Laman

Rabu, 01 Juni 2011

SURAT UNTUK BAPAK

Dear Bapak,
Bapak, aku mohon maaf ya, mungkin jarang sekali aku mengucapkan terima kasih secara langsung pada Bapak, walau Bapak sudah memberi aku banyak. Tapi sungguh, rasa terima kasihku tak terkira pada Bapak. Mungkin aku tak mampu mengucapkan langsung, baiklah akan kuungkapkan rasa terima kasihku pada Bapak dalam suratku ini.
Terima kasih Pak, karena selalu mendukung aku. Aku tahu itu walau sering kali Bapak tidak terang-terangan menunjukkan dukungan Bapak untukku. Aku anak perempuan Bapak satu-satunya, di antara kedua adikku yang laki-laki. Walau aku anak pertama, tapi Bapak paling memperhatikan aku. Bapak rela mengantar aku ke mana saja atau menjemputku. Bapak selalu bilang, karena aku anak perempuan satu-satunya, maka Bapak harus menjagaku lebih. Ya, karena kedua adikku yang laki-laki gagah pastinya lebih mampu menjaga diri mereka sendiri.
Bapak telah mewarisikan bakat menggambar dan seni rupa kepadaku. Bapak juga yang dahulu pernah mengajari cara membuat patung dari tanah liat. Kita punya hobi yang sama, senang menggambar dan membuat relief atau patung. Aku ingat, kita pernah sama-sama mendesain kolam ikan di depan rumah kita, membuat gua-gua, bunga-bunga karang juga membuat air terjun mini. Aku senang membantu pekerjaan Bapak itu. Kolam ikan itu adalah hasil kerja sama kita berdua. Senangnya setelah kolam ikan itu jadi, hasilnya terlihat bagus sekali.

4 komentar:

  1. Mengharukan... surat ini diprint lalu diberikan ke Bapak langsung gak? Kalo diberikan tentu Beliau akan terharu sekali ^-^

    BalasHapus
  2. Makasih mba r3r3n....nggak...aku nggak berani ngasih ini ke bapakku....malu... hehehe...pokoknya diam-diam aja deh terimakasih dan mengakui kasih bapak yang tak terhingga pada anaknya ini... :)

    BalasHapus
  3. Selama membaca tulisan Mba RUm di atas, aku serasa pengen nangis. Walaupun nggak sampe nangis, tapi haru gimana... gitu.. Inget Bapakku. Jadi sedih karna abis ngambek sama beliau kemarin. ^^ Sedih jg karena belum bisa jadi anak yg membanggakan bagi beliau. Oh ya, kita sama loh, Mba, sama2 anak perempuan satu2nya di keluarga. :)
    Tentang harapan menikah jg sama. Karena bagaimanapun semua orang tua merasa tugasnya belum purna kalau belum menikahkan anak-anaknya. Aah..., Bapak.. Tahun ini beliau genap 60 tahun, Agustus nanti beliau pensiun. Jadi pengen nyium punggung tangannya dan mengecup kedua pipi beliau nih. Thanks ya, Mba Rum, untuk posting tulisanmu yang mengharukan itu.. Kudoakan Mba Rum segera dipertemukan dengan pangeran impian yg akan mempersunting dikau di hadapan Bapak. Amin..! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... semoga kita berdua segera dipertemukan dengan jodoh kita ya Putri, lelaki terbaik untuk mendampingi kita. Aamiin. Iya, betul, tiap kali memandang kedua orang tua, selalu saja ada perasaan terharu, merasa belum cukup membahagiakan mereka. Terutama karena belum menikah apalagi memberikan cucu.Namun terima saja jalan hidup ini, insya Allah ada hikmahnya Dan semoga penantian kita suatu hari nanti akan berbuah manis. Aamiin...

      Terima kasih sudah mampir dan membaca kisahku ini, Putri. Sukses selalu untukmu :)

      Hapus