Senin, 10 Maret 2014

Memory Kuliah part 1 : Jurusan Arsitektur? Siapa takut?

3D Max hasil karyaku. Simple banget ya ^_^
Foto by Arumi

Yup, aku ingin berbagi pengalaman saat kuliah dulu. Siapa tahu ada teman-teman yang tertarik masuk jurusan Arsitektur juga?

Sebelum memutuskan kecemplung dunia arsitektur, bolehlah baca kisahku ini dulu ... ^_^

Orang bilang, masa kuliah adalah saat yang menyenangkan. Hm, rasanya itu memang benar. Setelah sembilan tahun menjalani sekolah dasar sampai menengah atas selalu mengenakan seragam, masa kuliah menjadi begitu meyenangkan karena aku bisa ke kampus berpakaian bebas. Asalkan pantas, rapih dan sopan. Rasanya lega bisa tampil sesuai jati diri sendiri.

Lulus dari SMAN 78 Kemanggisan Jakarta Barat, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke Universitas Trisakti Jakarta, jurusan Arsitektur. Mengapa aku memilih jurusan Arsitektur? Tentu saja karena aku sangat suka menggambar.

Sebenarnya, jurusan Arsitektur bangunan bukan pilihan utamaku. Itu pilihan kedua. Pilihan pertamaku adalah desain grafis. Aku mengikuti dua macam tes di kedua jurusan itu. Keduanya sama-sama harus melalui tes menggambar. Di jurusan Grafis, aku harus menggambar kaleng coca cola dan botol minuman dengan detail secara manual hanya menggunakan pensil, sedangkan di jurusan Arsitektur aku harus menggambar bangunan kampus juga secara manual hanya menggunakan pensil. Tapi akhirnya aku diterima di jurusan Arsitektur. Kuhadapi saja kenyataan ini dengan ikhlas, toh di jurusan Arsitektur juga dibutuhkan keterampilan menggambar, walau pun aku masih harus mempelajari matematika, mekanika tanah, fisika bangunan dan struktur konstruksi, pelajaran-pelajaran yang cukup bikin kening berkerut.

“Sudah nggak apa-apa, baguslah jurusan Arsitektur, kan keren nanti lulus jadi Arsitek. Lagian, nanti bisa bikin usaha bareng sama tante yang desainer interior.”

Tanteku ikut memanas-manasi aku. Tanteku adalah alumni Universitas Trisakti Jakarta jurusan desain interior. Dia yang menyarankan aku memilih jurusan Arsitektur. Ini maksudnya Arsitektur bangunannya ya, kalau bilang Arsitektur saja, artinya arsitektur bangunan. Bukan Arsitektur lansekap. Jurusan yang aku pilih ini arsitektur yang merancang bangunan dan gedung-gedung tinggi. Termasuk dalam Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan.

Aku memang suka menggambar. Itu adalah keahlian dasar yang dibutuhkan untuk menekuni ilmu Arsitektur. Maka, kujalani saja kuliahku di jurusan Arsitektur ini. Benar juga kata Tanteku, bakalan keren saat lulus nanti aku akan disebut Arsitek. Senyumku pun mengembang membayangkannya.

Pendidikanku di jurusan Arsitektur, dimulai dengan masa-masa mapram selama sebulan. Aku dan teman-temanku sesama mahasiswa-mahasiswi baru harus rela dan pasrah menjadi bulan-bulanan para senior. Kami harus meminta tandatangan semua kakak senior. Untuk mendapatkan satu tanda tangan saja, harus melalui berbagai ujian yang seringkali memalukan.
Tapi karena aku sudah bertekad ingin menikmati masa-masa mapram, cuek saja deh, buang jauh-jauh rasa malu.

Sebagai sesama mahasiswa-mahasiswi baru, kami saling dukung satu sama lain. Kami sadar, masa mapram di dunia kampus hanya akan kami alami sekali seumur hidup. Kelak akan menjadi momen bersejarah dalam hidup kami, menjadi kenangan tak terlupakan.

Aku dan teman-teman satu jurusan Arsitektur Trisakti saat masa ospek
Aku yang mana ya? ^_^
Foto by Arumi

Setelah selesai masa-masa penataran dan mapram yang menyenangkan, aku harus mulai konsentrasi menghadapi mata kuliah yang beragam. Berhadapan dengan dosen-dosen dengan berbagai karakter. Ada dosen ganteng, dosen baik hati, dosen galak, dosen yang jarang sekali datang dan macam-macam karakter dosen lainnya.

Seperti yang telah kusebutkan sebelumnya, kuliah Arsitektur tak luput dari pelajaran matematika. dan ternyata, banyak sekali teman-temanku yang sama denganku, kurang suka dengan pelajaran matematika.

“Heran, masih ada aja ya pelajaran matematika. Kirain terakhir waktu SMA,” keluh salah satu temanku.
“Iya, padahal gue juga paling alergi deh sama pelajaran matematika. Apalagi Trigonometri. Ampun deh,” aku ikut mengeluh.

Karena jurusan Arsitektur didominasi mahasiswa-mahasiswi yang lebih mahir menggambar daripada matematika, maka pelajaran matematika menjadi momok yang mengerikan bagi kami. Nilai matematika kami pun jarang yang bagus. Aku hanya mendapat nilai C. Itu saja sudah lumayan, karena beberapa temanku ada yang harus mengulang mata kuliah matematika ini.

“Memangnya apa hubungannya sih, matematika sama bangunan?” protes salah satu temanku yang pernah mengulang mata kuliah ini.

“Saudara-saudara, tolong jangan sepelekan mata pelajaran matematika. Ingat, matematika itu penting! Apalagi kalian mempelajari Arsitektur. Nanti akan banyak terlibat dengan hitung menghitung. Menghitung struktur, menghitung anggaran biaya proyek, semua butuh ilmu matematika.”

Begitu penjelasan Dosen matematikaku yang prihatin melihat nilai anak didiknya yang sangat payah.

Jangan heran ketika Dosen menyebut mahasiswa-mahasiswinya dengan sebutan saudara-saudara atau anda. Karena begitulah di dunia perkuliahan. Kami dianggap telah cukup dewasa dan tak pantas lagi disebut anak-anak.

Jika matematika adalah pelajaran yang bikin aku ketar-ketir, mata kuliah Apresiasi budaya menjadi mata kuliah yang bikin aku deg-deg-an setengah mati. Bukan karena materinya sulit, tetapi karena dosennya super duper sangat galak sekali >.<

Entah mengapa dosen yang satu ini senang sekali marah-marah. Jangan pernah telat ketika mengikuti mata kuliahnya. Terlambat semenit saja, tak bakal diijinkannya mengikuti mata kuliahnya.

Beliau juga seringkali menggebrak-gebrak meja. Jangan-jangan dosenku itu terinspirasi penjual soto gebrak yang top itu ^_^

Tak ada satu pun dari kami yang berani protes. Kami mahasiswa-mahasiswi baru, tak mungkin berani protes. Dan ujiannya, entah mengapa sulitnya bukan main. Dengan teganya dosenku yang satu itu memberi kami nilai yang menakjubkan. Ada yang mendapat nilai C, D bahkan E. Yang mendapat nilai A dan B? Tentu saja tak ada.

Anehnya, dosenku yang satu ini sangat ramah dan baik hati pada satu temanku, Lia. Kami semua selalu ketakutan jika tanpa sengaja bertemu dengan dosen itu di luar jam kuliah. Tetapi kepada Lia, dosen itu malah menyapa dengan ramah. Membuat kami terbengong-bengong saking herannya.

“Eh, Lia. Kuliah apa hari ini?” tanya dosenku itu ketika tanpa sengaja beliau bertemu dengan Lia, aku dan dua temanku lainnya di dalam lift.
“Eh, pagi, Pak. Ada kuliah Metode penelitian, Pak.” jawab Lia sambil memasang senyum yang tampak oleh kami berusaha dimanis-maniskan.
“Oh...” hanya itu sahut dosenku.
“Saya duluan Lia.” kata dosenku lagi begitu pintu lift membuka  di lantai 2.
“Oh, iya Pak. Silakan.” jawab Lia sambil terus tersenyum.

Kami ikut tersenyum dan mengangguk ke arah Pak Dosen walau pun jelas-jelas tidak ikut disapa.
Setelah Pak Dosen berlalu dari hadapan kami, seketika kami membombardir Lia dengan bermacam pertanyaan.

“Nah ya? Lo ada hubungan apa tuh sama Pak Dosen.” seru Indah.
“Iya ih, mencurigakan, kok dia ramah banget sih sama elo? Udah gitu cuma elo yang disapa.”

Lala ikut berseru.

“Jangan-jangan Pak Dosen naksir lo ya?” Aku ikut menuduh.
“Yee, mana gue tau. Nggak tau gue, sumpah, gue juga kaget tadi disapa sama dia. Sekarang malah gue yang takut nih, kenapa dia ramah gitu sama gue?” Lia segera membela diri.

“Wah, nggak ada penjelasan lain nih, berarti memang Pak Dosen naksir elo nih. Pake jampi-jampi apa lo, Dosen paling galak justru ramah sama elo.” seru Indah lagi kelihatan penasaran banget.
“Sumpah, gue nggak tau..” Wajah Lia tampak kebingungan.

Tapi kemudian, Lia pun menjadi bulan-bulanan ledekan kami.

“Hati-hati Lia, malam minggu siap-siap aja diapelin Pak Dosen. Hehehe...” goda Lala.
“Ih, ogah banget. Dia kan udah punya anak istri,” sahut Lia.

Dan ledekan kami semakin menjadi-jadi ketika pada ujian akhir mata kuliah Apresiasi Budaya, Lia mendapat nilai B! Dan hanya dia yang mendapat nilai B! Nah lho!

“Liaaa...gue semakin curiga nih!” seru Indah yang protes keras karena lagi-lagi ia mendapat nilai D.
“Eeeh, nih ya, gue jelasin. Behenti deh curiga macem-macem sama gue. Pak Dosen tuh ternyata temennya mama gue waktu SMA dulu. Makanya dia ramah sama gue. Trus kalo soal gue dapet nilai B, itu mah karena memang gue belajar serius kalee...”

Lia membela diri.

“Ah, yang bener lo belajar serius?” tanyaku kurang yakin.

Lia mengangguk mantap.

“Hiks, kenapa sih nyokap gue bukan teman SMAnya Pak Dosen jugaa...masa nilai gue D terus...” ratap Indah.

“Udahlah, Ndah. Tabahkan hatimu. Kan nanti lo bisa ulang lagi tuh mata kuliah semester depan,” hibur Lia.

Indah malah meratap semakin keras.

Bersambung ...

Segini dulu kisah susahnya masa kuliahku dulu yaa ... tunggu lanjutannya.

Seru juga kalau ingat masa-masa dulu saat aku masih bergumul dengan dunia Arsitektur. Kalau sekarang sih aku lebih bersemangat menulis.

Dan ... terbitnya novel baruku di Gramedia Pustaka Utama semakin memantapkan aku untuk berkarir sebagai penulis. Aku senang sekali setiap kali mendapat respon dari pembaca yang menyukai tulisanku. Buat yang hobi membaca kisah romantis, yuuuuk, koleksi novel terbaruku : 
"HATIKU MEMILIHMU"



Jangan lupa, buat teman-teman yang berminat membaca buku-buku karyaku, yuuuk, silakan ... ^_^

Buku-buku karya Arumi E. yang telah terbit

4 komentar:

  1. Mbak Arum dulu kuliah jurusan arsitektur ???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Nafilah. Udah pernah ngerasain kerja jadi arsitek juga 😊

      Hapus
  2. kak, arsitektur di Trisakti itu arstitektur lansekap kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku dulu jurusan Arsitektur bangunan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Trisakti. Arsitektur Lansekap di Trisakti juga ada. Tapi beda Fakultas. Bukan Teknik Sipil dan Perencanaan. Karena kan cuma merancang taman. Aku lupa mereka masuk fakultas apa.

      Hapus