penuh hikmah dan ampunan. Aku tersuruk sujud di kaki-Mu. Memohon ampunan-Mu atas segala kesalahan yang telah kuperbuat selama ini. Pada akhirnya aku selalu kembali kepada-Mu. Menyadari cinta-Mu yang begitu besar kepada hamba-hamba-Mu. Kau, Sang Maha Pengampun yang selalu menerima permohonan ampun hamba-hamba-Mu dengan wajah berseri-seri. Kau, Sang Maha Pengasih dan Penyayang yang mencintai hamba-hamba-Mu tanpa syarat.

Aku hanya seorang hamba biasa. Kuresapi dengan khidmat nikmat hidup yang telah Kau berikan. Kau masih mengizinkan jantungku terus berdetak. Kau masih membiarkan darahku terus mengalir membawa cinta-Mu disekujur tubuh ini. Kau masih mengizinkan aku menghirup udara kehidupan. Kau masih memberi aku kesempatan untuk memperbaiki diri. Aku tersuruk sujud untuk yang kesekian kalinya, mencium kaki-Mu, memohon agar KAU mau mencintaiku lagi...

Alhamdulillah, telah Kau ciptakan bulan Ramadhan sebagai bulan pengetuk hati manusia agar selalu kembali kepada kasih-Mu. Terima kasih Ya Allah... Perkenankan aku kembali fitri...

Mohon Maaf Lahir Batin

Rabu, 16 September 2009

Sabar Itu Pelita Hati...


Sabar... itu adalah ujian kehidupan yang paling sering menghampiri kita. Seperti sekarang ini, aku sedang diuji kesabaran. Menunggu kiriman barang yang aku pesan yang janjinya bakal sampai Senin kemarin. Kadang aku merasa cemas, takutnya dibohongi... Tapi kita harus selalu berbaik sangka, kan?

Sabar...cuma itu yang bisa aku lakukan. Semoga sebelum hari ini berakhir berganti esok hari, barang yang kupesan sudah sampai. Karena itu barang yang penting banget. Karena barang itu telat aku terima, jadinya janjiku ke orang lain telat juga...

Sabar...


Selasa, 15 September 2009

Kucing Misterius


By : Arumi

Dimuat di Majalah Aneka Yess! 2005

“Miaaaw…”
Suara lembut itu mengejutkan Nida yang sedang asyik mengetik karya tulisnya di komputer. Nida menghentikan kesibukannya. Menoleh ke kiri dan ke kanan mencari asal suara itu. Tiba-tiba kakinya yang terjulur di kolong meja komputer terasa geli tersentuh bulu-bulu lembut lebat…seekor kucing!
“Miaaauw!”

Nida terpana menatap kucing itu. Mahluk itu cantik sekali. Mungkin ini yang disebut kucing anggora. Bulunya panjang-panjang dan lebat sekali. Bulu ekornya juga panjang dan lebat. Warna bulunya indah, kuning keemasan mulai dari kepala, tengkuk, punggung hingga ujung ekornya. Begitu juga sisi luar keempat kakinya. Sementara wajah, leher, dada dan perut serta sisi-sisi dalam kakinya ditumbuhi oleh bulu berwarna putih bersih. Cantik sekali! Begitu sempurna!

Ragu Nida mengelus kepala kucing itu. Takut kucing itu mengamuk. Tapi tidak, kucing itu malah tampaknya senang dielus-elus. Bahkan ia mengusap-usap kepala dan tubuhnya ke kaki Nida. Nida terkikik kegelian.

“Pus, kamu cakep banget. Pasti kamu ada yang punya, ya? Kucing liar mana mungkin cakep begini? Kata Nida. Diraihnya tubuh kucing itu. Didekap dan digendongnya.
Nida memang tidak canggung menyentuh kucing. Karena Nida memang penyuka kucing. Bahkan, binatang favoritnya memang spesies kucing. Entah mengapa tingkah manja kucing membuatnya senang dan terhibur. Dan suara kucing yang imut itu…Miaaaw…ih, bikin Nida gemes!

“Miaaaw…” Kucing itu mengeong lagi. Matanya terpejam menikmati gelitik jemari Nida di lehernya. Nida tersenyum.
“Pus cakep, kamu aku panggil si Koneng deh. Karena warna bulumu yang kuning.”
Lantas, Nida menyibukkan dirinya mengajak si Koneng bermain-main. Karya tulisnya pun terlupakan!
***

“Miaaaw!” Si Koneng datang lagi! Mata Nida berbinar-binar menyambut kedatangannya. Si Koneng terbiasa datang setiap jam dua siang. Dia muncul dari pintu ruang belajar di lantai atas rumah Nida yang selalu terbuka, apabila Nida sedang sibuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

Setelah tiga hari pertemuan dengan si Koneng, Nida masih belum tahu siapa pemilik kucing itu. Dan Nida memang tak ingin tahu. Biar saja, pokoknya dia bisa memiliki si Koneng selama dua jam karena biasanya setiap jam empat sore, si Koneng akan berlari pulang. Selama ini pula, Koneng hanya diijinkan Nida bermain-main di ruang belajarnya. Oh, jangan sampai turun ke lantai bawah dan ditemukan Bunda! Karena pasti akan diusir Bunda!

Si Koneng semakin akrab dengan Nida. Dia tak takut-takut lagi mengusap-usap tubuhnya ke kaki Nida. Bahkan berani menghampiri jemari Nida yang menjentik memanggilnya. Kemudian si Koneng akan menjilat-jilat jemari Nida itu. Si Koneng juga semakin sering mengeong. Kadang membuat Nida khawatir suaranya akan terdengar sampai ke lantai bawah.

“Hush! Pus…Koneng, jangan kenceng-kenceng ya ngeongnya, nanti kedengeran Bunda. Cup…cup, diem…ayo, diem…” bujuk Nida.
Tapi Koneng tak jua mengerti. Tetap saja mengeong semakin kencang dan semakin sering. Sambil matanya tak lepas memandangi Nida, seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Aduh, Pus…jangan berisik dong, sayang.” seru Nida sambil mengelus-elus kepala si Koneng. Tapi terlambat, terdengar suara Bunda.
“Nidaaa!” Nida sedikit panic.
“Tuh, kan? Pus sih…” ujarnya pada Koneng dengan nada suara sedikit menyesal.
Tapi si Koneng seperti tak peduli. Ia tetap mengeong. Semakin sering dan melengking. Nida terpaksa membopongnya dan membawanya keluar menuju balkon. Meletakkannya di lantai. Tapi belum sempat Nida menutup pintu, si Koneng sudah melesat mendahuluinya. Masuk kembali ke ruang belajar. Menatapnya dan mengeong keras.

“Hhhh!” Nida menarik nafas, tak menyangka si Koneng akan membautnya kesal.
“Nidaaa!” terdengar lagi panggilan Bunda.
“Ya, Bundaaa.” sahutnya.
“Nida, dipanggil bunda kok lama banget nyautnya?” tanya Bunda setelah Nida berada di hadapannya.
“Maaf deh, Bunda. Nida tadi lagi tanggung…”
Bunda menatap Nida penuh selidik.
“Tadi Fifin nelpon. Kamu kelamaan turun, jadi telponnya bunda tutup. Fifin tanya, kok kamu belum datang ke rumahnya? Katanya kamu sudah janji ingin mengejakan tugas bersama?” tanya Bunda lagi.
“Ha?? Iya! Aku lupa!” pekik Nida dalam hati.

Dia terlalu asyik bermain dengan si Koneng, sampai lupa dengan janjinya pada Fifin. Nida menatap jam dinding, Wah, sudah pukul setengah empat sore! Sudah terlambat sekali karena ia janji akan datang pukul dua. Segera Nida mengangkat telepon untuk menghubungi Fifin, semoga dia masih diterima walau datang sangat terlambat…
***

Keseriusan Nida mengerjakan tugas sejak sepulang sekolah terganggu oleh sebuah suara lembut.
“Miaaaw...miaaaaw...”
Ah, si Koneng sudah datang. Seperti biasa, tepat pukul dua siang. Tapi kali ini Nida tak ingin bermain. Banyak tugas yang harus diselesaikannya. Apalagi kemarin ia terlambat ikut mengerjakan tugas kelompok ini bersama teman-temannya. Maka, beban tugasnya pun menjadi semakin banyak. Belum lagi ia harus menghapal banyak istilah-istilah Biologi untuk ujian besok. Hhh! Seperti biasa. Sistim kebut semalam deh. Tapi manalah si koneng mau mengerti?

Si Koneng langsung menubruk kaki Nida dan mengusap-usap kepalanya seperti biasa. Namun kali ini si Koneng terdengar semakin cerewet, semakin sering mengeong.
“Miaaaw...miaaaw....miaaaw!”
“Aduh, Pus! Udah deh, Pus. Keluar aja ya? Ujar Nida sambil membopong si Koneng keluar . Ia turunkan Koneng di alntai balkon. Lekas-lekas Nida berniat menutup pintu. Tapi, hup! Si Koneng lebih gesit! Dia sudah melesat masuk kembali ke dalam ruang belajar, menatap Nida tajam seperti manantangnya!

“Miaaaw!”
Nida mendengus, “Hhh! Sepertinya mesti dikibulin lagi nih si Koneng!” kata Nida sedikit kesal.
Seperti kemarin, Nida melempar bola pingpong berwarna oranye ke arah balkon. Secepat kilat si Koneng mengejar bola itu. Pada saat itulah, tak mau kalah Nida langsung menutup pintu. Dan hatinya pun merasa lega. Namun suara mengeong si Koneng masih terdengar., memilukan penuh harap. Ah, Nida tak ingin peduli. Kali ini tugasnya lebih penting. Tak ada waktu buat si Koneng! Benarlah tindakannya kali ini, menyingkirkan si Koneng!

Siang menjelang sore itu, tiba-tiba tampak mendung menggantung di langit. Kumpulan air hujan yang membentuk awan kelabu, berarak-arak di angkasa. Sepertinya sebentar lagi siap untuk ditumpahkan ke bumi. Tak lama, benarlah! Milyaran air hujan meluncur deras dari langit. Nida tak peduli. Ia masih sibuk menyelesaikan tugasnya. Baru setengah jam kemudian Nida tersadar, si Koneng? Si Koneng telah ditinggalkannya di luar, ditengah tumpahan air hujan yang begitu deras!

Nida menuju pintu dan membukanya perlahan. Oh, air hujan telah membasahi seluruh lantai balkon sampai ke setiap sudutnya. Pandangan mata Nida menyapu lantai balkon yang basah digenangi air. Si Koneng tidak ada!
“Jangan-jangan si Koneng kehujanan di tengah jalan...Di manakah rumahnya? Jauhkah dari sini? Ah Koneng, maafkan aku...”
***

Pukul dua siang. Nida menghempaskan tubuh lelahnya ke atas tempat tidurnya. Meletakkan kepalanya di atas bantal kesayangnnya yang empuk. Ah, lega rasanya. Tak sia-sia Nida begadang semalaman menyelesaikan tugas-tugasnya dan menghapal istilah-istilah Biologi yang sulit dan banyak sekali. Nida merasa puas, karena Nida tahu sebagian besar jawaban soal-soal ujian tadi. Perkiraan kasarnya, sembilan puluh persen soal berhasil dijawabnya dengan benar. Setidak-tidaknya Nida yakin akan meraih nilai delapan puluh lima. Selain itu, teman-temannya puas sekali dengan sisa tugas yang telah diselesaikan Nida. Wow, perfect! Hari ini benar-benar sempurna! Nida baru ingat, biasanya jam-jam segini, si Koneng datang. Tapi mengapa kali ini ia belum datang juga?

Jam dinding di ruang belajar itu menunjukkan pukul setengah empat sore. Aneh, si Koneng tidak datang. Nida menjadi gelisah.
“Kenapa ya si Koneng?” Nida menjadi cemas. Jangan-jangan kucing itu celaka karena kahujanan dalam perjalanan pulang kemarin. Nida bertanya kepada Bunda, apakah Bunda pernah melihat kucing cantik berbulu lebat berwarna kuning keemasan. Tapi Bunda menjawab tak pernah melihat kucing seperti itu. Begitu juga ketika Nida bertanya kepada Mbok Nar.

“Mbok nggak pernah liat, Neng!” jawab Mbok Nar.
“Tapi Mbok Nar pasti pernah dengar suaranya, kan? Suaranya nyaring banget, cerewet banget nggak bisa berhenti mengeong.” Nida masih bertanya. Dan lagi-lagi Mbok Nar menggeleng.

“Bener deh, Neng! Mbok nggak pernah denger suara kucing. Ibu kan nggak suka ada kucing di dalam rumah. Jadi kalo Mbok denger suara kucing di dalam rumah, pasti langsung Mbok cari dan usir!” jawab Mbok Nar.
Nida mengernyit, tak habis pikir.
“Masa iya sih, hanya aku yang melihat dan mendengar suara si Koneng? Suaranya aja berisik begitu. Rumah ini tak terlalu besar. Suara si Koneng yang melengking itu seharusnya didengar sampai ke lantai bawah. Dan anehnya, si Koneng seperti punya jadwal pasti, datang jam dua siang, dan pergi tepat jam empat sore. Kucing yang aneh...

...Continued.

Senin, 14 September 2009

Lurus Jalan Terus



Pada suatu hari di jalan raya seorang pengendara mobil mendadak terpaksa mengerem mobilnya karena tiba-tiba motor yang ada di depannya juga berhenti tiba-tiba. Setelah menarik nafas lega karena berhasil mencegah tabrakan, pengendara mobil itu membuka kaca mobilnya dan menongolkan kepalanya keluar jendela mobilnya sambil mengklakson berkali-kali pengendara motor di depannya.
Merasa terganggu dengan suara klakson yang nyaring, pengendara motor pun menoleh ke arah pengendara mobil.

“Hei! Kenapa kamu mendadak berhenti padahal nggak ada lampu merah? Ayo lekas jalan! Kamu mengahambat saya!” teriak pengendara mobil kepada pengendara motor.
Pengendara motor itu membuka helmnya.
“Bapak lihat tanda di depan itu?” tanyanya kepada pengendara mobil sambil menunjuk tada lalu litas di depan.
“Kenapa? Itu kan justru tanda ‘ LURUS JALAN TERUS’ . Kenapa kamu malah berhenti? Gimana sih kamu!” kata pengendara mobil itu masih dengan nada suara tinggi.
“Justru saya mentaati tanda lalu lintas di depan itu, Pak! Rambut saya kan keriting, nggak lurus. Makanya saya berhenti...” kata si pengendara motor sambil menunjuk rambutnya yang keriting awut-awutan.

Menjaga Pintu



Ketika Nasruddin masih kanak-kanak, ibunya yang akan pergi ke pasar meminta Nasruddin untuk menjaga rumah. Sebelum pergi, sang ibu berpesan, :
“Nasruddin selama ibu pergi, jaga pintu rumah baik-baik! Jangan jauh-jauh dari pintu. Awasi terus sepanjang waktu. Jangan lepas pandanganmu dari pintu rumah. Akhir-akhir ini banyak maling berkeliaran. Jika pintu rumah tak kau jaga, mereka bisa masuk rumah dan mencuri barang-barang di rumah kita.”
“ Baik, bu!” janji Nasruddin.

Setelah sang ibu pergi, Nasruddin duduk di depan pintu rumahnya melaksanakan amanat dari ibunya. Sejam kemudian, datang paman Nasruddin.
“Nasruddin, di mana ibumu?” tanya pamannya.
“Oh, sedang pergi ke pasar, Paman!” jawab Nasruddin.
“Wah, apakah masih lama? Padahal banyak saudara kita yang akan datang berkunjung kemari sebentar lagi. Tolong cari ibumu dan katakan padanya agar segera pulang dan bersiap menyambut saudara-saudara kita yang akan berkunjung.” perintah Paman Nasruddin. Lalu sang paman pergi meninggalkan Nasruddin yang kebingungan sendiri. Nasruddin tak tahu apa yang harus dilakukannya. Sang ibu menyuruhnya menjaga pintu. Sedangkan pamannya menyuruhnya mencari ibunya. Jika ia pergi, siapa yang akan menggantikannya menjaga pintu?
Nasruddin mencoba berpikir mencari jalan keluar. Tak lama ia segera bangkit dengan wajah ceria.

“Aha! Aku tahu!” teriaknya kepada dirinya sendiri.
Nasruddin masuk ke dalam rumahnya mencari peralatan pertukangan lalu ia menjebol engsel-engsel pintu rumahnya. Setelah pintu rumahnya terlepas, ia segera membopong pintu rumahnya itu dan pergi ke pasar menyusul ibunya.
“Dengan begini, maka aku tetap melaksanakan perintah ibu untuk tak jauh-jauh dari pintu!” kata Nasruddin.

Sumber : Kisah si Pandir Nasruddin

Sabtu, 12 September 2009

Buku harian Anjelika


By : Arumi

Yoan mengerutkan keningnya ketika membaca tulisan yang tertera dalam sebuah buku yang tampak lusuh. Tulisan itu adalah cerita kejadian yang dialami seorang gadis bernama Anjelika pada tanggal 12 Februari 1990.
“Aneh, apa yang aku alami hari ini sama persis seperti yang tertulis dalam buku harian Anjelika tujuh belas tahun yang lalu!” seru Yoan pada dirinya sendiri.
Yoan menemukan buku harian itu di halaman belakang sekolahnya. Dalam sebuah kotak dari plastik yang terkubur di dekat pohon jambu biji yang sudah agak besar. Ketika itu Yoan sedang menggali lubang di tanah untuk menanam pohon sumbangan bagi sekolahnya. Pemilik buku itu bernama Anjelika. Buku harian itu menceritakan kehidupan sehari-hari Anjelika di tahun 1990. Pada saat itu Anjelika berumur enam belas tahun, persis seperti Yoan sekarang. Dahulu, Angelika murid di sekolah Yoan juga.
Yoan membalik halaman-halaman sebelumnya saat pertama kali ia menemukan buku harian itu.


...Continued.

Pacarku Superhero


By : Arumi

Rama telat lagi. Nadia sudah menunggu lebih dari satu jam di depan twenty one. Padahal Nadia sudah berbaik hati tidak minta dijemput di rumah. Nadia tidak keberatan mereka langsung ketemu di bioskop. Tapi Rama benar-benar kelewatan. Film yang rencananya akan mereka tonton sudah mulai sejak empat puluh lima menit yang lalu.
Nadia menitikkan air mata. Ya, Nadia sudah tak tahan lagi. Selama ini Nadia selalu memaklumi kesalahan-kesalahan Rama. Padahal Nadia sudah mendapat nasihat dari teman-temannya. Nadia juga sudah sering membaca di beberapa majalah cewek yang membahas ciri-ciri cowok tidak sayang lagi sama ceweknya.
Tapi Nadia berusaha menepis kenyataan itu. Dan berusaha tetap yakin bahwa perasaan Rama kepadanya tetap tak berubah. Tetap seperti setahun yang lalu. Ketika dengan manis Rama menyatakan cintanya. Di bawah percikan kembang api. Di malam tahun baru. Nadia tak peduli walau diledek norak oleh teman-temannya ketika ia menceritakan kisahnya itu.
“Berasa sinetron banget nggak siyy…” komentar Sheri ketika itu. Tapi Nadia tak sependapat. Menurutnya, itu adalah peristiwa paling romantis di sepanjang hidupnya.
“Rama, tega banget sih kamu. Apa benar kamu sudah nggak sayang aku lagi?” tanya Nadia kepada dirinya, “ Rama, aku ingin kita seperti dulu.”
Dengan perasaan duka Nadia melangkah pulang. Sudah dua jam dia menunggu. Rama tak juga datang. Tidak memberi kabar pula. Kelewatan! Kali ini Nadia tak akan memaafkan. Tak ada alasan yang bisa diterimanya. Apa pun itu.

...to be continued

Dimuat di KaWanku

Rabu, 09 September 2009

Mahluk Manis di Halte Bis


By : Arumi


“Suer deh, Rem. Seram banget! Awalnya hantu itu terlihat manis.”
Remy cuma mesam-mesem mendengar cerita Bubut (Nama aslinya Budi, tapi Bubut pasrah ketika teman-teman satu sekolah memaksa memanggilnya Bubut) tentang pertemuannya dengan mahluk halus di Jembatan Poncol yang letaknya tidak jauh dari sekolah mereka.
“Jadi, sayang kan, kalau gue lewatin begitu saja. Apalagi suasananya sunyi sepi nggak ada mahluk lain, hanya kami berdua.” kata Bubut lagi sambil matanya menerawang mengenang kembali kejadian malam itu.
“Terus, elo pasti ngajak cewek itu kenalan dan minta nomor handphonenya, kan?” tebak Remy.
“Iyalah, kan gue kira memang benar-benar cewek manis.”
“Terus…”
“He..he, ternyata elo tertarik juga ya, Rem. Tumben, biasanya lo paling nggak percaya cerita-cerita hantu.”
“Gue tertarik karena mahluk itu lo bilang cakep. Kalau hantunya ancur kayak elo, nggak gue pikirin deh.”
“Reseh lo, Rem. Nanti kalau elo lihat sendiri baru kelabakan. Pasti bakalan lari terbirit-birit juga. Cewek itu taringnya bisa numbuh jadi panjang banget. Kayak vampir! Seram banget! Kalau gue nggak cepat kabur, darah gue sudah habis dihisap kali!”
Remy bukannya merinding malah tertawa ngakak. Bubut jadi keki berat!
“But, elo memang benar-benar ngaco. Di Indonesia nggak ada vampir. Yang ada katanya sih, sundel bolong, kuntilanak, genderuwo. Hantu model paling baru ada juga suster ngesot. Itu juga nggak perlu ditakutin. Hantunya ngesot gitu, nggak mungkin bisa mengejar kita. Kita tinggal lari juga masih ngesot-ngesot doang.”


Dimuat di tabloid Teen

BULAN DAN BINTANG


By : Arumi

“Wah, Nicolas Saputra keren banget ya Bin. Apalagi di film 3 Doa 3 Cinta tadi, kelihatan alim, ganteng, duh, gue tambah jatuh cinta nih!” seru Bulan sambil merem melek begitu kedua gadis itu keluar dari 21.
“Iya, iya deh. Udah ah, yuk temenin gue cari poster Jerry Yan terbaru. Lo udah janji kan, Lan?” sahut Bintang cuek.
Buat Bintang, Nicolas Saputra nggak ada bedanya dengan cowok-cowok lain. Paling top buat dia ya Jerry Yan. Bintang Taiwan yang ngetop di film Meteor Garden itu. Walau si Jerry sudah lama tak pernah muncul di saluran televisi Indonesia, tapi perasaan Bintang tidak pernah basi. Ia tetap menjadi penggemar setia Jerry. Sering ia sibuk berburu film-film bajakan Jerry. Walau pun Bulan anti barang bajakan, tapi demi melengkapi koleksi Bintang, Bulan pun selalu siap sedia mengantar Bintang berburu barang-barang berbau Jerry Yan.
Ya, Bulan dan Bintang memang sahabat karib yang tak terpisahkan. Kemana-mana selalu bersama. Sejak SD hingga kelas satu SMU sekarang ini. Walau pun mereka memiliki banyak perbedaan dan hanya sedikit persamaan, tetapi mereka selalu kompak dan saling mendukung.
Bulan bulat seperti bulan, Bintang kurus tinggi. Bulan berambut lurus berkulit sawo matang. Bintang berambut keriting berkulit putih. Bulan suka makan bakso, Bintang suka makan mie ayam. Bulan suka Linking Park, Bintang suka lagu mandarin. Bulan kursus bahasa Perancis, Bintang kursus bahasa Mandarin. Bintang memang penggemar berat segala hal yang berhubungan dengan Mandarin.
Makanya, selera mereka soal cowok pun berbeda sekali. Bulan suka cowok bertampang indo mirip Nicolas Saputra, Bintang suka cowok yang bertampang oriental mirip Jerry Yan. Bisa ditebak kan, mengapa mereka sampai sekarang masih jomblo?
Persamaan mereka hanya satu. Mereka sama-sama suka membuat puisi. Mereka sering berbalas puisi. Bahkan mereka sering mengobrol dengan berpuisi. Membuat teman-teman mereka geleng-geleng kepala. Tapi Bulan dan Bintang tanpa malu-malu malah mengaku sebagai cewek paling romantis sedunia!
“Nama kita saja romantis banget, kan? Bulan Bintang. Benda langit yang paling sering disebut-sebut dalam puisi dan lagu.”
Begitu alasan Bintang bila ada teman mereka yang protes apabila mereka mengaku sebagai cewek paling romantis.
“Huu, sok tau lo Bin.” protes Dani sebal.
“Lho, memang iya kok. Ada lagunya Ibu Sud Ambilkan Bulan Bu, ada lagu Bintang kecil. Ada lagu Temani Aku Rembulan Krisdayanti. Ada lagu Titi DJ, Bintang-bintang.”
“Yee, lebih sering pelangi dong. Ada Pelangi di matamu Zamrud, ada Pelangi-Pelangi Pak Kasur, ada Pelangi Engkau Pelangi Koes Plus.”
Bulan dan Bintang kompak menjulurkan lidahnya.
***
Namun sudah seminggu ini Bulan dan Bintang tak saling menyapa. Jangankan sms-an, selama di sekolah pun mereka saling berdiam diri. Padahal mereka duduk sebangku. Kejadian ini berawal sejak kedatangan murid cowok baru bernama Raga. Meski pun baru seminggu bersekolah di sini, kehadiran Raga telah mencuri perhatian hampir seluruh penghuni sekolah.
Raga murid pindahan dari Singapura. Sosoknya tinggi atletis. Prestasi akademiknya luar biasa. Raga juga ternyata atlit Kendo yang cukup berprestasi di Singapura. Segala kelebihan Raga itu tak kan mampu membuat Bulan dan Bintang berpaling seandainya saja wajah Raga tidak mirip idola Bulan dan Bintang. Ya, memang menakjubkan. Wajah Raga perpaduan Jerry Yan dan Nicolas Saputra. Duh, susah untuk dijelaskan. Pokoknya, menurut Bulan, Raga mirip Nicolas, tapi menurut Bintang, mirip Jerry.
Dan kelebihan lain dari Raga, ia adalah seorang yang rendah hati. Tidak sok ganteng, sok pintar atau pun sok jago. Dengan ramah, Raga menerima uluran perkenalan semua anak terutama cewek-cewek. Termasuk Bulan dan Bintang.
“Ga, katanya kamu belum pernah lihat Monas ya?” tanya Bulan memulai PDKTnya dengan Raga.
“Belum tuh. Monas itu lambang Jakarta, kan?” tanya Raga.
“Kalau kamu mau, aku bisa nganterin kamu lihat Monas. Apalagi kalau malam hari, di Monas ada air mancur menari.”
“Air mancur menari? Seperti apa itu?”
“Uh, bagus deh, Ga. Air mancurnya meliuk-liuk seperti menari disinari cahaya warna-warni. Sebagai warga Jakarta, kamu harus lihat, Ga. Kalau belum lihat, belum bisa dibilang warga Jakarta.” bujuk Bulan
Raga memang belum pernah tinggal di Jakarta. Ia lahir dan besar di Surabaya dan sejak kelas 1 SMP, keluarganya tinggal di Singapura karena ayahnya ditugaskan di sana. Baru sekarang ayahnya ditugaskan di Jakarta.
“Wah, berarti aku harus lihat dong. Boleh deh Lan. Makasih ya, kalau kamu bersedia mengantar aku ke sana.” jawab Raga antusias.
Bulan pun merona bahagia. Jadilah ia kencan dengan Raga. Sengaja Bulan memilih waktu di malam Minggu. Ha, pasti Bintang bakalan nangis bombay, pikir Bulan.
***
“Ga, aku mau bicara sebentar boleh?” tanya Bintang mencegat Raga yang baru saja akan masuk ke mobil jemputannya.
“Ya? Ada apa, Bin?”
“Kamu kan jago bahasa Mandarin. Dan aku dengar, kamu juga biasa menyanyi lagu Mandarin?”
“Iya, ada beberapa lagu Mandarin yang aku bisa. Karena aku sering terlibat dalam pertunjukan seni di sekolahku dulu. Memangnya kenapa, Bin?”
“Aku mau minta tolong nih. Klub kursus Bahasa Mandarinku malam minggu besok akan mengadakan malam amal pengumpulan dana untuk saudara-saudara kita di tanah air yang terkena musibah. Kamu mau kan menyumbangkan beberapa lagu untuk mengisi acara?” pinta Bintang.
“Hm, boleh juga. Memang sejak di Singapura aku sudah sering ikut kegiatan pengumpulan dana untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah di Indonesia. Baiklah, aku akan ikut acara kamu, Bin. Malam minggu besok ya?”
Bintang mengangguk bahagia. Ah, andai Raga tahu, bahwa acara pengumpulan dana itu sekaligus akan dijadikan momen kencannya dengan Raga.
Hm, Bulan bakalan kurus kering kalau tahu gue kencan sama Raga, pikir Bintang.
***
Bulan sudah sampai di depan pintu pagar tinggi mewah yang menurut alamat yang diberikan Raga, ini adalah rumahnya. Bulan sedang sibuk mencari-cari bel pintu ketika suara berdehem yang ia kenal mengagetkannya.
“Ehem!”
Bulan menoleh dan terkejut melihat Bintang sudah berdiri di hadapannya.
“Ngapain lo di sini?” tanya Bintang ketus. Oh, seumur hidup Bintang tak pernah bertampang menyebalkan seperti itu kepada sahabatnya.
“Lho, elo yang ngapain datang kemari?” Bulan menjawab tak kalah ketus.
“Ehem, sori ya. Gue sudah janjian sama Raga. Gue mau kencan malam ini.”
“Uh, jangan ngaku-ngaku deh. Gue yang mau kencan sama Raga. Raga ngajak gue ke Monas lihat air mancur menari.”
“Ih, mana mungkin! Raga malam ini akan menyanyi di acara gue!”
“Nggak mungkin! Raga janjinya sama gue.”
Kedua sahabat itu berhenti berdebat ketika tiba-tiba muncul sesosok laki-laki membuka pagar tinggi itu.
“Lho, ada apa ini? Eneng-eneng ini siapa? Mengapa ribut-ribut di depan pintu pagar?” tanya laki-laki itu.
“Ehem, saya pacarnya Raga, Pak. Raganya ada? Saya sudah janjian nih sama dia.” jawab Bintang dengan penuh percaya diri.
“Bukan, Pak! Saya yang pacarnya Raga. Tolong bilangin Raga ya, Pak. Bulan sudah datang menjemput. Kami mau ke Monas.”
“Enak saja! Bukan Pak. Tolong bilangin sama Raga. Bintang sudah datang.”
“Aduh, maaf Neng. Saya jadi bingung. Kalau eneng berdua mengaku pacarnya Den Raga, terus yang di dalam siapa dong?”
Mendadak Bulan dan Bintang berhenti saling membantah.
“Memangnya di dalam ada siapa, Pak?”
“Ada cewek yang sudah lebih dulu datang, Pak?”
Lelaki itu mengangguk.
“Cantik banget Neng. Namanya Sheren. Kata Den Raga sih itu pacarnya. Malam ini mereka baru saja mau keluar. Makanya saya mau buka pintu pagar.”
Bulan dan Bintang melongo. Dan semakin melongo ketika datang sosok Raga diiringi seorang gadis luar biasa cantik.
“Ada apa Pak Salim?” tanya Raga. Dan tampaklah wajah terkejutnya di bawah remang-remang sinar lampu taman.
“Bulan… Bintang…”
“Sheren…” kompak Bulan dan Bintang bersuara lirih.
Sheren, kelasnya bersebelahan dengan kelas Bulan dan Bintang.
“Duh, maaf, aku lupa dengan janjiku pada kalian.”
“Hai, Bulan, Bintang. Ga, mereka berdua itu terkenal paling puitis di sekolah. Aku pernah lho, minta dibuatkan puisi. Puisi yang pernah aku kirim valentin kemarin buat kamu, Ga?” kata Sheren.
“Oh, puisi itu buatan Bulan dan Bintang?”
Ternyata selama ini Raga telah mengenal dekat Sheren, salah satu murid cewek tercantik di sekolah. Bahkan mereka sudah dekat semenjak Raga masih di Singapura. Raga pindah ke sekolah mereka, justru karena ada Sheren.
Bulan dan Bintang tertunduk lesu. Malam ini langit tampak kelam. Tak terlihat bulan maupun satu bintang di langit.
***
“Bulan, maafin gue ya? Gue kok bodoh banget sih. Cuma gara-gara Raga sampai tega bertingkah menyebalkan sama elo.”
“Bintang, gue juga minta maaf. Gue malu banget.”
“Elo sadar nggak, Bin. Bahwa kita justru semakin kompak ketika kita berbeda.”
“Iya, ya. Ketika kita punya satu kesamaan saja, sama-sama naksir Raga, kita jadi ribut.”
“Bin, menurut gue, Raga tetap kalah keren dibanding Nicolas Saputra”
Bintang tersenyum,
“Apalagi kalau dibanding sama Jerry Yan. Duh, nggak level deh! “
“Ha..Ha..Ha!” tawa Bulan dan Bintang kompak.
“Bin, selama gue belum ketemu cowok yang mirip Nicolas saputra, gue nggak keberatan jadi Jojoba”
“Gue juga Lan.”
“Eh, juga apa? Tiba-tiba elo naksir Nicolas Saputra juga?”
“Huu, enak saja. Jerry Yan forever dong. Dan selama gue belum ketemu cowok yang mirip Jerry Yan, gue rela jadi Jojoba.”
Bulan dan Bintang tersenyum. Dan mendadak langit kembali terang. Tampak Bulan dan Bintang di langit berlomba-lomba memberikan sinarnya kepada bumi.

Dimuat di majalah Teen