Sabtu, 11 September 2010

Panjat Pinang


dimuat di majalah Say! Edisi Agustus

By : Arumi Ekowati

“Lela, berapa kali sih mesti gue bilang, elo nggak boleh ikutan lomba ini!” teriak Bang Jali lantang.
Sebagai ketua karang taruna RW 01, para remaja yang ingin ikut memeriahkan acara perayaan tujuh belas Agustusan haruslah mendaftarkan diri kepadanya.
“Apa alasan Bang Jali Lela nggak boleh ikutan?” tanya Nurlela tak kalah lantangnya.
“Karena ini lomba bukannya buat perempuan!”
“Jadi ini lomba khusus buat laki-laki?”
Bang Jali mengangguk mantap.
“Apa pasalnya ini lomba cuma buat anak lelaki? Itu namanya melanggar hak asasi manusia, Bang!” protes Nurlela.
“Melanggar hak asasi manusia gimana?”
“Yang namanya acara tujuh belasan kan harusnya buat semua warga, kenapa lomba ini diskriminatif? Anak lelaki aja boleh ikut lomba bikin nasi goreng, masukin benang ke lobang jarum, main bola pake daster perempuan, kan?”
“Lela, lomba ini tuh bahaya buat perempuan.”
“Dimana bahayanya, Bang?”
“Lela, seumur-umur di sini belom pernah ada anak perempuan ikut lomba panjat pinang! Emangnya elo mau uyel-uyelan sama anak-anak lelaki yang belepotan oli dan telanjang dada? Nggak malu apa lo?” suara Bang Jali semakin berapi-api, mungkin terinspirasi pahlawan Nasional Bung Tomo.
“Nggak, Lela nggak malu! Pokoknya Lela mau daftar ikut lomba panjat pinang!”
“Lela, pesertanya tuh anak lelaki semua, kalo elo ikut, cuma elo satu-satunya anak perempuan, nggak takut lo?”
“Lela nggak takut!” Lela tetap bertahan dengan pemdiriannya.
“Gue bisa dimarahin Nyak Babe lo kalo sampe gue ijinin anak perawannya ikut lomba panjat pinang. Udah deh, elo ikut balap karung aja! Seru juga, kan?”
“Nggak mau, pokoknya Lela maunya ikut panjat pinang!”
“Lagian lo mau ikut lomba ini emangnya elo bisa manjat batang pohon?”
“Ye, Bang, Lela mah udah biasa manjat pohon. Hampir tiap siang Lela manjat pohon jambunya Haji Sadeli.”
“Lela, pohon jambu mah banyak dahannya. Ini batang pohon pinang! Batangnya lurus licin, belum lagi ntar kalo dilumurin oli. Tingginya aja lima meter. Kebayang nggak lo?”
“Pokoknya Lela yakin pasti bisa. Lela kan emang tukang manjat.”
Bang Jali geleng-geleng kepala menghadapi tingkah Nurlela yang tak mau mengalah, “Ntar gue rembukan dulu sama anak-anak yang lain deh!” kata Bang Jali
“Ya udah, kalo gitu Lela balik dulu deh, Bang.” kata Nurlela akhirnya, lalu beranjak pergi diiringi tatapan prihatin Bang Jali.
***

“Pokoknya kita harus ngadain unjuk rasa! Bang Jali seenaknya aja melarang kaum perempuan ikut lomba panjat pinang.” seru Nurlela di depan sekumpulan anak-anak perempuan se-RT-nya.
“Tapi kalo dipikir-pikir, La, emang kayaknya nggak pantes deh anak perempuan ikut panjat pinang. Lagian, kan manjat pinang susah.” sahut Reni salah satu teman Nurlela.
“Oh, jadi lo takut? Kayak gini nih yang bikin perempuan susah maju. Selalu berpikir nggak bisa atau nggak pantas melakukan hal yang biasa dikerjakan lelaki. Mana kita tau kalo nggak dicoba. Zaman Nabi aja, perempuan tuh diajarin naik kuda dan memanah, nggak cuma masak dan menjahit doang.” kata Nurlela setengah sinis.
“Tapi, nggak diajarin manjat pohon pinang, kan?” Reni masih mencoba membantah.
“Kali kalo di Arab diajarin manjat pohon kurma.” Nila mulai ikut berkomentar.
Semua mata pun memandang ke arah Nila sambil membayangkan perempuan-perempuan Arab berlomba memanjat pohon kurma...Ah, ada-ada saja!
“Udah deh, jadi gimana, lo pada mau ndukung gue gak?” tanya Nurlela minta kepastian.
“Kalo gue setuju banget sama Lela.” ujar Ida yang sama tomboinya dengan Nurlela.
Mereka berdua memang sama-sama hobi manjat pohon. Mulai dari pohon jambu air, jambu batu sampai jambu monyet. Kadang Nurlela dan Ida juga betah nongkrong di pucuk-pucuk dahan pohon jamblang sambil mengunyah buah asli Betawi yang berwarna ungu itu. Mereka malah lomba ungu-unguan lidah.
“Udah saatnya kita menjadi pelopor gerombolan wanita pertama yang ikut panjat pinang. Dijamin kita bakal dikenang sepanjang masa.” lanjut Ida.
Reni dan Nila saling berpandangan, sama-sama kurang yakin.
“Gini aja, biar gue sama Ida aja yang ikutan panjat pinang. Tapi buat temen-temen yang lain, plis deh, bantuin kita unjuk rasa ya? Tunjukkanlah solidaritas temen-temen sebagai sesama kaum perempuan.” bujuk Nurlela.
“Oh, kalo cuma unjuk rasa sih, gue mau aja ikutan, La.” kata Reni sambil menghela nafas lega.
“Lha iya, kalo unjuk rasa sih gue dukung.” Nila ikut memberi dukungan.
“Kalo lo gimana, Nis? Mau ikutan kan?” tanya Nurlela kepada Anisa yang sejak tadi diam saja.
“Eh, unjuk rasanya nuntut apaan ya?” tanya Anisa yang telat mikir seperti biasanya.
“Anak perempuan nggak boleh dilarang ikut panjat pinang! Lo setuju, kan?” jawab Nurlela berusaha sabar.
“Ane akan selalu mendukung segala usaha untuk menegakkan keadilan dan hak asasi perempuan selama dilakukan dengan cara-cara yang damai.” jawab Anisa dengan suara lembut seperti kebiasaannya, sangat kontras dengan suara Nurlela yang selalu berapi-api.
“Oke deh, minggu pagi besok Bang Jali dan para panitia mau ngadain rapat di rumah Pak RW. Kita unjuk rasa di depan rumah Pak RW. Nanti bantuin gue bikin posternya, ya?”
Nurlela mulai menyusun rencana. Teman-temannya hanya bisa manggut-manggut. Siapalah yang mampu menolak permintaan Nurlela anak Pak RT tempat mereka tinggal. Bisa-bisa nanti dipersulit ketika mengurus KTP baru. Beberapa bulan lagi kan mereka harus sudah mulai membuat KTP.
***

Tepat pukul sepuluh teng di hari Minggu pagi nan cerah, empat minggu menjelang tanggal Tujuh Belas Agustus, Nurlela dan teman-temannya muncul di halaman rumah Pak RW sambil mengusung lembaran-lembaran kertas karton bertuliskan suara hati mereka.
Ada yang bertuliskan, IJINKAN PEREMPUAN IKUT LOMBA PANJAT PINANG! Lainnya bertuliskan: JANGAN KEKANG HAK ASASI PEREMPUAN! Juga ada yang bertuliskan: BUAH MANGGA BUAH KEDONDONG, PEREMPUAN BOLEH IKUTAN DONG? Nggak nyambung ya?

“Para panitia acara tujuh belasan yang terhormat! Kami kaum perempuan RT 09 ingin menuntut hak kami!” teriak Nurlela lantang.
“Bang Jali tersayang, dengarkanlah suara hati kami!” Ida ikut berteriak.
“Ijinkanlah kami ikut lomba panjat pinang!” Reni tanpa ragu ikut berteriak walaupun masih ragu apakah ingin ikutan lomba panjat pinang?
“Jangan biarkan lomba panjat pinang dimonopoli kaum lelaki!” Nila juga mencoba menyuarakan pendapatnya.
“Assalammu ‘alaikum kakak-kakak panitia, teruslah bekerja untuk mewujudkan acara tujuh belasan yang sukses, jangan lupa istirahat dan makan yang cukup.” ucap Anisa lembut.
Serentak teman-temannya menoleh ke arahnya dengan dahi berkerut.
“Nisa, sebenarnya lo ndukung siapa sih?” tegur Nurlela.
“Ane mendukung kalian semua.” jawab Anisa masih dengan intonasi suara yang lembut.
Tak lama kemudian pintu rumah Pak RW terbuka dan keluarlah Bang Jali dan teman-teman sesama panitia acara tujuh belasan.
“Aduh, elo semua pada ngapain sih?” tanya Bang Jali dengan suara agak keras.
Pandangan matanya tertuju ke arah Nurlela. Bang Jali punya firasat, ini pasti ulah nekadnya Nurlela.
“Lela, pasti ini ide lo kan? Elo bener-bener kelewatan, Lela!” tuduh Bang Jali.
“Sebagai warga RW 01, kami punya hak untuk menyuarakan pendapat kami, Bang!” jawab Nurlela dengan suara yakin bahwa tindakannya benar.
“Iya, tapi bukan dengan protes-protes begini, kan?”
“Ini bukan protes, Bang! Ini unjuk rasa.” jawab Nila.
“Sama saja! Sama-sama menimbulkan keributan. Untung Pak RW lagi pergi. Kalian kan bisa datang baik-baik. Kalau emang mau, kalian boleh ikut rapat kok!”
Anak-anak perempuan yang sedang berunjuk rasa itu seketika terdiam karena Nurlela sang pemimpin juga terdiam.
“Yee, Bang Jali…kenapa nggak bilang-bilang kalau kita boleh ikutan rapat?” tanya Nurlela akhirnya.
“Yee, kenapa nggak nanya?” sahut Bang Jali.
“Sudah ah! Adik-adik, masuk saja yuk? Kita ngobrol di dalam.” kata Kak Desi yang manis dengan suara penuh kasih.
Anak-anak perempuan itu mengangguk setuju. Mereka semua masuk ke rumah Pak RW.
“Lela, Bang Jali udah sampein ke panitia permintaan elo untuk ikut lomba panjat pinang. Dan kami sudah rembukan.” kata Bang Jali setelah mereka semua duduk lesehan di ruang tamu Pak RW.
“Dan keputusannya gimana, Bang?” Nurlela menatap Bang Jali penuh harap

-Continued...

5 komentar:

  1. ha ha ha.. keren. emansipasi, nih.

    BalasHapus
  2. ko.. ribet sih bikin komen. lupa password pula.

    BalasHapus
  3. hehehehe, iye dong Andi, udah pernah belom liat cewek panjat pinang? gw sih belom...hehehehe

    BalasHapus