Senin, 31 Maret 2014

Memory Kuliah part 3 : Horornya Sidang Skripsi Jurusan Arsitektur

3DMax buatanku. Bagian belakangnya kurang. Tapi sudah lumayan kan? ^_^


Halo teman-teman. Apa kabar di akhir bulan Maret ini?

Well, aku mau lanjutin lagi ya, berbagi kisah pengalaman suka duka kuliah Arsitektur. Siap-siap buat teman-teman yang berminat kuliah Arsitektur. Kuceritakan pengalaman paling horor selama aku kuliah Arsitektur. Tugas akhir. Yup, bagiku, momen ini adalah momen paling mengerikan.

Akhirnya, di tahun kelima aku kuliah, sampailah aku pada mata kuliah terakhir, Tugas Akhir. Mata kuliah paling fenomenal dan paling membuat degdeg-an. Kami hanya diberi waktu satu semester untuk mempersiapkan semuanya. Membuat makalah setebal dua ratus halaman lebih dan kemudian membuat gambar konsep sekaligus gambar kerja. Butuh konsentrasi lebih dan bikin super stres.

Tugas akhir di jurusan Arsitektur dibagi menjadi dua tahap. Tiga bulan pertama, mempersiapkan konsep tema tugas akhir yang aku pilih, menuangkannya dalam makalah setebal dua ratus halaman lebih. Setelah itu, di bulan ke tiga, aku harus mempresentasikannya di hadapan dosen-dosen penguji. Jika lulus tahap ini, aku boleh lanjut ke tahap studio. Tapi jika belum lulus tahap pertama, harus memperbaiki dulu konsep dan makalah tugas akhir itu.

Total mahasiswa-mahasiswi jurusan Arsitektur yang akan mengikuti mata kuliah tugas akhir mencapai seratus orang lebih. Dibagi menjadi empat tim. Penentuan tim ini juga cukup membuat cemas. Menurut kabar dari senior, ada tim tertentu yang dosen pengujinya terdiri dari dosen-dosen baik hati yang dengan ringan memberi nilai tinggi sehingga kemungkinan lulus cukup besar, tapi ada tim yang kabarnya kelak akan diuji oleh dosen-dosen cukup killer, pelit memberi nilai, kemungkinan lulus kecil kecuali hasil tugas akhir kami bagus sekali.

Aku cukup terpengaruh dengan desas-desus yang ditiupkan para senior.  Malam sebelum pengumuman pembagian tim, aku berdoa sebanyak-banyaknya disertai sholat tahajud, berharap keberuntungan ditempatkan di tim yang dosen-dosen pengujinya baik hati.

Keesokan paginya, aku berangkat ke kampus dengan perasaan was-was. Sedikit takut melihat pengumunan pembagian tim tugas akhir. Belum sampai aku ke papan pengumuman yang memajang daftar pembagian tim tugas akhir, aku disambut seorang temanku yang langsung menyalamiku. Semula aku berpikir positif mengira temanku itu memberi selamat karena aku masuk tim tugas akhir yang dosen-dosen pengujinya baik hati, tapi ternyata, kalimat yang keluar dari mulutnya membuatku lemas lunglai.

“Turut berduka cita ya, Rum. Elo masuk tim empat. Tim paling killer. Dosen pengujinya ada tujuh dosen.
Kebanyakan galak-galak lagi,” kata temanku itu.

Tega nian temanku itu menakut-nakutiku seperti itu. Dengan hati gemetar, aku memberanikan diri menghampiri papan pengumuman, melihat deretan nama yang telah dibagi menjadi empat tim. Dan memang benar! Namaku tercantum di tim empat, tim yang dosen-dosen pengujinya paling mengerikan! Dadaku semakin bergemuruh. Belum apa-apa aku sudah merasa kalah dan takut.

“Kasihan deh lo Rum. Cuma elo aja dari kelas kita yang masuk tim empat. Siap-siap deh lo dibantai,” kata temanku yang lain.

Awalnya aku merasa lemah tak berdaya, kemudian aku sadar, aku tak boleh memulai mata kuliah tugas akhir ini dengan semangat negatif. Aku harus mengumpulkan keyakinan bahwa aku pasti bisa menjalani tugas akhir ini dengan baik. Harus bisa, AKU HARUS LULUS!

“Ah, nggak usah kasihan sama gue deh. Gue nggak perlu dikasihani. Gue nggak mau kalah sebelum berperang. Gue harus yakin gue pasti bisa!” jawabku lantang, sengaja agar temanku yang tadi secara tak langsung meremehkan kemampuanku itu merasa keki.

Lihatlah! Aku tetap bersemangat, tak tergoyahkan keyakinanku! Tapi di dasar hatiku yang paling dalam, tentu saja terbesit rasa was-was. Oh, aku punya firasat akan menjalani proses panjang yang penuh tekanan dan melelahkan untuk menyelesaikan tugas akhir ini.

Dimulailah masa tugas akhir, diawali memperkenalkan diri di hadapan dosen pembimbing tim empat. Aku memandangi satu-persatu dosen-dosen pengujiku ini. Tentu saja semuanya sudah kukenal. Beberapa di anataranya memang dikenal sebagai dosen yang cukup tegas. Mungkin bukan galak, tapi ketegasannya terkadang bikin senewen. Timku terdiri dari dua puluh lima mahasiswa-mahasiswi. Dan hanya ada dua mahasisiwi termasuk aku yang seangkatan denganku. Yang lainnya adalah angkatan senior satu tahun di atasku.

Langkah pertama, dosen pembimbing meminta kami membuat konsep tema dan judul tugas akhir kami masing-masing. Aku segera melupakan segala rasa was-was. Mulai fokus berusaha menjalani tugas ini penuh semangat dan harapan. Tapi aku harus menghadapi tantangan pertama yang lumayan menyesakkan hati. Ya, berkali-kali konsepku ditolak dosen pembimbingku itu. Dan kejamnya beliau, dengan tega mengucapkan kata-kata pedas atas kesalahan yang kubuat.

“Kamu lima tahun kuliah belajar apa saja? Masa membuat konsep saja kamu nggak bisa?” Begitu tegur dosen pembimbingku.

Membuat perasaanku tak karuan dan mulai terpengaruh, aku mulai meragukan kemampuanku. Dalam hati rasanya ingin menangis tiap kali dosen pembimbingku menghina konsep yang kubuat. Biasanya aku menangis sesampainya di rumah, melepaskans egala emosi, setelah merasa lega, aku kuatkan hati untuk bangkit dan terus maju. Ya, aku harus kuat, aku tak mau gagal. Aku harus lulus tahun itu. Aku tak ingin mengecewakan Bapak dan Ibuku. Segera kuperbaiki konsep tugas akhirku.

Selama masa penyusunan konsep dan pembuatan makalah, ada juga acara saling berkunjung antar tim tugas akhir. Terkadang aku ikut hadir dalam asistensi temanku di tim lain, walau aku hanya menyimak dan mendengarkan penjelasan dosen pembimbing mereka. Dalam pengamatanku, sepertinya dosen pembimbing tim lain memang bersikap lebih baik dari dosen pembimbingku.

Sebaliknya, di satu waktu, gantian beberapa teman dari tim lain ikut menghadiri asistensiku dengan dosen pembimbingku. Dan pada saat itulah aku merasa hancur lagi. Di depan teman-temanku dengan suara lantang dosen pembimbingku bilang konsepku salah disertai makian yang bikin hati nyeri. Kali ini membuatku down karena dosen pembimbingku itu mengucapkan kata-kata pedas tentangku dihadapan banyak teman-temanku.

“Kamu balik lagi aja deh ke semester satu! Masa bikin konsep seperti ini saja nggak bisa! Bodoh banget ya kamu. Kamu belum pantas lulus!” kata dosen pembimbingku dengan suara keras dan mata membelalak.

Ya Tuhan, sedih banget rasanya. Andaikan tak malu, kubiarkan emosiku meluap dalam bentuk tangisan. Tapi untunglah air mataku masih bisa kutahan. Aku tak mau lebih mempermalukan diri lagi dengan menangis di hadapan teman-temanku dan dosen pembimbingku. Setelah asistensiku selesai, teman-temanku lain tim yang tadi turut menyaksikan asistensiku, segera mengumbar kata-kata ikut bersimpati.

“Tabah ya, Rum. Pak itu memang gitu. Nggak usah diambil hati,” hibur salah satu temanku.
“Gila, tega banget ya, Pak itu ngatain lo kayak gitu. Sadis!” komentar temanku yang lain.

Komentar seperti itu justru membuatku semakin sebal. Oh, rasanya aku malu sekali dan sedihnya bukan main. Andai kamarku dekat, ingin rasanya aku segera berlari masuk ke kamarku dan menumpahkan segala tangisku di atas tempat tidurku. Tapi seperti yang sudah-sudah, keinginanku untuk lulus tahun ini sangat kuat, mengalahkan segala rasa malu dan tertekan. Aku harus lulus. Aku tak boleh merepotkan orangtuaku karena kalau aku gagal, orangtuaku masih harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk kuliahku satu semester lagi.

Tidak, sudah cukup. Aku berjanji akan lulus. Semester itu adalah semester terakhir orangtuaku membiayai kuliahku. Tahun berikutnya aku harus sudah bekerja dan mampu mencari uang sendiri.

Percayalah teman, semangat yang positif sepertinya mampu menciptakan aura yang positif juga. Esok harinya, Pak dosen pembimbingku itu memanggilku ke ruangannya. Segala rasa takut aku kesampingkan.

Aku bertekad tak akan menunjukkan wajah lemah tak berdaya di hadapan dosen pembimbingku. Akan kutunjukkan wajah tegar dan bersemangat. Tak tergoyahkan menghadapi kata-kata paling pedas sekalipun.
Dengan mantap, aku mengetuk pintu ruangan dosen pembimbingku. Kukumpulkan seluruh keberanian mengahadapinya. Pak dosen pembimbingku itu mempersilakan masuk. Aku terkejut saat melohat beliau tersenyum padaku. Mimpikah ini? Jangan-jangan dosenku kesambet karena mendadak jadi baik padaku, hehehe.

“Duduk, Rum.!”  perintahnya.

Aku segera duduk di kursi di depan meja kerjanya.

“Selamat siang, Pak.” sapaku membuka percakapan.
“Bagaimana konsep kamu? Sudah ada kemajuan belum?” tanya dosenku itu.
“Masih saya perbaiki.”

“Maaf ya kemarin saya keras sama kamu. Kamu memang harus dikerasin karena kamu yang paling lambat kemajuannya di antara temanmu yang lain. Kamu harus belajar lebih keras lagi. Ini saya pinjamkan kamu buku. Kamu pelajari, buat konsep terbaik dari info yang kamu dapat di buku ini. Kamu sendiri yang memilih tema nggak biasa. Pusat Peragaan dan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Kamu harus lebih banyak lagi mencari informasi mengenai bangunan sejenis dari buku-buku atau internet. Di Indonesia memang masih belum ada bangunan seperti itu.” kata Pak dosenku itu panjang lebar.

Aku masih saja tak percaya dengan perubahan sikapnya dibanding hari sebelumnya. Kali ini beliau bicara dengan intonasi suara yang lembut.

“Iya, Pak, memang di Indonesia bangunan sejenis yang ada baru Pusat Peragaan Ilmu pengetahuan dan Teknologi (PPIPTEK) di Taman Mini Indonesia Indah. Terima kasih, Pak pinjaman bukunya. Akan saya pelajari sebaik-baiknya.” jawabku sambil menerima buku yang dipinjamkan dosenku itu tak lupa disertai seulas senyum.

“Setelah saya pinjamkan buku itu, konsep kamu harus jadi lebih bagus ya!” Pak Dosenku itu mengingatkan aku sekali lagi sebelum aku permisi dari ruangannya.
“Baik, Pak!” jawabku mantap.

Dan saat itu, kali pertama aku meninggalkan ruangan dosen pembimbingku dengan wajah sumringah!

Setelah berjibaku selama tiga bulan menyusun konsep tugas akhir menjadi sebuah makalah, akhirlah sampailah pada masa penentuan pengujian makalahku itu. Sepertinya memang sudah suratan takdir, salah satu dosen penguji adalah dosen super galak yang dahulu pernah mengajar mata kuliah Apresiasi Budaya.

Benarlah, setelah enam dosen memberi kritik dan masukan, sampailah giliran dosen Apresiasi Budaya yang mengujiku. Beliau tidak memberikan pertanyaan apa pun melainkan langsung mengatakan bahwa konsepku nilainya : nol. Total salah. Penjelasanku tentang tema tugas akhirku yang bertajuk : analogi bangunan, dianggap salah. Dan karena temaku salah, maka konsepku secara keseluruhan adalah salah.

Oh My God!

Aku terdiam tak tahu harus menjawab apa. Kurasakan kedua kakiku gemetar. Rasanya aku seperti dihantam palu godam hingga hancur berkeping-keping. Bagaimana ini? Konsepku salah total?

Tapi ternyata dunia belum runtuh seperti bayanganku. Masih ada satu dosen yang berpihak padaku. Beliau adalah dosen mata kuliah Kota dan Pemukiman. Beliau menyelamatkan nilaiku, satu-satunya dosen yang sangat setuju dengan tema dan konsepku. Menurut beliau, konsepku itu bukannya tidak mungkin, terbukti bahwa di Jerman, sudah ada bangunan yang berhasil dibangun dengan konsep seperti yang kubuat itu.

Karena beliau memberiku nilai 75, di antara dosen lain yang memberiku nilai 60, bahkan ada yang tega memberiku nilai 40, aku masih selamat lolos ke tahap selanjutnya. Sungguh aku berterima kasih kepada beliau. Selanjutkan aku paling rajin asistensi dengan beliau. Pak dosenku yang satu itu, telah banyak membantuku memberi informasi tentang tema konsep pilihanku. Membuatku menjadi semakin percaya diri ketika memasuki tahap selanjutnya, tahap studio.

Tahap studio adalah tahap yang jauh lebih melelahkan dibanding tahap penyusunan konsep. Kami masuk tiap hari, masuk studio dari pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore. Di studio, kami menuangkan konsep kami yang semula hanya berupa tulisan ke dalam bentuk gambar rencana dan gambar kerja serta maket. Sungguh proses yang melelahkan.

Tips buat teman-teman yang juga kuliah di jurusan Arsitektur dan sedang menjalani tugas akhir tahap studio. Kerjakanlah sendiri tugas kalian, bagaimana pun hasilnya nanti, mengerjakan semua gambar sendiri jauh lebih baik. Pengalamanku dulu ketika tahap studio ini, ada salah satu temanku yang membayar orang untuk membantunya menggambar di studio. Ia menyusupkan orang itu ke meja gambarnya. Ketika perbuatannya itu diketahui dosen, langsung saja dia didiskualifikasi dan dinyatakan gagal. Sungguh sayang, padahal tinggal selangkah lagi.

Maket tugas akhirku yang masih kusimpan sampai sekarang sebagai kenang-kenangan ^_^


Tahap studio yang melelahkan selesai menjelang akhir semester. Sekali lagi kami harus memperesentasikan hasil kerja kami. Kali ini dalam bentuk gambar dan maket. Presentasi ini tak kalah bikin was-was, membuatku panas dingin. Tapi setidak-tidaknya aku sudah lebih percaya diri karena ada satu dosen yang mendukung konsepku.

Presentasi berjalan lancar. Hampir semua pertanyaan dosen penguji dapat kujawab dengan baik. Hanya ada satu pertanyaan yang tak berhasil kujawab. Sekeluarnya dari ruang presentasi, aku segera berlari ke mushola dan menangis. Jujur aku takut tidak lulus karena ada satu pertanyaan yang tidak berhasil kujawab itu.

Setelah harap-harap cemas menunggu hasil ujian diumumkan, akhirnya semua peserta tugas akhir dikumpulkan dalam satu ruangan. Nama kami disebutkan satu persatu sambil diberitahukan dengan lantang apakah kami lulus atau tidak. Hingga semua teman bisa mendengar langsung. Cara pengumuman seperti ini bikin aku makin deg-degan. Apalagi ekspresi mahasiswa-mahasiswi setelah diumunkan lulus atau tidak, di rekam dengan handycam. Yang berhasil lulus, tentu saja menunjukkan ekspresi wajah bahagia. Dan yang tak berhasil lulus, terekamlah ekspresi wajah sedihnya apalagi jika disertai berurai air mata. Sungguh tega dosen-dosenku itu!

Alhamdulillah aku berhasil lulus. Lega rasanya hatiku. Terbayar sudah segala sakit hati, susah, duka nestapa dan rasa lelah selama enam bulan itu.

Walau ada beragam karakter dan sikap dosen-dosenku selama lima tahun memberiku ilmu, aku sungguh berterima kasih kepada semua dosen-dosenku yang pada akhirnya telah berhasil mangantarkan aku meraih gelar Sarjana Arsitektur. Tentu saja mereka membekaliku nasihat, aku masih harus terus belajar dan tak berpuas diri. Aku masih harus terus mengasah kemampuanku hingga kelak benar-benar dapat disebut Sarjana Arsitektur. Karena menjadi seorang Arsitek memiliki tanggungjawab yang cukup besar. Desain bangunan dan lingkungan yang salah akan berakibat fatal.

Ada banyak lagi nasihat yang disampaikan dosen-dosenku sebelum kami berpisah. Akan selalu kuingat pesan dosen-dosenku itu. Terima kasih Bapak Ibu dosen, terima kasihku yang sebesar-besarnya atas segala bimbingan kalian untukku selama lima tahun itu.

Kenangan bersama teman-teman satu jurusan satu kelas sesudah kita semua lulus. Happy ^_^


Demikian pengalaman seru kuliah di jurusan Arsitektur yang pernah kualami dulu. Segala susahnya masa lalu, kini menjadi kenangan yang seringkali membuat tersenyum saat mengingatnya. Aku tidak pernah menyesal telah memilih jurusan Arsitektur. Aku justru bangga, karena banyak pengalaman yang sudah kulalui selama aku kuliah dan bekerja di bidang Arsitektur.

Sekarang, saatnya bagiku kembali menekuni passion-ku, menulis. Yup, aku sedang semangat-semangatnya menulis. Tahun ini, akan terbit beberapa novel karyaku. Pengalaman menulisku pun tak kalah panjangnya. aku pun harus melalui perjuangan yang tidak mudah hingga akhirnya tahun ini, aku berhasil mewujudkan mimpiku. Novelku terbit di penerbit idamanku. Tunggu kabar dariku selanjutnya yaaa...

Dan ... terbitnya novel baruku di Gramedia Pustaka Utama semakin memantapkan aku untuk berkarir sebagai penulis. Aku senang sekali setiap kali mendapat respon dari pembaca yang menyukai tulisanku. Buat yang hobi membaca kisah romantis, yuuuuk, koleksi novel terbaruku : 
"HATIKU MEMILIHMU"



Ini novel-novel dan buku karyaku yang telah terbit :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar