Laman

Kamis, 10 September 2015

Undangan Tak Terduga #27HariDiKualaLumpur

September ... ah, karena beberapa hari sibuk jadi baru bisa posting hari ini.
September ceria, kata Vina Panduwinata. Dan ... yah benar, September ini
rasanya ceria sekali.

Novel baruku "Merindu Cahaya de Amstel" terbit di bulan ini. Selain itu, selama bulan September, tepatnya dari tanggal 3 sampai 29, aku akan tinggal di Kuala Lumpur. Di rumah seorang teman yang mengundangku berkunjung ke tempatnya bermukim sudah setahun ini.

27 hari. Selama itulah aku akan berada di sini. Tiket dan ongkos ditanggung. Plus dapat uang saku. Tempat tinggal dan makan juga disediakan. Tentu kuterima undangan ini. Karena kesempatan seperti ini belum tentu terulang dua kali. Bisa sepuasnya menjelajahi dan mengamati negri tetangga.

Walau bertepatan dengan terbitnya novel baruku, membuatku terpaksa tidak bisa bekejasama dengan salah satu toko buku online untuk mengadakan PO.

Ini kali kedua aku ke luar negeri. Yaaah, baru sedikit memang pengalamanku traveling ke luar negeri. Baru kali ini aku pergi ke luar negeri sendirian. Sempat nervous awalnya. Tapi aku berusaha membulatkan tekad berani bertualang. Selalu ada yang pertama untuk segala hal, kan? Sebelumnya aku sudah pernah ke Singapura tahun 2013 bersama 2 sepupuku. Tiket sudah diurus mereka, aku tinggal ikut. Kali ini aku harus berani sendiri dan mengurus semuanya sendiri. Pengalaman yang mendebarkan sekaligus menyenangkan.

Pesawat lepas landas pukul 1 siang. Berusaha tenang dalam pesawat. Tidak penuh penumpangnya. Aku beruntung dapat kursi dekat jendela dan kursi sebelahku kosong. Jadi aman nggak ada yang ngajak ngobrol, hehehe.

Sampai di Kuala Lumpur pukul 4 sore. Pertama kali sampai
aku baru sadar waktu di Malaysia dimajukan satu jam. Sehingga shalat magrib pukul 7.10 waktu setempat.
Pertama kali pergi ke luar negeri sendirian.
Deg-deg-an awalnya. Kemudian excited.

Bye bye Cengkareng ...




Di bandara aku dijemput oleh temanku. Kami baru sekali bertemu di Jakarta. Rasanya masih ajaib beliau percaya kepadaku dan memilih aku untuk diundang tinggal di Kuala Lumpur.

Di pintu keluar difoto dulu sama temanku.
Yeay, sampai juga di Kuala Kumpur.
Alhamdulillah...
Dari bandara KLIA menuju pusat kota Kuala Lumpur memakan waktu 1 jam. Lama juga ya. Berarti cukup jauh, karena tidak macet seperti Jakarta. Kami naik bus bandara menuju KL Sentral. Dari situ baru naik taksi menuju apartemen temanku.




Temanku tinggal di sebuah apartemen di lantai 7. Ada fasilitas kolam renang. Karena itu sejak dari Jakarta aku menyiapkan baju renang muslim. Terakhir aku berenang saat SMP, dan sejak berhijab aku tidak pernah lagi berenang. Dulu terakhir pun belum mahir. Tapi kali ini aku memang bertekad untuk berani mencoba apa pun. Termasuk berani nyasar menjelajahi Kuala Lumpur sendirian.

Hari pertama, aku sudah diajak keliling KL. Dikenalkan dengan transportasinya. Bagaimanacara naik busnya, LRT, dan kereta.

Kartu yang bisa dipakai untuk
naik bus, LRT dan monorel
Dikenalkan juga dengan mata uang ringgit. Ada uang kertas 100 ringgit, 50, 20, 10, 5 dan 1 ringgit. Lalu ada uang logam 50, 20, 10, dan 5 sen.

Mata uang ringgit Malaysia




Dinding subway LRT Ampang Park dihiasi lukisan
Di hari ke-5  aku mulai menjelajah, pagi-pagi sesudah subuh berjalan kaki sampai Stasiun Ampang. Bolak balik totalnya 4.6 km. Waw, lumayan kan olahraga? 

Seperti di Singapura, moda transportasi di sini sudah terintegrasi. Dengan satu kartu bisa untuk naik bus dan LRT sekaligus. Mirip di Jakarta sebenarnya. Di Jakarta pun satu kartu bisa untuk naik trans Jakarta dan commuter line. Tapi di sini bus semacam trans Jakarta dirancang dengan sistim lebih praktis. Haltenya halte biasa, sama dengan bus reguler. Pembayaran dilakukan di samping pak supir. Bisa menempelkan kartu rapid KL ke mesin, atau bayar cash dengan memasukkan selembar uang kertas senilai 1 ringgit ke dalam box uang lalu akan keluar tiket. Harus uang pas ya. 

Suasana dalam bus rapid KL


Hari ke-6, masih menjelajahi seputar wilayah apartemen tempatku tinggal. Mengumpulkan kesan dan ide untuk ceritaku selanjutnya. Menemukan ada restoran unik ini. Cukup mudah beradaptasi di sini, karena masih serumpun mungkin. Kalau aku nggak bicara, nggak beda deh penampilanku dengan wanita Malaysia. Kalau ngomong baru deh ketahuan orang Indonesia, hehehe.


Hari ke-7, masih rajin jalan kaki sesudah subuh di seputaran apartemen. Hitung-hitung olahraga. 

Walau serumpun dan bahasa resmi di sini bahasa Melayu, tapi untuk warga non Melayu umumnya menggunakan bahasa Inggris saat bicara dengan orang lain yang tidak bisa bahasa daerahnya. Seperti di Supermarket di mal seberang apartemen, aku perhatikan pegawai yang orang India bicara bahasa India dengan sesama temannya yang keturunan India. Pegawai kasir menurut perkiraanku keturunan Thailand atau Philiphine. Ada 2 petugas kasir perempuan, saat mereka ngobrol pakai bahasa daerah mereka. Saat melayaniku pakai bahasa Inggris.

Di KL memang multi ras. Ada Melayu, India, China, Eropa. Di apartemen tempatku tinggal, saat berenang ada keluarga Jepang dan diajak ngobrol penghuni berasal dari Mesir.
Seru juga. Menambah wawasan. Bedanya dengan Indonesia, Indonesia pun beragam penduduknya, tapi banyak penduduk asli daerah Indonesia. Dan kami semua sepakat menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi. Jadi makin kagum dengan founding father Indonesia. Hebatnya mereka bisa menyatukan penduduk Indonesia yang sangat beragam.

Menurutku negeri kita juga cukup maju kok dibanding Malaysia. Jakarta nggak kalah canggihnya. Apalagi kalau nanti LRT sudah jadi, pamukiman kumuh sudah dipindah semua ke rusun yang bagus dan keren, sungai sudah direvitalisasi, pinggiran rel juga dibenahi tak ada lagi pemukiman kumuh, warganya makin sadar tidak buang sampah sembarangan. Bakal makin mentereng deh Jakarta nggak kalah keren dengan Kuala Lumpur.

Ohya, penduduk Malaysia cuma 30-an juta jiwa lho. Bandingkan dengan Indonesia yang hampir 300 jiwa. Jadi tantangan untuk Indonesia memang lebih besar. Wilayahnya lebih luas, penduduknya lebih beragam. Tapi bisa kompak semua bisa bahasa Indonesia. Keren, kan? ^_^

"Merindu Cahaya de Amstel" mejeng dulu di Stasiun Ampang

Papan informasi. Nggak bakal nyasar deh

Hari ke-8. Kali ini mencoba jalan kaki ke arah berbeda dari apartemen hingga sampai ke stasiun subway terdekat, Jelatek. Dari sini menara kembar terlihat lebih jelas. Memang tidak begitu jauh dari sini. Apartemen tempatku tinggal sangat strategis deh posisinya. Alhamdulillah .... ^_^

Aku menikmati berada di tempat baru ini. Senang sekali wawasanku jadi bertambah. Tapi aku juga nggak sabaaaar pengin lihat wujud novel terbaruku "Merindu Cahaya de Amstel".



Book trailer "Merindu Cahaya de Amstel"


Kata adikku, novel baruku "Merindu Cahaya de Amstel" sudah sampai rumah. Tapi buat yang order edisi bertandatangan nunggu 1 Oktober baru bisa kukirim. Ada bonus pin cantik untuk 15 pemesan pertama ^_^





Pin cantik untuk 15 pemesan pertama






4 komentar:

  1. Wah penasaran sama cerita Mbak Arumi di KL. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisannya ditambah dikit2 nyicil, hehehe. Makasih sudah mampir Mas Haris Firmansyah 😊

      Hapus
  2. Oh, jadi yang kemarin itu serba free ya kak. Asiknyaaaa!
    Aku juga ga sabar loh nungguin novel baru kakak :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Intan, iya Alhamdulillah semua free malah dapat uang saku yang sisanya masih banyak bisa dibawa pulang, hihihi. Alhamdulillah rezeki tak terduga. Dapat banyak ide, wawasan dan pengalaman di sini 😊

      Hapus