Laman

Rabu, 30 September 2015

Hari Terakhir di KL #27HaridiKualaLumpur


Hari ke-27. Ah, ke mana perginya waktu? Cepat sekali berlalu. Rasanya belum lama aku merasa excited karena pertama kali pergi ke KL sendirian. Sekarang sudah harus pulang.

Agak mellow juga berpisah dengan semua yang di sini. Ada banyak kisah yang terjadi di sini. Aku bertekad akan menuliskannya menjadi sebuah kisah, diramu imajinasiku. Ah... sejujurnya ... aku suka tinggal di KL. Suka dengan transportasi umumnya yang nyaman.

Kembali ke Jakarta, kembali dihadang hawa panas, macet luar biasa. Tapi senangnya, ketemu bapak ibuku lagi dan tak sabar bertemu teman-teman.

Aah...semoga suatu hari nanti aku bisa kembali ke sini ...



Seminggu sebelum pulang aku sudah sibuk mengepak barang. Yaaah, seperti yang sudah diperkirakan, bawaan pulang berkembangbiak dibanding saat datang. Semula aku ingin memaksakan tetap dalam satu koper saja. Tapi akhirnya aku memutuskan khusus untuk oleh-oleh ditempatkan di tas lain saja. Aku beli tote bag simpel design by Arch. Lumayan oke juga.

Aku juga diajarkan cara mengepak baju yang rapi dan ringkas serta hemat tempat dalam koper. Caranya, setiap potong pakaian digulung. Ternyata benar lho. Memamg lebih ringkas dan rapi jadinya.


Diajarkan cara packing yang ringkas dan hemat ruang

Aku memutuskan menuju bandara KLIA 2 dengan naik rapid KL, disambung LRT hingga ke KL Sentral. Lalu dilanjutkan naik bus bandara. Tak sampai 1 jam, sudah sampai di bandara. Aaaaah, praktis dan mudah banget. Berangkat jam 7 lewat, pukul 9 sudah sampai bandara. Agak terhambat saat naik LRT karena mendadak kami diturunkan saat tiba di Stasiun Kampung Bahru. Diminta pindah ke LRT berikutnya. Entah ada apa. Mungkin ada sedikit gangguan yang lebih aman jika penumpang diturunkan. 

Semula aku sempat khawatir, karena memang menjelang pukul setengah 8 pagi adalah jam sibuk. LRT di KL pun penuuuuh banget. Nggak kalah deh dengan commuter line di Jakarta. Tapi bagusnya, di sini LRT datang tiap 4 menit sekali, sehingga nggak perlu nunggu lama, aku sudah bisa naik LRT berikutnya dan sampai di KL Sentral hampir pukul 8:00.

Siap-siap masuk ...




Aku perhatikan saat menunggu boarding, sepertinya banyak orang asing yang akan naik pesawat yang sama denganku menuju Jakarta. Bahkan aku hanya bertemu dengan satu orang Indonesia yang transit dari New Delhi. Waaah, baguslah yaaa, berarti masih banyak orang asing yang berminat datang ke Indonesia.

Ada sekumpulan gadis remaja berwajah Eropa, berambut pirang dan kecoklatan, mengenakan kerudung. Aku perkirakan mereka berasal dari Eropa Timur. Sok tau yaa, hehehe. Mungkin lho.


Suasana di dalam pesawat. Nggak terlalu ramai

Kuala Lumpur ke Jakarta itu nggak lama. Nggak sampai 2 jam. Kira-kira 1 jam 45 menit. Buktinya aku nonton X-Men dan filmnya belum selesai saat pesawat mendarat di Jakarta. Waah,padahal aku pengin tahu endingnya bagaimana.




Alhamdulillah... akhirnya sampai juga ke Jakarta. Ternyata aku bisa menyelesaikan tugas ini, naik taksi sendirian, ke bandara sendirian, ke luar negeri sendirian. 

Aaaah, semoga tahun depan aku bisa mewujudkan mimpi berkunjung ke Adelaide. Aamiin ^_^  













Selasa, 29 September 2015

Bukit Bintang dan Kampung Bahru #27HaridiKualaLumpur

Hari ke-26. Waaah ini sebenarnya late post. Kemarin tanggal 28 adalah hari ke-26 aku di KL.

Di hari Senin itu aku masih punya kesempatan sehari lagi untuk mengunjungi dua tempat yang belum sempat kudatangi. Bukit Bintang dan Kampung Bahru.

Dilihat dari peta KL, Kampung Bahru dekat dengan KLCC. Hanya naik LRT dari Stasiun KLCC, langsung turun di perhentian berikutnya, Kampung Bahru.

Tapi aku sengaja memilih jalur yang lebih jauh. Sejak awal sudah penasaran pengin tahu seperti apa yang namanya Bukit Bintang. Kali ini pun aku hanya mengandalkan informasi dari peta transportasi KL.

Bisa dilihat, untuk ke Bukit Bintang, aku bisa ke Kl Sentral naik LRT, lalu lanjut naik monorel ke sana. Padahal kalau dilihat di peta jaraknya tak jauh dari KLCC.

Aku memilih mencoba naik monorel, karena selama di KL aku belum pernah mencobanya.

KL Sentral. Luaaas banget

Pintu masuk monorel
Monorel mirip LRT, bedanya LRT di bawah tanah, monorel di atas, jadi bisa lihat pemandangan di luar. Cepat banget deh naik ini. Nggak berasa tau-tau sudah sampai Stasiun Bukit Bintang.


Salah satu yang menarik di Bukit Bintang

Sejak pagi langit memang nggak cerah. Tertutup kabut asap. Tapi aku nekat tetap keluar rumah. Dan baruuuuu sebentar aku jalan-jalan di Bukit Bintang mendadak hujan deraaaaas banget. Untunglah sudah sedia payung sebelum hujan.




Dan ,.... aku baru tau ternyata dari sini bisa naik Bus GoKL ke KLCC. Gratis! Ahahahah...



Aku mampir dulu deh di KLCC. Sekali lagi lihat-lihat siapa tahu ada yang bisa dibeli buat tambahan oleh-oleh. Yaaa, memang ada. Akhirnya aku mampir stand Arch beli tote bag buat tempat oleh-oleh dan beli pembatas buku,



Setelah itu barulah aku lanjut ke tempat berikutnya, Kampung Bahru.


Menunggu LRT


Iseng motret ini. Tertarik dengan keterangannya.
Katanya diangkat dari novel best seller di Malaysia :)

Petunjuknya jelas. Jadi nggak bakal nyasar, Insya Allah


Ternyata Kampung Bahru itu adalah deretan tempat makan di kanan kiri sepanjang jalan ini. Mungkin kalau malam ramai. Aku cuma nyoba gorengan Malaysia. Ada cempedak goreng. Enaak. Semua macam gorengan harganya sama, 2 ringgit dapat 5. Ada pisang goreng, ubi goreng, risol, bakwan. Tapi pisang molen dan cireng nggak ada, hehehe.


Twin Towers kelihatan. Nggak jauh kan?

Saat siang hari banyak tempat makan yang tutup, hanya beberapa yang buka penuh dengan pengunjung yang makan siang. Umumnya yang buka tempat makan luas, lauk pauk disajikan cara prasmanan. Pembeli bisa ambil sendiri lauk dan sayur. Aku cuma lihat-lihat. Kulihat ada sayur berkuah santan agak merah dari warna cabai isinya cuma nanas yang dipotong bundar-bundar. Walah nanas disayur santan juga yaa...

Perkiraanku, di malam hari tempat ini lebih ramai, lebih banyak restoran yang buka.


Sabtu, 26 September 2015

Berburu oleh-oleh khas Malaysia #27HaridiKualaLumpur

Hari ke-24. Aaah....sungguh waktu bagai terbang. Tak terasa tinggal 3 hari lagi aku di sini. Selama jalan-jalan di KL, tentu aku ingat ingin membawakan sedikit oleh-oleh untuk orangtua, adik, sahabat, sepupu, keponakan dan editor2.

Waaah, banyak juga setelah aku buat daftarnya. Kemudian aku melihat-lihat peta KL. Mencoba menjelajahi sebuah tempat yaitu Pasar Seni. Dugaanku di sini pasti banyak yang menjual suvenir khas Malaysia dengan harga terjangkau.

Mudah sekali ke Pasar Seni. Dari apartemen naik rapid KL sampai Stasiun Ampang Park. Lalu naik LRT turun di Stasiun Pasar Seni. Hanya berjarak beberapa stasiun.

Pintu gerbang menuju deretan kios

Ada satu ruas jalan yang ditutup untuk kendaraan beroda. Hanya pejalan kaki yang bisa lewat. Di kanan kiri dan tengah jalan berjajar kios menjual mskanan dan suvenir. Ternyata jalan itu tak sepanjang yang aku kira. Tapi lumayan, aku mendapatkan gantungan kunci manis dengan inisial nama. 



Di jalan yang bersebelahan dengan jalan ini, ada pasar pecinan. Aku melihat-lihat kios-kios yang ada. Di sini ternyata dijual kaos bertuliskan khas Malaysia. Harganya sangaaat terjangkau. Aku juga menemukan kios yang menjual gantungan kunci, magnet dan suvenir khas Malaysia dengan harga lebih murah daripada di Pasar Seni. Waah aku borong lumayan banyak. Puas deh nemu suvenir bagus-bagus.

Untuk melengkapi oleh-oleh, awalnya aku ingin mencari penganan khas Malaysia. Akhirnya pilihanku jatuh pada coklat yang tempatnya bergambar bangunan ikon Kota Kuala Lumpur.

Ini beberapa coklat dalam kemasan menarik
Masih ada yang lainya 

Oh iya, di KLCC lantai dasar, ada toko khusus menjual coklat. Namanya "Boutique Chocolate". Banyak coklat dalam kemasan menarik dan unik. Ada yang kemasannya berbentuk uang ringgit kertas dan koin.

Lengkap sudah deh oleh-oleh buat families, friends and my editors 

Kamis, 24 September 2015

Idul Adha di Kuala Lumpur #27HaridiKualaLumpur

Selamat Hari Raya Idul Adha. Tak terasa sudah 22 hari aku di Kuala Lumpur. Pertama kali datang ke sini rasanya 27 hari akan berjalan lambat. Ternyata 22 hari telah berlalu dengan cepat.

Banyak yang kualami di sini. Kesan yang paling kurasakan adalah transportasi yang nyaman. Berharap suatu saat Jakarta bisa seperti di sini.

Aku bertekad sesampai di Jakarta akan menulis naskah untuk novelku selanjutnya ber-setting KL yang terinspirasi dari pengalamanku sendiri. Ditambah imajinasi tentunya.

Hari ini Idul Adha pertama aku tidak di rumah. Tak ada ketupat sayur dan tape ketan buatan ibuku. Begitu sederhana. Aku hanya memasak bola-bola daging bumbu teriyaki.

Di KL sangat berbeda dengan di Jakarta Barat rumahku. Di lingkungan tempat tinggalku, ada beberapa masjid kecil tak jauh dari rumah. Sehingga saat masuk waktu shalat, azan bersahut-sahutan. Apalagi jika esoknya hari raya. Semalaman akan terdengar takbir hingga subuh.

Tapi di KL yang mayoritas muslim pun tidak begitu. Masjid lumayan jauh dari apartemen ini. Azan hanya terdengar sayup-sayup. Malam takbiran pun tak terdengar kumandang takbir bersahutan. Tak nyana aku merindukan kampungku dan suara azannya. Ah, padahal ini masih di KL. Bagaimana saat aku tinggal di Adelaide ya? ^_^

Mungkin tidak di semua bagian KL azan hanya terdengar sayup-sayup. Yang dekat dengan masjid pasti akan dapat mendengar suara azan.

Oh iya satu lagi kebiasaan di sini yang berbeda dengan di rumahku. Pertama kali aku di KL, aku bangun pukul 5 pagi karena mendengar suara azan. Aku segera shalat. Tapi pukul 5: 50 terdengar lagi suara azan. Ternyata azan yang pukul 5 hanya sebagai tanda bersiap-siap menjelang subuh.

Kembali lagi ke hari ini. Tak ada keramaian hari raya yang terlihat.

Jalan-jalan di mal Great Eastern ada bazar buku di lobinya.


Aku tertarik melihat-lihat novel terbitan Malaysia. Umumnya tebal sekali. Mungkin sekitar 500-600 halaman. Wow!

Harganya kisaran 29-36 ringgit. Sedang ada diskon 15-20%.








Aku juga menemukan etalase menarik dari sebuah toko yang menjual barang-barang fancy dengan disain Inggris Victorian.