Laman

Senin, 21 Oktober 2013

Korean Story : Sweet Sonata (2)

Selamat hari senin teman-teman ...
Kali ini aku mau berbagi cuplikan dari novelku yang berjudul "Sweet Sonata". Ini novel cerita Korea yang aku tulis dengan nama pena Karumi Iyagi.

Selamat membaca yaaa... semoga suka ... ^_^

Cover Novel Sweet Sonata karyaku ^_^

Sweet Sonata
Penulis  Karumi Iyagi (Arumi E)

Bab 7
Heartbeat


Shin Hye terbelalak saat melihat siapa yang harus ia rias. Rasanya ia ingin berbalik pergi saat itu juga. Tapi sudah terlambat, ia tak bisa mundur lagi. Selain itu ia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Tepatnya, ia sangat membutuhkan honor dari pekerjaan ini yang jumlahnya lumayan besar. Jauh lebih besar dari gajinya dulu saat bekerja di salon kecantikan.

Shin Hye menghela napas perlahan. Mencoba bersikap tenang. Ia maju mendekati lelaki muda berwajah rupawan itu. Pemuda itu sudah siap duduk di depan meja rias. Ia belum melihat kedatangan Shin Hye, masih sibuk membolak-balik sebuah majalah.

“Ehem, maaf, bisakah saya mulai sekarang?” tanya Shin Hye dengan suara terdengar agak gugup.
Pemuda  itu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah cermin. Dalam cermin terpantul bayangan Shin Hye yang berdiri di belakangnya. Kening pemuda itu berkerut. Ia mempertajam penglihatannya, lalu segera menoleh ke arah Shin Hye.

“Sepertinya aku pernah melihatmu,” sahut pemuda itu.
Shin Hye mengalihkan pandangannya, enggan beradu pandang dengan pemuda itu.

“Ah, tidak…maaf, bisa saya mulai sekarang? Tuan Byun Ji Min meminta aku segera menata rambut anda,” kata Shin Hye berusaha mengalihkan perhatian lelaki itu.
“Baiklah. Tunjukkan kemampuan terbaikmu,” sahut pemuda itu lagi, kemudian ia merilekskan duduknya.

Shin Hye mengutuk dirinya sendiri. Ia mengakui dirinya memang keterlaluan. Mengapa ia baru tahu pemuda yang ia rebut minumannya siang tadi, adalah personil BLAST yang terkenal itu. Padahal banyak sekali poster BLAST di kamar adiknya, tapi ia tidak menyadari salah satu personil boyband idola adiknya itu di antaranya adalah pemuda ini. Bahkan Shin Hye belum tahu nama pemuda ini adalah Jungkyu, leader boyband BLAST.

“Jangan-jangan aku gadis paling bodoh di Korea Selatan,” pikir Shin Hye.

Ia tersenyum sendiri membayangkan jika adiknya mengetahui kebodohannya ini. Ia bisa mengira adiknya akan berkomentar apa.

“Kau memang gadis kuper dan ketinggalan jaman, Eonni!”
Pastilah adiknya akan meneriakinya seperti itu.

“Mengapa kau tersenyum geli sendiri? Apakah ada yang lucu? Apakah bentuk telingaku aneh?” tanya Jungkyu tiba-tiba, lalu sibuk memegang telinganya dan melihatnya melalui pantulan cermin.

Shin Hye tersentak kaget mendengar pertanyaan Jungkyu. Ia tersenyum malu.

“Maaf, tidak ada yang aneh dengan telinga anda. Maaf, saya hanya ingat adik saya,” jawab Shin Hye.
“Kenapa adikmu? Apakah adikmu lucu? Adikmu perempuan atau laki-laki?” tanya Jungkyu lagi malah semakin penasaran.

Shin Hye tak langsung menjawab. Ia tak mengerti mengapa pemuda ini masih bersikap baik padanya. Padahal tadi ia mengira Jungkyu akan memaki-makinya karena kejadian di mini market tadi siang. Apakah Jungkyu benar-benar lupa pernah bertemu dengannya?

“Adikku fans berat BLAST. Ia ingin sekali bisa menonton konser BLAST. Tapi aku tak punya uang untuk membelikannya tiket. Kalau ia tahu aku ada di sini merias salah seorang personil BLAST, ia pasti akan menjerit keras sekali,” jawab Shin Hye, ia kembali tersenyum geli karena membayangkan lagi bagaimana raut wajah adiknya.

“Ohya? Wah, sungguh kebetulan sekali. Pantas saja kau tertawa sendiri. Dan kau apakah fans BLAST juga? Atau jangan-jangan diam-diam kau anti-fan kami?” tanya Jungkyu.
“Anti-fan?” Sin Hye balik bertanya keheranan, tak mengerti maksud Jungkyu.
“Wah, kau juga tidak tahu tentang anti-fan? Memangnya berapa sih umurmu?” tanya Jungkyu yang sebaliknya, merasa heran melihat ketidak-tahuan Shin Hye. Padahal sepertinya Shin Hye masih terlihat muda. Ia taksir usianya tak akan lebih dari 23 tahun.

“Hei, apa maksud pertanyaanmu itu? Memangnya kalau aku tidak tahu tentang anti-fan artinya aku sudah berumur?’ sahut Shin Hye mulai menunjukkan sikap aslinya yang terbiasa tanpa basa-basi.

Kali ini Jungkyu tertawa kecil melihat reaksi Shin Hye. Ia tahu Shin Hye. Ia tak akan pernah melupakan kejadian di mini market tadi. Dalam hidupnya selama ini, baru kali itu ada seorang gadis yang merebut minumannya begitu saja, meminumnya di hadapannya, kemudian mengembalikan kaleng yang sudah kosong kepadanya. Selama ini tak ada satu gadis pun yang pernah ditemuinya berani berbuat begitu kepadanya. Dan kini, setelah sejak tadi gadis itu terlihat mencoba menjaga sopan santun yang sangat berbanding terbalik dengan sikapnya saat di mini market tadi siang, sekarang ia mulai menunjukkan sifat aslinya.

“Karena setahuku, tak ada gadis remaja di Korea Selatan ini yang tidak tahu tentang K-pop. Kalau bukan fans, biasanya menjadi anti-fan sebuah grup boyband atau girlband,” jawab Jungkyu menarik ujung bibir kanannya ke atas.

“Jangan kau samakan semua gadis remaja di Korea Selatan ini,” sahut Shin Hye bernada sedikit ketus.

“Kalau kau tidak tahu, itu artinya kau bukan remaja lagi,” ucap Jungkyu tak mau kalah.

Shin Hye tak menyahut lagi. Ia memang sudah bukan remaja lagi. Usianya sudah 22 tahun, itu sudah tergolong bukan remaja lagi. Tapi ia tentu saja tergolong masih gadis belia.

“Benar kan? Kau sudah bukan remaja lagi?” tanya Jungkyu seolah butuh penegasan.
“Kalau aku masih remaja, aku tak mungkin sudah menjadi penata rias profesional seperti sekarang. Dandanan kalian aneh. Kalian benar-benar tak tahu gaya rambut yang elegan itu seperti apa.” jawab Shin Hye, lalu tersenyum sinis.

Jungkyu malah membalas senyum sinis Shin Hye itu dengan tertawa senang.

“Aku suka sekali dengan jawabanmu. Cerdas sekali! Dewasa sekali! Kau pasti sudah 아줌마 ahjumma ya? Ahjumma, silakan tunjukan riasanmu yang profesional. Aku tak keberatan di make over menjadi lebih elegan!” sahut Jungkyu sambil nyengir lebar.

Shin Hye seketika cemberut. Dia dipanggil ahjumma? Keterlaluan!

“Hei, aku baru 22 tahun!” seru Shin Hye gemas.
“Ah, sungguhkah? Tapi kau seperti sudah dewasa sekali,” sahut Jungkyu masih saja tersenyum geli.
“Aku memang tidak seperti gadis belia lain yang mau buang-buang waktu tergila-gila pada personil-personil boyband,” ucap Shin Hye dengan wajah dingin.

Jungkyu sedikit tersentak mendengar pernyataan Shin Hye itu. Berani sekali gadis ini berkata seperti itu di depannya, padahal gadis itu tahu Jungkyu adalah salah satu personil boyband. Tapi Jungkyu tak bisa berkomentar apa-apa lagi karena Shin Hye menyuruhnya tak bergerak.

“Model rambutmu jelek sekali. Aku akan menggantinya dengan model yang spektakuler,” ucap Shin Hye sambil seenaknya saja mengaduk-aduk rambut Jungkyu yang sepanjang tengkuk dengan poni yang juga panjang hingga menutupi separuh matanya.

“Baiklah, silakan kau ubah model rambutku menjadi spektakuler. Tapi harus benar-benar spektakuler, jika semakin jelek, kau akan aku tuntut!” sahut Jungkyu.

Shin Hye hanya tersenyum sinis. Lalu tanpa banyak bicara ia mulai bekerja. Tanpa disadari oleh Shin Hye, Jungkyu diam-diam memerhatikannya melalui pantulan bayangannya di cermin. Jungkyu masih penasaran dengan sikap Shin Hye yang dingin. Gadis itu masih muda. Baru 22 tahun. Ini pertama kalinya ia bertemu seorang gadis yang bersikap dingin saat melihatnya. Ia tahu, tidak semua gadis Korea Selatan menyukainya. Tetapi Shin Hye sangat keterlaluan sikap dinginnya. Benar-benar tampak tak terkesan sedikit pun pada Jungkyu.

Sesekali Jungkyu melirik Shin Hye masih melalui bayangan Shin Hye dalam cermin. Di mata Jungkyu, gadis itu lumayan manis. Rambutnya yang hitam, tebal dan ikal sepanjang bahu dibiarkan terurai, hanya dijumput sedikit dari bagian kanan kirinya lalu di jepit. Anak rambutnya cukup banyak, berjejer rapi menutupi sebagian dahinya yang datar. Mata gadis itu bagus, dengan bulu mata yang lumayan panjang dan lentik. Ia tak memakai riasan sedikit pun. Alisnya lumayan tebal dan bagus bentuknya, entah apakah ia rapikan atau secara alami terbentuk indah seperti itu. Tapi bagi Jungkyu, sebagai seorang penata rias, penampilan Shin Hye terlalu sederhana. Apakah gadis itu hanya merias orang lain dan tak pernah merias wajahnya sendiri? Gadis itu memang cantik alami. Jungkyu membayangkan, pasti akan jauh lebih cantik jika gadis itu merias sedikit wajahnya.

Shin Hye masih sibuk mengatur rambut Jungkyu. Ia memotong rambut Jungkyu yang sepanjang tengkuk itu hingga di atas pangkal leher. Di atas pelipis sebelah kiri rambut Jungkyu ia pangkas hingga tersisa satu sentimeter saja panjangnya. Sementara yang sebelah kanan dibiarkan sedikit lebih panjang. Rambut bagian depan juga ia potong sedikit lebih pendek. Kemudian Shin Hye mewarnainya dengan warna brown bronze. Potongan rambut Jungkyu menjadi jauh berbeda dengan semula. Rambutnya menjadi terlihat lebih cemerlang. Jungkyu merasa takjub dengan hasilnya. Ia merasa puas.

“Keren juga,” komentar Jungkyu sambil melihat lagi potongan rambutnya di cermin.
Shin Hye hanya menanggapi biasa komentar Jungkyu yang berarti pujian itu.
“Lalu, kapan kau siap dirias?” tanya Shin Hye.
“Nanti tepat jam enam sore. Sekarang kau harus menata rambut rekan-rekanku yang lain,” jawab Jungkyu sambil tersenyum jahil.

“Personil yang lain juga?” tanya Shin Hye sedikit terbelalak.
“Tentu saja! Tugasmu menjadi penata rias dan rambut semua personil BLAST, bukan hanya aku. Silakan kau tangani empat temanku yang lain. Aku ingin istirahat dulu,” jawab Jungkyu lalu ia bangkit dari duduknya.
“고마워요 Gomawoyo (Terima kasih), hasil kerjamu tak mengecewakan,” kata Jungkyu lagi sambil menepuk pundak Shin Hye, lalu melenggang pergi dengan santai.

Shin Hye menghela napas panjang. Sebenarnya ia lelah sekali dan belum sempat makan. Tetapi sepertinya ia harus menunda lagi makan siangnya dan menyelesaikan dulu tugasnya. Jungkyu yang sudah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja berbalik kembali menghadap Shin Hye.

“Ngomong-ngomong, siapa namamu? Kau sudah mengacak-acak rambutku tapi aku belum tahu siapa namamu,” tanya Jungkyu.
“Aku Jun Shin Hye,” jawab Shin Hye singkat.
“Hm, okay, dan kau sudah tahu namaku, kan?” tanya Jungkyu lagi.

Shin Hye tak langsung menjawab. Ia tampak tertegun selama beberapa saat.

“Mmm…eeeh, sebenarnya…aku tidak tahu namamu siapa. Memangnya aku harus sudah tahu siapa namamu? Sejak tadi kau belum menyebutkan namamu siapa,” jawab Shin Hye dengan polosnya.

Jungkyu tampak terkejut. Tanpa bisa ia cegah, matanya sedikit membelalak.

“Kau tidak tahu namaku siapa? Kau bertugas mengacak-acak rambutku tapi kau tak tahu siapa namaku?” tanya Jungkyu dengan pandangan gusar.
“Maaf…aku bukan penggemar boyband. Aku pernah melihat poster BLAST di kamar adikku. Tapi aku tak tahu siapa nama-nama personilnya,” jawab Shin Hye, wajahnya tampak ragu.
“Dan kau juga tidak mengenali aku? Keterlaluan sekali! Kau benar-benar ketinggalan jaman!” sahut Jungkyu menahan rasa keki, lalu ia segera berbalik dan melangkah pergi.

Kali ini ia tak kembali lagi sampai kemudian datang pemuda lain ke ruang rias itu.

“Annyeonghaseyo…halo…” seru seorang pemuda yang masuk dengan tiba-tiba.

Pemuda itu nyengir lebar sekali. Tak lama muncul pemuda lain yang datang langsung menubruk pemuda pertama. Lalu datang dua orang lagi. Shin Hye melongo melihat keempat pemuda itu. Mereka adalah Baek Hyun Jae, Park Ji Hyuk, Kim Sung Hyun dan Ha Doya. Pandangan Shin Hye langsung saja mengarah pada rambut keempat pemuda itu. Model rambut semua pemuda itu sungguh hancur berantakan. Setidak-tidaknya begitulah menurut penilaian Shin Hye. Dan yang paling parah adalah model rambut Ha Doya, idola Min Hwa adiknya.

Shin Hye kembali menghela napas panjang, sebelum memulai pekerjaannya menangani rambut keempat pemuda itu satu persatu. Ternyata keempat personil BLAST yang sedang populer dan banyak digilai gadis-gadis remaja itu sama saja seperti anak muda seusia mereka pada umumnya, seringkali bersikap konyol dan hobi saling meledek.

Ha Doya mendapat giliran paling akhir karena ia yang paling muda. Sambil menunggu giliran, ia sibuk memamerkan keahlian sulapnya dan memaksa Shin Hye melihatnya. Sementara Park Ji Hyuk sibuk memperlancar keahlian nge-rap-nya. Baek Hyun Jae paling usil. Ia senang mengganggu temannya yang rambutnya sedang ditata Shin Hye. Ia tak sadar bahwa keisengannya itu mengganggu konsentrasi Shin Hye.

Dengan tegas, terpaksa Shin Hye menegur Baek Hyun Jae. Anehnya Baek Hyun Jae menurut, lalu menghentikan keisengannya dan berganti sibuk mengutak-atik tablet-nya. Sedangkan Kim Sung Hyun ternyata sangat narsis. Ia sibuk memotret dirinya sendiri. Aneh sekali!

Keempat anak muda itu sungguh jauh dari tipe lelaki ideal idaman Shin Hye. Mereka ribut sekali dan tak berhenti saling meledek. Sikap mereka sangat tidak dewasa. Membuat Shin Hye semakin yakin dengan keputusannya tidak mengidolakan personil boyaband seperti mereka. Tipe lelaki idealnya tidak berubah, tetap yang mature tapi masih tampak cute seperti aktor Kang Ji Hwan idolanya.

Entah apakah ini keberuntungan atau kesialan. Jika gadis lain harus membeli tiket mahal hanya untuk melihat pemuda-pemuda itu bernyanyi dan menari dari kejauhan, saat ini Shin Hye bisa seenak-enaknya mengaduk-aduk rambut mereka. Tanpa sadar Shin Hye kembali tersenyum geli. Jika saja Min Hwa tahu apa yang ia kerjakan sekarang, adiknya itu pasti akan menjerit histeris.

oOo

Shin Hye meregangkan otot-otot punggungnya. Rasanya pegal sekali setelah menata rambut lima pemuda hanya dalam waktu empat jam. Ia masih punya waktu satu jam sebelum harus kembali bekerja merias wajah kelima personil BLAST. Ia menghilangkan penat dengan turun ke lobby. Mendekati mesin minuman kaleng yang tersedia di salah satu sudut ruangan. Ia memasukkan sebuah koin dan memilih minuman soda favoritnya. Tetapi belum sempat Shin Hye mengambil kaleng minuman yang keluar dari mesin itu, terulur tangan seseorang mendahuluinya mengambil kaleng minuman itu.

Shin Hye tercengang. Matanya mengikuti ke mana arah minuman kaleng itu berpindah. Sosok yang mengambil minuman kaleng yang dibelinya itu, tanpa rasa bersalah menarik tutupnya, lalu langsung menenggak isinya hingga habis. Kemudian mengembalikan kaleng yang sudah kosong kepada Shin Hye.

“Sebagai ganti minuman kalengku yang tadi siang kau rebut tanpa sopan santun,” bisik Jungkyu sambil tersenyum jahil.

Lalu ia berbalik dan melangkah santai meninggalkan Shin Hye yang masih terbengong-bengong tak mampu berkomentar. Tapi baru berjalan lima langkah, Jungkyu berhenti lalu berbalik.

“Oh ya, nanti malam sesudah konser BLAST, aku akan mentraktirmu makan malam,” ujarnya pada Shin Hye sambil mengedipkan mata kirinya.

Lalu Jungkyu berbalik lagi dan melanjutkan langkahnya menjauhi Shin Hye. Shin Hye semakin melongo melihat tingkah Jungkyu tadi. Kemudian tanpa sadar ia tersenyum geli, lalu ia masukan satu koin lagi ke mesin minuman kaleng itu. Jelas, Jungkyu tidak lupa dengan sikap tidak sopan Shin Hye di mini market siang tadi. Dan Jungkyu telah sukses membalas Shin Hye. Saat ini, skor mereka satu sama.

oOo

Ingin tahu lanjutannya? Beli bukunya yaa ... Bisa pesan online di    : http://www.kutukutubuku.com/2008/open/37120/sweet_sonata

Terima kasih teman-teman ^_^

Oya, baca juga yuk, novel-novel karyaku yang lainnya.

Novel cerita Korea karyaku
dengan nama pena Karumi Iyagi


Karyaku dengan nama asli Arumi E ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar